Sabtu, 02 Mei 2009

ANTASARI AZHAR


Seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya, bahwa ada 2 topik hangat, hari ini. Pertama soal JK-Wiranto. Kedua adalah dugaan keterlibatan Antasari Azhar sebagai dalang pembunuhan Nasruddin Zukarnain, pengusaha asal Sulawesi Selatan yang juga mantan aktivis. Kejadian itu sendiri terjadi pada tanggal 14 Maret 2009 di kawasan perumahan Modernland, Kota Tanggerang. Dia dibunuh dengan dua tembakan oleh 2 (dua) orang pengendara sepeda motor ketika baru pulang dari main golf dengan BMW.

Polisi bekerja keras untuk mengungkapkan kasus itu. Berbagai dugaan muncul ke permukaan, dari mulai persoalan politik, bisnis dan masalah wanita. Hal ini karena sepak terjang yang bersangkutan selama ini cukup memberi warna tersendiri. Semasa muda, almarhum adalah aktivis, kemudian berkarir di BUMN dan bisnis. Nasruddin termasuk orang muda yang mempunyai pergaulan sangat luas.
Akhirnya setelah melakukan penyelidikan selama 1,5 bulan, Mabes Polri mengumumkan kepada publik bahwa telah menangkap 9 orang tersangka yang diduga sebagai pembunuh Nasruddin Zulkarnaen. Yang mengejutkan adalah keterlibatan Sigit Haryo Wibisono, mantan Anggota DPRD Jateng dan orang dekat Gusdur serta Antasari Azhar, Ketua KPK.

Khusus keterlibatan Antasari, lebih mengejutkan. Beliau adalah Ketua KPK. Selama masa jabatannya di KPK, telah banyak Koruptor masuk bui. Tak tanggung-tanggung, mulai dari Gubernur BI sampai kepada besan Presiden. Tak terhitung jumlah anggota DPR RI yang telah ditangkap dan diseret ke meja hijau olehnya. Sebagian besar telah menjalani hukuman.
Secara umum, prestasi Antasari selama menjabat Ketua KPK, sangat membanggakan. Walaupun pada saat beliau terpilih oleh Komisi III DPR RI tahun 2007 lalu, masyarakat sempat apatis dan pesimis, mengingat track record-nya sebagai Jaksa sangat jelek.

Hari ini beliau adalah tersangka pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen. Dan KPK sendiri telah membebaskan Antasari dari tugas-tugasnya sebagai Ketua KPK. Menurut 4 Komisioner KPK yang lain, Ketua KPK akan dijabat secara bergiliran oleh mereka, sambil menunggu proses hukum Antasari selesai.
Menanggapi penetapannya sebagai tersangka, Antasari menyikapi dengan tenang. Dia akan kooperatif dengan polisi untuk mengungkapkan kasus tersebut.

Entahlah, mungkin saja tuduhan itu salah. Kalau tuduhan itu ternyata terbukti, sekali lagi dunia hukum Indonesia tercoreng. Kita masih ingat, bagaimana seorang Irawadi Joenoes tertangkap tangan tahun lalu saat jadi broker alias makelar tanah untuk gedung baru Komisi Yudisial. Begitu juga seorang Rusdihardjo, mantan Kapolri yang tersangkut dengan kutipan tidak resmi saat ybs menjabat Dubes untuk Malaysia. Kita catat juga Kemas Yahya Rahman.

Marilah kita menyimak dengan seksama perjalanan kasus ini. Mudah-mudahan pihak kepolisian segera dapat menuntaskannya. Kita sebagai wong cilik, berharap tidak ada perlakuan istimewa untuk semua tersangka yang berrstatus Pejabat Negara. Semoga hukum tetap jadi Panglima.

Mukhlis Aminullah, peminat politik, berdomisili di Bireuen, Aceh.

KOALISI GOLKAR DENGAN ''GOLKAR''

Mengejutkan..!
Itulah kata yang pas bagi saya untuk memulai tulisan kali ini. Mengapa ? Ada dua hal yang ingin saya tulis terkait dengan kejadian mengejutkan dalam 24 jam terakhir. Kedua hal itu sama-sama merupakan kejutan. Jadi, pantas ''mengejutkan''.

Pertama adalah koalisi Partai Golkar dengan Hanura untuk mengusung JK-Wiranto sebagai Capres/Cawapres pada Pilpres mendatang. Kedua adalah dugaan keterlibatan Ketua KPK, Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan berencana Nasruddin Zulkarnaen, pengusaha asal Sulawesi Selatan. Kedua kejutan itu akan saya bahas satu persatu.

KOALISI GOLKAR-HANURA

Koalisi Partai Golkar dengan Partai Hanura untuk mengusung JK-Wiranto sebagai Capres/Cawapres pada Pilpres mendatang bagi saya merupakan ''kejutan''. Betapa tidak.....
Kita sama-sama mengetahui bagaimana hubungan keduanya selama ini, yang tidak bisa dikatakan harmonis untuk untuk ukuran bahwa keduanya adalah tokoh nasional. Walaupun tidak seburuk hubungan antara SBY-Mega, namun selama ini keduanya berada pada blok yang berbeda. Pasca kemenangan Wiranto pada konvensi Capres Partai Golkar tahun 2004, hubungan mereka renggang. Apalagi kemudian JK maju sebagai Cawapres-nya SBY dan menang sehingga JK menjadi orang nomor dua di Republik ini. Selanjutnya JK juga terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar... klop sudah. Wapres juga Ketua Partai besar.

Wiranto yang kalah telak pada Pilpres 2004 (malah hanya bertahan pada putaran pertama), kemudian membenahi diri. Mengingat bahwa keberadaannya di Partai Golkar hanyalah sebagai pelengkap (karena kekuasaan sudah dipegang JK), kemudian Wiranto segera menyusun kekuatan baru dengan mendirikan Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat). Bersama kawan-kawan mantan Jenderal ditambah beberapa mantan petinggi partai lain yang bergabung kemudian hari, embrio Partai Hanura terus tumbuh dengan pesat. Hampir seluruh wilayah Nusantara, Hanura mempunyai kepengurusan yang lengkap. Ditopang pengalamannya selama memimpin TNI serta pernah jadi Menteri, Wiranto dkk mencoba membesarkan Hanura. Dan hasilnya bisa kita lihat, saat ini Hanura masuk 10 besar dalam penghintungan sementara yang dilakukan oleh KPU.
Untuk ukuran partai baru, hal itu tentu membanggakan.....

Wiranto tidak hanya mendirikan partai. Keberadaannya pada level atas sebagai mantan pejabat negara tetap terjaga. Buah pikirannya tetap cemerlang, walaupun seringkali ''berseberangan'' dengan pemerintahan SBY-JK. Beliau tidak segan mengkritisi, kalau ada kebijakan pemerintah dirasa tidak memihak rakyat. Terakhir beliau sangat gencar menyerang SBY-JK terkait dengan harga BBM. Walaupun itu murni kritik demi rakyat, katakanlah demikian, namun tak bisa dipisahkan juga dari ambisi-nya kembali ke pemerintahan sebagai Capres. Ada simbiosis mutualisme.

Bagaimana dengan JK? Setali tiga uang. Dia tetap memandang Wiranto sebagai mantan rival. JK sangat reaktif menerima berbagai kritikan Wiranto. Tahun lalu, 2008, JK sempat menyatakan kepada pers bahwa pada Pemilu kali ini jangan ada lagi ''penumpang gelap'' dalam pencalonan Presiden dari Partai Golkar tahun 2009. Walaupun saat itu JK tidak menyebutkan nama siapa yang dimaksud ''penumpang gelap'' tersebut, publik tentu paham bahwa yang dimaksudkan adalah Wiranto. Hal ini karena Wiranto tidak sepenuhnya kader Partai Golkar. Walaupun kalau kita kembali melihat sejarah Orde Baru, sebagai Perwira TNI, keberadaannya dibelakang layar GOLKAR sebagai Penguasa tidak perlu diragukan lagi.

Nah, hari ini kedua orang yang pernah ''berseteru'' tersebut bersatu dalam satu gerbong untuk mencapai cita-cita menjadi penguasa di Republik ini. Benar-benar sebuah kejutan. Apalagi bila kita menyimak kata-kata pujian yang dilontarkan oleh keduanya pasca penandatanganan MoU antara Partai Golkar dengan Partai Hanura, tadi malam.
Wiranto memuji JK sebagai pengusaha berjiwa tentara yang sangat tegas. Juga memuji peran JK dalam penyelesaian kasus Poso, Ambon dan Aceh. JK lebih tentara dari tentara.
JK juga tidak segan memuji Wiranto sebagai kawan maupun ''lawan'' yang tangguh. JK mengatakan pengalaman Wiranto sebagai Panglima TNI yang telah mengambil berbagai kebijakan strategis pada masa transisi 1998-1999 telah membentuknya menjadi pemimpin yang kuat, berkarakter dan tidak cengeng. Menurut JK, pengalaman di TNI dipadukan dengan pengalaman sebagai birokrat (pernah menjadi Menteri) telah membuat Wiranto menjadi lebih bijak, termasuk saat memutuskan bersedia menjadi Cawapres JK.

Saling puji tentu saja tidak cukup. Untuk menjadi sebuah tim yang solid tentu butuh energi yang besar. Pada tahap awal tentunya PR menjadi tugas JK, terutama bagaimana meredam suara-suara mbalelo dari dalam tubuh Partai Golkar sendiri. Sebagaimana sudah kita diketahui umum, bahwa dalam Partai Golkar ada beberapa faksi. Dalam penentuan sikap menuju Pilpres 2009 sendiri ada beberapa opsi. Dari arus bawah, mereka lebih menghendaki Partai Golkar tetap mengusung JK sebagai Cawapres SBY, lagi. Menurut mereka, dengan begini peluang untuk memimpin tetap terjamin, mengingat popularitas SBY bersama Partai Demokrat sedang tinggi-tingginya. Opsi kedua datangnya dari tingkat elit yaitu lebih menghendaki JK maju sebagai Capres dari Partai Golkar, dengan asumsi peluang tetap terbuka lebar. Mereka melihat ke belakang, salah satunya yaitu dalam dua Pemilu terakhir; Presiden bukan dari Partai pemenang Pemilu. Salah satu cara adalah dengan berkoalisi dengan Partai Hanura.

Padahal, kalau kita mau melihat sedikit riwayat politik kedua Partai tersebut, maupun kedua Ketua Umum-nya, rasanya tidak perbedaan warna keduanya. Ibarat orang sudah pernah cerai, kemudian rujuk kembali. Sah-sah saja kalau ada yang menilai, telah terjadi koalisi Golkar dengan Golkar.
Secara eksplisit, tadi malam, Wiranto juga mengakui bahwa ada kesamaan ''chemistry'' yang sama antara dirinya dengan JK. Pada kesempatan tanya jawab dengan TV One, Tina Talisa sang reporter malah melempar guyonan, bahwa kuning berkoalisi dengan kuning.

Sebagai masyarakat, kita hanya bisa menantikan, program apa yang akan ditawarkan oleh mereka pada saat kampanye maupun penyampaian visi & misi pada minggu-minggu yang akan datang. Dan kalau suatu saat terpilih, kita tentu tidak menghendaki ada ''rivalitas'' antara keduanya, mengingat secara psikologis-pun keduanya adalah setara atau selevel. Mereka harus mengedepankan profesionalisme, sebagaimana telah dipertontonkan oleh SBY selama ini.

Mukhlis Aminullah, mantan anggota KPU Bireuen, Aceh.

Kamis, 30 April 2009

MENJADI POLITISI DAKWAH

Apakah politisi dapat menjadi da’i? Atau apakah dai dapat menjadi politisi? Dan apakah mungkin kegiatan dakwah menjadi kegiatan politik? Atau sebaliknya kegiatan politik menjadi kegiatan dakwah? Menjawab beberapa pertanyaan di atas tidaklah mudah, apabila kita melihat persepsi masyarakat tentang dakwah dan politik. Dakwah dan politik adalah dua ‘kata’ yang kontra bagi mereka. Hal itu karena politik dipahami sebagai aktifitas dunia, sedang dakwah dipahami sebagai aktifitas akhirat. Yang pada gilirannya dipahami bahwa dakwah tidak pantas memasuki wilayah politik, dan politik haram memasuki wilayah dakwah. Dakwah adalah pekerjaan para ustadz, dan politik pakerjaan para politisi. Jika seorang ustadz yang menjadi politisi, ia harus menanggalkan segala atribut dan prilaku ke-ustadz-annya, dan harus mengikuti atau beradaptasi dengan perilaku para politisi. Demikian pula apabila seorang politisi menjadi ustadz ia pun harus menanggalkan baju politiknya, dan jika tidak, ia akan tetap dicurigai menggunakan agama sebagai alat politik.

Tapi, pertanyaan di atas akan menjadi mudah untuk dijawab, apabila politik dipahami sesuai dengan definisi aristoteles bahwa politik adalah: “Segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.” Definisi ini meliputi semua urusan masyarakat, temasuk di dalamnya masalah akhlak yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah, sebagaimana dipahami masyarakat.

Dan atau apabila dipahami definisi politik menurut Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, yaitu:

“Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat.” Intermal politik adalah “mengurus persolalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, dan dikeritik jika mereka melakukan kekeliruan.” Sedang yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.”

Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat makruf dan pencegahan dari kezaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah.

Dengan pemahaman 2 definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa politik dan dakwah adalah dua kegiatan yang sangat terkait, dan sangat mungkin dakwah menjadi kegiatan politik, atau politik menjadi kegiatan dakwah, atau dapat disebut two in one. Bahwa dakwah adalah politik apabila ia berperan memahamkan masyarakat kepada hak dan kewajiban mereka. Dan bahwa politik adalah dakwah jika ia berperan mengajak masyarakat berbuat baik, memfasilitasi mereka berbuat makruf dan menutup semua pintu bagi masyarakat untuk berbuat zalim dan dizalimi.

Secara operasional, bahwa dakwah adalah politik dan politik adalah dakwah dapat dipahami dengan baik oleh setiap muslim apabila pertama, memahami universalitas Islam; kedua, memahami risalah penciptaan manusia; dan ketiga, mengatahui cara merealisasikan risalah tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga setiap muslim harus menjadi da’i sekaligus menjadi politisi. Karena itulah Hasan Al Banna mengatakan, “Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politisi, mempunyai pandangan jauh kedepan dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya.”

Lalu bagaimana menjadi politisi dakwah? Berikut ini sub-sub bahasan yang menjelaskan lebih rinci mengenai masalah ini:

1. Kedudukan Politik Dalam Islam

Islam agama sempurna, mencakup seluruh urusan kehidupan manusia yang terdiri dari kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negara, serta segala aktifitas yang meliputnya, seperti ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan lain sebagainya. Islam tidak memilah antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam setiap aktifitas mengandung unsur dunia dan akhirat sekaligus.

Shalat misalnya, dalam persepsi banyak orang ia adalah amalan akhirat angsih. Tapi jika ditelaah lebih dalam, dapat ditemukan bahwa shalat adalah amalan akhirat sekaligus amalan dunia. Ia menjadi demikian karena, pertama, shalat dilaksanakan di dunia, pahalanya saja yang diperoleh di akhirat; kedua, shalat itu dzikir, dan setiap yang berdzikir pasti mendapatkan ketenangan, dan ketenangan itu kebutuhan asasi manusia dalam beraktifitas. Rasulullah saw jika sedang gundah, beliau berkata kepada Bilal: “Tenangkanlah kami dengan shalat hai Bilal!” dan yang ketiga, shalat sangat dianjurkan dilaksanakan dengan berjamaah, dan bagi yang melaksanakannya mendapatkan derajat 27 kali lipat dari pada yang shalat sendirian. Shalat berjamaah membuat kita - dengan sendrinya - bersilaturahim, mendidik kita hidup bermasyarakat dan bernegara yang teratur dan rapi. Dalam shalat berjamaah harus ada imam dan makmum yang semua tindakannya harus sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, makmum harus taat pada imam, mengikuti semua gerakan dan perintah imam, apabila tidak maka shalat sang makmum tidak sah. Dan apabila sang imam salah atau khilaf, maka wajib bagi makmum untuk menegurnya sampai imam kembali kepada yang benar. Demikian pula seharusnya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Contoh yang lain, kegiatan jual beli, dalam persepsi banyak orang, ia adalah kegiatan dunia angsih. Padahal jika ditelaah lebih mendalam, maka ia pun sekaligus menjadi kegiatan akhirat. Hal itu, karena walaupun zhahirnya jual beli adalah amalan dunia, tapi karena di dalamnya ada aturan main yang harus di patuhi oleh masing-masing penjual dan pembeli, dan jika mereka patuh pada atauran itu, maka keduanya mendapatkan pahala yang akan diperolehnya di akhirat, tapi jika salah satu atau keduanya menyalahi atuaran tersebut, maka yang berbuat salah mendapatkan dosa, yang hukumannya akan ia dapatkan pula di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah saw besabda, “pedagang yang jujur mendapatkan naungan arasy pada hari kiamat.”

Dengan demikian, semua amalan, baik mahdhah maupun gairu mahdhah di dalam Islam, memiliki kedudukan yang sama, termasuk di dalamnya politik. Bahkan jika politik berarti kekuasaan, Utsman bin ‘Affan ra berkata: “Al Qur’an lebih memerlukan kekuasaan dari pada kekuasaan membutuhkan Al Qur’an.”

Karena politik bagian dari keuniversalan Islam, maka setiap muslim meyakini bahwa Islam memiliki sistim politik yang bersumber dari Allah, dicontohkan oleh Rasulullah dan dikembangkan oleh para sahabat dan salafussaleh, sesuai dengan dinamika perkembangan hidup manusia setiap masa. Berikutnya setiap muslim pun siap menjalankan sistem itu, dan tidak akan menjalankan sistim yang lain, karena kahawatir akan tergelincir pada langkah-langkah syaitan. Itulah bagian dari pengertian firman Allah SWT; “Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syatan. Sesungguhnya syaitan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata.” Qs. al Baqarah: 208.

2. Peran Politik Dalam Dakwah

Allah telah menetapkan risalah penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada-Nya, kemudian menjadikannya khalifah dalam rangka membangun kemakmuran di muka bumi bagi para penghuninya yang terdiri dari manusia dan alam semesta.

Agar risalah ini menjadi abadi dalam sejarah peradaban manusia, Allah SWT ‘merekayasa’ agar dalam kehidupan terjadi hubungan interaksi ‘positif’ dan ‘negatif’ di antara semua makhluk-Nya secara umum, dan di antara manusia secara khusus. Yang dimaksud dengan interaksi positif ialah, adanya hubungan tolong menolong sesama makhluk. Sedangkan interaksi negatif ialah, adanya hubungan perang dan permusuhan sesama makhluk. Allah SWT berfirman: “…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai yang dicurahkan atas semesta alam.” Qs. Al Baqarah: 251.

Keabadian risalah tersebut sangat tergantung pada hasil dari setiap interaksi baik yang positif maupun negatif. Jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang saleh, yang pada gilirannya mereka saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan; dan jika berada dalam peperangan, dimenangkan pula oleh orang-orang saleh itu, maka pasti yang akan terjadi adalah keabadian risalah.

Tapi jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang buruk yang bersepakat melaksanakan kejahatan dan permusuhan, dan selanjutnya mereka pula yang memenangkan peperangan, maka pasti yang akan terjadi adalah kehancuran.

Disinilah letak politik berperan dalam dakwah. Dakwah mengajak pada kebaikan, melaksanakan risalah penciptaan manusia, menyeru kepada yang makruf dan mencegah semua bentuk kemungkaran, sementara politik berperan memberikan motivasi, perlindungan, pengamanan, fasilitas, dan pengayoman untuk terealisasinya risalah tersebut.

Sejarah telah membuktikan, bahwa naskah-naskah Al Qur’an yang sangat ideal pernah menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Pada zaman Nabi saw, seorang Bilal bin Rabah yang hamba sahaya pada masa jahiliyah menjadi orang merdeka pada masa Islam, dan memiliki kedudukan yang sama dengan para bangsawan Quraisy, seperti Abubakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Ini karena Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah saw mengajarkan persamaan derajat, sekaligus beliau sebagai pemimpin umat - dan tidak salah jika dikatakan pemimpin politik umat - menjamin realisasi persamaan derajat itu sendiri. Sehingga pernah suatu ketika beliau marah kepada seorang shabatnya yang mencela warna kulit Bilal.

Pada zaman yang sama, ketika Nabi saw mengirim pasukannya ke negeri Syam, beliau berpesan agar pasukan itu tidak menebang pohon kecuali untuk kebutuhan masak, melarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang tidak ikut berperang dan orang yang telah menyerah, beliau juga melarang membunuh orang yang sedang beribadah di gereja, dst. Ini semua adalah buah dari ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Sepeninggalan beliau, Rasulullah digantikan oleh Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib secara berurutan. Pada zaman keempat sahabat itu, keadaan yang telah dibangun oleh Rasulullah saw tidak berubah, semua warga dibawa kepemimpinan khilafah menjalankan hak dan kewajiban, mendapatkan persamaan derajat, tidak ada yang dizalimi kecuali mendapatkan haknya, atau berbuat zalim kecuali telah mendapatkan sangsi. Keadaan ini berlangsung sampai masa keemasan Islam di Damaskus, kemudian di Bagdad dan Andalusia.

Tapi seirng dengan perkembangan berikutnya, umat menjauh dari agamanya, kegiatan agama dijauhkan dari kegiatan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, demikian pula sebaliknya, hingga sampailah zaman itu pada generasi kita.

Kita bersedih dengan keadaan kita, umat Islam sebagai umat terbesar di alam raya ini, tapi terzalimi hak-haknya, umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri tercinta ini, tapi terbantai di Maluku dan di Poso, tidak boleh menjalankan syariat agamanya secara kaffah, dihambat para pemimpinya yang saleh untuk memimpin bangsanya, tidak diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan ekonominya, dst.

Mungkinkah sejarah kita hari ini berulang seperti sejarah generasi pertama umat ini. Sangat mungkin! Tentu apabila kita mau memenuhi syarat-syaratnya. Sebagiannya telah kami sebutkan dalam makalah ini, yaitu dakwah dan politik sebagai instrumen terlaksananya ajaran Islam harus menyatu menjadi karakter setiap muslim, atau dengan kata lain menjadi poltisi dakwah.

3. Karakteristik Politisi Dakwah

Setiap muslim berkewajiban menjadi da’i, paling tidak, untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana Rasulullah saw berwasiat: “Sampaikanlah tentang ajaranku walaupun satu ayat.” Dan sekaligus secara perlahan menjadi politisi dakwah, sebagaimana telah kami ungkapkan sebelumnya. Adapun sifat dan karakter yang dimiliki para politisi dakwah adalah sebagai berikut:

A. Memiliki Keperibadian politik.

Kepribadian politik adalah sekumpulan orientasi politik yang terbentuk pada diri seseorang dalam menyikapi dunia politik. Ia memiliki tiga aspek.

Pertama, Doktrin-doktrin yang menagndung makna politis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Doktrin-doktrin yang tidak langsung meliputi:

(a) Doktrin khusus yang berkaitan dengan ketuhanan, manusia, alam semesta, pengetahuan dan nilai-nilai. Yaitu:

  • Keyakianan bahwa Allah swt adalah musyarri’ (Pembuat hukum).
  • Keyakinan bahwa al wala’ (loyalitas) dan al bara’ (anti loyalitas) adalah konsekuensi aqidah, loyal hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Dan kepada selainnya tidak akan pernah loyal.
  • Keyakinan bahwa semua manusia sama dalam hal penciptaan, hak dan kewajibannya.
  • Keyakinan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, dengan tujuan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat Allah, dan bahwa alam ini ditundukkan untuknya.
  • Keyakinan bahwa sumber nilai-nilai adalah wahyu.

(b) Doktrin khusus tentang masyarakat, perubahan sosial, dan perempuan. Yaitu:

  • Keyakinan bahwa karakteristik dan prinsip masyarakat muslim adalah akhlak.
  • Keyakinan bahwa perubahan sosial adalah atas dasar kemauan dan gerak manusia itu sendiri, berangkat dari pembinaan individu, kemudian keluarga, masyarakat dan negara.
  • Keyakianan bahwa perempuan memiliki hak-hak politik sama dengan hak-hak politik laki-laki.

Sedang doktrin-doktrin yang mengandung makna politis secara langsung adalah:

(a) Doktrin khusus tentang keadilan dan kedamaian sosial.

(b) Doktrin tentang strategi moneter, kemerdekaan dan kebangkitan ekonomi.

(c) Doktrin khusus tentang hukum dan kekuasaan, bahwa hukum Islam sebagai sumber kekuasaan; umat sebagai lembaga pengawas dan yang mengangkat dan menurunkan pemerintah; syura adalah keniscayaan; keadilan ditegakkan; kebebasan dan persamaan derajat adalah hak dan kebutuhan setiap orang.

(d) Doktrin khusus tentang kepahlawanan dan kewarganegaraan.

(e) Doktrin khusus tentang kemerdekaan kultural; kewajiban membebaskan diri dari penjajahan; dan kewajiban berjihad di jalan Allah.

Kedua, Pengetahuan dan wawasan politik, masalah ini akan dibahas pada point memiliki kesadaran politik.

Ketiga, Orientasi dan perasaan politik. Para politisi dakwah yang telah meyakini doktrin-doktrin di atas, disertai dengan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang politik, maka pasti ia memiliki orientasi dan perasaan politik. Diantaranya: Loyal kepada pemerintah yang menegakkan syariat Islam; rasa ukhuwah insaniyah dan islamiyah, serta rasa persamaan derajat dengan orang lain; hasrat melakukan perubahan sosial dengan ishlah dan tarbiyah; menghindari kekerasan; menghargai pendapat orang-orang berpengalaman; sikap positif terhadap aktivitas positif; benci kesewenang-wenangan; cinta kemerdekaan; rasa kewarganegaraan dan kepahlawanan; rasa benci dan tunduk kepada bangsa lain; mendukung gerakangerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh dunia; bermusuhan dengan penjajah dan seterusnya.

Kesemua orientasi dan perasaan politik tersebut sangat penting, dan seharusnya politisi dakwah membangunnya pada dirinya dan pada umat Islam serta pada masyarakat umum.

B. Memiliki kesadaran politik.

Kesadaran poltik yang musti dimiliki oleh seorang politisi dakwah adalah:

Pertama, Kesadaran misi, yaitu kesadaran terhadap ajaran Islam itu sendiri, atau kesadaran akan doktrin-doktrin yang telah disebutkan di depan. Ia meliputi pada penyadaran akan dasar-dasar aqidah, akhlak, sosial, ekonomi dan plitik Islam; Juga meliputi pada penyadaran akan pentingnya aplikasi Islam, sebagai asas identitas umat; Selanjuntnya meliputi pula pada penyadaran terhadap karakteristik konseptualnya. Misalnya ia adalah konsep universal untuk seluruh zaman dan tempat.

Kedua, Kesadaran gerakan, yaitu kesadaran terhadap ajaran islam tidak akan terwujud di tengah masyarakat dan negara kecuali ada organisasi pergerakan yang berkomitmen dengan asas Islam, dan bekerja untuk mewujudkannya.

Ketiga, Kesadaran akan problematika politik yang terjadi di masyarakat, yang meliputi probelematika politik nasional, regional dan internasional. Contoh untuk problematika nasional adalah penegakan hukum Islam dengan usulan agar UUD 1945 pasal 29 diamandemen, dan memasukkan ke dalamnya tujuh kata piagam Jakarta.

Keempat, Kesadaran akan hakikat dan sikap politik, yaitu kemapuan politisi dakwah memahami peristiwa poltik dan sadar akan sikap kekuatan-kekuatan politi dalam menghadapi berbagai peristiwa politik itu sendiri. Kesadaran semacam ini tidak mungkin ada tanpa kemampuan mutabaah terhadap berbagai peristiwa dan berbagai kekuatan politik baik melalui media massa maupun kajian-kajian.

Keempat kesadaran poltik tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesadaran misi adalah kesadaran permanen; kesadaran gerakan adalah kesadaran permanen dan fleksibel; kesadaran problematika politik adalah kesadaran fleksibel berdasarkan pandangan yang permanen; dan kesadaran sikap politik adalah kesadaran fleksibel sesuai jenis peristiwa.

C. Berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan politik.

Paertisipasi politik seseorang sangat bergantung orientasi politiknya yang telah terbentuk oleh doktrin-doktrin politik yang telah diyakininya. Maka seorang politisi dakwah yang telah meyakini bahwa menegakkan pemerintahan Islam dalah kewajiban, pasti akan berparisipasi pada setiap kegiatan politik yang kan menuju ke sana. Dalam rangka menggapai keyakinan tersebut, seorang politisi dakwah dapat berpartisipasi; pertama, dalam bentuk individu dengan menjadi anggota organisasi politik; sedang yang kedua, dalam bentuk memberikan solusi atas realita dan problematika masyarakat.

Contoh untuk bentuk yang pertama adalah, lahirnya parati-partai politik yang sebelumnya hanya berbentuk gerakan-gerakan dakwah yang terorganisir rapi dan sistematis, yang kemudian setiap anggota gerakan menjadi anggota partai politik secara otomatis. Dan mensukseskan setiap kegiatan partai tersebut pada setiap jenjang struktur yang menjadi hak dan wewenangnya.

Sedang contoh untuk bentuk yang kedua adalah, keikutserataan seorang politisi dakwah dalam aksi-aksi politik, seperti demonsntrasi menentang kebijakan nasional ataupun internasional yang merugikan agama Islam, atau keikutsertaan seorang politisi dakwah dalam pelayanan sosial, misalnya dengan membantu warga yang sedang mendapatkan musibah atau bencana alam, atau dengan melakukan upaya menghilangkan buta huruf di masyarakat, atau dengan mengadakan aksi mengangkat masyarakat dari bawah garis kemiskinan dls.

4. Langkah-langkah Menjadi Politisi Dakwah

Semoga dengan uraian di depan dapat menghilangkan keterbelahan pemahaman bahwa dakwah dan poltik adalah sesuatu yang kuntra, dan tidak dapat disatukan dalam satu aktifitas. Semoga pula dapat ‘menggoda’ kita untuk menanam saham kebaikan dalam rangka membangun peradaban dunia, yang sesuai kehendak Allah, melaui aktifitas dakwah dan politik. Akan tetapi dari mana kita memulai?

Pertama, Membangun kembali pemahaman kegamaan kita, bahwa agama Islam itu agama yang syamil, mencakup seluruh aspek kehidupan; bahwa agama Islam itu asasnya aqidah, batangnya amal ibadah dan buahnya adalah akhlak; bahwa agama Islam itu diamalkan di dunia dan pahalanya diperoleh di akhirat; bahwa agama Islam itu diturunkan Allah untuk semua manusia, dan sterusnya. Pemahaman ini harus dibangun melalui peroses belajar mengajar. Islam mengajarkan bahwa belajar dilakukan dengan dua hal: Satu, dengan membaca fenomena-fenomena alam dan literatur-literatur; dan dua, dengan belajar melalui guru. Kedua metode tersebut harus dilakukan oleh stiap muslim, tidak boleh hanya salah satunya. Sebab dengan membaca saja seseorang dapat tersesat, atau dengan melalui guru saja, seseorang memiliki wawasan yang sempit. Karena dengan demikian, kita sebagai politisi dakwah dapat mengamalkan Islam penuh tanggung jawab, tidak berdasarkan hawa nafsu.

Kedua, Membangun kembali kebersamaan kita, bahwa kita itu bersaudara, tidak dipisahkan oleh batasan darah, suku dan bangsa, apalagi hanya dibatasi oleh perbedaan organisasi keagamaan atau perbedaan madzahab; bahwa kita itu perlu kerjasama dan berjamaah, karena memang setiap amalan dalam agama Islam sangat dianjurkan dilakukan dalam berjamaah; bahwa kita tidak dapat merealisasikan sebagian besar ajaran agama Islam kecuali dengan bersama-sama. Kebersamaan dapat dibangun dengan kemampuan kita melepaskan egoisme individu masing-masing kita, sehingga kita dapat menerima dan memberi nasehat orang lain, serta mampu bersabar atas kekurangan dan perbedaan dalam kebersamaan. Sehingga kebersamaan ini membuat politisi dakwah menjadi kuat dan dapat segera mencapai cita-citanya.

Ketiga, Mengenal kembali potensi dan kelebihan diri kita; bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain; bahwa kelebihan kita dapat menjadi keunggulan yang menutupi kekurangan orang lain; bahwa keunggulan kita dapat menghapus kelemahan kita. Yang penting, dengan keunggulan itu dapat kita jadikan sebagai sarana yang memanjangkan umur pahala kita. Sehingga kita menumbuhkannya secara terus dan menjadi politisi dakwah melalui keunggulan tersebut.

Keempat, Memahami kembali realitas kehidupan kita; bahwa kita hidup pada hari ini, bukan hari kemarin yang sangat mungkin kulturnya jauh berbeda dengan hari ini; bahwa kehidupan itu penuh dengan dinamika, sehingga kita politisi dakawah dituntut memiliki kemampuan mengaktualisasikan ajaran Islam, dalam bentuk sarana, metode, dan cara sesuai zaman, tanpa harus keluar dari frame dasar agama ini.

Akhirnya, Telah menjadi harapan kami, semoga kita dapat menjadi politisi dakwah yang mempelopori pelaksanaan ajaran Islam, secara bersama-sama, berangkat dari keunggulan kita masing-masing, dalam nuansa memperhatikan keadaan, perubahan dan dinamika zaman, yang pada gilirannya Islam tidak hanya tertulis dalam Al Qur’an, tergambar dalam Sunnah dan tertarjamah dalam buku-buku, tapi menjadi kenyataan di muka bumi. Atau tidak hanya menjadi gambar dan maket, tapi dapat menjadi bangunan yang kokoh, yang semua orang dan makhluk dapat bernaun dan tinggal dengan damai dalam bangunan tersebut.

Wallahu a’lam

sumber: dakwatuna.com

PEMIMPIN ADALAH NAKHODA

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah swt menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah swt berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.

Di dalam Al Qur’an Allah swt telah menceritakan hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.

Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tepai lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah swt akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.

Pemimpin Adalah Nahkoda

Benar, perumpamaan yang mengatakan bahwa pemimpin adalah nahkoda bagi sebuah kapal. Sebab Negara ibarat kapal yang didalamnya banyak penumpangnya. Para penumpang seringkali tidak tahu apa-apa. Maka selamat tidaknya sebuah kapal tergantung nahkodanya. Bila nahkodanya berusaha untuk menabrakkan kapal ke sebuah karang, tentu bisa dipastikan bahwa kapal itu akan tenggelam dan semua penumpang akan sengsara.

Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemipin adalah otak yang mengatur semua gerakan anggotanya. Karena itu pemimpin harus cerdas, lebih dari itu harus jujur dan adil. Tidak cukup seorang pemimpin hanya bermodal kecerdasan, sebab seringkali para pemimpin yang korup menggunakan kecerdasannya untuk menipu rakyat. Karena itu ia harus jujur dan adil.

Itulah rahasia firman Allah : “I’diluu huwa aqrabu lit taqwaa. Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”. QS. Al Ma’idah: 8.

Perhatikan ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah jalan menuju ketaqwaan. Mengapa? Sebab tidak mungkin seorang pemimpin yang dzalim bertaqwa. Bila jiwa taqwa hilang dari diri seorang pemimpin, ia pasti akan berani kepada Allah swt. Bila seorang pemimpin berani kepada Allah swt, maka kepada manusia ia akan lebih berani.

Karena itu bekal utama seorang pemimpin harus benar-benar menegakkan taqwa dalam dirinya.

Karena itu pesan utama Al Qur’an adalah membangun pribadi taqwa. Sebab dengan taqwa seorang pemimpin akan bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt. Bila ia bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt maka segala langkahnya akan berkah dan otomatis Negara yang dipimpinya pun akan berkah.

Itulah rahasi mengapa dalam memilih seorang pemimpin, hendaklah sebuah bangsa jangan asal-asalan. Melainkan harus benar-benar selektif. Jangan asal disogok lalu berani mengorbankan kebenarn. Ingat bahwa Allah swt tidak hanya mengancam orang-orang yang berbuat dzalim, melainkan juga mengancam orang-orang yang mendukung kedzaliman tersebut.

Allah berfirman:

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. QS. Al Mukmin : 45-46.

Pemimpin Adalah Cermin Rakyat

Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup. Karena itu terpilihnya Fir’un sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih nyaman menikmaati kedzalimannya.

Ustadz Sayed Qutb ketika menafsirkan ayat tentang Fir’un dalam surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Fir’un terus berkuasa. Mereka pasti akan segera memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’un merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’un menjadi lupa daratan sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah swt rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”. Saya tuhan kalian yang tinggi.

Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup atau yang jujur dan adil.

Ingat bahwa setiap suara yang kita berikan itu adalah amanah. Bila kita salah menyerahkan amanah, yang sengsara kita juga. Sebaliknya bila kita bersungguh-sungguh untuk menyerahan amanah itu kepada yang ahlinya, maka kitalah yang akan menikmatinya. Bukan saja kesejahteraan di dunia yang kita dapatkan melainkan lebih dari itu, kita akan mendapatkan pahala yang melimpah karena kita telah mendukung kebaikan.

Dari sini nampak bahwa suara rakyat adalah sangat menentukan terhadap lahirnya seorang pemimpin. Oleh sebab itu, kita sebagi rakyat hendaknya bersungguh-sungguh untuk menjadi rakyat yang baik, sebab jika tidak, kita sendiri yang rugi dan sengsara. Rasulullah saw. Bersabda: ”Bahwa seorang mu’min tidak pantas terjatuh ke lubang yang sama dua kali”. Maka cukuplah masa lalu kita jadikan pelajaran. Sekarang sudah saatnya kita memilih pemimpin yang benar-benar membawa risalah Allah. Sebab hanya dengan menegakkan ajaran Allah swt keberkahan akan turun.

Allah berfirman:

”Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa, niscaya akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi”. QS. Al A’raf : 96.

Berdasarkan hal di atas, jelas bahwa keberkahan yang akan kita raih tergantung perjuangan kita untuk menegakkan ajaran Allah. Dan untuk itu sungguh sebuah keniscayaan kita memilih seorang pemimpin yang benar-benar membawa keberkahan. Itulah pemimpin yang bersih dan senantiasa mengedepankan risalah Allah swt sebagai panduannya.

Sejarah telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah swt ceritakan dalam Al Qur’an, misalnya: Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Dzul Qarnain, itu adalah karena kesungguhan mereka menegakkan ajaran Allah dalam kepemimpinannya. Begitu juga kepemimpinan Rasulullah saw, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka dalah contoh-contoh yang tidak bisa kita nafikan sebagai puncak pemimpin yang paling berhasil dan sukses.

Dan bila kita teliti kunci utama keberhasailan mereka adalah karena mereka memimpin dengan ketaqwaan. Sebab bila seorang pemimpin bertaqwa ia pasti jujur dan amanah. Bila seorang pemimpin jujur dan amanah ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada rakyat yang dipimpinnya.

Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak bertaqwa, ia pasti akan selalu membawa bencana dengan kedzaliman yang ia bangga-banggakan. Kedzaliman adalah sumber kesengsaraan. Karena itu Allah swt menyebutkan bahwa orang yang paling dzalim adalah orang yanga setelah mendapatkan tuntunan dari Allah malah ia berpaling darinya. Mengapa dikatakan dzalim, karena dengan kedzalimannya tidak saja ia menjadikan dirinya sebagai bahan neraka, melain juga dengan kedzalimannya ia membawa acaman bagi orang lain yang dipimpinnya.

Wallahu A’lam.

Mukhlis Aminullah, peminat agama, berdomisili di Bireuen.

Senin, 20 April 2009

KESAKSIAN JIHAD DARI SEORANG AGEN SPIONASE

Tragedi hancurnya gedung WTC 11 September yang berlangsung sekitar delapan tahun lalu masih menyisakan berbagai cerita, yang belum habis dikupas oleh media internasional maupun penulis buku. Tragedi itu tidak hanya yang mengakibatkan Amerika dan dunia berduka, namun juga membuat Amerika murka, terutama Presiden George W.Bush. Dan kejadian itu menjadi pembenaran kebijakan Bush kemudian hari yaitu menghancurkan Afghanistan, mencap semua orang Islam harus dicurigai dan membangkitkan sentimen anti-Islam dibeberapa negara Eropa. Sentimen agama yang dipicu dari "keadaan buruk" di Palestina, Afghanistan dan Bosnia yang tak kunjung berakhir, rupanya melahirkan kelompok Islam garis keras bersatu. Demi alasan jihad, lantas menyerang musuh di seberang lautan (Amerika/Eropa). Tak pelak, jika serangan itu menegaskan dikotomi Islam dan Barat dalam peta peradaban pasca keruntuhan Uni Soviet.

Genderang perang ditabuh dan serangan itu pun membangun peta terorisme internasional baru yang tak hanya melahirkan musuh untuk diserang (Barat) dan pelaku jihad (Al-Qaeda). Sebaliknya, Barat tak tinggal diam dan selalu waspada. Maka terorisme tak sekadar melahirkan dua kutub Barat dan Islam saling berhadapan, tapi juga keterlibatan spionase untuk membaca peta musuh.
Anda mungkin belum pernah mendengar tentang seorang Omar Nasiri, seorang Muslim yang mengemban misi dinas intelijen Prancis, Inggris dan Jerman. Selama 7 tahun yang bersangkutan berkecimpung dalam dunia intelejen ketiga negara tersebut di atas. Dan dia mengungkapkan tentang latar belakang cengkraman terorisme internasional yang sampai kini ternyata belum berakhir, dalam sebuah buku.

Meski Omar Nasiri bekerja sebagai spionase untuk dinas inteligen Prancis, Inggris dan Jerman (1994-2000) sebelum serangan 11/9, tapi kesaksian yang dibeberkan Omar dalam bukunya merupakan secuil informasi tentang bagaimana jaringan fundamentalisme dan intelijen kontra-terorisme bekerja. Apalagi selain sebagai mata-mata, Omar juga mengaku sebagai mujahid. Memang Omar yang berlatar belakang Maroko dan sempat menempuh pendidikan di Belgia, bisa menjadi jembatan yang memudahkannya jadi mata-mata.

Tapi keterlibatan Omar sebagai spionase Barat tentu tak sesepele itu tanpa ada ideologi jihad yang melatarbelakangi. Pada mulanya, ia sebagai seorang Muslim merasa tercabik dengan kesengsaraan umat Islam di Afghanistan dan Bosnia/Serbia dan hendak berjihad. Tentu keinginan itu membuat Hakim, kakaknya senang. Apalagi di Maroko, Omar hidup sebagai makelar gelap. Hakim lalu mengajak Omar kembali ke Belgia.

Tapi sesampai di Belgia, ternyata keadaan sudah berubah. Hakim menyeret Omar terlibat GIA (Kelompok Islam Bersenjata) jaringan teroris penting Aljazair (di Belgia). Dihadapkan pada kondisi Omar yang butuh uang, Omar menawarkan diri jadi pemasok senjata. Tapi saat rumah ibunya jadi markas GIA --menerbitkan surat kabar Al-Ansar-- ia dihinggapi rasa khawatir. Apalagi, sejak awal dia sudah berbeda ideologis dengan GIA (yang membenarkan pembunuhan warga sipil yang tak mendukung GIA).

Dari pebedaan itulah, Omar melakukan konfrontasi; mencuri uang kas GIA agar GIA hengkang dari rumah ibunya. Tapi, harapan itu meleset. Ia justru diancam (dibunuh). Dihinggapi takut, Omar pun terjerumus jadi spionase, setelah mendatangi dinas intelijen Prancis (DGSE) demi untuk menyelamatkan ibunya. Setelah itu, rumahnya digerebek. Polisi menangkap anggota GIA (Amin, Yasin dan Hakim) tetapi Omar bebas karena Giles (penghubung Omar dari DGSE) hendak menawarkan misi baru buat Omar untuk menelusup ke kamp di Afghanistan.

Omar tidak menolak. Omar menelusup dari Turki dan Pakistan kemudian bergerak ke jaringan radikal Islam Afghanistan (lewat Abu Zubayda). Semula di kamp di Khaldan. Rupanya, berkat kepiawaian di kamp, Omar dikirim Ibnu Syeikh ke kamp Darunta. Selama satu setengah tahun (1995-1996), misinya tak terendus. Dari Darunta, Ibnu Syeikh malah mengirimnya ke Eropa untuk dijadikan penghubung bagi petinggi kamp di Afghanistan.

Tetapi sekembali dari Afghanistan, Omar kembali menjadi antek intelijen Barat ditugaskan ke London --disewa secara gabungan oleh dinas rahasia Prancis dan Inggris untuk menyusup dalam jaringan kelompok radikal di London. Di kota itu, Omar bertugas memata-matai Abu Hamza (di masjid Finsbury Park) dan Abu Qatada (di Four Feather Club). Dari London, ia lantas ditugaskan ke Jerman.

Kisah Omar berakhir saat ia pindah ke Jerman. Di sana, dia diabaikan. Tak diberi perlindungan dan identitas baru sebagai warga Prancis yang dulu pernah dijanjikan. Apalagi tak lama kemudian Omar menikah. Hubungannya dengan dinas rahasia Jerman pun runyam. Tak ada lagi yang dikerjakannya, dan lantaran mendapat perlakuan yang buruk selama di Jerman (5 tahun tak diberi surat dan dia melakukan pekerjaan paling rendah), Omar memutuskan untuk menceritakan kisahnya sebagai spionase.


Menjadi intelejen Barat bukannya menyenangkan baginya. Ia tetap dihantui kebimbangan. Kebimbangan Omar, tentu dilatarbelakangi ideologi sebagai orang muslim. Dia bimbang untuk menambatkan kesetiaan. Dia merasa betapa sulit menjalani hidup jadi spionase. Maka ketika dia sadar bahwa dia telah bekerja untuk kaum kuffar, dia ingin menebus semua itu. Selain bertobat kepada Allah, dia juga ingin menulis pengalamannya dalam sebuah buku. Ia yakin buku yang ditulisnya adalah bentuk jihad dari seorang spionase dan pengakuan bahwa dia pernah khilaf.

Omar berharap, pengalamannya akan membantu membuka mata semua orang, bahwa setiap manusia (Muslim) bisa khilaf dan bekerja untuk musuh. Selain itu juga, pengalamannya berguna bagi pihak Barat, agar mereka memahami pemikiran umat Islam mengenai "logika jihad".

Bagi Anda yang ingin tau lebih detail tentang jihad Omar, sebaiknya membaca buku karangan nya itu, atau membuka mata lebar-lebar di internet mencari referensi lebih lengkap, karena yang saya tulis ini hanya sekelumit saja.


TIGA TANTANGAN DAKWAH ISLAM MASA KINI

Ada tiga tantangan dakwah yang dihadapi umat Islam di Indonesia saat ini, yaitu pemurtadan, gerakan sekularisasi, dan gerakan nativisasi.

''Ketiga masalah ini sudah disampaikan Muhammad Natsir, beberapa tahun silam. Namun, hingga kini, tantangan itu masih ada,'' ujar Adian Husaini, doktor bidang peradaban islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), Sabtu (18/4), dalam acara tasyakur dan orasi ilmiah di Jakarta.

Pemurtadan telah dilakukan sekelompok orang-orang yang tidak senang terhadap kemajuan Islam dan mengajari umat Islam dengan sesuatu yang menyimpang. Gerakan ini umumnya dilakukan pada masyarakat yang ada pada garis kemiskinan.

Sedangkan, gerakan sekularisasi, lanjutnya, biasa dilakukan dengan pemahaman keagamaan yang seolah-olah dilaksanakan oleh sebuah gerakan keagamaan. Gerakan ini umumnya dilakukan melalui gerakan pemikiran.

Dan, umat Islam, kata Adian, harus mencermati secara serius gerakan nativisasi yang dirancang secara terorganisasi. Kegiatan ini biasanya melakukan koalisi dengan kelompok lain yang tidak senang pada Islam.

Ditegaskannya, ketiga tantangan tersebut harus direspons dengan cerdas dan bijaksana. ''Tantangan tersebut tidak boleh membuat kita loyo, tetapi kita harus bersemangat menghadapinya agar umat Islam tidak diselewengkan, apalagi sampai dimurtadkan,'' tegasnya.

Adian menambahkan, Natsir dulu pernah mengkhawatirkan sekularisasi dan pembaruan yang dibuka tanpa kendali. Peristiwa-peristiwa tragis dalam dunia pemikiran Islam Indonesia telah berlangsung secara liar dan tidak dapat dikendalikan.

Saat ini, gerakan itu makin tampak dengan gerakan pembaruan pemikiran Islam, seperti sekularisasi dan liberalisasi. ''Liberalisasi pemikiran Islam telah menemukan medan kondusif karena didukung secara besar-besaran oleh negara-negara Barat. Sekularisasi dan liberalisasi Islam juga dilakukan secara besar-besaran di 500 perguruan tinggi Islam (PTI) di Indonesia,'' ujarnya.

Menurutnya, berbagai perdebatan seputar hubungan agama dan negara di Indonesia dan diskursus tentang Islam dan sekularisme dalam sejarah Indonesia harusnya menjadi bahan evaluasi bagi umat.

Adian mengungkapkan, tantangan terberat saat ini adalah gerakan liberalisasi Islam. Gerakan ini didukung kekuatan-kekuatan global yang masih memendam sikap Islamofobia dengan menyebarkan paham pluralisme agama, kesetaraan gender, dan gerakan liberalisasi lainnya yang berusaha meruntuhkan fondasi Islam dengan mendangkalkan akidah Islam dan merombak tatanan keluarga dan sistem sosial Islam.

sumber; harian rebublika

Senin, 13 April 2009

PERAN SAYA DALAM PEMILU

Rekan-rekan....
Ada satu catatan yang hampir saya lewatkan, yaitu mengenai kesibukan saya pada Pemilu kali ini. Secara resmi, saya memang tidak menjadi anggota maupun pengurus salah satu partai politik di Kabupaten Bireuen, tidak menjadi Anggota Panwaslu (karena sejak awal sudah mengundurkan diri) maupun menjadi penyelenggara. Namun saya tetap sibuk, hanya saja intensitas kesibukan lebih ringan, tidak sibuk seperti dulu, semasa menjadi Anggota KPU. Kenapa sibuk..?
Pertama; saya membantu rekan-rekan saya di salah satu partai demi memperoleh kursi Dewan. Kedua; saya membantu rekan-rekan anggota PPK di Kecamatan dalam agar bisa bekerja dengan baik dan jujur. Ketiga; saya membantu orangtua saya yang jadi salah seorang Caleg.
Ketiga peran yang saya lakoni sifatnya adalah membantu ide-ide demi terselenggaranya Pemilu dengan sukses. Kira-kira; seperti konsultan Pemilu....

Dalam menyelesaikan "tugas pembantuan" ini kadangkala timbul berbagai paradoks yang saya sendiri merasakannya. Betapa tidak. Ketika saya harus "membantu" teman-teman di salah satu partai (yang lebih sesuai dengan hati nurani saya), orangtua saya juga sedang berjuang dengan partai yang lain. Saya harus memilah dan memilih agar tidak terjadi benturan. Pada saat yang berbeda tentu saya juga bisa menjadi konsultan untuk orangtua saya di belakang layar.
Bermuka dua...? Tidak-lah..! Karena jelas saya hanya membantu orangtua saya, bukan ikut membantu partainya...
Hal lain adalah ketika rekan-rekan anggota PPK hampir secara rutin berkonsultasi agar bisa keluar dari berbagai permasalahannya, saya bisa menempatkan diri, bahwa pada saat itu tidak sedang menjadi konsultan bagi orangtua saya. Sederhana, namun saya bersikap profesional.
Saya tidak memanfaatkan "kelemahan" sisi penyelenggaraan Pemilu untuk mengkatrol posisi orangtua saya. Kalaupun ada kritikan untuk rekan-rekan penyelenggara, termasuk PPK di lapangan, itu adalah kewajiban demi suksesnya Pemilu. Pada saat orang mendapat kritikan, kadang orang tidak bisa menerimanya, namun suatu saat kadangkala, ybs akan berterima kasih telah dikritik. Bagi yang berjiwa besar....!!!!

Peran-peran saya seperti sudah saya sebutkan di atas, di satu sisi, sangat membahagiakan.... karena saya sangat mencintai dunia politik, khususnya dunia Pemilu. Namun, di sisi yang lain sedikit kecewa. Hal ini karena beberapa saran saya masih diabaikan oleh rekan-rekan PPK di lapangan. Sehingga terjadilah berbagai kecurangan di lapangan yang mencoreng nilai-nilai demokrasi.

Sebagai orang yang mempunyai pengalaman dalam Pemilu, menurut saya, apa yang telah saya lakukan sudah merupakan sumbangsih yang baik demi adanya perbaikan dalam proses Pemilu, karena dalam melakukan semua ini tidak ada konflik kepentingan. Saya melakukan dengan ikhlas, semoga dengan itu membawa kebaikan untuk semua.

Mukhlis Aminullah, mantan Anggota KPU Bireuen, Aceh.

QUO VADIS PEMILU DI ACEH

Hari ini agak susah bagi saya untuk memulai menulis tentang Pemilu. Bukan kehabisan ide, namun begitu banyak permasalahan yang terjadi, mulai dari proses pemungutan suara di TPS sampai rekapitulasi ditingkat Kecamatan. Oke, akan saya coba urutkan satu per satu........

Selama reformasi saya belum pernah melihat proses pemilu yang hancur-hancuran seperti tahun ini. Dan menurut cerita dari ayah saya, mungkin inilah Pemilu terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Pemilu 1955 pun yang masih dalam masa transisi setelah 10 tahun kemerdekaan dan bangsa kita masih mencari jati diri di dunia internasional, berlangsung lebih baik dari sekarang. Jangan ditinjau dari kemajuan tehnologi, tetapi dari prosesnya yang berlangsung lebih jurdil.....

Pemilu di masa Orde Baru-pun tidak sejelek ini. Katakanlah, rezim Soeharto mengekang semua elemen masyarakat, termasuk partai politik, untuk menyuarakan nasib rakyat dalam proses demokrasi, namun dilakukan tidak secara terang-terangan. Tidak ada intimidasi secara kasar yang mengabaikan etika dari tangan-tangan Orde Baru. Rakyat, termasuk Pegawai Negeri memang dianjurkan mencoblos Golkar. Kecurangannya yaitu suara kita tidak tersalurkan secara jujur, namun tidak dilakukan ancaman. Proses "penghilangan" suara rakyat dilakukan dibelakang layar.

Yang terjadi sekarang adalah proses kehancuran nilai-nilai demokrasi suatu bangsa, terutama bagi penduduk Aceh yang baru pertama kali pemilu-nya diikuti oleh Partai politik lokal. Cukup banyak menyisakan persoalan, mulai dari masa persiapan pemilu, perekrutan penyelenggara (Anggota KIP), pendataan pemilih, pencalonan, uji baca Al Qur'an, penetapan DPT, urusan Logistik, pemungutan suara dan terakhir adalah penghitungan suara.

Proses perekrutan Anggota KIP Bireuen, menyisakan beragam pertanyaan yang sampai hari ini tidak bisa dijelaskan kepada publik oleh tim penjaringan. Walau secara yuridis formal tidak ada masalah, karena memang tidak ada gugatan, namun hampir semua orang Bireuen yang selalu mencermati prosesnya (bukan hasil akhir), bisa mengatakan adanya "permainan" yang bertujuan mengamputasi hak-hak perseorangan untuk ikut berpartisipasi dalam proses pemilu.
Bukan rahasia umum, kemudian hari ada orang yang mengaku tidak bisa membaca Al Qur'an, tapi bisa lulus saat seleksi di Tim Penjaringan. Begitu juga sebaliknya, ada peserta seleksi yang jelas-jelas mendapat rangking teratas di uji tulis, sengaja rangkingnya dikaburkan menjadi peringkat belasan agar ketika tidak lulus wawancara, tidak ada masyarakat yang heran dan komplain. Semua "bocoran" baru terungkap secara detail di kemudian hari dan informannya adalah "orang dalam"

Ketika Anggota KIP yang baru, mulai melaksanakan tugas, beragam persoalan sudah menunggu dan harus diselesaikan. Ibarat seseorang baru bisa berjalan, tiba-tiba kita minta untuk berlari.... bagaimana dan apa yang dilakukan..? Begitulah yang terjadi, mereka harus melakukan pendataan pemilih dan mempersiapkan pencalonan Anggota DPRK. Pendataan pemilih berlangsung di bawah standar, akibat kurangnya koordinasi antara pihak KIP dengan jajaran di bawahnya. Hubungan dengan PPK, secara resmi, tidak terjalin secara intens. Bagi Anggota maupun Ketua PPK yang "rajin" menyambangi KIP, akan mendapat informasi seputar Pemilu, walau minim. Akan tetapi, bagi mereka yang tidak pernah datang ke KIP atas inisiatif sendiri, tidak tau apa-apa. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan para Anggota PPK sudah sering mengeluh.
Semua persoalan tsb membuat out-put yang dihasilkan juga tidak maksimal. Wajar saja bila sekarang kita temui carut marutnya DPT di masing-masing Kecamatan.


Selanjutnya pada proses pencalonan juga tidak kurang masalah. Ada informasi sangat akurat, bahwa ada salah seorang pengurus Partai tidak bisa membaca Al Qur'an, tetapi bisa lolos dari hadangan Teungku yang menguji. Sebuah sumber mengatakan, ybs "dibantu" untuk lulus....
Wah, gawat....... Ini baru satu sumber saja, bisa saja ada cerita "belakang layar" lain lagi.

Selanjutnya adalah proses penetapan DPT yang dilakukan 2 (dua) kali oleh KPU Pusat. Penetapan kedua sifatnya merevisi penetapan yang pertama, setelah ada perbaikan. Sementara pada level Kabupaten/Kota, KIP Kabupaten Bireuen tidak melakukan revisi terhadap hasil penetapan sebelumnya, padahal pada saat itu realita di lapangan adalah banyak masyarakat tidak terdaftar. Dan tentu saja ada juga sebaliknya, yaitu orang meninggal 2 (dua) tahun lalu masih masuk DPT. Kalau saja pihak KIP Kabupaten Bireuen, sejak awal jeli, tentu pro-aktif mendorong PPK serta petugas pendataan untuk melakukan re-chek terhadap DPT. Maka, wajar bila sekarang kita dapat info bahwa puluhan anggota keluarga Yonif 113 tidak terdaftar, puluhan anggota keluarga Asrama Polisi, puluhan anggota keluarga Kodim/Kiban 113 dan masyarakat lainnya. Keluarga saya di Gampong Cot Puuk, Kecamatan Gandapura ada belasan yang tidak terdaftar.

Ada apa dengan kampanye...? Sangat jelas banyak sekali pelanggaran di lapangan. Mobilisasi peserta kampanye salah satu Partai lokal mengabaikan aturan lalu lintas di jalan raya, sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya. Cerita lain adalah dilarangnya masyarakat menghadiri kampanye terbuka PKS, Partai SIRA dan PRA oleh sekelompok orang dari partai lokal tertentu. Selain itu, beberapa partai melakukan kampanye melewati batas waktu. Memang hal ini tidak semata-mata kesalahan penyelenggara, namun masyarakat sendiri punya andil karena tidak berani melapor ke Panwaslu.

Hari pemungutan suara adalah puncak dari semua proses penghancuran nilai-nilai demokrasi. Kami pantau di lapangan, beragam persoalan pada hari pemungutan suara. Mulai tidak dibagikannya DPT kepada Saksi maupun Panwas Lapangan oleh KPPS, tidak diumumkan DPT kepada Pemilih di TPS, tidak diberikan salinan hasil penghitungan suara di TPS kepada Saksi, hingga tidak di- akomodirnya protes Saksi pada penghitungan suara. Ada lagi pemilih yang tidak ada namanya dalam DPT, namun ybs akhirnya dapat memilih. Itu hanya pelanggaran oleh KPPS, belum lagi pelanggaran oleh beberapa pihak yang dengan sengaja menggiring Pemilih untuk memilih salah satu Partai lokal.

Semua perbuatan atau pelanggaran itu berlangsung secara terang-terangan. Tidak ada tindak lanjut dari pihak terkait. Panwas lapangan tidak berkutik, Saksi partai lain apalagi, mereka takut ancaman. Pelanggaran yang terjadi pada pemungutan dan penghitungan suara, berlangsung secara sistematis. Layaknya ada sebuah koordinasi yang matang, agar semua pihak melakukan pelanggaran, atau setidak-tidaknya ada pembiaran terjadinya pelanggaran. Akses untuk pemantau dan panwas juga sangat terbatas, sehingga pelanggaran-pelanggaran di lapangan terkesan tidak ada tindak lanjut.

Yang sangat kita sesalkan adalah pernyataan Ketua KIP NAD, A. Salam Poroh tanggal 10 April 2009 di koran Serambi Indonesia. Bahwa menurut KIP NAD, Pemilu di Aceh sudah berlangsung dengan baik. Padahal pada tanggal tersebut, masih dalam proses pemilu. KIP NAD terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Hari ini pun masih ada indikasi pelanggaran. Proses rekapitulasi di tingkat Kecamatan tidak berlangsung secara transparan. Ada beberapa Kecamatan yang melakukan rekapitulasi tidak dalam sebuah "Rapat Rekapitulasi Penghitungan Suara", artinya dilakukan penghimpunan data bukan di depan umum dengan menyebutkan satu per satu perolehan suara.
Ada kalanya memang bukan bertujuan untuk memanipulasi angka, namun karena keterbatasan formulir dan sebab-sebab lainnya. Namun proses demikian tetap merupakan pelanggaran.

Disatu sisi kita percaya para Anggota PPK akan berkerja dengan baik, namun di sisi yang lain, kita wajib untuk selalu waspada. Untuk saat ini sangat banyak calo politik maupun hantu kotak suara bergentayangan ke Kecamatan untuk menggoyang iman para penyelenggara. Mereka di imingi berbagai kemudahan.

Saya mengalami hal semacam itu ketika kita menyelenggarakan Pemilu 2004. Sampai hari inipun masih ada para Caleg yang mencoba untuk bermain-main dengan saya, padahal mereka tidak tau saya tidak lagi menjadi penyelenggara Pemilu. Semua godaan, Alhamdulillah bisa saya tolak dengan cara yang santun. Dan saya meyakini, para penyelenggara pemilu saat ini, terutama di Kecamatan, mengalami juga seperti saya. Mudah-mudahan mereka tetap di jalan yang tepat dan bisa menangkis godaan.

Masih ada beberapa tahapan lagi yang akan dilalui yaitu rekapitulasi tingkat Kabupaten/Kota, penetapan hasil pemilu tingkat Kabupaten/Kota dan penetapan Caleg terpilih. Mari kita buka mata lebar-lebar untuk menjaga suara rakyat. Lebih baik kita jaga sekarang, daripada nanti kita menggugat bila tidak puas terhadap hasil Pemilu.

Mukhlis Aminullah, mantan Anggota KPU Bireuen, Aceh.