Selasa, 05 November 2019

SENJA DI TAMAN BUNGA CELOSIA

taman bunga Celosia
aku terjebak senja
banyak orang mengunjunginya
berfoto bersama berselfie ria

senyum senja merekah bunga
semua pengunjung bermuka ceria
datang dari jauh bersama keluarga
merawat cinta bersama-sama

taman bunga Celosia
ada kelinci cantik di dalamnya
menyambut wisatawan dengan tertawa
berlalri-lari kesana kemari

Ketika aku pulang ke rumah
rindu pada taman tetap terpatri
pemilik bunga orangnya ramah
memberi kesempatan membaca puisi

taman bunga Celosia
aku akan terus merindukanmu
saat pagi, siang maupun senja
karena kenangan pernah kulukis ditamanmu

Bireuen 3 November 2019 mukhlis aminullah

Minggu, 04 Agustus 2019

KUYAKIN, CINTA

seperti tumpah secangkir teh
membasahi puisi
basah semua kisah, dan
belum sempat kubaca padamu
tapi kuyakin, rindu sekolam bunga
tidak pernah dibatalkan
seperti kertas-kertas itu
bisa dijemur ulang dan dikeringkan

Bireuen, 4 Agustus 2019 mukhlis aminullah

Senin, 15 Juli 2019

SISA SENJA

sisa senja yang kau tinggalkan
tidak cukup untuk melamar bulan
satu hari saja tanpamu, dik
bintang di langit malam kesepian


Bireuen, 14 Juli 2019 Mukhlis Aminullah
(cepat pulang mamak, kata dek Aya)

Kamis, 11 Juli 2019

MERINDUKANMU


tiba-tiba kesedihan membara
merindukanmu
buku tentang kesabaran telah tamat
enam tahun lalu


entah dimana kami dapat membaca lagi
(Allahummaghfirlahu warhamhuu)

Bireuen, 11 Juli 2019 mukhlis aminullah

Kamis, 04 Juli 2019

EPISODE ANAK KITA

anak kesatu lahir
usia kita masih muda
hari-hari kita bahagia
walaupun harta tiada


anak kedua lahir
usia kita beranjak dewasa
hari-hari kita bahagia juga
rezeki anak melalui kita

anak ketiga lahir
usia kita setengah baya
hari-hari kita tetap bahagia
rumah kecil milik kita

anak keempat lahir
usia kita beranjak tua
hari-hari kita penuh cinta
semua anak kita adalah harta kita

Bireuen, 4 Juli 2019 mukhlis aminullah
Fadhilah Adam

JANGAN TANYAKAN

jangan tanyakan
kenapa puisi-puisi ini
masih kutulis untukmu
karena semua jawaban
ada pada selembar kertas
yang pernah kamu terima
dua puluh tahun silam
sajak itupun pernah basah
kamu gosok lagi dan keringkan
kemudian kamu simpan
bertahun-tahun
bagaimana perasaanmu padaku
begitupun perasaanku padamu


Bireuen, 4 Juli 2019 mukhlis aminullah
Walau sudah tua, boleh dong aku mengirim puisi kepadamu, dik Fadhilah Adam...

MENULIS RINDU

setiap bulan purnama
aku telah menulis rindu
pada kertas-kertas
dan, melewati dua puluh tahun
telah kuhabiskan tinta
pada dua ratus empat puluh lembar
ketika puteri sulung kita
merayakan ulang tahun ke 19 nanti
aku berharap puisi-puisiku
tidak pernah selesai
sampai kita berdua menjadi kakek dan nenek


selamat malam, cinta

Bireuen, 4 Juli 2019 mukhlis aminullah
Fadhilah Adam

Sabtu, 23 Maret 2019

RINDU MASA, RINDU IBU


Seperti gemercik air danau
Mendengar dengan tekun
Kau ajarkanku Alif, Ba, Ta dan Sa
Dalam keremangan petromak
Kisah malam berlajut pada pe-er bahasa
Hari berganti, malam menghilang
Berbilang bulan, bertahun-tahun
Kami tumbuh, tumbuh, dan terus tumbuh
Menjadi remaja, dewasa
Kami setengah baya, engkau jadi tua
Kami menjadi tua, engkau renta
Malam berganti, matahari tenggelam
Dhuha berganti, matahari kian tinggi
Demi masa, masa muda, masa tua
Kami merindukan mendengar lagi
Alif, Ba, Ta dan Sa bernada
Seperti gemercik air danau
Yang keluar dari kerongkonganmu


Rindu belaianmu, Ibu!

Bireuen, 23 Maret 2019 mukhlis aminullah
(Semalaman memimpikanmu)