Minggu, 16 Agustus 2015

HIDUP DI PINGGIRAN

berada di pinggiran
ternyata lebih mudah
bisa leluasa menikmati
semua keindahan


semoga bisa tetap di sini
abadi!
dalam sebuah episode panjang

Bireuen, 16 Agustus 2015 mukhlis aminulla

PENA PUISIKU TETAP TAJAM

aku menuliskan puisi ini
sambil berlari
dikejar pemilik kekuasaan
tergopoh-gopoh aku bersembunyi
lari dari moncong senapan
undang-undang lama coba dikebiri
undang-undang baru disiapkan
mengkritik kekuasaan
akan berurusan dengan penguasa
sebuah negeri sedang digiring
menuju demokrasi yang asing
aneh dan membingungkan!


walau dikejar pemilik kekuasaan
aku akan terus menulis kritikan
walaupun sambil berlari
(dengan pena puisi)

Bireuen, 16 Agustus 2015 mukhlis aminullah

MAKNA MERDEKA


kesedihanku adalah mata air
yang setiap saat mengeluarkan
air mata
kisah tentang bangsa ini
telah membuat hatiku luka
luka, karena merasa belum merdeka
kalau saja merdeka kita
hanya penggantian warna bendera
itu bukan merdeka
merdeka kita ialah berkuasa
berkuasa atas ekonomi negara kita
merdeka kita adalah sejahtera
masyarakat kita sejahtera kehidupannya
merdeka kita ialah berdaya
pemerintah kita menguasai sumber daya
setelah tujuh puluh tahun merdeka
ternyata kedaulatan bukan milik kita


ketika kesedihanku menjadi air mata
aku benar-benar lara
dan melupakan semangat merdeka
yang tengah gegap gempita

Bireuen, 16 Agustus 2015 mukhlis aminullah

Sabtu, 15 Agustus 2015

MAKNA BULAN AGUSTUS

setiap bulan Agustus
yang kuingat hanya tentang karnaval
itupun karena ada pengeluaran ekstra
untuk sewa pakaian anak-anakku
entah sejauh mana makna kemerdekaan
bagiku
ketika nilai rupiah kian anjlok
harga kebutuhan pokok melonjak
begitu juga dengan harga beli hasil tani
murah dan tak terkendali
entah sejauh mana makna kemerdekaan
bulan ini tidak lebih berarti
daripada bulan lalu dan bulan depan
kecuali di depan rumahku
kupancang tiang dengan bendera kusam
tidak juga rumah ini kuhiasi merah putih
karena tidak ada dana untuk cat rumahku
dalam apebeka
kalaupun harus kudandani rumah ini
cukuplah dengan tambahan bunga
warna-warni merah putih siaga


setiap bulan Agustus
selalu saja aku menulis puisi kecewa
kecewa kepada pemimpin bangsa, dan
kecewa menjadi warga negara

(Agustus tahun depan aku tak ingin menulis lagi,
kekecewaanku cukup sampai disini)

Bireuen, 15 Agustus 2015 mukhlis aminullah

Kamis, 06 Agustus 2015

KAMI INGIN NIKMATI DUNIA

hati kian kering
ilmu baik tumpah entah kemana
bukan ke ruang semestinya
ilmu jahat merajalela
menguasai otak manusia
ternyata ruh juga gersang
semua orang ingin kuasai dunia
dengan cara apa saja
halal dan haram bukan lagi
pantangan
oh, tidak! semoga kami tidak
berada dalam suasana ini
Ya Allah,
berikan kami hati yang lembut
berikan kami jiwa yang rendah hati
berikan kami ilmu yang berguna
agar kami tetap sempurna
menikmati dunia

Bireuen, 5 Agustus 2015 mukhlis aminullah

Minggu, 19 Juli 2015

MIMPI (SEDANG BERADA DIMANAKAH DIRIKU?)

aku seperti mimpi, entah sedang dimana?
di negeri ini harga barang melambung tinggi
pemerintahnya tidak peduli
di negeri ini penegak hukumpun tersangka korupsi
siapa lagi yang bisa kami percayai
di negeri ini katanya negeri paling toleransi
tapi mesjid kami dibakar lagi
di negeri ini semua serba kacau balau
anehnya banyak pejabat asyik berkicau (twitt)
di negeri ini kejahatan sangat merajalela
padahal semua penduduknya ber-agama
di negeri ini para umara tidak jadi teladan
bahkan sebagian pemuka agama juga demikian
di negeri ini banyak orang mengagungkan Pancasila
tetapi perilaku mereka merusak nilai Pancasila
di negeri ini peredaran narkotika luar biasa
hidup narapidananya dalam penjara seperti Raja
di negeri ini ayat-ayat kitab suci diperjual-belikan
semua tujuan adalah kekuasaan
di negeri ini pemimpinnya dipuja-puji
padahal itu semua pencitraan diri
di negeri ini kekerasan jadi tontonan
tayangan teve bisa tidak lagi menjadi rujukan
di negeri ini semuanya serba palsu
gigi palsu, rambut palsu, elektronik palsu
bahkan senyum Pemimpinpun palsu.... ah


aku masih bermimpi sekarang
sedang berada di negara manakah diriku?

Bireuen, 19 Juli 2015 mukhlis aminullah
(semoga tidak ada yang alergi dengan kritikku ini)

Minggu, 12 Juli 2015

SEPOTONG SAJAK TENTANG AYAH

senyum ramah seperti biasa
menyapaku
"ayo kita ke kondangan si A!" ajakmu
seperti biasa,
aku hanya menitip amplop
"aku sibuk, ayah" gumamku
dengan tetap tersenyum
kaupun berlalu, pergi ke kondangan itu
tidak ada raut kecewa padamu
walaupun jawabanku selalu
dengan kiriman amplop
pernah juga suatu waktu nasehatmu
"jangan putus silaturrahim!"
aku hanya mengangguk pelan
dengan tetap mengirim amplop
ah,
setelah dua tahun berlalu
ajakan itu seperti nyata
nasehatmu muncul lagi
aku tanggapi dengan manyun
kau tetap tersenyum
senyum seorang ayah bijaksana
(bahkan akupun belum mampu melakukakannya pada anakku)


tiba-tiba aku terbangun
oleh sirine sahur
aku merindukanmu, ayah
bukan dalam mimpi

Rabbighfirli waliwa lidayya warhamhuma kama Rabbayani saghira
kepada alm.ayahku Aminullah Amin

Bireuen, 12 Juli 2015 mukhlis aminullah

Kamis, 09 Juli 2015

RAMADHAN MADRASAH JIWA

Ramadhan
betapa aku mencintaimu
bersamamu kami menuntut ilmu
bersamamu kami belajar kesabaran
bersamamu kami menambah amalan
bersamamu kami coba meraih ketaqwaan


Ramadhan
seperti bangunan keimanan
kaulah madrasah yang agung
tempat kami mendidik jiwa
dan meluruskannya

Ramadhanku

aku akan merindukanmu

Bireuen, 09 Juli 2015 mukhlis aminullah