Jumat, 02 Agustus 2013

INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI BIREUEN

Untuk mengukur kemajuan perekonomian Bireuen, sebenarnya cukuplah secara mikro saja ataupun dengan cara sangat sederhana.

Pertama; coba kita jalan-jalan sore ke tempat orang menjual jajanan berbuka, bisa di Langgar Square atau kawasan lain..... pasti akan mudah kita lewati dengan kenderaan roda dua, tidak berdesakan kayak tahun2 sebelumnya. Penjual makanan, maaf, le that yang payah pot lalat.....

Kedua; omzet panjualan tanah kapling untuk rumah sangat rendah. toko-toko yang sudah dibangun tidak ada yang sewa, padahal pemilik tanah/toko sudah membuat iklan bertahun-tahun (2010-2013), jangankan pembeli, orang sekedar menanyakan harga pun, tidak ada....

Ketiga; kredit macet di bank makin meningkat, termasuk pembiayaan dari Simpan Pinjam UPK PNPM. Setelah mendapat modal dan mereka berusaha, ternyata omzet usahanya tidak sesuai seperti saat dilakukan Survey Kelayakan Usaha.

Keempat; ada rekan-rekan PNS yang bekerja sampingan sebagai pedagang. Artinya mereka teman-teman PNS, sebagian barangkali, perlu usaha sampingan setelah SK terikat ke Bank Aceh.

Kelima; ada fenomena baru juga di PNPM, para kontraktor lokal, mulai ikut tender pengadaan barang di level desa, yang diadakan oleh TPK/Panitia Lelang di desa, yang notabene keuntungannya sedikit......hana awe, ukheu mantong pih jeut?

Keenam; makin hari pengemis atau gepeng makin banyak di Bireuen... cukup bertambah pekerjaan kak Dewi Kwok, dalam mencari konsep pengaturan tentang gepeng.

Mungkin teman-teman saya bisa menambahkan indikator lainnya, silahkan... cukup dengan indikator sederhana, tidak perlu kita undang Faisal Basri Batubara atau Avilliani untuk mengukur indikator secara ilmiah.

Yang pasti, saya sebagai bagian dari masyarakat Bireuen, bertanya: dimana peran Pemerintahan sekarang dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat...???

salam,
mukhlis aminullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar