Siapa yang sejarah tentang Khadijah binti Khuwailid...?
Bagi rekan-rekan yang pernah belajar Sejarah Islam, tentu nama beliau bukanlah nama yang asing. Saya sendiri sangat mengagumi beliau, selain beberapa wanita yang lain yang kemudian tercatat dalam sejarah perkembangan Islam. Beberapa buku tentang Khadijah sudah pernah saya baca, dan ternyata memang sepantasnya-lah beliau merupakan wanita pertama yang dijanjikan surga oleh Allah SWT. Mengapa demikian? Karena perjuangannya membantu perkembangan Islam (sekaligus mendukung suaminya, Nabi Muhammad SAW) sangat luar biasa.
Beliau adalah seorang sayyidah wanita pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.
Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.
Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjual dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagaimana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.
Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya lebih tua dibanding pemuda tersebut (saat itu beliau berumur 40 tahun sedang Muhammad berumur 25 tahun). Selain itu apa nanti kata orang, karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?
Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khadijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.
Selanjutnya, peran Nafisah sangat penting untuk Khadijah. Dia langsung menemui Muhammad al-Amin menyampaikan maksud tersebut. Setelah merenungi dan menimbang dengan matang, akhirnya Muhammad pun setuju menjadikan Khadijah sebagai calon isterinya.
Nafisah kembali menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.
Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa'diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib Rodhiallâhu 'anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad SAW.
Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.
Kemudian Allah Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain–lain.
Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi SAW pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.
Rasulullah SAW tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira' pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu. Selanjutnya beliau Nabi SAW keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata: "Selimutilah aku ….selimutilah aku …".
Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah SAW, beliau menjawab:"Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku".
Maka isteri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: "Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.
Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.
Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad. Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: "Qudus….Qudus…..Demi jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh AS secara langsung.
Tatkala melihat kedatangan Muhammad, sekonyong-konyong Waraqah berkata:
"Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah ".
Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya.
Maka Muhammad berkata: " Apakah mereka akan mengusirku?".
Waraqah menjawab: "Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…".
Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.
Menjadi tenanglah jiwa Muhammad tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.
Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.
Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi SAW yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya. Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau. Dan ayat-ayat Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah).
Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!"(Al-Muddatstsir:1-7).
Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah Roadhiallâhu 'anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat.
Beliau wujudkan Firman Allah :
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji lagi?". (Al-'Ankabut:1-2).
Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.
Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan Rodhiallâhu 'anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah SWT:
"Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan". (Ali Imran:186).
Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah SAW sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding Ka'bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang Mujahidah yang sabar tiga tahun sebelum hijrah.
Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah SAW, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.
Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalam hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemampuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid".
Kita sebagai ummat Islam yang hidup pada akhir zaman, sudah seharusnya menjadikan Khadijah istri Rasulullah SAW sebagai teladan yang baik dalam kehidupan kita. Khususnya para muslimah masa kini, alangkah bahagianya hidup bila bisa mengikuti jejak Khadijah sebagai idola. Dan sangat disayangkan, bila para generasi muda masa kini, terutama pemudinya, menjadikan para artis sebagai idola.
Mukhlis Aminullah, dirangkum dari berbagai sumber.
Rabu, 06 Januari 2010
Minggu, 22 November 2009
BERHENTI MEROKOK

Pada kesempatan kali ini saya ingin menulis tentang Rokok. Atau tepatnya adalah merokok. Mudah-mudahan bukan bermaksud menyinggung perasaan kawan-kawan saya yang perokok, namun lebih kepada berbagi pengalaman.
Ya, benar..,pengalaman saya tentang rokok. Saya dulunya adalah seorang perokok. Walau belum termasuk katagori perokok berat, namun menghabiskan sebungkus rokok putih sehari adalah kebiasaan saya, dulu! Rokok mulai saya kenal sejak saya masih di Sekolah Dasar, namun merokok baru saya lakoni ketika menjadi Mahasiswa di Banda Aceh. Sampai saya selesai kuliah kemudian bekerja sebagai karyawan pada sebuah perusahaan swasta di Jambi, kebiasaan saya masih sulit dihilangkan. Selalu ada saja alasan ketika Ibu saya maupun isteri (ketika sudah berkeluarga) menasehati agar saya menjauhi sekumpulan gulungan tembakau tersebut. Tidak juga ketika isteri saya mengandung anak pertama maupun kedua, walaupun saya menyadari benar-benar bahwa merokok ataupun efek dari asap rokok berbahaya bagi ibu hamil. Saya kebal dengan berbagai nasehat tersebut, dulu!
Sekarang saya tidak merokok lagi alias bukan perokok...! Sejak tahun 2007 saya mulai menyadari bahwa rokok tidak baik bagi kesehatan. Saya mulai tersadarkan, sehingga mulai bulan Ramadhan 1428 H kebiasaan itu pelan-pelan mulai bisa saya hilangkan, walau tidak sepenuhnya. Tentu saja malam hari, karena kalau siang memang kita berpuasa. Selanjutnya setelah Idul Fitri 1428 H, saya mengikuti kajian demi kajian agama, dan ternyata merokok lebih banyak akibatnya daripada manfaatnya.
Adalah Dewa Abdullah, seorang teman akrab saya di Kota Juang, yang kebetulan ianya adalah seorang kader PKS di Bireuen, yang "memarahi" saya untuk berhenti merokok. Berhenti selamanya. Pada suatu kesempatan di akhir tahun 2007, kami terlibat obrolan panjang tentang berbagai hal, terutama soal politik. Seperti biasa, obrolan dengannya selalu "panas" karena ybs memang tipe-nya sangat serius. Tanpa sengaja, obrolan berlanjut soal rokok. Ketika dilihatnya saya masih membakar rokok kretek (bukan rokok putih) dengan spontan ianya "memarahi" saya atau katakanlah menceramahi saya. Mulai alasan kesehatan sampai alasan agama. Sampai-sampai ybs mencontohkan dirinya, masa lalunya. Dia punya tekad, sehingga bisa berhenti dan bebas asap seperti sekarang.
Tekad...! Ya, tekad-lah yang bisa menghantarkannya berubah. Kalau kita memiliki tekad, semua bisa kita jangkau, seizin Allah SWT. Kalau kita punya tekad naik haji, Insya Allah dengan keseriusan, kita akan bisa naik haji suatu saat, walaupun pekerjaan kita serabutan. Apalagi hanya tekad berhenti merokok. Kalau sudah bertekad berhenti, pasti bisa berhenti. Dan itulah yang saya lakukan, mulai tanggal 1 Januari 2008, beberapa hari setelah bertekak urat leher dengan seorang Dewa Abdullah, yang juga Ketua Dewan Kesenian Bireuen, Aceh.
Pada beberapa kesempatan berikutnya, beberapa teman saya suka mencandai saya dengan menghadiahkan rokok sampai satu lusin (12 bungkus) untuk melihat kekokohan tekad saya. Dan, Alhamdulillah, sampai saat ini, hampir dua tahun saya tidak lagi membakar tembakau.
Saya tidak ingin "memaksa" teman-teman berhenti. Namun sebagai teman, saya harus mengingatkan bahwa merokok sangat berbahaya dari sisi kesehatan. Konon lagi, Majelis Ulama Pusat telah memfatwakan bahwa merokok haram hukumnya. Terlepas masih ada perbedaan pendapat, dan dapat dibuktikan dengan banyaknya ulama yang lain masih merokok, namun pikirkanlah untung rugi-nya dengan penuh kesadaran. Tidak perlu berhenti mendadak, kalau itu susah. Namun cobalah dengan tekad, bahwa Anda harus berhenti merokok, pelan-pelan sampai suatu saat benar-benar bebas rokok.
Saya yakin dengan tidak merokok, Anda tetap maskulin..., malah Anda akan tetap maskulin di depan isteri Anda (umumnya isteri yang "normal" tidak suka suaminya merokok). Anda juga dapat menghemat uang belasan ribu sehari, dan uang itu bisa Anda gunakan untuk hal-hal positif, misalnya membeli buku agama. Ataupun untuk tabungan sekolah anak-anak. Alangkah lebih bagus, bila uang tersebut Anda infaqkan sebagai bekal di akhirat nanti.
Timbul pertanyaan, apakah saya sudah kaya dan mempunya tabungan yang banyak sejak berhenti merokok...? Tidak juga. Namun, pengalaman saya, setelah tidak merokok, jiwa dan fisik saya sudah lebih baik. Dan memang uang jatah rokok, saya gunakan untuk hal-hal positif juga, seperti memperbanyak buku di rumah (kebetulan saya & keluarga termasuk suka membaca).
Dalam kesempatan ini, saya tidak mengkaji secara ilmiah tentang bahaya merokok dari sisi kesehatan. Begitu juga dari sisi agama. Toh kalau Anda sudah bertekad, referensi soal rokok dengan sangat mudah akan Anda dapatkan di internet. Banyak situs anti-rokok, tinggal Anda cari di google, Anda akan dengan mudah mendapatkannya. Saya hanya mengutarakan pengalaman, dan mudah-mudahan pengalaman ini jadi hal positif bagi Anda; perokok yang ingin berhenti merokok.
Salam hormat saya, mari berhenti merokok.... Mulai sekarang!!!!
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan
Minggu, 15 November 2009
"SURAT SAYANG DARI ALLAH"

Terus terang saja, dalam sebulan terakhir saya sibuk dengan pekerjaan. Ada saja tugas yang harus saya selesaikan, sepulang Pelatihan Slicing 2 akhir bulan lalu. Mulai dari membuat laporan, Rakoor bulanan, Pelatihan UPK, mengunjungi gampong dan persiapan pencairan dana gampong, sehingga kadang-kadang untuk shalat berjama'ah saya terabaikan. Astaghfirullah....!
Sampai kemarin saya menemukan sebuah "peringatan" di laptop saya. Alhamdulillah, bukan peringatan dengan bencana dari Allah ataupun dicabut kenikmatan yang selama ini saya dapatkan, namun dengan sebuah surat yang pernah saya download dari internet, yang entah kapan... Judulnya adalah "Surat Sayang dari Allah" yang berasal dari Tarbawi Comunity. Kalimat demi kalimat dari surat itu saya hayati sampai saya tersadar bahwa dalam beberapa waktu terakhir ada yang "hilang" pada diri saya. Dan saya tentu saja harus segera "mengembalikannya". Terima kasih pada Tarbawi Comunity, dan izinkan saya menulis kembali surat tersebut, dengan harapan menjadi bacaan yang bermanfaat bagi orang lain.
SURAT SAYANG DARI ALLAH
Dari : Tarbawi Community
Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu
Berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun
hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur
kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin .......
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk
mempersiapkan diri untuk pergi bekerja
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU
tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk .........
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama
lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU
Melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU berfikir
engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari
ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk
mendengarkan kabar terbaru
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU
menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua
kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk
mengucapkan sesuatu kepadaKU
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang
sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk
berbicara kepadaKU
itulah sebabnya mengapa engkau
tidak menundukkan kepalamu
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut
namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU
berikan, tetapi engkau tidak melakukannya ........
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap
engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun
saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan
banyak hal yang harus kau kerjakan
Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV
menikmati makananmu
tetapi
kembali kau tidak berbicara kepadaKU ...
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa
sepatahpun namaKU, kau sebut.
Engkau menyadari bahwa
AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar
terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu
setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do'a, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya ...... engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku
sedikit waktu untuk menyapaKU ...
Tapi yang KU tunggu ...
tak kunjung tiba ...
tak juga kau menyapaKU.
Subuh ...
Dzuhur ...
Ashyar ...
Magrib ...
Isya dan
Subuh kembali
kau masih mengacuhkan AKU ...
tak ada sepatah kata
tak ada seucap do'a, dan
tak ada rasa
tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU ...
Apa salahKU padamu ...
wahai hamba-KU?????
Rizki yang KU limpahkan,
kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan
anak-anak yang KUrahmatkan
apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKU !
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan
AKU tetap berharap suatu saat
engkau akan menyapa KU,
memohon perlindungan KU,
bersujud menghadap KU ...
Yang selalu menyertaimu setiap saat ...
Mudah-mudahan dengan surat tersebut di atas akan menjadi salah satu bahan renungan untuk kita semua, dan terutama bagi saya sendiri sebagai hamba Allah yang sangat banyak kekurangan. Mari kita do'akan agar kita selalu di jalan yang benar.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua.
TIDAK TRANSPARAN

Apa kabar kawan-kawan ? Saya sudah lama tidak menulis. Kesibukan pekerjaan membuat saya kurang mood untuk menulis. Bukan tidak mencoba, bahkan saya sering lama-lama duduk di depan layar laptop, namun selalu tidak tuntas...
Dalam minggu ini saya punya pengalaman baru yang ingin saya angkat. Minggu ini, saya mengunjungi gampong-gampong di Samadua dan menemukan beberapa persoalan di sana. Bukan soal kunjungan yang ingin saya tulis, karena saya memang sudah sering ke gampong-gampong, sesuai dengan tugas saya, namun lebih kepada beberapa persoalan yang terjadi.
Di beberapa gampong yang saya kunjungi, banyak pertanyaan dari tokoh masyarakat maupun dari perangkat gampong tentang program BKPG dan ADG, yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Namun karena tidak terbangun "komunikasi yang baik" antara beberapa masyarakat dengan para pengambil kebijakan di gampong, maka timbul pertanyaan, yang kalau tidak segera ditangani akan menjadi sebuah "persoalan"...
Hal-hal yang ditanyakan umumnya tentang keuangan gampong (desa), tentang program BKPG, tentang ADG, dll sebagainya. Seandainya di gampong semua informasi disampaikan dengan baik melalui "papan informasi" tentu saja tidak timbul "pertanyaan" yang menjurus pada pembentukan opini bahwa ada yang kurang diketahui masyarakat terkait berbagai kebijakan. Nah tugas kami sebagai Fasilitator adalah menfasilisitasi berbagai masalah tersebut agar segala sesuatu berjalan dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kesimpulan yang bisa dipetik dan menjadi pelajaran adalah dengan tidak transparannya segala kebijakan yang kita ambil, akan membawa ketidaknyamanan bagi pihak lain. Dan tentu saja selanjutnya akan berkembang menjadi beragam "persoalan" yang akan menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu akan meledak. Dan pengalaman seperti yang saya sebutkan di atas, menjadi semacam peringatan dan selanjutnya saya menyampaikan pada gampong-gampong lain yang belum saya kunjungi. Bahwa; agar timbul rasa saling percaya, baik antara perangkat gampong dengan masyarakat mupun antara pemimpin gampong dengan perangkat gampong lainnya, segala kebijakan yang diambil haruslah berdasarkan musyawarah dan mufakat. Dan hasilnya haruslah disampaikan pada khalayak ramai dengan menjunjung tinggi azas transparansi....!
Mudah-mudahan pengalaman ini menjadi pelajaran juga bagi kami.
Mukhlis Aminullah
Rabu, 11 November 2009
KEBERKAHAN HARTA
Kaya…! Saya pikir tidak ada orang yang tidak ingin kaya. Semua orang menginginkan kaya, dan itu adalah wajar, sehingga orang berlomba-lomba mencari kekayaan. Bekerja siang dan malam, tanpa mengenal waktu istirahat. Ada orang yang mencari kekayaan dengan cara yang halal dan diridhai oleh Allah SWT, namun tidak sedikit yang mendapatkannya dengan cara-cara yang tidak halal. Segala macam cara ditempuh agar menjadi kaya, tidak peduli cara-cara tersebut telah merugikan pihak lain. Yang penting kaya. Dan dalam masyarakat kita yang sudah mulai pudar nilai-nilai luhuriah, orang kaya akan lebih dihormati daripada orang alim atau ulama ataupun cendekiawan ataupun seorang pemimpin. Sehingga kalau orang sudah kaya, seakan sudah memiliki semuanya, baik itu harta maupun “kehormatan” semu.
Padahal sesungguhnya, kekayaan yang Allah SWT berikan kepada manusia merupakan titipan sementara. Sebagian manusia mendapatkan titipan itu dengan jumlah yang besar dan sebagian yang lain mendapatkannya dengan jumlah kecil. Namun, menurut ajaran Islam, keberkahan harta benda itu tidak ditentukan oleh besaran jumlahnya, melainkan bagaimana harta itu bernilai bagi manusia. Untuk mendapatkan keberkahan terhadap harta kita, haruslah dibarengi dengan amalan-amalan yang sesuai dengan tuntunan Islam yaitu antara lain.
Pertama, syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7).
Kedua, silaturahim. Amalan ini merupakan upaya menyambung tali persaudaraan antar sesama manusia: merajut dan memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Praktik ini dapat melapangkan rezeki dari Allah.
Abu Hurairah RA menyampaikan sebuah hadis Nabi SAW yang berkaitan dengan hal ini, “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali kekerabatan (silaturahim).” (HR Bukhari).
Ketiga, menafkahkannya di jalan Allah. Berkembangnya harta dipengaruhi juga oleh faktor di mana ia dibelanjakan.
Allah berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah Mahaluas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 261).
Keempat, senantiasa melakukan kebaikan. Segala kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Kebaikan itu akan membuahkan keberkahan dan kebahagiaan. Dalam Alquran, dijelaskan, “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu.” (QS Al-Isra’ ayat 7).
Kelima, berzakat dan bersedekah. Zakat dan sedekah akan membersihkari harta seseorang karena di dalamnya terdapat hak orang lain.
Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At Taubah ayat 103).
Itulah lima amalan yang akan mendatangkan keberkahan harta kekayaan. Semoga Allah menurunkan keberkahan-Nya dari langit dan bumi melalui harta kekayaan yang kita miliki.
Seliain kelima hal tersebut di atas, ada hal lain yang harus menjadi catatan kita yaitu harta kekayaan seseorang akan berkah jika pemiliknya mendapatkannya dengan jalan yang benar. Kalau harta didapatkan dengan cara yang tidak halal, bukan hanya akan membawa manusia ke neraka, namun juga akan mendapat malapetaka di dunia.. Betapa banyak kita melihat contoh di sekeliling kita, kejadian-kejadian yang dialami saudara-saudara kita. Ketika anak orang miskin sakit, Insya Allah hanya dengan obat yang dijual di kaki lima seharga Rp 5.000,- sudah cukup membuat si anak sembuh dari sakitnya. Ketika anak seorang pengusaha sakit, baru sembuh setelah diobati pada dokter terkenal dengan harga tebusan obat yang mahal. Contoh lainnya adalah betapa banyak anggota keluarga dari para pejabat kita, yang digerogoti bermacam penyakit (yang aneh-aneh) dan harus diobati pula ke Penang. Setelah menguras isi kantong sendiri (maupun uang rakyat---garansi sebagai Pejabat publik), ternyata penyakitnya tidak sembuh. Sementara rakyat jelata, yang hidup miskin (tidak punya kesempatan korupsi), tidak mengalami sakit yang aneh-aneh. Memang, kita tidak boleh mengalogikan demikian, karena setiap penyakit datangnya dari Allah dan setiap kesembuhan juga datangnya dari Allah. Namun sebagai peringatan bagi kita, agar selalu mencari harta yang halal, mengingat cintoh-contoh yang saya sbutkan di atas, tentu tidak salah.
Mudah-mudahan tulisan di atas menjadi bahan renungan bagi saya sendiri maupun bagi orang lain. Terima kasih.
Wallahu’alam.....
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua.
Selasa, 20 Oktober 2009
SEKILAS "HAFALAN SHALAT DELISA"

Adalah Rara. Panggilan singkat nama anak sulung sahabat lama saya, Tari, nun jauh di kota Jambi, yang membuat saya terinspirasi untuk menyelesaikan bacaan Novel religius ‘’Hafalan Shalat Delisa’’ beberapa hari yang lalu.
Suatu hari Tari, melalui telefon, mengisahkan tentang anak sulungnya, Rara, yang hobbi sekali membaca dan menulis. Suka menulis puisi, juga suka menulis cerita disamping suka membaca kisah-kisah Islami. Salah satu bacaannya adalah Novel karya Tere Liye yaitu ‘’Hafalan Shalat Delisa’’. Lebih istimewa lagi, buku novel tersebut dibeli memakai uang Rara pribadi, hadiah sebagai Juara III Lomba Baca Puisi tingkat pelajar se Kota Jambi, beberapa waktu yang lalu. Sebagai seorang sahabat, yang kebetulan juga suka membaca karya sastra, saya sangat mengapresiasi kisah anak sahabat saya ini. Saya berpikir, bahwa anak ini pasti punya bakat dibidang sastra. Apakah itu sebagai penulis puisi ataupun menulis apa saja, yang berhubungan dengan dunia sastra. Nah, dalam beberapa kesempatan saya mendorong sahabat saya, Tari, agar memberi keleluasaan pada puterinya untuk mengembangkan bakatnya tersebut, dengan cara yang tepat. Karena tugas kita sebagai orang tua, hanya mengarahkannya dengan benar. Seperti kata Kahlil Gibran, ‘’anakmu adalah anak panah, sementara kamu adalah busurnya. Tugasmu adalah membidik dengan tepat agar anak panah melesat sesuai dengan jalurnya’’......
Kembali ke soal Rara. Sejak minggu lalu kami mulai berkomunikasi via email dan sms. Dekat dan karib. Hubungan kami seperti seorang paman dengan keponakan. Padahal saya sesungguhnya tidak akrab dengannya, kecuali beberapa kali ketemu saat dia masih berumur 6 atau 7 tahun, saat saya masih berdomisili di Jambi, dulu. Namun dari cerita bundanya, saya tentu bisa membayangkan sosoknya sekarang. Tidak terlalu sulit, karena saya juga punya beberapa keponakan cewek yang seumur dengannya. Namun terlepas dari alasan di atas, yang pasti, karena terinspirasi gadis 13 tahun inilah, saya kemudian menghabiskan bacaan‘’Hafalan Shalat Delisa’’ dua hari kemudian. Padahal saya sudah meninggalkan bacaan Novel tersebut sejak dua bulan lalu, setelah membaca seperempat –nya saja. Karena Rara, tiba-tiba saja ada keinginan kuat dari diri saya untuk meneruskan tiga perempatnya lagi. Terima kasih, Rara.
Di atas sudah saya kisahkan sedikit tentang Rara, mari kita lanjutkan tentang Novel ‘’Hafalan Shalat Delisa’’..... Menurut saya, ini merupakan novel yang hebat! Bukan hanya menceritakan sosok gadis kecil Delisa ataupun keluarga Abi Usman secara sempit, namun juga cukup untuk menggambarkan kondisi Aceh, sebelum dan pasca bencana gempa dan tsunami, khususnya di Lhoknga, sebuah kawasan di pinggiran kota Banda Aceh. Dan membaca novel ini, saya meyakininya sebagai kisah sejati (true story), walaupun nama-nama tokohnya adalah hasil imajinasi Tere Liye.
Sebagai orang Aceh yang tinggal di Aceh, saya tidak heran lagi dengan kisah seperti yang dialami keluarga Delisa. Bukan bermaksud meremehkan, kisah Abi Usman dan keluarganya tidaklah istimewa. Karena ratusan keluarga lainnya juga mengalami nasib yang sama seperti yang keluarga Abi Usman alami, yaitu digulung tsunami kemudian dengan kebesaran Allah SWT, diantara anggota keluarga ada yang selamat. Tidak tau bagaiamana jalan bisa selamat. Yang sangat istimewa dari novel ini adalah gaya penulisan dan tata bahasa serta penggambaran (latar) tempat kejadian disusun dengan baik oleh Tere Liye, sehingga mebuat para pembaca menjadi haru biru, mengenang sosok Delisa, gadis kecil yang pintar dan cantik dari Lhoknga. Apalagi bagi saya, sebagai orang Aceh yang beberapa anggota keluarga (famili jauh) dan sahabat dekat, juga menjadi korban tsunami. Membaca novel ini membuat saya terbayang pada saat saya ke Banda Aceh mencari keluarga yang hilang, mulai hari kedua setelah bencana, yaitu tanggal 27 Desember 2004 lalu. Dan membuat saya menerawang jauh, membuka memori lama, bagaimana suasana Banda Aceh dan juga Lhoknga, setelah tsunami. Dan tentu saja bisa memperkokoh iman, dengan mengingat betapa Maha Besar Allah SWT, bisa melakukan apa saja, termasuk bila ingin memberi peringatan pada ummat manusia dengan menghancurkan bumi dalam hitungan menit saja.
Apakah anda sudah membaca novel ini ? Kalau belum, saya sarankan agar anda meluangkan sedikit waktu untuk membaca kisah Delisa tersebut. Saya bukan bermaksud mempromosikan agar buku ini laku atau menyampaikan pesan sponsor. Adalah layak bagi kita untuk membaca dan memberi penghargaan pada Tere Liye sekaligus mengambil hikmah dari cerita/kisah keluarga Abi Usman dengan Delisa kecilnya. Namun pada kesempatan ini saya ingin sedikit menggambarkan secara ringkas saja.
Adalah Abi Usman, seorang lelaki Aceh yang bekerja sebagai pelaut pada kapal tanker asing. Sesuai dengan pekerjaannya, tentu saja hari-harinya dihabiskan di laut, dan mendapat cuti, tiga bulan sekali untuk menemani kelaurganya di Lhoknga, pinggiran Kota Banda Aceh. Untuk menjaga dan mendidik beberapa buah hatinya, dia mempunyai seorang isteri bernama Salamah, perempuan shalihah yang mendedikasikan hidup sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.
Abi Usman mempunyai 4 orang anak, semuanya perempuan. Yang sulung adalah Fatimah, 16 tahun, kelas I MAN Lhoknga. Selanjutnya anak kembar, Zahra dan Aisyah yang berumur 12 tahun, kelas I MTsN Lhoknga, dan si bungsu, Delisa yang berumur 6 tahun. Fatimah merupakan remaja puteri yang rajin mengaji, suka membaca, pintar dan bisa mengayomi adik-adiknya. Sering terlibat diskusi dengan ayah maupun umminya, tidak hanya terkait dengan pelajaran sekolah, tapi juga berbagai persoalan lainnya. Dia juga bisa menjadi mitra umminya dalam mendidik adik-adik. Zahra adalah tipikal gadis tanggung yang pendiam, namun pintar dan penuh perhitungan. Sementara Aisyah, wataknya kebalikan dari Zahra, bagai siang dengan malam. Dia merupakan gadis yang periang, agak sedikit jahil, selalu suka mengganggu dana mencandai berlebihan adiknya, Delisa. Namun Aisyah tetaplah seorang yang rajin mengaji dan pintar di sekolah. Delisa, yang merupakan tokoh sentral dalam cerita novel ini, adalah si bungsu yang menjadi kesayangan keluarga. Dia adalah gadis kecil yang cantik, kulitnya putih bersih agak sedikit kemerah-merahan, matanya hijau, rambutnya ikal agak sedikit pirang, layaknya perpaduan Timur dengan Barat. Sifatnya agak sedikit cerewet dan suka bertanya, serta suka bergaul dengan anak lelaki sebayanya daripada bergaul dengan sesama perempuan. Main bola adalah kesukaannya. Dia juga cerdas seperti kakak-kakaknya.
Suatu hari, Ummi (mereka memanggil ummi untuk ibunya, Salamah), berjanji akan memberikan sebuah kalung kepada Delisa apabila dia bisa menyelesaikan dengan benar hafalan shalatnya. Janji ummi itu membuat semangat nya luar biasa, sehingga dia menghafal siang malam. Tapi entah kenapa hafalan shalatnya sangat susah dilakukan padahal dia adalah anak yang sangat pintar. Namun walaupun agak susah, dia tidak berhenti menghafal. Tentu saja motivasinya adalah kalung yang dijanjikan ummi-nya. Sampai beberapa waktu kemudian, hafalan shalat Delisa hampir sempurna.
Tanggal 26 Desember 2004. Siapapun orang Aceh pasti tidak akan melupakannya. Minggu pagi yang cerah tiba-tiba bumi bergoyang, gempa dahsyat, kemudian air laut di pantai surut sampai 500 meter, membuat pantai semakin luas, ikan-ikan nampak seperti di kolam yang sedang panen. Ratusan orang yang sedang menikmati indahnya pantai, berlarian ke laut yang landai untuk mengutip ikan-ikan yang menggelepar karena ditinggalkan air laut yang surut. Pada saat yang sama, di sebuah sekolah, tepatnya MIN Lhoknga, Ibu Guru Nur sedang mengajarkan praktek shalat sekaligus ujian bagi anak asuhannya, termasuk Delisa. Sengaja dibuat hari Minggu, agar suasana lebih rileks. Namun tak satupun dari mereka yang tau bahwa pada saat mereka melaksanakan praktek shalat itu, Allah SWT sudah punya rencana lain yaitu bencana gempa dan tsunami. Tepat ketika giliran Delisa, bumi goncang, air laut naik ke darat bergulung-gulung menghanyutkan semuanya, bangunan sekolah, rumah-rumah kokoh serta penghuninya. Ibu Guru Nur dan anak-anak asuhannya tercerai berai entah kemana, di bawa tsunami.
Dari korban yang selamat, ternyata Delisa salah seorang diantaranya. Tubuhnya terseret sejauh 4 kilometer dan terdampar di kaki bukit Lhoknga. Beberapa saat kemudian dia ditemukan oleh salah seorang US Army yang menjadi relawan tsunami, bernama Smith. Pada saat bersamaan ayah Delisa, Abi Usman, hatinya sangat resah di tengah laut lepas, bersama armada tankernya. Dia akhirnya mengetahui bencana tsunami di Aceh dan segera diizinkan pulang.
Dia pulang dengan harapan menemukan keluarganya tidak ada yang menjadi korban tsunami. Tapi apa mau dikata, melihat Banda Aceh termasuk kampung halamannya Lhoknga sudah rata dengan tanah. Dia tidak menemukan apa-apa, kecuali jejak rumahnya yang tinggal lantainya saja. Dalam kesedihan yang panjang, dia tidak putus asa dan masih terus berusaha mencari anggota keluarganya. Sementara Delisa sudah dirawat di Rumah Sakit Kapal Induk Amerika di lepas pantai Aceh, kakinya terpaksa diamputasi.
Tibalah saatnya Abi Usman menuai berita baik. Daftar nama-nama korban yang dirawat di kapal induk dikirim ke barak Marinir di Lhoknga, dan Abi Usman menemukan nama Delisa disana. Dia tak sabar menanti untuk segera bertemu anak bungsunya. Smith, yang telah berganti nama menjadi Salam, karena mengucapkan dua kalimah syahadat 3 hari setelah menemukan Delisa, menjadi perantara yang mempertemukan Abi dengan Delisa. Walaupun isterinya dan anak-anaknya yang lain belum ditemukan (akhirnya memang tidak ditemukan), dengan mendapati Delisa masih hidup sudah cukup menghibur perasaannya sebagai seorang ayah dan seorang seorang suami yang kehilangan keluarga. Alhamdulillah..........
Episode selanjutnya adalah ketika Delisa sudah sembuh dan diizinkan pulang, Abi mulai merajut kembali kehidupan di Lhoknga. Dia memutuskan tidak lagi bekerja di kapal. Dia ingin menjadi ayah sekaligus Ibu bagi anak satu-satunya yang tertinggal. Perlahan dia mulai lagi kehidupan. Pada bekas rumahnya, yang tinggal lantainya saja, dia bangun kembali rumah sangat sederhana, dibantu tentara Amerika yang sudah akrab dengannya. Sebagian diantaranya beragama Islam, termasuk Salam. Abi Usman sangat berterima kasih, dan jasa mereka tidak sanggup dibalas.
Delisa, dengan kakinya sebelah yang sudah diamputasi, tetap dengan keceriaannya. Ia tetap anak yang periang dan cerdas. Tidak ada yang berubah pada sifatnya, kecuali sekarang ia nampak lebih dewasa daripada sebelumnya. Ia sudah bisa membantu Abi-nya dalam hal-hal pekerjaan rumah yang ringan. Nampak sekali, ia bukan Delisa anak bungsu ummi Salamah maupun adik bungsu kakak-kakaknya. Bersama dengan beberapa rekannya yang selamat, ia melanjutkan sekolah kembali di Lhoknga. Pada kesempatan yang lain, ia meneruskan hafalan shalatnya yang terputus saat tsunami. Walaupun kadang-kadang masih memimpikan kedatangan ummi dan kakak-kakaknya, namun Delisa telah menjadi anak yang sabar, giat belajar dan menjadi contoh teladan orang sekelilingnya.
Begitulah, ringkas cerita tentang Delisa. Saya berharap dengan membaca novel ini, membawa kita kembali mengingat kebesaran Allah SWT dan menjadi salah satu langkah menuju perbaikan iman ke arah yang lebih baik. Terima kasih Rara, semoga juga cerita di atas berguna untukmu, dan semoga saja suatu saat kamu adalah Tere Liye yang lain.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan
Sabtu, 19 September 2009
IRONI MEMAKNAI IDUL FITRI
Insya Allah beberapa jam lagi, kita, ummat Islam yang melaksanakan puasa, akan menyelesaikan ibadah puasa kita hari terakhir Ramadhan 1430 H. Dan kita akan menyongsong 1 Syawal sebagai hari kemenangan. Subhanallah, karena Allah telah memberi umur panjang untuk kita sehingga kita akan bisa menyelesaikan puasa tahun ini.
Sebagai insan hamba Allah SWT, saya yakin, semua kita telah berusaha untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan memperbanyak amalan, baik yang wajib maupun yang sunat. Kita telah melakukannya, dan hanya Allah Yang Maha Kuasa yang tau, apakah ibadah kita sudah baik dan benar, sehingga akan mendatangkan pahala. Atau kah, kita hanya termasuk golongan yang merugi...? Yang hanya menahan lapar dan dahaga saja. Wallahu'alam....
Insya Allah, nanti malam sudah masuk pada tanggal 1 Syawal. Tentu saja kita sangat merasa kehilangan. Saya tidak bisa membayangkan, apakah pada tahun 1431 H masih diberi umur panjang sehingga dapat bertemu lagi dengan Ramadhan. Hanya yang Allah yang Maha mengetahui.
Pengalaman kita pada tahun-tahun sebelumnya, malam Lebaran di berbagai kota selalu meriah, tak terkecuali Bireuen. Biasanya semua orang akan tumpah ruah turun ke jalan untuk melakukan Takbiran. Suasananya sangat ramai, dipenuhi dengan berbagai macam model manusia yang sibuk dengan eforia takbiran. Kenderaan dipastikan akan memenuhi jalanan Kota Juang.... Sebagian orang sudah berduyun-duyun memenuhi toko pakaian dan malam ini barangkali adalah puncaknya. Ibu-ibu tak ketinggalan memenuhi toko yang menjual berbagai macam kue. Selusin kaleng kue di rumah, rasanya belum cukup, masih ditambah dengan berbagai penganan lainnya.
Nah... apakah semua perilaku yang sudah saya sebutkan di atas merupakan perilaku yang benar dan dianjurkan Rasulullah...? Sebagian memang benar. Kita dianjurkan untuk memperkuat tali silaturrahim, saling kunjung-mengunjungi. Kita dianjurkan memuliakan tamu. Kita dianjurkan membeli baju baru, dan lain sebagainya.
Namun melihat fenomena sekarang ini, rasanya apa yang sudah dilakukan oleh sebahagian orang, sudah menjurus pada salah kaprah.
Betapa tidak! Semua orang rame-rame takbiran, namun hampir dapat dipastikan mereka akan melanggar aturan berlalu lintas di jalan raya. Menggunakan truk bak terbuka, yang disesaki puluhan orang, bercampur laki-laki dengan perempuan. Menggunakan sepeda motor juga dengan kecepatan kayak pembalap MotoGP, namun tidak menggunakan helm pengaman maupun pengaman lainnya. Silahkan rekan-rekan perhatikan. Semua yang saya ungkapkan adalah pengalaman beberapa tahun belakangan. Mudah-mudah saja perilaku seperti ini, tidak merenggut nyawa, seperti tahun-tahun lalu.
Saya juga ingin menggarisbawahi perilaku Ibu-ibu. Meja ruang tamu-nya sudah dipenuhi dengan bermacam ragam kue, tapi pada menit-menit terakhir Ramadhan, malah menambah belanjaan sehingga dapat dipastikan setelah hari ke lima belas Syawal, kue-kue tersebut masih tersisa alias tidak habis dikonsumsi oleh para tamu. Ironisnya, padahal tetangganya yang anak yatim masih kekurangan. Jangankan keluarga mereka membeli berbagai penganan yang mahal itu, untuk sekedar membeli baju baru sepasang saja, mereka tidak punya uang. Untuk membeli setengah kilogram daging meugang saja mereka tidak bisa. Ketika kita membeli baju baru untuk anak-anak berpasang-pasang, tetangga kita yang fakir miskin, membeli baju dari tukang loak saja tidak bisa.
Apakah ini yang namanya makna Lebaran....? Na'uzubillah, semoga saja Allah SWT tidak melaknat kita, kaum muslimin, yang sudah menjauhi makna Idul Fitri sesungguhnya.
Bagaimana juga kita merayakan Lebaran atau Idul Fitri..? Sebagaimana sudah sering disampaikan oleh para Ustadz, bahwa hakikat puasa Ramadhan adalah menjadikan manusia menjadi orang yang bertaqwa. Kalau sebelum Ramadhan masih ringan melakukan dosa, maka setelah berpuasa Ramadhan, mudah-mudahan tidak lagi. Kalau dulu, terasa sangat berat untuk bersedekah, setelah Idul Fitri kali ini, mudah-mudahan kita akan menjadi manusia yang suka menolong. Idul Fitri dapat dimaknai dengan kemenangan bagi kita setelah sebulan penuh berpuasa. Nah, kemenangan dapat dikatakan benar, bila kita menjadi orang yang makin bertaqwa pada Allah SWT. Diharapkan setelah Lebaran, perilaku baik yang sudah terpelihara selama Ramadhan dapat terus berlanjut. Kehidupan Islami harus terus kita pelihara. Namun bagaimana bisa Islami kalau pada saat menjelang Lebaran saja, kita lalai dengan makna Idul Fitri sesungguhnya.
Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam beberapa contoh yang ironis, seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Mari kita rayakan Idul Fitri dengan meningkatkan amalan, merayakan dengan perilaku sederhana, membuang jauh-jauh eforia duniawi, yang tidak diajarkan oleh syari'at Islam.
Wallahu'alam....
SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN & KEKHILAFAN, MUDAH-MUDAHAN KITA JADI INSAN YANG FITRAH.
Mukhlis Aminullah
Sebagai insan hamba Allah SWT, saya yakin, semua kita telah berusaha untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan memperbanyak amalan, baik yang wajib maupun yang sunat. Kita telah melakukannya, dan hanya Allah Yang Maha Kuasa yang tau, apakah ibadah kita sudah baik dan benar, sehingga akan mendatangkan pahala. Atau kah, kita hanya termasuk golongan yang merugi...? Yang hanya menahan lapar dan dahaga saja. Wallahu'alam....
Insya Allah, nanti malam sudah masuk pada tanggal 1 Syawal. Tentu saja kita sangat merasa kehilangan. Saya tidak bisa membayangkan, apakah pada tahun 1431 H masih diberi umur panjang sehingga dapat bertemu lagi dengan Ramadhan. Hanya yang Allah yang Maha mengetahui.
Pengalaman kita pada tahun-tahun sebelumnya, malam Lebaran di berbagai kota selalu meriah, tak terkecuali Bireuen. Biasanya semua orang akan tumpah ruah turun ke jalan untuk melakukan Takbiran. Suasananya sangat ramai, dipenuhi dengan berbagai macam model manusia yang sibuk dengan eforia takbiran. Kenderaan dipastikan akan memenuhi jalanan Kota Juang.... Sebagian orang sudah berduyun-duyun memenuhi toko pakaian dan malam ini barangkali adalah puncaknya. Ibu-ibu tak ketinggalan memenuhi toko yang menjual berbagai macam kue. Selusin kaleng kue di rumah, rasanya belum cukup, masih ditambah dengan berbagai penganan lainnya.
Nah... apakah semua perilaku yang sudah saya sebutkan di atas merupakan perilaku yang benar dan dianjurkan Rasulullah...? Sebagian memang benar. Kita dianjurkan untuk memperkuat tali silaturrahim, saling kunjung-mengunjungi. Kita dianjurkan memuliakan tamu. Kita dianjurkan membeli baju baru, dan lain sebagainya.
Namun melihat fenomena sekarang ini, rasanya apa yang sudah dilakukan oleh sebahagian orang, sudah menjurus pada salah kaprah.
Betapa tidak! Semua orang rame-rame takbiran, namun hampir dapat dipastikan mereka akan melanggar aturan berlalu lintas di jalan raya. Menggunakan truk bak terbuka, yang disesaki puluhan orang, bercampur laki-laki dengan perempuan. Menggunakan sepeda motor juga dengan kecepatan kayak pembalap MotoGP, namun tidak menggunakan helm pengaman maupun pengaman lainnya. Silahkan rekan-rekan perhatikan. Semua yang saya ungkapkan adalah pengalaman beberapa tahun belakangan. Mudah-mudah saja perilaku seperti ini, tidak merenggut nyawa, seperti tahun-tahun lalu.
Saya juga ingin menggarisbawahi perilaku Ibu-ibu. Meja ruang tamu-nya sudah dipenuhi dengan bermacam ragam kue, tapi pada menit-menit terakhir Ramadhan, malah menambah belanjaan sehingga dapat dipastikan setelah hari ke lima belas Syawal, kue-kue tersebut masih tersisa alias tidak habis dikonsumsi oleh para tamu. Ironisnya, padahal tetangganya yang anak yatim masih kekurangan. Jangankan keluarga mereka membeli berbagai penganan yang mahal itu, untuk sekedar membeli baju baru sepasang saja, mereka tidak punya uang. Untuk membeli setengah kilogram daging meugang saja mereka tidak bisa. Ketika kita membeli baju baru untuk anak-anak berpasang-pasang, tetangga kita yang fakir miskin, membeli baju dari tukang loak saja tidak bisa.
Apakah ini yang namanya makna Lebaran....? Na'uzubillah, semoga saja Allah SWT tidak melaknat kita, kaum muslimin, yang sudah menjauhi makna Idul Fitri sesungguhnya.
Bagaimana juga kita merayakan Lebaran atau Idul Fitri..? Sebagaimana sudah sering disampaikan oleh para Ustadz, bahwa hakikat puasa Ramadhan adalah menjadikan manusia menjadi orang yang bertaqwa. Kalau sebelum Ramadhan masih ringan melakukan dosa, maka setelah berpuasa Ramadhan, mudah-mudahan tidak lagi. Kalau dulu, terasa sangat berat untuk bersedekah, setelah Idul Fitri kali ini, mudah-mudahan kita akan menjadi manusia yang suka menolong. Idul Fitri dapat dimaknai dengan kemenangan bagi kita setelah sebulan penuh berpuasa. Nah, kemenangan dapat dikatakan benar, bila kita menjadi orang yang makin bertaqwa pada Allah SWT. Diharapkan setelah Lebaran, perilaku baik yang sudah terpelihara selama Ramadhan dapat terus berlanjut. Kehidupan Islami harus terus kita pelihara. Namun bagaimana bisa Islami kalau pada saat menjelang Lebaran saja, kita lalai dengan makna Idul Fitri sesungguhnya.
Mudah-mudahan kita tidak termasuk dalam beberapa contoh yang ironis, seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Mari kita rayakan Idul Fitri dengan meningkatkan amalan, merayakan dengan perilaku sederhana, membuang jauh-jauh eforia duniawi, yang tidak diajarkan oleh syari'at Islam.
Wallahu'alam....
SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF ATAS SEGALA KESALAHAN & KEKHILAFAN, MUDAH-MUDAHAN KITA JADI INSAN YANG FITRAH.
Mukhlis Aminullah
Kamis, 17 September 2009
MENJAGA KELUARGA DARI API NERAKA
Jamaah shalat tarawih Mesjid Al Ikhlas Gelanggang tadi malam disuguhi ceramah Ramadhan tentang teladan orang tua & pentingnya menjaga keluarga oleh Ustadz Samsul. Pemaparannya sangat menarik, dimana sang Ustadz mencoba menggugah perasaan para jamaah dengan penyampaian dengan bahasa yang lugas. Dengan menggunakan bahasa Aceh, makin jelaslah tujuan dari materi yang ingin disampaikan.
Terus terang saja, bagi saya topik ini sangat menarik. Pertama; bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi sebagai pemimpin keluarga. Kedua; masalah ini sudah beberapa kali saya singgung pada tulisan-tulisan sebelumnya, disamping juga saya sudah pernah menulis di Serambi Indonesia, sekitar 2 (dua) tahun yang lalu. Saat itu malah saya sempat menggambarkan kondisi keluarga di Aceh seperti keluarga di Amerika saja.
Betapa tidak, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, banyak orangtua yang tidak bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Anaknya disuruh shalat, sang Bapak malah asyik dengan shabu-shabu. Sang anak diantar ke TK Islam (dengan tujuan mendapat bimbingan agama dari guru/pengasuh), sang Bapak malah tidak pernah shalat. Atau sang Ibu, yang masih berpenampilan menor (tabarruj) dengan celana ketat/baju ketat, seperti orang tidak berpakaian. Na'uzubillah......
Saat ini cukup banyak pasangan muda yang mampu untuk menikah, namun sangat sedikit yang bisa membina sebuah keluarga menjadi sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Kita bisa melihat atau memperhatikan di lingkungan kita sendiri, berapa banyak seorang suami "dapat" dikatagorikan sebagai pemimpin keluarga. Dari segi materi barangakali, bukan persoalan, namun dari sisi spritual sangat memprihatinkan. Begitu juga seorang perempuan, sangat sedikit yang bisa dikatakan Wanita sholihah.
Mari kita asumsikan dengan contoh. Beberapa suami, dengan gampang dan tanpa merasa berdosa meninggalkan shalat. Ada yang dengan mudah diajak bermain judi, seperti taruhan bola, judi buntut, dsb. Dan berapa banyak suami membiarkan isterinya tanpa menutup aurat ataupun membiarkan isterinya bergaul dengan lelaki lain, yang bukan muhrimnya.
Bukan hanya suami, isteri sebagai bagian dari sebuah keluarga yang berada dibawah pimpinan suami, juga banyak yang tidak bisa menjadi teladan. Selain masalah aurat, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, masalah lain adalah suka menggunjingkan tetangga, iri dengki pada orang lain, tidak mengajarkan anak-anaknya dengan pendidikan agama dan tidak menghargai suami, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para wanita sholihah.
Dalam kontek yang lebih luas, bukan hanya pasangan muda saja, malah banyak pasangan yang sudah setengah baya, anaknya sudah gadis atau perjaka, tidak bisa menjaga keluarganya dari jajahan budaya Barat. Ustadz Samsul dalam ceramahnya tersebut, menggaris bawahi bahwa alangkah sia-sianya kita melangkah ke mesjid untuk menempati shaf pertama setiap waktu shalat, namun kita membiarkan anak kita berpakaian tidak sopan dan menjadikan rumah kita menjadi kandang kerbau, yang penuh maksiat. Maksudnya begini, banyak orang tanpa sadar telah membiarkan pergaulan anak remajanya menjadi liar. Membiarkan tamu laki-laki berduaan dengan anak gadisnya di rumah, dengan alasan "dari pada mereka pacaran di jalanan..". Ada juga orangtua yang membiarkan anaknya keluar rumah berduaan dengan pasangan yang bukan muhrim. Kita tidak bisa memungkiri atau membantah.... Silahkan, rekan-rekan pembaca, memperhatikan jalanan Bireuen sepanjang sore atau malam hari, berapa banyak pasangan yang pacaran berboncengan kenderaan, seperti pasangan suami isteri. Di depan khalayak ramai saja sudah berboncengan berpelukan, bagaimana bila ditempat lain...? Di Cafe remang-remang, di tempat wisata yang sepi.
Na'uzubillah...
Saya sangat merasa heran dengan sikap orang tua mereka. Padahal, seperti yang sudah disampaikan, Bapaknya adalah pengisi shaf pertama shalat lima waktu di Mesjid. Tetapi mengapa juga membiarkan anaknya berlaku kayak remaja Amerika....? Banyak orang yang sibuk mencari ternaknya (yang memelihara kerbau atau sapi di gampong-gampong) bila sudah sore tidak pulang juga ke kandangnya, tetapi betapa sedikit orangtua yang mencari anaknya, baik remaja laki-laki maupun perempuan, yang belum pulang ke rumah jam 22.00 malam.....
Dengan kondisi seperti ini, tidak usah heran kalau banyak orang yang tertangkap basah sedang berbuat mesum (berzina) di daerah kita. Itu hanya yang tertangkap saja, belum yang tidak terangkap. Nah, ketika ada yang digerebek warga, hampir semua orang menyalahkan WH, kenapa tidak mengadakan razia atau sweeping, misalnya. Semua orang hanya memikirkan eksekusinya saja, tanpa mencari sebab asal muasal kejadian sampai ada pasangan yang digerebek warga.... Beberapa waktu yang seorang teman saya, orangtua dari 2 remaja, mengatakan hal yang sama pada saya.
"apa saja kerja WH ya......, kok banyak yang tertangkap, namun kita tidak tau proses selanjutnya...?"
atau pada kesempatan lain yang bersangkutan mengatakan "Wah, para anggota WH makan gaji buta nih, kenapa tidak menangkap itu para remaja yang berpakaian ketat?"
Saya yang mendengarnya hanya tertawa, karena membayangkan bahwa orang ini berbicara dibawah ambang sadar, karena ybs tidak melihat anaknya sendiri bergaul bebas. Yang tau hanya menyalahkan WH saja...., padahal sebagai orangtua, sudah kewajiban untuk menjaga anak-anak kita masing-masing, baik di rumah maupun di luar rumah. Untuk itu memang bukan perkara gampang, kalau kita sendiri tidak bisa menjadi teladan di rumah bagi keluarga kita. Saya yakin, akan mudah seandainya, kita berperan dalam keluarga. Silahkan tanamkan nilai-nilai agama yang kuat sejak dini kepada anak kita. Bukan hanya itu, jangan berikan dia rezeki yang tidak halal. Dan juga, jangan ciptakan jarak antara orangtua dengan anak. Usahakan kita tau setiap persoalan yang dihadapi si anak. Insya Allah, mudah-mudahan kita bisa menjadi Pemimpin keluarga dan pada akhirnya bisa menjaga keluarga kita dari api neraka.
Wallahu'alam....
Mukhlis Aminullah, orangtua dari dua orang anak.
Terus terang saja, bagi saya topik ini sangat menarik. Pertama; bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi sebagai pemimpin keluarga. Kedua; masalah ini sudah beberapa kali saya singgung pada tulisan-tulisan sebelumnya, disamping juga saya sudah pernah menulis di Serambi Indonesia, sekitar 2 (dua) tahun yang lalu. Saat itu malah saya sempat menggambarkan kondisi keluarga di Aceh seperti keluarga di Amerika saja.
Betapa tidak, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, banyak orangtua yang tidak bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Anaknya disuruh shalat, sang Bapak malah asyik dengan shabu-shabu. Sang anak diantar ke TK Islam (dengan tujuan mendapat bimbingan agama dari guru/pengasuh), sang Bapak malah tidak pernah shalat. Atau sang Ibu, yang masih berpenampilan menor (tabarruj) dengan celana ketat/baju ketat, seperti orang tidak berpakaian. Na'uzubillah......
Saat ini cukup banyak pasangan muda yang mampu untuk menikah, namun sangat sedikit yang bisa membina sebuah keluarga menjadi sebuah rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Kita bisa melihat atau memperhatikan di lingkungan kita sendiri, berapa banyak seorang suami "dapat" dikatagorikan sebagai pemimpin keluarga. Dari segi materi barangakali, bukan persoalan, namun dari sisi spritual sangat memprihatinkan. Begitu juga seorang perempuan, sangat sedikit yang bisa dikatakan Wanita sholihah.
Mari kita asumsikan dengan contoh. Beberapa suami, dengan gampang dan tanpa merasa berdosa meninggalkan shalat. Ada yang dengan mudah diajak bermain judi, seperti taruhan bola, judi buntut, dsb. Dan berapa banyak suami membiarkan isterinya tanpa menutup aurat ataupun membiarkan isterinya bergaul dengan lelaki lain, yang bukan muhrimnya.
Bukan hanya suami, isteri sebagai bagian dari sebuah keluarga yang berada dibawah pimpinan suami, juga banyak yang tidak bisa menjadi teladan. Selain masalah aurat, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, masalah lain adalah suka menggunjingkan tetangga, iri dengki pada orang lain, tidak mengajarkan anak-anaknya dengan pendidikan agama dan tidak menghargai suami, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para wanita sholihah.
Dalam kontek yang lebih luas, bukan hanya pasangan muda saja, malah banyak pasangan yang sudah setengah baya, anaknya sudah gadis atau perjaka, tidak bisa menjaga keluarganya dari jajahan budaya Barat. Ustadz Samsul dalam ceramahnya tersebut, menggaris bawahi bahwa alangkah sia-sianya kita melangkah ke mesjid untuk menempati shaf pertama setiap waktu shalat, namun kita membiarkan anak kita berpakaian tidak sopan dan menjadikan rumah kita menjadi kandang kerbau, yang penuh maksiat. Maksudnya begini, banyak orang tanpa sadar telah membiarkan pergaulan anak remajanya menjadi liar. Membiarkan tamu laki-laki berduaan dengan anak gadisnya di rumah, dengan alasan "dari pada mereka pacaran di jalanan..". Ada juga orangtua yang membiarkan anaknya keluar rumah berduaan dengan pasangan yang bukan muhrim. Kita tidak bisa memungkiri atau membantah.... Silahkan, rekan-rekan pembaca, memperhatikan jalanan Bireuen sepanjang sore atau malam hari, berapa banyak pasangan yang pacaran berboncengan kenderaan, seperti pasangan suami isteri. Di depan khalayak ramai saja sudah berboncengan berpelukan, bagaimana bila ditempat lain...? Di Cafe remang-remang, di tempat wisata yang sepi.
Na'uzubillah...
Saya sangat merasa heran dengan sikap orang tua mereka. Padahal, seperti yang sudah disampaikan, Bapaknya adalah pengisi shaf pertama shalat lima waktu di Mesjid. Tetapi mengapa juga membiarkan anaknya berlaku kayak remaja Amerika....? Banyak orang yang sibuk mencari ternaknya (yang memelihara kerbau atau sapi di gampong-gampong) bila sudah sore tidak pulang juga ke kandangnya, tetapi betapa sedikit orangtua yang mencari anaknya, baik remaja laki-laki maupun perempuan, yang belum pulang ke rumah jam 22.00 malam.....
Dengan kondisi seperti ini, tidak usah heran kalau banyak orang yang tertangkap basah sedang berbuat mesum (berzina) di daerah kita. Itu hanya yang tertangkap saja, belum yang tidak terangkap. Nah, ketika ada yang digerebek warga, hampir semua orang menyalahkan WH, kenapa tidak mengadakan razia atau sweeping, misalnya. Semua orang hanya memikirkan eksekusinya saja, tanpa mencari sebab asal muasal kejadian sampai ada pasangan yang digerebek warga.... Beberapa waktu yang seorang teman saya, orangtua dari 2 remaja, mengatakan hal yang sama pada saya.
"apa saja kerja WH ya......, kok banyak yang tertangkap, namun kita tidak tau proses selanjutnya...?"
atau pada kesempatan lain yang bersangkutan mengatakan "Wah, para anggota WH makan gaji buta nih, kenapa tidak menangkap itu para remaja yang berpakaian ketat?"
Saya yang mendengarnya hanya tertawa, karena membayangkan bahwa orang ini berbicara dibawah ambang sadar, karena ybs tidak melihat anaknya sendiri bergaul bebas. Yang tau hanya menyalahkan WH saja...., padahal sebagai orangtua, sudah kewajiban untuk menjaga anak-anak kita masing-masing, baik di rumah maupun di luar rumah. Untuk itu memang bukan perkara gampang, kalau kita sendiri tidak bisa menjadi teladan di rumah bagi keluarga kita. Saya yakin, akan mudah seandainya, kita berperan dalam keluarga. Silahkan tanamkan nilai-nilai agama yang kuat sejak dini kepada anak kita. Bukan hanya itu, jangan berikan dia rezeki yang tidak halal. Dan juga, jangan ciptakan jarak antara orangtua dengan anak. Usahakan kita tau setiap persoalan yang dihadapi si anak. Insya Allah, mudah-mudahan kita bisa menjadi Pemimpin keluarga dan pada akhirnya bisa menjaga keluarga kita dari api neraka.
Wallahu'alam....
Mukhlis Aminullah, orangtua dari dua orang anak.
Langganan:
Postingan (Atom)