Minggu, 05 Agustus 2018

RINDU PADAMU, DIK

aku telah belajar pada sunyi
ternyata aku kehilangan kesabaran
ingin merengkuh rindumu
dan segera pulang
dik... kamu sedang apa??


Banda Aceh, 7 September 2017 mukhlis aminullah

AIR TERJUN PIRAMIDA (SAMALANGA)

matahari tersembunyi
dibalik dedaunan dan akar rotan
kami hanya menemukan
seberkas cahaya saja
disinilah alam yang sesungguhnya
yang masih alami dipelihara Tuhan
entah siapa yang menabalkannya
Piramida kemudian menjadi nama
magnet air terjun bak Nia Gara
di puncaknya, air mengalir bersih
di bawahnya terbentuk kolam
ikan-ikan kecil bercumbu
menikmati bening air dari hutan
Piramida ini kian memberi warna
surga wisata pilihan kita


lumut hijau pada bebatuan
memberi kesan indah sempurna
di kiri kanan sungai ini
alam liar pepohonan, dan hutan
ada jejak lebah madu di ranting
dan sarang tawon
Piramida ini terasing,
berjam-jam perjalanan
menembus bukit, jalan setapak
dan bukan pula sebuah dusun
kecuali dianggap sebagai rumah Aulia
oleh para tetua desa
pun demikian, wisata ini adalah warisan
yang harus terus dijaga
dari tingkah pongah keserakahan
ummat manusia

Piramida, kunjungilah! dan,
siapkan bekal, perjalanannya jauh

Samalanga, 18 Januari 2018 mukhlis aminullah

NASIB BURUH

pada hari penuh bara
kertas dan spanduk menghiasi memori kami
berlapis-lapis, penuh petisi
kami menuntut, kami menggugat
pasal demi pasal memihak siapa
kami tetaplah buruh yang merana
tidak tahu lagi harus mengadu kemana


Bireuen, 1 Mei 2018 mukhlis aminullah

PUISI STENGAH BAYA

pada selembar kertas
empat puluh lima kata terbaca
puisi setengah baya, kata istriku
hari ini semesta bahagia menyatu
perasaan anak-anak haru biru
sambut berkah usia ayahnya
Fildza dan Mazaya bercanda
mulai besok ayah jadi lansia, ucapnya
Tsuraiya dan Hafiyya hanya tersenyum saja
sambut hari ini


"Barakallahu fii umrik, ayah..."

Bireuen, 1 Juni 2018 Mukhlis Aminullah

ZAMAN CACI MAKI

inilah zaman terkini
penuh caci maki
hampir semua jadi pembenci
dan saling hujat
beda pendapat, caci maki
beda mazhab, caki maki
beda pilihan politik, caci maki
beda bendera, caci maki
bahkan kyai kawin lagi
semua sibuk caci maki


jelang pemilu banyak orang
saling benci dan iri
ganti Presiden, caci maki
tetap Jokowi, caci maki
semua orang saling bully
para pendukung saling dengki

oh, zaman caci maki
tidak ada moral pada zaman kini
orang lain tak pernah benar
kita merasa paling benar
orang lain kita tuduh anarkis
kitalah paling pancasilais
berjenggot sedikit dicap teroris
padahal kita diintai komunis

oh, zaman caci maki
berhentilah saling benci

Bireuen, 30 Juli 2018 mukhlis aminullah
Puisi ini saya bacakan baru saja, pada acara "Bireuen Lam Puisi" bersama Bg Fikar W Eda... Salam puisi!

KENANGAN

jelang malam
kau mengirim salam
melalui semangkok bubur
akupun terkenang lagi
pada secarik kertas merah
yang sempat basah dalam cucian
dua puluh empat tahun silam


terima kasih, dik!
bubur kacang hijaunya enak

Bireuen, 1 Agustus 2018 mukhlis aminullah

Kepada Fadhilah Adam

Selasa, 09 Januari 2018

TEUNGKU RAYEUK

menulis tentang teungku rayeuk
ingatanku melayang
seorang bocah bermata sipit yang selalu kalah
dengan matahari
kulitnya putih dan berambut pirang
juara kelas, kata ibu guru Fatimah
pada saat bertemu lagi dengannya
setelah tiga puluh lima tahun berselang


tentang teungku rayeuk!
orang-orang tua di kampung mengenang
itu nama julukan bukan nama pemberian orangtua
saat memotong dua ekor kambing jantan
kemudian, setelah empat puluh lima tahun
nama itu pelan-pelan menghilang
tidak modern, dan ditelan zaman

tentang teungku rayeuk!
itu nama legenda! tak tergantikan

Bireuen, 9 Januari 2017 mukhlis aminullah

LAKSANA MENULIS DI PASIR

seperti menulis di pasir
sebentar kemudian disapu buih
tiada tersisa semua pahala
bila terus memupuk dosa
di mesjid kita sangat khusyuk berzikir
untuk tetangga fakir kita kikir
pada dini hari kita sholat malam
besok lusa ke klub malam
di depan umum kita simpatik
sejatinya itu pembohongan publik
oh, dunia ternyata tipu menipu
semua orang tanpa rasa malu


seperti mengundang buih saat
kita selesai menulisi pasir
betapa bodohnya, kita!

Laut Kuala Raja, 8 Januari 2017 Mukhlis aminullah