pada siapa kukabari rindu?
selimutku adalah angin malam
secangkir espresso ditambah secangkir lagi tidak juga menjadi jawaban kecuali ada puan yang baik hati memahami diriku bahwa aku adalah lelaki yang hidup pada separuh malam
pelan-pelan
kubuang sampah kenangan agar tidak terulang catatan hitam cukup sudah episode kelam meruntuhkan iman akan kuperbaiki pelan-pelan semua kekeliruan demi kehormatan! demi kehormatan!
setelah bertahun-tahun kulalui jalan sunyi akhirnya sampai jua di ujung penantian pada tanggal dua puluh Januari lembah Inang-Inang jadi kenangan yang tak akan pernah kulupakan
pada selembar sajadah kutulis catatan tentang kesabaran tentang kearifan tentang kelembutan hati tentang empati kulukis keteduhan wajahmu dalam doa malamku agar Allah selalu limpahkan berjuta ampunan Allahummaghfirlahuu warhamhu .... kami merindukanmu, ayah!
menulis waktu kita terjebak seremoni kembang api ternyata almanak lama telah usang menebarkan catatan bau busuk dan bakteri dari dosa-dosa ... menyambut tahun baru seharusnya kita malu karena almanak baru menyambut senyum kita dengan raut muka masam