Jumat, 11 Juli 2014

ASAL MULA BANGSA YAHUDI & PALESTINA

Asal Mula Bangsa Yahudi & Palestina I

SEJARAH bangsa Israel bermula dari hijrahnya Nabi Ibrahim pada tahun 1900 SM bersama pengikutinya dari Babilonia yang menghindari tekanan dari penguasa zalim Namruz. Orang-orang ini disebut dengan sebutan Ibrani yang berarti orang yang menyeberang. Pemilihan nama ini muncul karena saat Nabi Ibrahim hijrah dari Babilon ke Kan’an (Palestina) harus melintasi sungai Eufrat. Sejak saat itu kelompok muhajirin dan keturunannya menjadi suatu bangsa yang dinamai bangsa Ibrani.

Sedangkan bangsa Kan’an berasal dari jazirah Arab pada tahun 2500 SM. Mereka kemudian membangun sekitar 200 kota dan desa di sana seperti Pisan, Alqolan, Aka, Haifa, al Khalil, Usud, Bi’ru Alsaba’ dan Betlehem. Mayoritas penduduk Palestina sekarang khususnya di wilayah pedesan merupakan turunan dari kabilah bangsa Kan’an, Umuriyah dan Filistin.

Nama Palestina sendiri diambil dari salah satu nama bangsa pelaut yang bermukum di pesisir dan berasimilasi dengan bangsa Kan’an. Bangsa Filistin kemungkinan datang dari daerah barat Asia kecil dan wilayah laut Ijah sekitar abad ke 12 SM.

Setelah Nabi Ibrahim wafat, kepemimpinan bangsa Ibrani selanjutnya diteruskan oleh Nabi Ishak, putranya. Selanjutnya Nabi Ishak digantikan oleh putranya Nabi Ya’kub. Nabi Ya’kub mempunyai gelar kehormatan yang disebut Israel, artinya hamba Allah yang amat taat. Beliau mempunyai 12 putera yaitu Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Zebulon, Isakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf dan Bunyamin.

Anak cucu Ya’kub inilah yang kemudian dikenal sebagai Bani Israel atau anak cucu Israel. Di antara seluruh putera Ya’kub, yang paling banyak keturunan adalah Yahuda, maka bangsa Bani Israel pun dibangsakan kepada Yahuda dengan sebutan Yahudi.

Ketika Nabi Yusuf menjadi pejabat di pemerintahan Firaun, semua anak cucu Ya’kub kemudian hijrah ke Mesir. Di sana mereka diperlakukan dengan baik oleh Pharao atau Firaun zaman itu. Namun berabad-abad kemudian muncullah Firaun yang tidak suka pada mereka, namanya Thotmosis. Karena kekhawatirannya terhadap perkembangan bangsa Israel dan juga tidak suka pada aga tauhid yang dianuntnya, menyebabkan kedengkian dan menjadikan Bani Israel sebagai budak.

Pada abad ke 13 SM Allah kemudian mengutus Musa dan Harun untuk membebaskan Bani Israel dan mengajak Firaun untuk bertauhid. Tetapi Firaun menolak dan semakin menindas bangsa Israel hingga akhirnya Musa mengajak mereka kembali hijrah ke Kan’an. Firaun mencoba mencegah peristiwa hijrah tersebut, namun akhirnya ia tenggelam di Laut Merah. Sedangkan Bani Israel selamat mendarat di gurun Sinai.

Dari Sinai mereka melanjutkan perjalanan melewati padang Syur yang tandus. Kemudian ke Sana, Mara, Elim dan Thursina. Di sinilah watak Bani Israel mulai terlihat, mereka menggerutu dan mengomel sepanjang perjalanan. Mereka juga menyesali Musa dan Harun yang telah membawa mereka hijrah dari Mesir. Kendati demikian Allah tetap memberikan kemudahan bagi Bani Israel, saat mereka berjalan di padang tandus ada gumpalan awan yang menaungi mereka. Begitu juga saat mereka lapar Allah menurunkan manna-salwa sebagai makanan.

Di perjalanan perlahan-lahan kebodohan Bani Israel mulai terkuak. Saat mereka berjumpa dengan orang Assiria dan Kan’an yang menyembah berhala, mereka meminta agar Nabi Musa membuat patung untuk mereka sembah. Di gurun Sin, mereka kembali mengomel karena kehausan. Allah kemudian memerintahkan agar Musa ke lereng gunung Horeb dan memukul batu gunung sehingga keluar 12 mata air.

Di Thursina, Musa dan Bani Israel mendirikan perkampungan. Setelah itu Nabi Musa pergi ke bukit Thursina selama 40 hari untuk mendapatkan wahyu dari Allah berupa Taurat. Kepergian Musa ternyata dimanfaatkan oleh seorang pengikuti bernama Samiri, yang mengajak Bani Israel menyembah patung anak sapi.

Setelah Musa kembali dari Thursina, ia mengajak seluruh Bani Israil untuk beriman pada Taurat. Namun mereka malah ragu dan ingkar sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al-baqarah ayat 55) yang bunyinya ”Wahai Musa, kami tidak akan pernah percaya kepadamu, kecuali kami bisa melihat Allah secara langsung dengan jelas..”. Begitu juga saat mereka diajak berjihad memasuki Kan’an (Palestina) mereka menolak dengan tidak sopan, peristiwa ini juga tercantum dalam QS. Al-Maidah, 5: 24 “Hai Musa, kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.

Sebelum sampai di Kan’an Harun wafat, tugas beliau sebagai Imam Bani Israel diserahkan Musa kepada Eliazar putera Harun. Tak lama kemudian Musa wafat, ia berwasiat kepada Bani Israel agar meneruskan cita-cita memasuki negeri Palestina (Kan’an)

Asal Mula Bangsa Yahudi & Palestina II


SETELAH Nabi Musa wafat kepemimpinan diserahkan kepada Eliazar, putera Harun. Sebelumnya Musa berwasiat agar Bani Israel meneruskan cita-cita memasuki negeri Palestina atau Kan’an. Kepemimpinan Elizar kemudian digantikan oleh Yusya. Yusla lah yang kemudian menggerakkan Bani Israel keluar dari gurun Sinai untuk memerangi bangsa Kan’an dan Filistin yang menyembah berhala.

Setelah Bani Israel berhasil memenangi peperangan tersebut, negeri itu kemudian dibagi menjadi 12 wilayah. Raja mereka yang pertama adalah Thalut yang memerintah antara tahun 1042-1012 SM. Selanjutnya Dawud yang memerintah sekitar 40 tahun (1012-972 SM). Dawud kemudian diganti anaknya Sulaiman yang memerintah selama lebih kurang 40 tahun (972-937 SM. Pada masa pemerintahan Sulaiman inilah didirikan Haikal (Baitul Maqdis) di atas bukit Moria (Sion/Zion).

Pengaruh kerajaan Sulaiman pada masa itu sangat luas, meliputi daerah pinggiran sungai Eufrat sampai ke laut Merah. Kebesaran zaman Sulaiman inilah yang diimpikan orang Israel saat ini dengan melakukan gerakan Zionisme. Sengketa dan perpecahan mulai timbul setelah Sulaiman wafat. Di mana golongan Yahuda dan Benyamin memilih Rahbeam (anak Sulaiman) untuk menggantikan ayahnya sebagai raja.

Sementara 10 golongan yang lain memilih Yerobeam dari turunan suku Efraim. Karena tidak ada titik temu, kerajaan Israel akhirnya terpecah dua. Golongan Yahuda membentuk kerajaan sendiri yang dinamai Yahuda, berpusat di Yerusalem dengan rajanya Rahbeam.

Walaupun kerajaan Yahuda kecil dari kerajaan Israel, namun mereka memiliki beberapa kelebihan seperti menguasai Palestina sebagai ibu kota pusaka raja Dawud. Baitul Maqdis berada di daerah mereka. Begitu juga dengan Tabut, tempat tersimpannya Taurat Musa yang berada di wilayah mereka.

Kelebihan tersebut rupanya membuat Yerobeam, raja Israel tidak senang. Apalagi pengaruh kekuasaan kerajaan Yahuda tetap mendalam di hati semua rakyat, karena setiap sembahyang mereka tetap menghadap ke Palestina (Baitul Maqdis). Untuk menyainginya Yerobeam membuat patung lembu emas untuk sesembahan rakyat Israel sebagai ganti ibada biasa menyembah Yehoah (Allah) sambil berkiblat ke Baitul Maqdis.

Kehancuran kerajaan Israel dan Yahuda berawal ketika bangsa Assiria pada tahun 721 SM menyerang kerajaan Israel yang berpusat di Samaria. Seluruh negeri mereka hancurkan, ribuan orang Israel mati terbunuh, orang-orang terkemuka ditawan dan dibuang ke Assiria.

Pada tahun 606 SM kerajaan Yahuda mengalami nasib yang sama. Tentara Babilonia di bawah kekuasaan Nebukadnezar menyerang Palestina. Kota Palestina dihancurkan, ribuan orang terbunuh, selebihnya dijadikan budak. Sebagian lagi meloloskan ke tanah Arab, tepatnya di Yatsrib, sekarang Madinah. Peristiwa ini jauh-jauh hari sudah diperingatkan Nabi Musa, jika mereka menyimpang dari Taurat mereka akan mendapat hukuman dari Allah.

Peristiwa duka ini sudah diperingatkan Musa kepada Bani Israel sebelum beliau wafat, bahwa jika mereka menyimpang dari Taurat mereka akan mendapatkan hukuman dari Allah (wasiat ini tertera dalam Kitab Ulangan: XXVIII; 15, 21, 25, 26).

Setelah 70 tahun bangsa Yahudi jadi budak di Babilonia, mereka kemudian diperobelehkan kembali ke Palestina pada tahun 539 SM. Saat itu Babilonia telah ditaklukkan oleh Persia di bawah kekuasaan Cirus. Tetapi akibat musnahnya Yaurat dan pembuangan selama 70 tahun telah mengubah pandangan hidup bangsa Yahudi, mereka kehilangan pedoman.

Tahun 330 SM, Alexander Agung dari Macedonia (Yunani) mengalahkan Raja Persia, Darius III. Bangsa Yahudi pun berganti tuan. Tahun 301 SM negeri jajahan Yunani sebagian dapat direbut Mesir, salah satunya adalah Palestina. Tahun 199 SM Assiria merebut Palestina dari Mesir dan menguasainya selama 50 tahun sampai tahun 142 SM. Di tahun inilah bangsa Yahudi berhasil merebut kemerdekaan di tangan Assiria. Tak sampai seabad, tahun 63 SM mereka telah jatuh menjadi jajahan bangsa Romawi.

Pada masa penjajahan Romawi inilah Allah mengutus Nabi Isa. Allah mengutus Nabi isa untuk mengajak Bani Israel agar berpegang teguh pada ajaran Musa diingkari dengan penuh kedengkian. Tahun 33 SM diadakan perayaan Paskah tahunan di Bait Allah (Batul Maqdis), sebagai perayaan selamatnya bangsa Israel dari penindasan Firaun. Namun perayaan tersebut berubah menjadi pesta perniagaan yang diwarnai dengan perjudian. Bahkan di pintu gerbang Bait Allah diberi patung Garuda sebagai lambang kebesaran kekaisaran Romawi.

Hal ini membuat Nabi Isa dan pengikutnya menyerbu Bait Allah. Kerusuhan itu menimbulkan kemarahan penguasa Romawi. Romawi kemudian mencoba untuk menangkap Nabi Isa dan pengikutnya. Tetapi mereka telah menyingkir dan bersembunyi di bukit Gesmani. Pada saat itu orang Yahudi menyebarkan isu bahwa Isa akan melakukan pemberontakan terhadap Romawi dan mengangkat dirinya sebagai Raja Yahudi. Darisinilah awal mulai terjadinya penangkapan Isa dan terjadilah peristiwa penyaliban Isa yang kontroversial.

Pada tahun 70 M, Bani Israel pernah mencoba memberontak pada Romawi tapi tidak berhasil. Komandan militer Romawi, Titus, berhasil mematahkan pemberontakan tersebut. Tahun 132-135 M mereka kembali memberontak dan lagi-lagi gagal. Julius Cyprus, pemimpin Romawi akhirnya memporak-porandakan Yerusalem.

Di atas puing kota ini, Kaisar Romawi, Hendrian I membangun kota baru yang dinamakan Elia Capitolina yang kemudian dikenal dengan nama Elya. Bangsa Yahudi dilarang memasuki kota Yerusalem selama 200 tahun kemudian. Jumlah populasi mereka pun sangat jarang di sepanjang 18 abad berikutnya. Sementara penduduk pribumi dari keturunan Kan’an yang berasimilasi dengan kabilah Arab tetap langgeng di sana.

Romawi menguasai Palestina sampai tahun 640 M hingga datangnya Islam. Kota Yerusalem kemudian diserahkan secara resmi pada Khalifah Umar bin Khattab tanpa peperangan. Di bawah pemerintah Islam seluruh rakyat diperlakukan dengan adil dan diberi kebebasan beribadah sesuai agama masing-masing. Saat itu Yahudi, Nasrani dan Islam hidup rukun dan berdampingan.

dari berbagai sumber. semoga bermanfaat.

JADILAH PELITA

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. 
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.

Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”
Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta itu.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”
Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.” Senyap sejenak.
Secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”
Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita.

Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan orang - orang di sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

MYTHOMANIA, PENYAKIT SUKA BERBOHONG

Iseng-iseng cari permasalahan teman adik saya, yang kerjaannya hanya berbohong dan membesar-besarkan apa saja yang di katakannya.. ternyata Suka Berbohong pun merupakan penyakit.. jadi siapa di antara kalian yang terkena penyakit tersebut dan tanpa kalian sadari? yuk kita lihat penjelasan dari Sang Alkemis.

 Kenapa manusia berbohong? Karena mereka menganggap bisa hidup langgeng (bisa tertolong, lepas dari masalah) dan mendapat keberuntungan dengan kebohongan dan penipuan. Kadang-kadang dengan berbohong masalah mereka tertolong untuk sesaat. sampai hidup selanjutnya tidak bisa dilepaskan lagi, itu menjadi suatu hal yang menjadi kebiasaan, membentuk karakter. Jadi bohong bisa dimengerti, meskipun bukan sesuatu yang bisa dimaafkan atau dilupakan begitu saja. di dalam hal bohong-berbohong, perasaan ketakutan dan kekalutan diri yang sesungguhnya tertutupi. Karena itu, berbohong berarti menutupi hal yang sebenarnya. Hal itu untuk sementara waktu memang bisa dijadikan pegangan batin untuk mendapat ketenangan.

Berbohong sepertinya sudah "mendarah daging" dalam diri kita. Coba kita telaah, apa benar dalam hidup ini kita belum pernah berbohong? Orang yang paling jujur saja, ada kemungkinan pernah berbohong, ya paling tidak berbohong kecil-kecilan. Bisa juga kepada orang lain ada kemungkinan dia belum pernah berbohong.

Bagaimana dengan diri sendiri? Sering dalam hidup ini kita membohongi diri sendiri, banyak hasil yang bisa dilihat dari sikap membohongi diri. Mulai dari yang biasa-biasa saja, sampai yang paling gawat! Ada orang yang berusaha hidup dengan membohongi diri sampai harus menjadi penderita macam-macam penyakit, karena berbohong. Sesungguhnya bagi batin si pelaku juga bukan hal yang menyenangkan, banyak rasa bersalah yang dirasakan dalam batin-nya.

Itulah yang menimbulkan berbagai keluhan mulai dari ketegangan saraf yang menjadi penyebab sakit kepala, sampai kepada pengerasan pembuluh darah yang berakibat penyumbatan, terus berlanjut menjadi gagal jantung dan stroke, dan penyakit menahun yang lain, seperti kanker. Bahkan, banyak orang terkenal yang berusaha membohongi dirinya di balik ketenaran dan harta, sampai harus menelan obat sampai overdosis untuk bunuh diri karena dibohongi terus-menerus. hal pertama yang di alami si penderita saat mulai berbohong adalah akan mengalami yang namanya merasa bersalah, gelisah, gemetar, badan keringat dingin, ketakutan akan ketahuan. dan bila ketahuan si penderita akan merasa seperti kena setrum dan membuat badannya menjadi Lemes. akan tetapi bila sudah terbiasa memulai berbohong, maka selanjutnya dia tidak akan merasa bersalah atau malu atau sakit secara fisik, bahkan bila sudah ketahuan sekali-pun!!!

Mythomania. istilah ini pertama kali diperkenalkan pada thn 1905 oleh seorang psikiater bernama ferdinand dupré. mythomania adalah kecenderungan berbohong yang dimaksudkan bukan untuk menipu/mengelabuhi orang lain, tetapi justru untuk membantu dirinya sendiri mempercayai/meyakini kebohongannya sendiri. berbeda dengan seorang pembohong biasa yang sadar bahwa ia tengah berbohong dan mampu membedakan antara kenyataan dan bukan kenyataan, seorang mythomaniac tiddk sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang berbohong. ia tidak mampu membedakan antara ‘kenyataan’ yg berasal dari imaginasinya dan kenyataan yang sebenarnya. kebohongan-kebohongan yang dilakukan olehnya cenderung ‘di luar ‘ kesadaran, yang artinya adalah dia tidak tahu/tidak sadar bahwa orang lain akan merasa terganggu dengan kebohongannya, karena yang terpenting baginya adalah dirinya mendapat pengakuan oleh sekelilingnya, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yang ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan sebenarnya yang tidak mau ia terima, dengan tanpa rasa menderita. salah satu penyebab mythomania adalah kegagalan-kegagalan dalam kehidupannya, bisa jadi berupa kegagalan dalam hal studi, masalah keluarga, kisah-kisah sentimental, bahkan kegagalan dalam hal pekerjaan (namun jangan keliru, pada saat ia mendapati orang lain mulai meragukan apa yang ia percaya, ia menjadi sadar telah berbohong- detilnya akan dibahas di bawah). pendeknya, ia ingin melarikan diri dari semua image tentang dirinya sendiri. jadi, semakin orang lain mempercayai kebohongannya, semakin ia terbantu untuk lepas dari image nyata tentang dirinya yang sulit ia terima itu.

Seorang pembohong biasa pada umumnya memiliki alasan lumrah dan masuk akal ketika berbohong, seperti dengan tujuan bercanda, atau demi kebaikan atau pun demi menyelematkan seseorang. karena kebohongannya ia lakukan hanya terkadang saja yg artinya ia tidak terbiasa berbohong, biasanya ia akan terlihat kikuk dan canggung. tidak demikian dengan mythomaniac. mythomaniac memiliki pesona yang mampu memanipulasi orang lain, ia pandai menemukan kalimat dan sikap yang tepat dengan tujuan supaya dicintai, demi mencapai tujuannya.

Pada saat seorang mythomaniac telah berhasil menjerat kita, sedikit demi sedikit kebohongannya merusak dan mengganggu sistem kepercayaan dan keyakinan diri kita. bahkan rasa percaya kita yg paling kokoh pun akan guncang dan kita mulai percaya pada ‘image’ baru yang dia buat, serta perlahan kita meninggalkan kenyataan yang sesungguhnya mengenai si mythomaniac tersebut. ketika kita mulai sadar akan kebohongannya, pada awalnya ia akan mengelak, kadang disertai dengan kemarahan, kemudian ia akan memanipulasi lagi dari awal dengan tetap pada kebohongan yang sama. tetapi jika hal ini mulai ia rasakan berat, maka ia akan ‘mengkoreksi’ kebohongannya dg cara berbelit dan berputar-putar dengan cerita yg baru, dengan tanpa meninggalkan kebohongan awalnya ( istilah sekarang ‘ngeles’). semakin kita mempertanyakan kebohongannya, semakin banyak kebohongan yang ia ciptakan karena pada titik ini, ia sadar telah berbohong, dan seorang mythomaniac yg sadar telah berbohong akan semakin lepas kendali, seperti sudah sekilas diungkapkan di paragraf kedua di atas.

Mythomaniac sendiri sebenarnya adalah korban. ia korban dari ketidakbahagiaan dalam hidupnya dan korban dari penderitaan yang terlalu terus menerus. ia tdk mampu mengekspresikan keaslian dirinya sehingga selalu ingin bersembunyi di balik topeng. jika anda menjumpai seorang mythomaniac, jalan terbaik adalah menghindar darinya. namun jika anda ingin menolongnya, jangan berusaha mencari alasan yang masuk akal, atau mencoba menemukan jawaban dari tindakan-tindakan kebohongannya karena itu membuang-buang waktu saja. berusaha mengerti mengapa ia berbohong adalah sia-sia saja karena jiwanya merupakan sebuah labirin di mana ia hanya berputar-putar saja disitu tanpa ada jalan keluar. yang bisa anda lakukan adalah meyakinkannya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. setelah itu, semua kembali kepada si mythomaniac itu sendiri. hanya dia yg bisa menolong dirinya sendiri. ia harus menyadari permasalahannya, mengakuinya dan harus memiliki keingininan yg kuat utk menyembuhkan dirinya. menemui seorang psikiater adalah merupakan salah satu ciri-ciri bahwa ia ingin menolong dirinya. (Dikutip dari salah satu blog bernama fitalexi).

Teringat sebuah kutipan:" Kejujuran yang membuat-ku terhina, itu lebih aku cintai daripada kebohongan yang membuat-ku terhormat". "Kejujuran akan menyelamatkanmu meskipun kamu menyembunyikannya, dan kebohongan akan menjerumuskan-mu, meskipun kamu menyembunyikannya".

Dan kutipan kLasik yang sering kita dengar mengtakan:"Jika seorang pembohong terkenal akan kebohongannya, maka dia tidak akan dipercaya dalam hal apapun meskipun dia berkata jujur".

Jika orang terlalu sering berbohong, tetapi tidak merasa efek negatif dengan kesehatan psikis (merasa bersalah, menyadari telah berbohong), orang tersebut bisa digolongkan dengan sebutan psikopat. Hal itu banyak diderita oleh pebisnis, karena banyak orang berbisnis dengan menghalalkan segala cara untuk mempertahankan perusahaan dan harga diri mereka.

Di Amerika pernah dilakukan penelitian mengenai berbohng oleh para ahli jiwa. Para tersangka yang sudah lulus dari mesin pendeteksi kebohongan diteliti dengan memperhatikan gerak (bahasa) tubuh orang tersebut. Dari situ disimpulkan bahwa seseorang kala berbohong, akan lebih banyak mendongakkan dagunya ke satu arah, yang paling sering terjadi hampir seluruh peserta yang diteliti, mendongakkan dagunya ke arah kanan.

Ciri lain mereka mengesekkan jarinya ke cuping hidung atau atas bibir di bawah hidung secara terus menerus karena menurut penelitian, seseorang kala berbohong, aliran darahnya akan lebih cepat mengalir dan pembuluh darah membuat ujung-ujung saraf di cuping hidung atau atas bibir lebih teraktifkan, sehingga terasa gatal.

Bagi orang yang tidak biasa berbohong, bila suatu waktu dia terpaksa melakukannya, tentu ada satu bahasa tubuh yang ketara. Yaitu dia lebih sering mengerakkan badannya, seolah terasa pegal dan sedikit gemetar sampai gemetar yang disertai tergagap.

Berbohong berarti melawan "bahasa kalbu" sebagai bisikan dari hati nurani.

hati nurani adalah sebuah "alat" yang menyebabkan Anda bisa berhubungan dengan semua daya dan merupakan penghubung antara pikiran dan intelegensi abadi diri Anda. (Dikopi dari blog Lianny Hendranata)

Semoga bermanfaat!!!

AKIBAT BERBOHONG BAGI KESEHATAN

Berbohong merupakan senjata terakhir manakala seseorang terjebak pada situasi yang tak memungkinkan untuk berkata sebenarnya. Setelah melakukan satu kali kebohongan, mau tak mau ia harus berbohong kedua dan mungkin seterusnya untuk menutupi kebohongan pertama.

Sementara mereka yang berbohong ini sama seperti menyembunyikan sesuatu. Sadar atau tidak mereka menyimpan rasa bersalah yang harus ia tampung sendiri. Hal ini sama dengan menyimpan bom dalam tubuh karena baik berbohong, menyembunyikan fakta atau menyimpan rasa bersalah membuat tubuh mengeluarkan hormon stres yang menyebabkan denyut jantung berdetak lebih kencang, nafas meningkat, pencernaan melambat, dan hipersensitif pada saraf dan otot, hal ini seperti yang dikatakan oleh MD Saundra Dalton-Smith, penulis Set Free to Live Free: Breaking Through the 7 Lies Women Tell Themselves.

Dalam jangka waktu lama, berbohong dapat menyebabkan meningkatnya resiko penyakit jantung koroner, stroke, Kanker, diabetes, dan gagal jantung. Dr Smith dalam Bettyconfidential menyatakan meningkatnya tekanan darah dalam hati menjadikan beberapa penyakit berbahaya muncul.

Pada November 2010, Departemen Psikologi Universitas Ghent di Belgia mengadakan penelitian yang akhirnya dimuat dalam jurnal Consciuosness and Cognition, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa kejujuran yang dimiliki seseorang akan mejadi perisai sehingga menyulitkan ia untuk berbohong. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa berbohong akan melakukan hal tersebut secara kontinyu dan terus menerus. Semakin lama dan semakin banyak kuantitas Anda berbohong, semakin tinggi resiko penyakit berbahaya bersarang dalam tubuh Anda.

Tidak hanya memperberat kerja jantung dan meningkatkan tekanan darah, berbohong juga mengancam kesehatan jiwa. Ketika berbohong, berarti Anda melawan hati nurani. Belum lagi pertentangan batin yang harus Anda alami ketika berbohong. Tekanan psikologis akan semakin berat jika Anda melakukan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan awal, ditambah lagi kekhawatiran tentang seseorang yang akan membongkar kebohongan akan terus menghantui selama Anda belum mengungkapkan yang sebenarnya.

Seperti yang dilansir dalam Sriwijaya Post, Dr Ari F Syam SpPD-kGEH,MMB,FINASIM,FACP, spesialis penyakit dalam FKUI-RSCM menyatakan bahwa selama mempertahankan kebohongan akan membuat gangguan jiwa (Neurosis) baik depresi maupun kecemasan maupun gangguan fisik akibat kejiwaan berupa penyakit psikosomatik. Psikosomatik adalah keluhan nyeri fisik yang jika diperiksa secara klinis tidak ada penyebab atau gangguan fisik yang relevan, namun hal ini diyakini disebabkan oleh kondisi psikososial tertentu pada seseorang. Contohnya sakit maag yang disebabkan oleh stres atau sakit perut yang mendadak muncul dikarenakan cemas karena telah berbohong. Akhirnya dampak kejiwaan juga berimbas kembali kepada kesehatan fisik.

Beberapa orang melegalkan kebohongan untuk kebaikan hingga terbawa arus menjadikan kebohongan sebagai hal yang wajar. Tidak ada salahnya dengan niat melindunginya agar dia tak terluka dengan fakta yang ada, bagaimanapun fakta yang sebenarnya akan terkuak dan cepat atau lambat hal itu juga akan melukai hatinya. Daripada berbohong dengan alasan demikian, sebaiknya menggunakan pemilihan kata yang bagus ketika menyampaikan fakta walaupun tak semua fakta tersebut selalu menyenangkan. Tambahkan penguatan berupa penghiburan agar dia tak terluka hatinya. Hal ini lebih baik daripada Anda berbohong, melukai hatinya serta menimbulkan dampak yang kurang baik bagi jiwa dan raga Anda sendiri.

Dengan melakukan hal tersebut, berarti Anda mengurangi potensi untuk berbohong. Seperti yang telah dijelaskan di awal pembahasan, sekali berbohong akan berbuntut panjang dengan kebohongan yang lain. Karena itu berusahalah untuk jujur dan mengungkapkan segala sesuatu apa adanya. Hal itu lebih bermanfaat bagi orang lain dan diri Anda sendiri, bukan begitu?

isi artikel saya dapatkan dari yahoo answers, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Salam Ramadhan,

Kamis, 10 Juli 2014

KAMI MALU PADA PALESTINA

oh, Palestina
maafkan kami
bukannya melupakan
tetapi kami memang lupa
dan alpa pada kalian
maklumlah kami sedang euforia
dengan Pemilu Raya

oh, Palestina
maafkan kami
bukannya tidak peduli
tetapi kami sedang lupa diri
dan lupa jati diri
maklumlah kami sedang menggilai
kami sibuk dengan Piala Dunia

oh, Palestina
maafkan kami
ternyata kami bangsa miskin
miskin empati, miskin emosi
hanya sedikit orang yang peduli
maklumlah fokus kami terbagi
Piala Dunia dan Pemilu Raya

oh, Palestina
soyogianya kami malu padamu

Bireuen, 10 Juli 2014 mukhlis aminullah

Senin, 07 Juli 2014

MENJARING AIR

menjaring air
apakah yang tersisa
selain semuanya sia-sia
begitupun dengan ibadah kita
khusyuk dan bersahaja
tetapi setiap hari juga
kita memupuk dosa
bukankah menjaring air
adalah perbuatan sia-sia?
syukurlah, Ramadhan telah tiba
mari, mari,..
bersihkan dosa

Jeumpa, 30 Juni 2014 mukhlis aminullah

HUJAN (3)

kemarau panjang akhirnya tersenyum
seperti membasahi muka dengan handuk dingin
amboi, segar nian kotaku
gerimis malam jadikan udara kesejukan
oh ya, terima kasih Dzat Yang Maha Kuasa
atas limpahan awan dan hujan

Bireuen, 07 Juli 2014 mukhlis aminullah

Sabtu, 21 Juni 2014

KISAH PIANIS BERJARI EMPAT; HEE AH LEE

Sosok gadis mungil yang luar biasa ini bernama Hee Ah Lee, seorang gadis Korea yang lahir pada 9 Juli 1985, di Pusan Korea Selatan. Setiap ibu pasti menginginkan anaknya lahir dalam kondisi normal, baik kesempurnaan fisik maupun mental. Namun Tuhan berkata lain, Hee Ah Lee terlahir dengan 4 jari, 2 di tangan kanan dan 2 di tangan kiri. Selain itu, dia juga terlahir dengan kaki yang cacat, hanya sampai lutut. Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah selain terlahir dengan kondisi fisik yang cacat, Hee Ah Lee juga memiliki keterbelakangan mental.

Bukan sampai disini saja cobaan yang dihadapi Hee Ah Lee dan ibunya, karena kondisinya itu dia pun dijauhi oleh keluarga besarnya. Keluarga besar yang seharusnya memberikan dukungan penuh akan kehidupan Hee Ah Lee dan ibunya justru menjauhi mereka. Sedih memang rasanya diperlakukan seperti itu, ibarat pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bila sebagian orang menyerah dengan keadaan, tidak begitu dengan ibu Hee Ah Le. Sang ibu tercinta merawat Hee Ah Lee dengan penuh kasih sayang dan memberinya motivasi untuk terus maju dan berkembang.

 

Kasih Sayang Ibu Hee Ah Lee Yang Luar Biasa


Ibu Hee Ah Lee yang bernama Woo Kap Sun adalah seorang pahlawan bagi kehidupan anak gadis ini. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan, gadis mungil ini tidak bisa hidup tanpa keberadaan sang ibu disampingnya. Dengan kasih sayang dan penuh kesabaran, sang ibu berjuang agar anak gadisnya tersebut bisa menjadi seorang yang memiliki kemahiran dalam bermain piano.
Walaupun banyak sekali orang yang meremehkan impiannya, Woo Kap Sun memiliki keyakinan bahwa setiap ada kekurangan pasti Tuhan akan memberikan kelebihan, karena tidak ada manusia yang terlahir dengan sempurna. Walaupun secara fisik Hee Ah Lee tidak sempurna, tapi ibunya yakin suatu saat kelebihannya itu pasti akan muncul.

Akhirnya Woo Kap Sun mencari sekolah piano untuk anaknya. Sayangnya banyak sekolah yang menolak Hee Ah Lee karena kekurangan fisiknya. Namun, ibunya tidak patah semangat, ia terus berusaha mencari sekolah yang mau menerima anaknya untuk belajar piano, hingga akhirnya ada satu sekolah yang mau menerimanya.

Pada awalnya Hee Ah Lee mengalami banyak kesulitan dalam belajar piano, kita bisa bayangkan bagaimana sulitnya belajar bermain piano hanya dengan 4 jari dan kaki sampai selutut. Namun Hee Ah Lee pantang menyerah, dia terus menerus mencoba belajar bermain piano, bahkan jari-jarinya pernah mengalami bengkak karena tidak terbiasa melakukan itu semua.

Selain bermasalah dalam menekan tuts-tuts piano, dia pun memiliki kesulitan dalam menginjak pedal piano dikarenakan kakinya yang hanya sampai selutut itu. Untungnya Tuhan menganugerahkan kekuatan dan semangat yang begitu besar kepada Ah Lee dan ibunya sehingga mereka tidak merasa putus asa dalam menghadapi semua cobaa kehidupan ini, mereka berdua menjalaninya dengan penuh kesabaran.

 

Kerja Keras Selalu Membuahkan Hasil


Untuk bisa memainkan 1 buah lagu Hee Ah Lee harus belajar selama 10 jam lamanya. Dan untuk memainkan 1 buah lagu dengan notasi rumit dia harus belajar selama 5,5 tahun. Ibunya sampai berhenti bekerja sebagai seorang perawat karena ingin selalu menemani anak gadisnya belajar dan memberikan dukungan dengan sepenuh hati. Pada akhirnya perjuangan sang ibu dan Hee Ah Lee membuahkan hasil. Gadis itu akhirnya bisa pentas di depan banyak orang dan membuktikan kepada dunia bahwa orang yang terlahir cacat juga bisa memiliki keahlian / keterampilan khusus dan memiliki masa depan.

Album pertama yang dikeluarkan oleh Hee Ah Lee berjudul “Hee Ah, A Pianist with Four Finger”. Ia juga sudah melakukan konser di berbagai negara, seperti Amerika, Inggris, Jepang, China, Singapura dan Indonesia. Semua audience yang melihat konser Ah Lee merasa terkagum-kagum akan kepiawaiannya bermain piano dengan keadaan fisik seperti itu. Banyak dari audience yang sampai meneteskan air mata dan tertunduk haru akan keajaiban yang Tuhan berikan kepada Hee Ah Lee.
Kisah ini membuktikan bahwa setiap kekurangan yang ada pada seseorang pasti terdapat kelebihan tersendiri. Yang terpenting adalah kemauan kita dalam menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan, pantang menyerah dan tulus dalam menghadapi semua kesulitan hidup. 
Semoga kisah ini menginspirasi Anda.

dari buku The Four Fingered Pianist: An Inspiring True Story of Hee Ah Lee