Senin, 12 Agustus 2013

WAFATNYA HATI NURANI

apa lagi yang harus ku tampilkan
seribu kata protes yang pernah ku kirim
kepadamu sebelumnya
ternyata tidak kau hiraukan
dan kau masih asyik dengan kesombonganmu
aku ingin mengirim kain kafan kepadamu
atas wafatnya hati nurani

Bireuen, 12 Agustus 2013 mukhlis aminullah
kepada: Patih MAJAPAHIT

INDAHNYA BERHARI RAYA

mendung memanjakan kota
sejuk sepoi udara memeluk jiwa
para penghuni kota sibuk berhari raya
ah, indahnya

Kota Juang, 10 Agustus 2013 mukhlis aminullah

SUMPAH PALSU

berbait-bait sumpah menyumpah
kau ucapkan dengan lugu
bukan berarti akan mudah
kau meraih "surga di bawah telapak kaki ibu"
sebelum kau benar-benar menyesal
dan meraih ridhaNya

Gandapura, 10 Agustus 2013 mukhlis aminullah

KEHILANGAN RAMADHAN

mendung menyambangi kota
mendung juga ada di mata
bertanya perpisahan kepada pertemuan
apakah Tuhan mengizinkan
tahun depan kita berjumpa lagi,
dalam pelukan erat Ramadhan
oh,..

Kota Juang, 9 Agustus 2013 mukhlis aminullah

SELAMAT HARI RAYA

berharap nilai kesucian
dapat meyingkirkan penyakit hati
dan kasih sayang
benar-benar dalam ikatan abadi
mari jabat erat tanganku
tak akan kulepaskan tanganmu
peluk erat bathinku
aku akan menjaga bathinmu


Bireuen, 8 Agustus 2013 mukhlis aminullah

Selasa, 06 Agustus 2013

PUISIKU MENGGUGAT

kalian terus saja berselingkuh
kami ini kalian anggap apa?
bukankah Nanggroe endatu juga milik kami
andai kata damai yang tertulis indah
kau maknai dengan rendah hati
duduk sama rendah berdiri sama tinggi
tentu tidak akan kutulis puisi protes ini

Kuala Leuhop, 20 Juni 2013 mukhlis aminullah

Senin, 05 Agustus 2013

IRONI AKHIR RAMADHAN

(kepada Yang Mulia Pembagi THR)

engkau mengendap-endap
bersembunyi di balik baju koko
dan balutan sorban suci
engkau terus saja bersembunyi
di shaf-shaf utama dalam mesjid
katanya menunggu Lailatul Qadar
ah, yang benar saja??
kau tidak bisa bersembunyi
engkau sedang mengendap-endap
mencuri-curi pena, untuk menulis
dari mana lagi harus mencuri
angka demi angka Tunjangan Hari Raya.
entah buat siapa

Bireuen, 05 Agustus 2013 mukhlis aminullah

Jumat, 02 Agustus 2013

INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI BIREUEN

Untuk mengukur kemajuan perekonomian Bireuen, sebenarnya cukuplah secara mikro saja ataupun dengan cara sangat sederhana.

Pertama; coba kita jalan-jalan sore ke tempat orang menjual jajanan berbuka, bisa di Langgar Square atau kawasan lain..... pasti akan mudah kita lewati dengan kenderaan roda dua, tidak berdesakan kayak tahun2 sebelumnya. Penjual makanan, maaf, le that yang payah pot lalat.....

Kedua; omzet panjualan tanah kapling untuk rumah sangat rendah. toko-toko yang sudah dibangun tidak ada yang sewa, padahal pemilik tanah/toko sudah membuat iklan bertahun-tahun (2010-2013), jangankan pembeli, orang sekedar menanyakan harga pun, tidak ada....

Ketiga; kredit macet di bank makin meningkat, termasuk pembiayaan dari Simpan Pinjam UPK PNPM. Setelah mendapat modal dan mereka berusaha, ternyata omzet usahanya tidak sesuai seperti saat dilakukan Survey Kelayakan Usaha.

Keempat; ada rekan-rekan PNS yang bekerja sampingan sebagai pedagang. Artinya mereka teman-teman PNS, sebagian barangkali, perlu usaha sampingan setelah SK terikat ke Bank Aceh.

Kelima; ada fenomena baru juga di PNPM, para kontraktor lokal, mulai ikut tender pengadaan barang di level desa, yang diadakan oleh TPK/Panitia Lelang di desa, yang notabene keuntungannya sedikit......hana awe, ukheu mantong pih jeut?

Keenam; makin hari pengemis atau gepeng makin banyak di Bireuen... cukup bertambah pekerjaan kak Dewi Kwok, dalam mencari konsep pengaturan tentang gepeng.

Mungkin teman-teman saya bisa menambahkan indikator lainnya, silahkan... cukup dengan indikator sederhana, tidak perlu kita undang Faisal Basri Batubara atau Avilliani untuk mengukur indikator secara ilmiah.

Yang pasti, saya sebagai bagian dari masyarakat Bireuen, bertanya: dimana peran Pemerintahan sekarang dalam meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat...???

salam,
mukhlis aminullah