Setelah menyelesaikan studi S-2 di University of Melbourne, Jeffery berangkat ke India untuk menjalankan misi kristenisasi. Jeffery berprofesi sebagai dosen di kolej Kristen Madras (Madras Christian College), India. (John S. Badeau, “Arthur Jeffery-A Tribute”, The Muslim World 50 (1960)).
Di kolej tersebut, Jeffery bertemu sekaligus berteman akrab dengan dosen sekaligus Misionaris yang lebih senior, yaitu Pastor Edward Sell (1839-1932). Jeffery mengakui bahwa gagasannya tentang Alquran Edisi Kritis terinspirasi dari Edward Sell. (Arthur Jeffery, “Progress in the Study of the Koran Text”, Editor oleh Ibnu Warraq di buku The Origins of the Koran (New York: Prometheus Books, 1998) Sell menyeru kalangan misionaris Kristen ketika mengkaji Islam, supaya fokus kepada historitas al-Qur’an.
Menurut Sell, kajian kritishistoris al-Qur’an bisa dilakukan dengan menggunakan metodologi analisa bibel (biblical criticism). Merealisasikan idenya, Sell sendiri sudah menggunakan metodologi higher criticism, ketika mengkaji historisitas al-Qur’an di dalam karyanya Historical Development of the Quran. Higher criticism adalah satu bagian dari metodologi kritik Injil (Biblical criticism) yang memfokuskan pada pengarang, penanggalan dan asal mula teks. (Canon Sell, Studies in Islam (Delhi: BR Publishing Corporation, 1985; pertama kali terbit tahun 1928).
Gagasan Sell untuk mengkaji Alquran secara kritis-historis bukanlah gagasan orisinal. Sell sangat memanfaatkan hasil kajian yang dilakukan oleh Theodor Nöldeke (18361930), yang pada usia 20 tahun (tahun 1856), sudah menulis sebuah monograf dalam bahasa Latin tentang asal mula penyusunan Alquran.
Gagasan kritis-historis Alquran semakin menggeluti pemikiran Jeffery ketika ia berada di Kairo. Jeffery berada di sana karena mendapat kesempatan menggiurkan pada tahun 1921 dari Dr Charles R Watson, President pertama Universitas Amerika (American University), Kairo untuk menjadi salah seorang staf di fakultas School of Oriental Studies (SOS), yang didirikan pada 1921.
Selain Jeffery, staf-staf lain di fakultas S.O.S terdiri dari para orientalis terkemuka, seperti Earl E Elder, Canon Temple Gairdner dan Samuel Marinus Zwemer, pendiri jurnal The Moslem World. Persahabatannya dengan Zwemer menjadikan Jeffery, yang masih bergelar MA, diangkat sebagai seorang Pembantu Editor (Associate Editor) jurnal The Moslem World pada tahun 1922. Jeffery memperoleh gelar Doktor dari Universitas Edinburgh pada tahun 1929 dengan anugerah istimewa (with special honors). Universitas tersebut juga menganugerahkan Jeffery dengar gelar Doktor dalam kesusastraan (D Litt) dengan summa cum laude pada tahun 1938.
Penulis produktif
Tulisannya mengenai Alquran terbit di Jurnal The Muslim World tahun 1935 dengan Judul Progress in the Study of the Koran Text. Dua tahun setelah itu, yakni pada tahun 1937, buku Jeffery berjudul Materials for the History of the Text of the Quran: The Old Codices (Bahan-bahan untuk Sejarah Teks al-Qur'an: Mushaf-mushaf Lama) terbit. Setahun setelah itu, yaitu pada tahun 1938, buku Jeffery yang berjudul The Foreign Vocabulary of the Qur'an (Kosa-kata Asing Alquran) terbit di India. Buku ini merupakan perluasan dari tesisnya Jeffery yang ditulis sekitar tahun 1925-1926.
Pada tahun yang sama (1938), Jeffery dengan bantuan Otto Pretzl mendapatkan manuskrip yang ada di Berlin tentang Fada'il Alquran karya Abu Ubaid. Jeffery menerjemahkan satu bagian dari karya Abu Ubaid mengenai ayat-ayat yang hilang dari al-Qur'an ke bahasa Inggris dan diterbitkan di The Muslim World pada 1938. Setahun sesudahnya, hasil penelitian Jeffery tentang ragam bacaan al-Fatihah dipublikasikan di Jurnal The Muslim World.
Tahun 1940, Jeffery me-review dengan cukup panjang bukunya Nabia Abbot, The Rise of the North Arabic Script and its Kuranic Development, with a full description of the Kuranic Manuscripts in the Oriental Institute (Chicago: University of Chicago 1939). Pada tahun 1942, Jeffery bersama I. Mendelsohn mengkaji fotografi Mushaf al-Qur'an dari Samarqand, yang berada di perpustakaan Universitas Colombia.
Hasil kajian tersebut dipublikasikan di Journal of the American Oriental Society 62 (1942) dengan judul The Orthography of the Samarqand Quran Codex. Pada tahun 1950, Jeffery juga mempublikasikan empat serial tulisannya tentang The Quran as Scripture di Jurnal the Muslim World. Tulisan ini kemudian dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1952 dengan judul yang sama. Pada tahun 1951, Jeffery memodifikasi kembali karyanya tentang Sejarah Teks al-Qur'an dengan judul Index of Qur'anic Verses to the English Part of `Material for the History of the Text of the Qur'an (Leiden: EJ Brill, 1951).
Jeffery menyimpulkan bahwa kitab suci Alquran adalah wahyu progressif. (Arthur Jeffery, "The Quran as Scripture," Muslim World 40 (1950)). Maksudnya, ide mengenai kitab suci dalam Islam adalah lanjutan dari konsep yang sudah lama berkembang dalam Yahudi, Kristen dan juga agama lain. Karena itu, sejarah al-Qur’an sama juga dengan sejarah kitab-kitab suci lainnya. Alquran berkembang melalui berbagai tahap sejarah teks sehingga muncul menjadi teks standar yang selanjutnya dianggap suci.
Jeffery menolak pendapat kaum Muslim yang mengatakan ketika Rasullullah saw wafat, teks Alquran sudah tetap, sekalipun belum dihimpun dalam sebuah mushaf. Ia memfokuskan penelitiannya kepada keragaman mushaf. Menurutnya, terdapat 15 mushaf primer dan 13 mushaf sekunder. Ia tidak mempercayai Mushaf Uthmani itu sebagai teks asli (Urtext).
Jeffery mengutip pendapat yang menyebutkan bahwa ketika Utsman mengirim teks standart ke Kufah dan memerintahkan supaya teks-teks yang lain dibakar, Ibnu Mas’ud menolak menyerahkan mushafnya. Di sini jelas Jeffery tidak jujur dalam menulis sejarah Alquran. Ia tidak mengkaji sikap menyeluruh dari Abdullah ibnu Mas’ud. Padahal, Kitab alMasahif yang disuntingnya menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud meridhai kodifikasi yang dilakukan Utsman ra Ibnu Mas’ud merevisi pendapatnya yang awal dan kembali kepada pendapat Utsman dan para Sahabat. Ibnu Mas‘ud menyesali dan malu dengan apa yang telah dikatakannya.
Banyak kesalahan dalam studi Arthur Jef fery dan para orientalis lain terhadap Alquran. Tampak, mereka juga tidak “netral” dalam studinya, sebab sudah berangkat dari asumsiasumsi tertentu. Ironisnya, di Indonesia, kini bermunculan jurnal dan buku-buku yang – kata mereka — mengkaji al-Qur’an secara kritis. Padahal, mereka terbukti menjiplak begitu saja pendapat orientalis, tanpa kritis.
Lebih ironis lagi, kini di sejumlah Perguruan Tinggi mulai dikembangkan studi Alquran, yang mengarahkan mahasiswa agar tidak mensucikan Alquran. Dengan bangga metode orientalis diterapkan. Katanya ilmiah dan demi kemajuan. Padahal, sadar atau tidak, mereka telah bertaklid kepada orientalis ketimbang para ulama Islam yang alim dan shalih.
Adnin Armas, Peneliti INSIST, dimuat di Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Islam Digest tanggal 25 September 2010.
Selasa, 26 Oktober 2010
Selasa, 05 Oktober 2010
MENGHARGAI HASIL KERJA MURID
Belum habis rasa kecewa terhadap perilaku sebagian guru. Sehingga pada judul yang lain kali ini saya juga ingin melanjutkan tulisan tentang guru.
Ananda Zhafira Mazaya, anak kedua saya yang masih kelas I MIN, tadi sore pulang sekolah dengan girang. Dengan wajah polos dia mengatakan gurunya baik sekali telah memberinya telur. Ada apa ini? batin saya, juga dengan setengah bertanya. Sejak kapan guru MIN membagi-bagikan telur pada muridnya?
Wah, ternyata saya kecele... Telur yang dimaksud bukanlah telur sungguhan, tapi merupakan nilai nol yang diberikan oleh sang guru pada tugas yang diberikan kepada anak saya. Memang nilai nol sering disamakan dengan telur... (istilah itu malah sejak saya masih kanak-kanak).
Dengan kecewa saya periksa lagi hasil tugas yang diberi nilai nol tersebut. Kalau pada awalnya saya sempat kecewa pada si anak, terakhir malah saya kecewa pada gurunya. Betapa tidak? Kalau melihat tugas yang sudah dikerjakan oleh si murid (nampak dari usahanya yang sungguh-sungguh), tidak seharusnya diberikan nilai nol. Katakanlah kalau hasilnya tidak memenuhi keinginan guru, setidaknya guru dapat memberi apresiasi terhadap usaha si murid dengan memberikannya nilai yang rendah, bukan nol.
Karena dengan usia anak kelas I MIN, yang rata-rata masih enam tahun, tentu saja kemampuan untuk mencerna keinginan guru masih rendah, sehingga tentu saja akan beragam pula hasil yang diperoleh masing-masing siswa. Namun, kita tetap harus memberi dorongan pada mareka yang masih cilik ini dengan penghargaan, bukan dengan hukuman, konon lagi dengan memberikan nilai nol...
Saya terus terang saja kecewa dengan kejadian terhadap Mazaya, apalagi kejadian ini bukan pertama kali. Sekitar dua tahun yang lalu, kejadian yang hampir sama, beberapa kali, juga menimpa anak sulung saya, Ananda Fildza Alifa, yang juga sekolah disana. Hanya saja bukan masalah nilai nol, tetapi guru menyalahkan PR Matematika yang dibuat Fildza. Ketika anak saya sudah sangat serius menghitung PR-nya ternyata di sekolah disalahkan. Karena ini mata pelajaran Matematika, tentu siapapun tidak bisa membengkokkan hasilnya. Dua kali dua hasilnya adalah empat. Pasti.
Anak sulung saya, Fildza menghitung kembali PR-nya. Hasilnya tetap sama seperti semula. Saya yang penasaran juga ikut menghitung, ternyata hasilnya tetap sama. Toh mata pelajaran ini adalah ilmu pasti. Jadi, gurunya yang salah. Sehingga saya, sebagai seorang ayah, membuat sebuah notes kecil di buku PR Fildza agar guru lebih berhati-hati memeriksa hasil tugas si murid. Kejadian seperti ini sempat terulang tiga kali, makanya saya sempat meragukan kemampuan gurunya tersebut.
Dengan beberapa kejadian yang saya alami, saya jadi teringat sebuah catatan kecil Bpk R.Kasali ketika mengunjungi anaknya yang sekolah di Amrik sono. Ceritanya ketika anak beliau mendapat tugas membuat suatu makalah dari Profesornya, si anak telah berusaha semampunya. Melihat makalah dimaksud, secara serta merta Pak R.Kasali menilai bahwa kualitas tulisan anaknya sangat rendah. Sangat tidak memenuhi kualifikasi, katanya. Namun sang anak tetap bersikukuh bahwa tulisannya sudah bagus sehingga dia tidak mau memperbaikinya, konon lagi waktu untuk menyampaikan makalah pada Profesornya sudah kepepet.
Setelah dibawa pada Profesor, malah memberi nilai yang bagus terhadap tulisan itu. Aneh juga. Pak R.Kasali segera saja menemui Profesor untuk mempertanyakan alasan memberikan nilai yang bagus pada hasil karya anaknya, yang menurut beliau sendiri masih kurang layak.
Jawaban sang Profesor sangat mengangetkan. "Di negara anda (maksudnya Indonesia) barangkali sudah terbiasa seorang guru tidak menghargai hasil kerja para anak didik (dalam hal ini mahasiswa). Tapi ini Amerika pak... kami memperlakukan dengan adil jerih payah anak didik. Kalau hasil yang dicapai kurang, kami tidak akan menghakimi, kami tetap akan menghargai mereka..."
Nah, jawaban itu yang membuat Pak R.Kasali merasa malu pada Profesor.
Kejadian yang saya ceritakan di Amrik itu seakan menelanjangi kita. Tidakkah seorang guru seharusnya menggunakan nurani? Bahwa menghargai sedikit saja anak didiknya (yang sudah berusaha mengerjakan tugas yang diberikan dengan semampunya) akan membuat si anak termotivasi untuk mendapat nilai yang lebih baik pada kesempatan yang lain.
Khusus bagi Mazaya, jangan bawa pulang lagi telur ke rumah....! Ummi-mu sudah cukup menyediakan lauk untuk makan...
Mukhlis Aminullah, orangtua murid, berdomisili di Kota Juang, Bireuen.
Ananda Zhafira Mazaya, anak kedua saya yang masih kelas I MIN, tadi sore pulang sekolah dengan girang. Dengan wajah polos dia mengatakan gurunya baik sekali telah memberinya telur. Ada apa ini? batin saya, juga dengan setengah bertanya. Sejak kapan guru MIN membagi-bagikan telur pada muridnya?
Wah, ternyata saya kecele... Telur yang dimaksud bukanlah telur sungguhan, tapi merupakan nilai nol yang diberikan oleh sang guru pada tugas yang diberikan kepada anak saya. Memang nilai nol sering disamakan dengan telur... (istilah itu malah sejak saya masih kanak-kanak).
Dengan kecewa saya periksa lagi hasil tugas yang diberi nilai nol tersebut. Kalau pada awalnya saya sempat kecewa pada si anak, terakhir malah saya kecewa pada gurunya. Betapa tidak? Kalau melihat tugas yang sudah dikerjakan oleh si murid (nampak dari usahanya yang sungguh-sungguh), tidak seharusnya diberikan nilai nol. Katakanlah kalau hasilnya tidak memenuhi keinginan guru, setidaknya guru dapat memberi apresiasi terhadap usaha si murid dengan memberikannya nilai yang rendah, bukan nol.
Karena dengan usia anak kelas I MIN, yang rata-rata masih enam tahun, tentu saja kemampuan untuk mencerna keinginan guru masih rendah, sehingga tentu saja akan beragam pula hasil yang diperoleh masing-masing siswa. Namun, kita tetap harus memberi dorongan pada mareka yang masih cilik ini dengan penghargaan, bukan dengan hukuman, konon lagi dengan memberikan nilai nol...
Saya terus terang saja kecewa dengan kejadian terhadap Mazaya, apalagi kejadian ini bukan pertama kali. Sekitar dua tahun yang lalu, kejadian yang hampir sama, beberapa kali, juga menimpa anak sulung saya, Ananda Fildza Alifa, yang juga sekolah disana. Hanya saja bukan masalah nilai nol, tetapi guru menyalahkan PR Matematika yang dibuat Fildza. Ketika anak saya sudah sangat serius menghitung PR-nya ternyata di sekolah disalahkan. Karena ini mata pelajaran Matematika, tentu siapapun tidak bisa membengkokkan hasilnya. Dua kali dua hasilnya adalah empat. Pasti.
Anak sulung saya, Fildza menghitung kembali PR-nya. Hasilnya tetap sama seperti semula. Saya yang penasaran juga ikut menghitung, ternyata hasilnya tetap sama. Toh mata pelajaran ini adalah ilmu pasti. Jadi, gurunya yang salah. Sehingga saya, sebagai seorang ayah, membuat sebuah notes kecil di buku PR Fildza agar guru lebih berhati-hati memeriksa hasil tugas si murid. Kejadian seperti ini sempat terulang tiga kali, makanya saya sempat meragukan kemampuan gurunya tersebut.
Dengan beberapa kejadian yang saya alami, saya jadi teringat sebuah catatan kecil Bpk R.Kasali ketika mengunjungi anaknya yang sekolah di Amrik sono. Ceritanya ketika anak beliau mendapat tugas membuat suatu makalah dari Profesornya, si anak telah berusaha semampunya. Melihat makalah dimaksud, secara serta merta Pak R.Kasali menilai bahwa kualitas tulisan anaknya sangat rendah. Sangat tidak memenuhi kualifikasi, katanya. Namun sang anak tetap bersikukuh bahwa tulisannya sudah bagus sehingga dia tidak mau memperbaikinya, konon lagi waktu untuk menyampaikan makalah pada Profesornya sudah kepepet.
Setelah dibawa pada Profesor, malah memberi nilai yang bagus terhadap tulisan itu. Aneh juga. Pak R.Kasali segera saja menemui Profesor untuk mempertanyakan alasan memberikan nilai yang bagus pada hasil karya anaknya, yang menurut beliau sendiri masih kurang layak.
Jawaban sang Profesor sangat mengangetkan. "Di negara anda (maksudnya Indonesia) barangkali sudah terbiasa seorang guru tidak menghargai hasil kerja para anak didik (dalam hal ini mahasiswa). Tapi ini Amerika pak... kami memperlakukan dengan adil jerih payah anak didik. Kalau hasil yang dicapai kurang, kami tidak akan menghakimi, kami tetap akan menghargai mereka..."
Nah, jawaban itu yang membuat Pak R.Kasali merasa malu pada Profesor.
Kejadian yang saya ceritakan di Amrik itu seakan menelanjangi kita. Tidakkah seorang guru seharusnya menggunakan nurani? Bahwa menghargai sedikit saja anak didiknya (yang sudah berusaha mengerjakan tugas yang diberikan dengan semampunya) akan membuat si anak termotivasi untuk mendapat nilai yang lebih baik pada kesempatan yang lain.
Khusus bagi Mazaya, jangan bawa pulang lagi telur ke rumah....! Ummi-mu sudah cukup menyediakan lauk untuk makan...
Mukhlis Aminullah, orangtua murid, berdomisili di Kota Juang, Bireuen.
FAKTA DUNIA PENDIDIKAN
Sebenarnya topik panas hari ini yang ingin saya tulis adalah masalah pengajuan nama Timur Pradopo sebagai calon Kapolri oleh Presiden kepada DPR. Tapi tidak jadi saya angkat, mengingat hampir seluruh media telah mengupasnya dengan tuntas, terutama dari sisi politis, karena diajukan secara mendadak oleh Presiden.
Saya ingin sedikit mengulas atau menceritakan tentang bobroknya dunia pendidikan, khususnya kejadian nyata sehari-hari. Pada kesempatan ini saya tidak bermaksud menelanjangi para guru, terlebih lagi ada sebagian guru masih memelihara nilai-nilai luhur profesi sebagai guru.
Namun saya ingin menulis fakta, agar menjadi bahan renungan kita semua, sehingga tergerak batin kita untuk bersama-sama memperbaiki. Syukur, kalau ada rekan guru yang tersinggung, sehingga ketahuan bahwa rekan itu termasuk dalam golongan yang berperilaku tidak baik. Ayo, akan saya uraikan satu per satu deh.....
Pertama; masih banyak guru yang tidak masuk kelas alias bolos, sehingga kelas terbengkalai dan mengganggu kelas yang lain, karena muridnya gaduh. Satu sisi guru tersebut telah menunjukkan perilaku tidak bagus yaitu koruptif (korupsi waktu).
Kedua; pada kasus lain, ada guru atau tepatnya sekelompok guru berkumpul dan berserikat untuk secara bersama-sama "menggoyang" Kepala Sekolah karena ada kepentingan pribadinya tidak dipenuhi oleh pimpinan. Pada satu sisi kejadian ini akan menurunkan wibawa sang guru, namun pada sisi yang lain, juga akan merusak kewibawaan pimpinan.
Ketiga; pada saat Ujian Nasional, secara berjamaah, hampir semua guru memberikan kunci jawaban kepada siswanya. Biasanya kunci jawaban beredar tiga atau empat hari sebelumnya. Alasan yang dikemukakan adalah demi menjaga rangking sekolahnya saat UN selesai. Padahal dengan perilaku demikian, bukan hanya menurunkan derajat pendidikan, namun juga menurunkan wibawa para guru di mata siswa-siswanya. Selain itu juga akan berdampak pada menurunnya minat siswa untuk belajar, toh pada saat ujian akan ada kunci jawaban. Tragisnya, saat pengumuman rangking kelulusan UN, dengan bangga media menulis kelulusan UN di kabupaten A atau provinsi B memuaskan.
Keempat; fenomena "jual bangku" pada saat penerimaan siswa baru (Tahun Ajaran baru). Sudah rahasia umum juga, bahwa kalau ada calon siswa yang tidak lulus tes masuk sekolah atau madrasah, tetap akan bisa masuk lewat jalur belakang dengan catatan si orang tua harus menyediakan sejumlah uang kepada pimpinan sekolah. Ini juga perilaku koruptif yang mendarah daging. Seakan sudah menjadi hal biasa, bukan sesuatu yang patut dipertanyakan.
Kelima; yang terakhir adalah bobroknya proses sertifikasi guru. Dimulai saat guru sibuk "mengumpulkan" sertifikat (masing-masing sertfikat akan dinilai bobotnya). Kenapa saya katakan mengumpulkan dalam tanda kutip? Karena sertifikat-sertifikat tersebut diperoleh dengan jalan yang kotor. Maksudnya, penerima sertifikat tidak pernah mengikuti kegiatan yang dimaksudkan dalam sertifikat itu. Alias sertifikat bodong. Model demikian dengan mudah diperoleh. Malah ada oknum guru yang menjadi pabrik sertifikat bagi rekan-rekannya, dengan catatan sertifikat itu tidak gratis.
Selajutnya, saat proses sertifikasi dilakukan juga akan ditempuh upaya-upaya haram agar proses pemerikasaan berjalan lancar. Pihak instansi terkait juga sudah sangat mengetahui perilaku itu, tapi tetap melanjutkan proses sertifikasi.
Maka pada saat sekarang, lahirlah guru-guru yang sebenarnya "tidak berhak" menyandang TELAH LOLOS SERTIFIKASI.
Semua perilaku tersebut di atas, sudah menjadi rahasia umum, termasuk diketahui oleh para siswa sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa wibawa guru sudah sangat menurun di mata siswa. Sehingga, apapun yang disampaikan oleh guru terhadap siswa akan dianggap angin lalu, yang pada akhirnya akan menurunkan minat belajar. Bisa ditebak apa endingnya, yaitu mutu lulusan sangat rendah. Maka lahirlah generasi bodoh dengan nilai ijazah yang tinggi. Semua itu kamuflase semata.
Kesimpulan yang bisa saya tulis adalah dengan bobroknya dunia pendidikan, terutama perilaku sebagaian guru, akan melahirkan generasi yang bodoh, tidak berakhlak, dan akhirnya menjadi beban bagi bangsa dan negara.
Mari kita pantau secara bersama-sama. Sebagai warga masyarakat, kita wajib mengkritisi dan menegur perilaku yang salah dari para pelaku di dunia pendidikan, yang tentu saja disertai dengan solusi yang membangun.
Mudah-mudahan tulisan ini mendapat tanggapan yang posiitif. Terima kasih kepada isteri saya, tulisan ini juga merupakan protes dari gejolak batinnya.
Mukhlis Aminullah, Direktur Eksekutif LSM LEPOEMAT Bireuen.
Saya ingin sedikit mengulas atau menceritakan tentang bobroknya dunia pendidikan, khususnya kejadian nyata sehari-hari. Pada kesempatan ini saya tidak bermaksud menelanjangi para guru, terlebih lagi ada sebagian guru masih memelihara nilai-nilai luhur profesi sebagai guru.
Namun saya ingin menulis fakta, agar menjadi bahan renungan kita semua, sehingga tergerak batin kita untuk bersama-sama memperbaiki. Syukur, kalau ada rekan guru yang tersinggung, sehingga ketahuan bahwa rekan itu termasuk dalam golongan yang berperilaku tidak baik. Ayo, akan saya uraikan satu per satu deh.....
Pertama; masih banyak guru yang tidak masuk kelas alias bolos, sehingga kelas terbengkalai dan mengganggu kelas yang lain, karena muridnya gaduh. Satu sisi guru tersebut telah menunjukkan perilaku tidak bagus yaitu koruptif (korupsi waktu).
Kedua; pada kasus lain, ada guru atau tepatnya sekelompok guru berkumpul dan berserikat untuk secara bersama-sama "menggoyang" Kepala Sekolah karena ada kepentingan pribadinya tidak dipenuhi oleh pimpinan. Pada satu sisi kejadian ini akan menurunkan wibawa sang guru, namun pada sisi yang lain, juga akan merusak kewibawaan pimpinan.
Ketiga; pada saat Ujian Nasional, secara berjamaah, hampir semua guru memberikan kunci jawaban kepada siswanya. Biasanya kunci jawaban beredar tiga atau empat hari sebelumnya. Alasan yang dikemukakan adalah demi menjaga rangking sekolahnya saat UN selesai. Padahal dengan perilaku demikian, bukan hanya menurunkan derajat pendidikan, namun juga menurunkan wibawa para guru di mata siswa-siswanya. Selain itu juga akan berdampak pada menurunnya minat siswa untuk belajar, toh pada saat ujian akan ada kunci jawaban. Tragisnya, saat pengumuman rangking kelulusan UN, dengan bangga media menulis kelulusan UN di kabupaten A atau provinsi B memuaskan.
Keempat; fenomena "jual bangku" pada saat penerimaan siswa baru (Tahun Ajaran baru). Sudah rahasia umum juga, bahwa kalau ada calon siswa yang tidak lulus tes masuk sekolah atau madrasah, tetap akan bisa masuk lewat jalur belakang dengan catatan si orang tua harus menyediakan sejumlah uang kepada pimpinan sekolah. Ini juga perilaku koruptif yang mendarah daging. Seakan sudah menjadi hal biasa, bukan sesuatu yang patut dipertanyakan.
Kelima; yang terakhir adalah bobroknya proses sertifikasi guru. Dimulai saat guru sibuk "mengumpulkan" sertifikat (masing-masing sertfikat akan dinilai bobotnya). Kenapa saya katakan mengumpulkan dalam tanda kutip? Karena sertifikat-sertifikat tersebut diperoleh dengan jalan yang kotor. Maksudnya, penerima sertifikat tidak pernah mengikuti kegiatan yang dimaksudkan dalam sertifikat itu. Alias sertifikat bodong. Model demikian dengan mudah diperoleh. Malah ada oknum guru yang menjadi pabrik sertifikat bagi rekan-rekannya, dengan catatan sertifikat itu tidak gratis.
Selajutnya, saat proses sertifikasi dilakukan juga akan ditempuh upaya-upaya haram agar proses pemerikasaan berjalan lancar. Pihak instansi terkait juga sudah sangat mengetahui perilaku itu, tapi tetap melanjutkan proses sertifikasi.
Maka pada saat sekarang, lahirlah guru-guru yang sebenarnya "tidak berhak" menyandang TELAH LOLOS SERTIFIKASI.
Semua perilaku tersebut di atas, sudah menjadi rahasia umum, termasuk diketahui oleh para siswa sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa wibawa guru sudah sangat menurun di mata siswa. Sehingga, apapun yang disampaikan oleh guru terhadap siswa akan dianggap angin lalu, yang pada akhirnya akan menurunkan minat belajar. Bisa ditebak apa endingnya, yaitu mutu lulusan sangat rendah. Maka lahirlah generasi bodoh dengan nilai ijazah yang tinggi. Semua itu kamuflase semata.
Kesimpulan yang bisa saya tulis adalah dengan bobroknya dunia pendidikan, terutama perilaku sebagaian guru, akan melahirkan generasi yang bodoh, tidak berakhlak, dan akhirnya menjadi beban bagi bangsa dan negara.
Mari kita pantau secara bersama-sama. Sebagai warga masyarakat, kita wajib mengkritisi dan menegur perilaku yang salah dari para pelaku di dunia pendidikan, yang tentu saja disertai dengan solusi yang membangun.
Mudah-mudahan tulisan ini mendapat tanggapan yang posiitif. Terima kasih kepada isteri saya, tulisan ini juga merupakan protes dari gejolak batinnya.
Mukhlis Aminullah, Direktur Eksekutif LSM LEPOEMAT Bireuen.
Sabtu, 02 Oktober 2010
DARAH SIA-SIA
siang terik,
Kopaja menjadi perantara
senjata pencabut nyawa
hanya karena segelas anggur merahmu
haruskah rasa sebangsa tiada lagi terasa..?
sore merah padam
tanah berceceran darah
beberapa nyawa meregang
serasa badan berpisah dari tulang
darah merah meluncah, bukti untuk siapa?
apatah hanya karena perbedaan bentuk muka
kita harus bersabung nyawa...?
pada anak cucu mesti kujawab,
bahwa jangan ulangi hal serupa
tumpah darah sia-sia...
bukan untuk tegakkan selembar bendera
laksana pahlawan kita
kota juang, 2 oktober 2010 karya mukhlis abi fildza
(prihatin dengan insiden Blowfish dan kejadian Tarakan, Indonesia semakin tidak aman)
Kopaja menjadi perantara
senjata pencabut nyawa
hanya karena segelas anggur merahmu
haruskah rasa sebangsa tiada lagi terasa..?
sore merah padam
tanah berceceran darah
beberapa nyawa meregang
serasa badan berpisah dari tulang
darah merah meluncah, bukti untuk siapa?
apatah hanya karena perbedaan bentuk muka
kita harus bersabung nyawa...?
pada anak cucu mesti kujawab,
bahwa jangan ulangi hal serupa
tumpah darah sia-sia...
bukan untuk tegakkan selembar bendera
laksana pahlawan kita
kota juang, 2 oktober 2010 karya mukhlis abi fildza
(prihatin dengan insiden Blowfish dan kejadian Tarakan, Indonesia semakin tidak aman)
Minggu, 05 September 2010
SAJAK SEBINGKAI DENDAM
segelas teh, secangkir kopi
malam makin mengendap; makin mendalam
tonjolan urat leher kita
tak mampu akhiri
bayang pertempuran...
kau masih kokoh dalam pendirianmu
"kita harus perang lawan Malaysia!" katamu
secangkir kopi, segelas teh
remang cafe 88 makin panaskan
hati dalam rindu dendam
entah apa yang ada dalam benakmu
tentang Malaysia..?
sehingga kau anggap anggap
damai dengan mereka hanya buaian sepi
"Malaysia jangan diberi hati!" teriakmu
(sehingga seisi cafe melotot padamu)
malam merangkak pelan
angin sepoi tak mampu dinginkan
bara hati yang masih panas
entah kenapa?
Malaysia membingkai sesal bagimu?
padahal kita sangat tahu
separuh bendera kita
melambai-lambai disana
secangkir teh, segelas kopi
berbuih-buih kau telan dendam
"ada apa denganmu?" kataku
silahkan kau jawab besok pagi
(karena aku masih berharap bendera
kita tetap melambai disana; sepenuh tiang)
cafe 88, 5 september 2010 karya mukhlis abi fildza
malam makin mengendap; makin mendalam
tonjolan urat leher kita
tak mampu akhiri
bayang pertempuran...
kau masih kokoh dalam pendirianmu
"kita harus perang lawan Malaysia!" katamu
secangkir kopi, segelas teh
remang cafe 88 makin panaskan
hati dalam rindu dendam
entah apa yang ada dalam benakmu
tentang Malaysia..?
sehingga kau anggap anggap
damai dengan mereka hanya buaian sepi
"Malaysia jangan diberi hati!" teriakmu
(sehingga seisi cafe melotot padamu)
malam merangkak pelan
angin sepoi tak mampu dinginkan
bara hati yang masih panas
entah kenapa?
Malaysia membingkai sesal bagimu?
padahal kita sangat tahu
separuh bendera kita
melambai-lambai disana
secangkir teh, segelas kopi
berbuih-buih kau telan dendam
"ada apa denganmu?" kataku
silahkan kau jawab besok pagi
(karena aku masih berharap bendera
kita tetap melambai disana; sepenuh tiang)
cafe 88, 5 september 2010 karya mukhlis abi fildza
Selasa, 31 Agustus 2010
SESAL
secerah petang, selembar sajadah...
dalam syahdu azan, aku terbuai
kemudian tercenung...
andai aku ada dalam firdaus-Mu...
maafkan hamba ya Rabbi...
kenikmatan dari Mu tidak sebanding
dengan ibadahku
kota juang, 31 agust 2010 jam 16 wib by mukhlis abi fildza
(jam segini masih sibuk di kantor, urus laporan bulanan,
kapan iktiqafnya...?)
dalam syahdu azan, aku terbuai
kemudian tercenung...
andai aku ada dalam firdaus-Mu...
maafkan hamba ya Rabbi...
kenikmatan dari Mu tidak sebanding
dengan ibadahku
kota juang, 31 agust 2010 jam 16 wib by mukhlis abi fildza
(jam segini masih sibuk di kantor, urus laporan bulanan,
kapan iktiqafnya...?)
Minggu, 29 Agustus 2010
MENYIKAPI KARAKTERISTIK ZAMAN
Dirasatul Maidan (memahami karakteristik medan dakwah) merupakan salah satu unsur pokok yang menopang keberhasilan perjuangan dakwah. Termasuk di dalamnya adalah ma’rifatul qarn (memahami kondisi zaman) saat dakwah ini harus dikomunikasikan. Kata Imam Syafii: Kurikulum dakwah adalah satu fan (fiqh syariah) tersendiri, dan mensosialisakannya dalam realitas adalah fan yang lain (fiqhul waqi’).
Pemahaman secara cermat dan akurat terhadap realitas sosial (fiqhul waqi’) akan memberikan rujukan dalam merumuskan langkah perjuangan yang akan ditapaki. Maka, ma’rifatul qarn sejatinya akan menyingkap berbagai problem klasik dan kontemporer. Sehingga seorang dai bisa mengurai persoalan (hall) dan memutuskan (aqd). Seorang dai ibarat sebagai thabib, ketika melihat tubuh umat yang loyo, pucat, terserang berbagai virus (kurap = kurang rapi, kutil = kurang teliti, kudis = kurang disiplin, kuman = kurang iman), mustahil bisa diobati secara baik bila ia tidak sanggup mendiagnosa penyakit yang diidapnya.
Pada zaman dahulu ada sebagian tokoh sufi yang meratapi zaman. Lahirlah karya tulisnya yang berbentuk puisi yang panjang, berjudul: Syakwaz Zaman (Meratapi Zaman). Mengomentari kitab tersebut, BUYA Hamka mengatakan, “Sejak zaman Nabi Saw saja ada orang munafiq yang menyusup di shof kaum beriman, tetapi beliau tetap berjiwa besar dan terus berfikir positif menatap obyek dakwah, dengan mengedepankan sabar, ulet, istiqomah. Dan pada akhirnya barisan umat Islam angkatan pertama tidak terpengaruh oleh kontaminasi zaman jahiliyah. Dunia, memang darul imtihan, darul amal, darul jihad, sedangkan akhirat darul hashad (medan untuk memanen).”
Said Hawa mengatakan, “Inna ‘ashranaa haadza mamlu-un bisy syahawati wasyu syubuhati wal ghaflah.” (sesungguhnya zaman kita ini didominasi oleh lingkungan sosial yang membangkitkan syahwat, syubhat, dan kelalaian).
Sejalan dengan statemen ideolog Ikhwanul Muslimin tersebut, penulis muslim berkebangsaan Inggris, Ahmad Thomson menyebut, dunia kita sekarang sejak kurang lebih satu abad terakhir menggunakan sistem Dajjal (Dajjal values), bertolak belakang dengan sistem kenabian (prophetic values).
Muhammad Quthb dalam karya tulisnya “Rukyatun Islamiyyah Li Ahwalil ‘Alamil Mu’ashir” (Tafsir Islam Atas Realitas Kontemporer) mempersepsikan dunia sekarang sebagai jahiliyah abad 20 (jahiliyah fil qarnil ‘isyrin). Setidaknya ada empat ciri mayarakat jahiliyah kontemporer.
Pertama: Tidak adanya iman kepada Allah. Kalau masa jahiliyah klasik Islam, ditambah dengan berbagai ritual dari asing. Jahiliyah modern Islam yang sempurna ini dikurangi. Mereka menghendaki Islam tidak perlu dilibatkan dalam kehidupan bernegara. Islam tanpa jihad, Islam tanpa hukum had. Islam tanpa qishah. Islam itu moderat. Bahkan sekarang ini mereka membuat image Islam itu radikal, teroris, antikemapanan, dan lain-lain, sehingga akidah dipisahkan dari syariah.
Kedua: Tidak adanya hukum yang merujuk kepada ketentuan Allah Swt. Maka, hukum menuruti keinginan hawa nafsu. Efeknya, hukum bagaikan pisau. Tajam untuk kalangan grass root, tumpul untuk level the have. Hukum yang melukai rasa keadilan dan kemanusiaan (QS. 5 : 49-50)
Ketiga: Tampilnya berbagai thaghut (tirani) yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada hukum Allah serta menolak hukum syariat-Nya, kemudian mengalihkan peribadatannya kepada jibt dan thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut selera hawa nafsunya (QS. 2 : 257).
Keempat: Fenomena sikap menjauh dari agama Allah (uculuddin, Bhs Jawa), sehingga mengarah kepada penyakit pikiran (syubhat) dan penyakit moral (syahwat) dan penyakit kepribadian (ghoflah).
Demikianlah karakteristik jahiliyah kekinian. Akar persoalannya, tidak tahu diri dan tidak tahu Tuhan. Buta kebenaran, bukan buta ilmu dan teknologi. Ilmunya tinggi (ma’rifat, sundhul langit, Bhs Jawa), tetapi tidak melahirkan khosyyah (ketakutan) kepada Allah. Fenomena jahiliyah modern persis dengan kejahiliyahaan klasik.
Dahulu orang Arab dikenal pakar dalam menulis teks pidato, puisi, prosa. Bahkan karya yang dinilai bermutu ditempel di atas dinding Ka’bah, tetapi kompetensi mereka tidak mengantarkannya kepada perbaikan budi pekerti, moralitas. Bahkan memahami teks “Allah” sudah terkontaminasi dengan paham paganisme.
اَلْحاَلَةُ الَّتِيْ تَكُوْنُ عَلَيْهاَ أُمَّةٌ ماَّ قَبْلَ مَجِيْئِهاَ هُدَى الَّلهِ وَالْحاَلَةُ الَّتِيْ تَمْتَنِعُ فِيْهاَ أُمَّةٌ ماَّ أَوْ بَعْضُ أُمَّةٍ مِنَ الاِسْتِجاَبَةِ لِهَدْيِ اللَّهِ
Jadi, jahiliyah adalah kondisi umat yang terjadi sebelum kedatangan petunjuk Allah (hidayatullah) dan keadaan bangsa tertentu atau sebagian bangsa yang menghalangi disambutnya petunjuk Allah.
Ironi Nation State
Rasulullah Saw memprediksikan, dengan berjalannya waktu dan berlalunya masa dari sumber wahyu, umat Islam akan mengalami degradasi spiritual (istidraj) secara bertahap. Berbagai kemajuan material, hanya untuk menggali lubang kehancurannya. Berawal dari runtuhnya intitusi formal kenegaraan (al-khilafah al-Islamiyah) sampai dilalaikannya kewajiban paling prinsip seorang hamba kepada-Nya, yaitu shalat.
عَنْ أَبِيْ أُماَمَةَ الْباَهِلِيْ عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيَنْقُضَنَّ عُرَى
الاِ سْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً تَشَبَّثَ النَّاَسُ باِ لَّتِيْ تَلِيْهاَ وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ
وَأَخِرُهاَ الصَّلاَةُ
“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah hukum, dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 45/134).
Sejak 1924 M, dunia menyaksikan titik paling nadir keruntuhan kepemimpinan formal dunia Islam. Musthafa Kamal, yang dijuluki ulama yang konsisten dengan Islam dengan sebutan “Kamal A’daut Turki” (Kamal musuh bangsa Turki), memimpin acara seremonial pembubaran global state (al khilafah al Islamiyah) yang jangkauan kekuasaannya membentang dari Maroko di Afrika Barat sampai Maluku di Indonesia Timur. Lalu dengan konyolnya memproklamasikan berdirinya negara Turki sekuler-modern yang sepenuhnya mengekor Eropa.
Dengan program unggulan Yahudi “farriq tasud” (cerai-beraikanlah kaum muslimin supaya kamu bisa merajai), mulailah negara-negara Islam mengumandangkan berdirinya nation state. Masing-masing menentukan ideologi dan falsafahnya yang menyimpang dari kitab suci Al Quran dan Al Hadits. Kemudian diikuti dengan sikap lebih membanggakan identitas material-geografis kebangsaannya melebihi dari identitas spiritual-ideologis keislamannya. Islam kemudian menjadi menyempit dan termarginalkan dari percaturan global.
Beralihnya kepemimpinan khilafah kepada kepemimpian mulkiyah (kerajaan), terlepas pula ikatan hukum, aqidah, akhlaq, ideologi, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, seni budaya, militer dan pertahanan-keamanan dari celupan (shibghah) Islam. Ending-nya, dunia pun menyaksikan peristiwa memilukan, terlepasnya ikatan Islam terakhir, yaitu shalat. Betapa banyak umat Islam sekarang yang sudah mendapat dispensasi waktu shalat dari 50 waktu sehari semalam, menjadi lima waktu sehari semalam, dikurangi lagi menjadi sekali seminggu, kemudian setahun sekali, sekali seumur hidup, bahkan yang lebih ironis ditinggalkan sama sekali, sampai akhirnya dishalati.
Agen pencabut
Inilah zaman yang disinyalir Rasulullah Saw dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Imam Ahmad, sebagai babak keempat perjalanan umat Islam, yaitu babak mulkan jabariyyah (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak). Sebelumnya pada babak pertama, umat masih memiliki sistem dan person yang prima secara kepemimpinan, yaitu Nabi Muhammad saw sendiri dalam babak An-Nabuwwah (kenabian). Selanjutnya di babak kedua umat masih memiliki person dan sistem yang tetap konsisten secara kepemimpinan, yaitu khulafa ar-rasyidin di babak khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhilafahan yang mengikuti sistem Kenabian).
Di babak ketiga, umat memiliki sistem yang mengalami penurunan kualitas, tetapi masih memadai, yaitu mulkan ‘aadhdhan (penguasa-penguasa yang masih menggigit Al Quran dan As Sunnah), sekalipun pada akhirnya terlepas juga. Di babak keempat ini, umat bahkan tidak memiliki sistem syariat dan para penguasanya bermasalah secara person.
Inilah babak di mana umat Islam harus secara jujur menyadari sedang mengalami krisis multidimensional (‘azmah kubro). Tiada penguasa mana pun pada kurun ini yang tidak terhegemoni oleh sistem Dajjal. Ujian ini berat, tetapi cukup menantang. Jika kita berfikir positif, dan bisa kita lalui justru akan mengangkat derajat kita dan menghapus dosa-dosa kita.
Zaman ini menuntut kita berpola pikir dan berpenampilan seperti generasi awal umat ini, para sahabat Rasulullah Saw. Mereka berjuang pada fase Makiyah dengan penuh kesabaran, pengorbanan, dan istiqomah. Mereka membuat strategi, tidak berkompromi dengan sistem jahiliyah yang berlaku.
Sejak Allah Swt menurunkan sistematika turunnya Al-Quran, Dia memberikan arahan perjuangan kepada Nabi secara gradual (konstan). Al Alaq 1-5 mengajarkan tidak berkompromi dengan orang yang melampaui batas (ayat 6), orang yang merasa dirinya cukup (ayat 7), orang yang melarang penegakan syariat (ayat 9-10), pendusta dan berpaling (ayat 13). Pada Surat Al-Qalam (68), berlepas diri dengan para pendusta, hipokrit, banyak sumpah serapah dan hina, pembuat fitnah, penghalang perbuatan baik dan pendosa, membanggakan harta.
Pada Surat Al-Muzzammil (73), tidak berelaborasi dengan pendusta, bermewah-mewahan, perilaku hedonis dan amoral. Pada surat Al-Muddatstsir (74), tidak menjalin kerjasama dengan konsep materialisme, membanggakan asal-usul dan keturunan. Pada surat Al-Fatihah (ummul kitab), bertolak belakang dengan Yahudi dan Nasrani. Hingga Allah mengizinkan hijrah dan membangun komunitas muslim di Madinah.
Dengan ma’rifatul qarn kita bisa berta-assi (tapak tilas), berqudwah (meneladani) kesabaran, keuletan, pengorbanan, sikap konsisten, optimis, harapan, sebagaimana pada angkatan pertama umat. Dan masa babak belur, tidak mudah dan tidak sederhana ini, sesungguhnya tidak akan tahan lama, pasti akan mengikuti kekuatan fithri (QS. Ali Imran : 185), QS. Al A’raf : 34). Artinya setiap komunitas memiliki hak untuk maju, jika memiliki persyaratan untuk mendatangkan pertolongan-Nya. Dan setiap bangsa memiliki hak pula untuk jatuh, jika mengabaikan nilai-nilai idealisme, moralitas, immaterial.
أَعْماَرُ أُمَّتِيْ بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَ أَقَلُّهُمْ مَنْ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ
”Umur umatku antara 60-70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi dari itu.” (HR. Ahmad).
Tetapi, zaman kelima yang kita nantikan kehadirannya di samping sebuah wa’dun (janji kenabian) yang dijamin kebenarannya, pula berupa faridhah (menuntut ikhtiar yang optimal). Tercabutnya malikun jabbar (diktator global) berbanding lurus dengan kesiapan kita sebagai ‘anashirut taghyir (unsur pencabut). Bukan menyibukkan diri dengan persoalan yang bukan asasi, konflik internal umat. [Kudus, 14 Oktober 2009/www.hidayatullah.com]
Kudus, 2009, oleh Sholih Hasyim / hidayatullah.com
Pemahaman secara cermat dan akurat terhadap realitas sosial (fiqhul waqi’) akan memberikan rujukan dalam merumuskan langkah perjuangan yang akan ditapaki. Maka, ma’rifatul qarn sejatinya akan menyingkap berbagai problem klasik dan kontemporer. Sehingga seorang dai bisa mengurai persoalan (hall) dan memutuskan (aqd). Seorang dai ibarat sebagai thabib, ketika melihat tubuh umat yang loyo, pucat, terserang berbagai virus (kurap = kurang rapi, kutil = kurang teliti, kudis = kurang disiplin, kuman = kurang iman), mustahil bisa diobati secara baik bila ia tidak sanggup mendiagnosa penyakit yang diidapnya.
Pada zaman dahulu ada sebagian tokoh sufi yang meratapi zaman. Lahirlah karya tulisnya yang berbentuk puisi yang panjang, berjudul: Syakwaz Zaman (Meratapi Zaman). Mengomentari kitab tersebut, BUYA Hamka mengatakan, “Sejak zaman Nabi Saw saja ada orang munafiq yang menyusup di shof kaum beriman, tetapi beliau tetap berjiwa besar dan terus berfikir positif menatap obyek dakwah, dengan mengedepankan sabar, ulet, istiqomah. Dan pada akhirnya barisan umat Islam angkatan pertama tidak terpengaruh oleh kontaminasi zaman jahiliyah. Dunia, memang darul imtihan, darul amal, darul jihad, sedangkan akhirat darul hashad (medan untuk memanen).”
Said Hawa mengatakan, “Inna ‘ashranaa haadza mamlu-un bisy syahawati wasyu syubuhati wal ghaflah.” (sesungguhnya zaman kita ini didominasi oleh lingkungan sosial yang membangkitkan syahwat, syubhat, dan kelalaian).
Sejalan dengan statemen ideolog Ikhwanul Muslimin tersebut, penulis muslim berkebangsaan Inggris, Ahmad Thomson menyebut, dunia kita sekarang sejak kurang lebih satu abad terakhir menggunakan sistem Dajjal (Dajjal values), bertolak belakang dengan sistem kenabian (prophetic values).
Muhammad Quthb dalam karya tulisnya “Rukyatun Islamiyyah Li Ahwalil ‘Alamil Mu’ashir” (Tafsir Islam Atas Realitas Kontemporer) mempersepsikan dunia sekarang sebagai jahiliyah abad 20 (jahiliyah fil qarnil ‘isyrin). Setidaknya ada empat ciri mayarakat jahiliyah kontemporer.
Pertama: Tidak adanya iman kepada Allah. Kalau masa jahiliyah klasik Islam, ditambah dengan berbagai ritual dari asing. Jahiliyah modern Islam yang sempurna ini dikurangi. Mereka menghendaki Islam tidak perlu dilibatkan dalam kehidupan bernegara. Islam tanpa jihad, Islam tanpa hukum had. Islam tanpa qishah. Islam itu moderat. Bahkan sekarang ini mereka membuat image Islam itu radikal, teroris, antikemapanan, dan lain-lain, sehingga akidah dipisahkan dari syariah.
Kedua: Tidak adanya hukum yang merujuk kepada ketentuan Allah Swt. Maka, hukum menuruti keinginan hawa nafsu. Efeknya, hukum bagaikan pisau. Tajam untuk kalangan grass root, tumpul untuk level the have. Hukum yang melukai rasa keadilan dan kemanusiaan (QS. 5 : 49-50)
Ketiga: Tampilnya berbagai thaghut (tirani) yang membujuk manusia supaya tidak beribadah dan tidak taat kepada hukum Allah serta menolak hukum syariat-Nya, kemudian mengalihkan peribadatannya kepada jibt dan thaghut dan hukum-hukum yang dibuat menurut selera hawa nafsunya (QS. 2 : 257).
Keempat: Fenomena sikap menjauh dari agama Allah (uculuddin, Bhs Jawa), sehingga mengarah kepada penyakit pikiran (syubhat) dan penyakit moral (syahwat) dan penyakit kepribadian (ghoflah).
Demikianlah karakteristik jahiliyah kekinian. Akar persoalannya, tidak tahu diri dan tidak tahu Tuhan. Buta kebenaran, bukan buta ilmu dan teknologi. Ilmunya tinggi (ma’rifat, sundhul langit, Bhs Jawa), tetapi tidak melahirkan khosyyah (ketakutan) kepada Allah. Fenomena jahiliyah modern persis dengan kejahiliyahaan klasik.
Dahulu orang Arab dikenal pakar dalam menulis teks pidato, puisi, prosa. Bahkan karya yang dinilai bermutu ditempel di atas dinding Ka’bah, tetapi kompetensi mereka tidak mengantarkannya kepada perbaikan budi pekerti, moralitas. Bahkan memahami teks “Allah” sudah terkontaminasi dengan paham paganisme.
اَلْحاَلَةُ الَّتِيْ تَكُوْنُ عَلَيْهاَ أُمَّةٌ ماَّ قَبْلَ مَجِيْئِهاَ هُدَى الَّلهِ وَالْحاَلَةُ الَّتِيْ تَمْتَنِعُ فِيْهاَ أُمَّةٌ ماَّ أَوْ بَعْضُ أُمَّةٍ مِنَ الاِسْتِجاَبَةِ لِهَدْيِ اللَّهِ
Jadi, jahiliyah adalah kondisi umat yang terjadi sebelum kedatangan petunjuk Allah (hidayatullah) dan keadaan bangsa tertentu atau sebagian bangsa yang menghalangi disambutnya petunjuk Allah.
Ironi Nation State
Rasulullah Saw memprediksikan, dengan berjalannya waktu dan berlalunya masa dari sumber wahyu, umat Islam akan mengalami degradasi spiritual (istidraj) secara bertahap. Berbagai kemajuan material, hanya untuk menggali lubang kehancurannya. Berawal dari runtuhnya intitusi formal kenegaraan (al-khilafah al-Islamiyah) sampai dilalaikannya kewajiban paling prinsip seorang hamba kepada-Nya, yaitu shalat.
عَنْ أَبِيْ أُماَمَةَ الْباَهِلِيْ عَنْ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيَنْقُضَنَّ عُرَى
الاِ سْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً تَشَبَّثَ النَّاَسُ باِ لَّتِيْ تَلِيْهاَ وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ
وَأَخِرُهاَ الصَّلاَةُ
“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah hukum, dan yang paling akhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 45/134).
Sejak 1924 M, dunia menyaksikan titik paling nadir keruntuhan kepemimpinan formal dunia Islam. Musthafa Kamal, yang dijuluki ulama yang konsisten dengan Islam dengan sebutan “Kamal A’daut Turki” (Kamal musuh bangsa Turki), memimpin acara seremonial pembubaran global state (al khilafah al Islamiyah) yang jangkauan kekuasaannya membentang dari Maroko di Afrika Barat sampai Maluku di Indonesia Timur. Lalu dengan konyolnya memproklamasikan berdirinya negara Turki sekuler-modern yang sepenuhnya mengekor Eropa.
Dengan program unggulan Yahudi “farriq tasud” (cerai-beraikanlah kaum muslimin supaya kamu bisa merajai), mulailah negara-negara Islam mengumandangkan berdirinya nation state. Masing-masing menentukan ideologi dan falsafahnya yang menyimpang dari kitab suci Al Quran dan Al Hadits. Kemudian diikuti dengan sikap lebih membanggakan identitas material-geografis kebangsaannya melebihi dari identitas spiritual-ideologis keislamannya. Islam kemudian menjadi menyempit dan termarginalkan dari percaturan global.
Beralihnya kepemimpinan khilafah kepada kepemimpian mulkiyah (kerajaan), terlepas pula ikatan hukum, aqidah, akhlaq, ideologi, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, seni budaya, militer dan pertahanan-keamanan dari celupan (shibghah) Islam. Ending-nya, dunia pun menyaksikan peristiwa memilukan, terlepasnya ikatan Islam terakhir, yaitu shalat. Betapa banyak umat Islam sekarang yang sudah mendapat dispensasi waktu shalat dari 50 waktu sehari semalam, menjadi lima waktu sehari semalam, dikurangi lagi menjadi sekali seminggu, kemudian setahun sekali, sekali seumur hidup, bahkan yang lebih ironis ditinggalkan sama sekali, sampai akhirnya dishalati.
Agen pencabut
Inilah zaman yang disinyalir Rasulullah Saw dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Imam Ahmad, sebagai babak keempat perjalanan umat Islam, yaitu babak mulkan jabariyyah (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak). Sebelumnya pada babak pertama, umat masih memiliki sistem dan person yang prima secara kepemimpinan, yaitu Nabi Muhammad saw sendiri dalam babak An-Nabuwwah (kenabian). Selanjutnya di babak kedua umat masih memiliki person dan sistem yang tetap konsisten secara kepemimpinan, yaitu khulafa ar-rasyidin di babak khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhilafahan yang mengikuti sistem Kenabian).
Di babak ketiga, umat memiliki sistem yang mengalami penurunan kualitas, tetapi masih memadai, yaitu mulkan ‘aadhdhan (penguasa-penguasa yang masih menggigit Al Quran dan As Sunnah), sekalipun pada akhirnya terlepas juga. Di babak keempat ini, umat bahkan tidak memiliki sistem syariat dan para penguasanya bermasalah secara person.
Inilah babak di mana umat Islam harus secara jujur menyadari sedang mengalami krisis multidimensional (‘azmah kubro). Tiada penguasa mana pun pada kurun ini yang tidak terhegemoni oleh sistem Dajjal. Ujian ini berat, tetapi cukup menantang. Jika kita berfikir positif, dan bisa kita lalui justru akan mengangkat derajat kita dan menghapus dosa-dosa kita.
Zaman ini menuntut kita berpola pikir dan berpenampilan seperti generasi awal umat ini, para sahabat Rasulullah Saw. Mereka berjuang pada fase Makiyah dengan penuh kesabaran, pengorbanan, dan istiqomah. Mereka membuat strategi, tidak berkompromi dengan sistem jahiliyah yang berlaku.
Sejak Allah Swt menurunkan sistematika turunnya Al-Quran, Dia memberikan arahan perjuangan kepada Nabi secara gradual (konstan). Al Alaq 1-5 mengajarkan tidak berkompromi dengan orang yang melampaui batas (ayat 6), orang yang merasa dirinya cukup (ayat 7), orang yang melarang penegakan syariat (ayat 9-10), pendusta dan berpaling (ayat 13). Pada Surat Al-Qalam (68), berlepas diri dengan para pendusta, hipokrit, banyak sumpah serapah dan hina, pembuat fitnah, penghalang perbuatan baik dan pendosa, membanggakan harta.
Pada Surat Al-Muzzammil (73), tidak berelaborasi dengan pendusta, bermewah-mewahan, perilaku hedonis dan amoral. Pada surat Al-Muddatstsir (74), tidak menjalin kerjasama dengan konsep materialisme, membanggakan asal-usul dan keturunan. Pada surat Al-Fatihah (ummul kitab), bertolak belakang dengan Yahudi dan Nasrani. Hingga Allah mengizinkan hijrah dan membangun komunitas muslim di Madinah.
Dengan ma’rifatul qarn kita bisa berta-assi (tapak tilas), berqudwah (meneladani) kesabaran, keuletan, pengorbanan, sikap konsisten, optimis, harapan, sebagaimana pada angkatan pertama umat. Dan masa babak belur, tidak mudah dan tidak sederhana ini, sesungguhnya tidak akan tahan lama, pasti akan mengikuti kekuatan fithri (QS. Ali Imran : 185), QS. Al A’raf : 34). Artinya setiap komunitas memiliki hak untuk maju, jika memiliki persyaratan untuk mendatangkan pertolongan-Nya. Dan setiap bangsa memiliki hak pula untuk jatuh, jika mengabaikan nilai-nilai idealisme, moralitas, immaterial.
أَعْماَرُ أُمَّتِيْ بَيْنَ سِتِّيْنَ وَ سَبْعِيْنَ وَ أَقَلُّهُمْ مَنْ يُجاَوِزُ عَلَى ذَلِكَ
”Umur umatku antara 60-70 tahun, dan sedikit sekali yang melebihi dari itu.” (HR. Ahmad).
Tetapi, zaman kelima yang kita nantikan kehadirannya di samping sebuah wa’dun (janji kenabian) yang dijamin kebenarannya, pula berupa faridhah (menuntut ikhtiar yang optimal). Tercabutnya malikun jabbar (diktator global) berbanding lurus dengan kesiapan kita sebagai ‘anashirut taghyir (unsur pencabut). Bukan menyibukkan diri dengan persoalan yang bukan asasi, konflik internal umat. [Kudus, 14 Oktober 2009/www.hidayatullah.com]
Kudus, 2009, oleh Sholih Hasyim / hidayatullah.com
PENGARUH PSIKOLOGIS NAFSU LAWWAMAH
Diantara nama dari asmaul husna (nama Allah SWT yang indah) adalah al ‘Adlu (Maha Adil). Allah SWT Maha Bijaksana dalam aturan-Nya. Adil dalam perintah dan larangan-Nya. Dia akan membalas secara setimpal terhadap orang yang taat dengan pahala dan akan menghukum orang yang mendurhakai-Nya dengan siksa. Hanya saja kasih sayang-Nya mengalahkan kemurkaan-Nya. Sedikitpun Allah SWT tidak berbuat aniaya terhadap makhluk-Nya.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat (41) : 46).
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al Isra (17) : 7).
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az Zalzalah (99) : 7-8).
Benar, pahala dan hukuman Allah SWT itu secara adil akan diterima kelak di hari pembalasan (yaumuddin). Realitasnya tidak ada keadilan sepenuhnya di dunia ini. Yang banyak hanya kantor pengadilan. Hanya saja, tidak berarti keadilan-Nya itu belum dirasakan di bumi ini. Bentuk penjabaran keadilan Yang Maha Adil di antaranya dalam bentuk perasaan bahagia bagi orang yang berbuat baik dan perasaan bersalah/berdosa bagi yang berbuat jahat.
Perasaan berdosa bagi orang yang berbuat jahat secara transparan maupun terselubung adalah bentuk hukuman baginya sebagai bentuk penjabaran keadilan-Nya. Ada kepuasan batin bagi yang suka berbuat baik dan ada perasaan mencekam (ketakutan yang tidak beralasan yang muncul dalam jiwa) bagi orang yang senang berbuat dosa. Dalam al-Quran disebut dengan “nafsu lawwamah” (gugatan batin). Ia menggugat atas dosa yang telah dilakukan seseorang. Boleh jadi ada saat-saatnya gugatan itu mereda, tetapi pada saat yang lain akan muncul dengan hebatnya, ia akan selalu ada selama kesalahan dan dosa itu belum diselesaikan.
Gugatan batin itulah yang dikenal dalam ilmu jiwa sebagai perasaan bersalah. Gugatan perasaan bersalah terhadap batin tidak kalah hebatnya dengan rongrongan amarah, ketakutan, dendam, iri hati, dan lain-lain. Efek yang ditimbulkan dari nafsu lawwamah ini berupa gangguan kesehatan jasmani tidak kurang pula hebatnya. Para profesional di bidang medis di zaman modern ini memahami betul akal gejala kejiwaan ini.
Kini, banyak pusat kesehatan membuka Bagian Psychosomatik. Para ahli pada bagian ini dapat bercerita banyak tentang berbagai penyakit jasmani yang timbul sebagai akibat dari perasaan berdosa ini. Pada umumnya penyakit yang tampak secara lahiriyah luka pada fisik tidak bisa disembuhkan secara total dengan semata-mata pengobatan medis saja, sebelum diterapi penyebab pokoknya. Yakni, diatasi perasaan bersalahnya terlebih dahulu.
Berbagai kasus penyakit jasmani yang disebabkan oleh perasaan bersalah itu tidak ada benang merah antara penyakit dan penyebab utamanya oleh mata orang awam, bahkan kaitan itu sama sekali tidak disadari oleh si penderita karena perasaan berdosa itu sudah masuk bawah sadarnya, dan baru kemudian disadarinya setelah seorang ahli berhasil menggali kembali dan menemukan faktor utama penyebabnya. Ada satu ungkapan ahli hikmah: Al ‘Aqlus Salim fil Jismis salim (akal/jiwa yang sehat berbanding lurus dengan badan yang sehat). Sebaliknya, pikiran yang buruk akan menurunkan luka di badan.
Kemungkinan kita pun merasakan perasaan serupa. Sekalipun kesalahan yang kita kerjakan termasuk dosa kecil, tetapi yang kecil itu menimbulkan perasaan penyesalan yang mendalam dan perasaan itu mengganggu serta merisaukan kita. Kita dibayangi perasaan cemas, ketakutan secara berlebih-lebihan.
Kita harus segera menghilangkan gangguan perasaan berdosa itu. Tetapi, cara mengatasinya tidak dengan teknik yang memberikan hasil yang semu. Bagaikan burung onta yang ingin menyelamatkan diri dari serangan pemburunya, dengan membenamkan kepala dalam pasir karena ia mengira bahwa dengan cara demikian tidak bisa melihat bahaya yang mengancam, artinya bahaya itu tidak akan datang. Dengan beriman kepada Allah SWT akan menghilangkan perasaan yang merisaukan itu sampai ke akar-akarnya. Di antara kiat untuk mengelola perasaan tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, bersyukur kepada Allah SWT karena kita memiliki kepekaan batin terhadap dosa yang kita lakukan. Ini merupakan indikator bahwa jiwa kita masih relatif bersih, sehingga sedikit khilaf sudah cukup menjadikan kita gelisah. Ada banyak orang di dunia ini yang hatinya telah kesat dan berwarna hitam akibat dosa yang dilakukan secara berkesinambungan, sehingga datangnya noda baru tidak menggoncangkannya. Hanya kemudian timbunan noda hitam itu membangkitkan gugatan batin yang tak terpikulkan di samping bentuk-bentuk keadilan Allah SWT yang lain. Dengan kesadaran mahal tersebut kita akan melangkah menuju kiat berikutnya.
Kedua, Istighfar dan bertaubat kepada-Nya. Dalam beristighfar kita mohon kelemahan kita semakin hari ditutupi. Oleh sebab itu kita harus terbuka kepada Allah SWT. Kita curahkan segala perasaan penyesalan tanpa ditutup-tutupi. Tidak boleh ada yang tersisa. Dalam sebuah hadis, orang yang menyesali dosa-dosanya menunggu datangnya rahmat Allah SWT. Sekiranya kita didominasi oleh perasaan berdosa dengan cara menangis, maka puaskanlah tangisan kita di hadapan-Nya. Kita tidak perlu khawatir dengan Allah SWT. Sekalipun tidak kita ungkapkan, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati kita.
Dengan berterus terang kepada-Nya semoga perasaan yang mengganjal dihilangkan. Setelah itu kita mohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosa kembali. Tidak ada dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Kita yakin, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Kita ucapkan doa berikut secara berulang-ulang dengan penuh penghayatan.
Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang (al Hadits).
Ketiga, apabila kesalahan kita ada hubungannya dengan hak orang lain (haqqul adami), yakni kita pernah merugikan orang lain baik moril maupun material, maka sebelum Allah SWT mengampuni kita, kita dituntut menyelesaikan persoalan itu dengan yang bersangkutan. Mungkin kita banyak berkorban dalam hal ini. Sebenarnya kita tidak perlu merasa demikian, toh untuk kebaikan diri kita sendiri secara lahir dan batin.
Dan jika tidak berhasil menemukan jalan untuk mengurai persoalan dengan pihak yang kita rugikan, kita adukan saja hal ini kepada Allah SWT mohon petunjuk-Nya agar menemukan jalan keluar yang terbaik. Dengan cara melakukan shalat malam dan melantunkan doa berikut.
Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (QS. Al Isra (17) : 80).
Kita mendoakan kepada orang yang kita rugikan, berdoa kepada-Nya agar berkenan memberikan ampunan dan kebahagiaan kepadanya. Kita singkirkan dendam kesumat, kedengkian kepadanya, mungkin kita menemukan penyelesaian dengan cara gruis loos.
“Wahai Tuhanku, berilah ampunan untukku, untuk kedua orang tuaku, untuk orang yang ada haknya atasku dan untuk semua muslim dan muslimah dan semua orang mukmin dan mukminah baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” (al Hadits).
Keempat, memperbanyak amal saleh. Karena amal saleh itu akan mengangkat derajat kita, menghapus kesalahan kita dan sebagai wasilah untuk mengurai kerumitan kehidupan kita. Bersedekah, berbuat jasa, bermakna bagi orang yang memerlukan uluran tangan kita.
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud (11) : 114).
“Dan susullah perbuatan dosa itu dengan kebajikan dan ia akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dan Baihaqi dari Abu Dzar).
Kita tidak perlu ragu dengan kasih sayang Allah SWT. Sekalipun kita jatuh pada lumpur dosa, sesungguhnya Dia selalu menerima kehadiran kita dalam keadaan bagaimanapun. Asalkan, kita ingin kembali kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Jika kita selalu berdoa, biasanya akan dikabulkan secara kontan ataupun kredit. Apabila doa kita dikabulkan secara kredit, karena Allah ingin menikmati suara kita. Atau agar suara kita dikenal di penduduk langit, sehingga ketika sewaktu-waktu meminta, mereka mudah menerima permohonan kita. Atau proposal kita disimpan terlebih dahulu, dan diberikan kepada kita pada saat memerlukannya secara mendadak, misalnya terhindar dari kecelakaan secara tiba-tiba.
Kudus, 28 Mei 2010 oleh Shalih Hasyim/hidayatullah.com
“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat (41) : 46).
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al Isra (17) : 7).
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az Zalzalah (99) : 7-8).
Benar, pahala dan hukuman Allah SWT itu secara adil akan diterima kelak di hari pembalasan (yaumuddin). Realitasnya tidak ada keadilan sepenuhnya di dunia ini. Yang banyak hanya kantor pengadilan. Hanya saja, tidak berarti keadilan-Nya itu belum dirasakan di bumi ini. Bentuk penjabaran keadilan Yang Maha Adil di antaranya dalam bentuk perasaan bahagia bagi orang yang berbuat baik dan perasaan bersalah/berdosa bagi yang berbuat jahat.
Perasaan berdosa bagi orang yang berbuat jahat secara transparan maupun terselubung adalah bentuk hukuman baginya sebagai bentuk penjabaran keadilan-Nya. Ada kepuasan batin bagi yang suka berbuat baik dan ada perasaan mencekam (ketakutan yang tidak beralasan yang muncul dalam jiwa) bagi orang yang senang berbuat dosa. Dalam al-Quran disebut dengan “nafsu lawwamah” (gugatan batin). Ia menggugat atas dosa yang telah dilakukan seseorang. Boleh jadi ada saat-saatnya gugatan itu mereda, tetapi pada saat yang lain akan muncul dengan hebatnya, ia akan selalu ada selama kesalahan dan dosa itu belum diselesaikan.
Gugatan batin itulah yang dikenal dalam ilmu jiwa sebagai perasaan bersalah. Gugatan perasaan bersalah terhadap batin tidak kalah hebatnya dengan rongrongan amarah, ketakutan, dendam, iri hati, dan lain-lain. Efek yang ditimbulkan dari nafsu lawwamah ini berupa gangguan kesehatan jasmani tidak kurang pula hebatnya. Para profesional di bidang medis di zaman modern ini memahami betul akal gejala kejiwaan ini.
Kini, banyak pusat kesehatan membuka Bagian Psychosomatik. Para ahli pada bagian ini dapat bercerita banyak tentang berbagai penyakit jasmani yang timbul sebagai akibat dari perasaan berdosa ini. Pada umumnya penyakit yang tampak secara lahiriyah luka pada fisik tidak bisa disembuhkan secara total dengan semata-mata pengobatan medis saja, sebelum diterapi penyebab pokoknya. Yakni, diatasi perasaan bersalahnya terlebih dahulu.
Berbagai kasus penyakit jasmani yang disebabkan oleh perasaan bersalah itu tidak ada benang merah antara penyakit dan penyebab utamanya oleh mata orang awam, bahkan kaitan itu sama sekali tidak disadari oleh si penderita karena perasaan berdosa itu sudah masuk bawah sadarnya, dan baru kemudian disadarinya setelah seorang ahli berhasil menggali kembali dan menemukan faktor utama penyebabnya. Ada satu ungkapan ahli hikmah: Al ‘Aqlus Salim fil Jismis salim (akal/jiwa yang sehat berbanding lurus dengan badan yang sehat). Sebaliknya, pikiran yang buruk akan menurunkan luka di badan.
Kemungkinan kita pun merasakan perasaan serupa. Sekalipun kesalahan yang kita kerjakan termasuk dosa kecil, tetapi yang kecil itu menimbulkan perasaan penyesalan yang mendalam dan perasaan itu mengganggu serta merisaukan kita. Kita dibayangi perasaan cemas, ketakutan secara berlebih-lebihan.
Kita harus segera menghilangkan gangguan perasaan berdosa itu. Tetapi, cara mengatasinya tidak dengan teknik yang memberikan hasil yang semu. Bagaikan burung onta yang ingin menyelamatkan diri dari serangan pemburunya, dengan membenamkan kepala dalam pasir karena ia mengira bahwa dengan cara demikian tidak bisa melihat bahaya yang mengancam, artinya bahaya itu tidak akan datang. Dengan beriman kepada Allah SWT akan menghilangkan perasaan yang merisaukan itu sampai ke akar-akarnya. Di antara kiat untuk mengelola perasaan tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, bersyukur kepada Allah SWT karena kita memiliki kepekaan batin terhadap dosa yang kita lakukan. Ini merupakan indikator bahwa jiwa kita masih relatif bersih, sehingga sedikit khilaf sudah cukup menjadikan kita gelisah. Ada banyak orang di dunia ini yang hatinya telah kesat dan berwarna hitam akibat dosa yang dilakukan secara berkesinambungan, sehingga datangnya noda baru tidak menggoncangkannya. Hanya kemudian timbunan noda hitam itu membangkitkan gugatan batin yang tak terpikulkan di samping bentuk-bentuk keadilan Allah SWT yang lain. Dengan kesadaran mahal tersebut kita akan melangkah menuju kiat berikutnya.
Kedua, Istighfar dan bertaubat kepada-Nya. Dalam beristighfar kita mohon kelemahan kita semakin hari ditutupi. Oleh sebab itu kita harus terbuka kepada Allah SWT. Kita curahkan segala perasaan penyesalan tanpa ditutup-tutupi. Tidak boleh ada yang tersisa. Dalam sebuah hadis, orang yang menyesali dosa-dosanya menunggu datangnya rahmat Allah SWT. Sekiranya kita didominasi oleh perasaan berdosa dengan cara menangis, maka puaskanlah tangisan kita di hadapan-Nya. Kita tidak perlu khawatir dengan Allah SWT. Sekalipun tidak kita ungkapkan, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati kita.
Dengan berterus terang kepada-Nya semoga perasaan yang mengganjal dihilangkan. Setelah itu kita mohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dosa kembali. Tidak ada dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Kita yakin, sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Kita ucapkan doa berikut secara berulang-ulang dengan penuh penghayatan.
Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang (al Hadits).
Ketiga, apabila kesalahan kita ada hubungannya dengan hak orang lain (haqqul adami), yakni kita pernah merugikan orang lain baik moril maupun material, maka sebelum Allah SWT mengampuni kita, kita dituntut menyelesaikan persoalan itu dengan yang bersangkutan. Mungkin kita banyak berkorban dalam hal ini. Sebenarnya kita tidak perlu merasa demikian, toh untuk kebaikan diri kita sendiri secara lahir dan batin.
Dan jika tidak berhasil menemukan jalan untuk mengurai persoalan dengan pihak yang kita rugikan, kita adukan saja hal ini kepada Allah SWT mohon petunjuk-Nya agar menemukan jalan keluar yang terbaik. Dengan cara melakukan shalat malam dan melantunkan doa berikut.
Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong (QS. Al Isra (17) : 80).
Kita mendoakan kepada orang yang kita rugikan, berdoa kepada-Nya agar berkenan memberikan ampunan dan kebahagiaan kepadanya. Kita singkirkan dendam kesumat, kedengkian kepadanya, mungkin kita menemukan penyelesaian dengan cara gruis loos.
“Wahai Tuhanku, berilah ampunan untukku, untuk kedua orang tuaku, untuk orang yang ada haknya atasku dan untuk semua muslim dan muslimah dan semua orang mukmin dan mukminah baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.” (al Hadits).
Keempat, memperbanyak amal saleh. Karena amal saleh itu akan mengangkat derajat kita, menghapus kesalahan kita dan sebagai wasilah untuk mengurai kerumitan kehidupan kita. Bersedekah, berbuat jasa, bermakna bagi orang yang memerlukan uluran tangan kita.
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud (11) : 114).
“Dan susullah perbuatan dosa itu dengan kebajikan dan ia akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dan Baihaqi dari Abu Dzar).
Kita tidak perlu ragu dengan kasih sayang Allah SWT. Sekalipun kita jatuh pada lumpur dosa, sesungguhnya Dia selalu menerima kehadiran kita dalam keadaan bagaimanapun. Asalkan, kita ingin kembali kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Jika kita selalu berdoa, biasanya akan dikabulkan secara kontan ataupun kredit. Apabila doa kita dikabulkan secara kredit, karena Allah ingin menikmati suara kita. Atau agar suara kita dikenal di penduduk langit, sehingga ketika sewaktu-waktu meminta, mereka mudah menerima permohonan kita. Atau proposal kita disimpan terlebih dahulu, dan diberikan kepada kita pada saat memerlukannya secara mendadak, misalnya terhindar dari kecelakaan secara tiba-tiba.
Kudus, 28 Mei 2010 oleh Shalih Hasyim/hidayatullah.com
Langganan:
Postingan (Atom)