Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal
Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk punya posisi yang ideal dan wajar
Aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi
Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah
Tuhan, aku cinta padamu
WS.Rendra
31 July 2009
Mitra Keluarga
Selasa, 18 Agustus 2009
Jumat, 14 Agustus 2009
REFLEKSI KEMERDEKAAN
Beberapa hari lagi kita akan merayakan hari kemerdekaan ke 64. Tanggal 17 Agustus merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena pada tanggal itulah 64 tahun yang lalu Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Bagi kita bangsa Indonesia, 17 Agustus sangat "sakral". Begitu bermakna, sehingga setiap tahun kita merayakannya dengan meriah, dengan kesadaran sendiri maupun kesadaran berjamaah.
Sesungguhnya, kalau kita mau kembali membuka sejarah, hari penting dan "sakral" pada bulan Agustus bukan hanya tanggal 17 saja. Hari-hari lain, baik sebelum 17 Agustus maupun setelahnya, adalah hari-hari yang penuh perjuangan bagi bangsa Indonesia.
Kalau dulu para pahlawan kita berjuang untuk mencapai kemerdekaan, sekarang kita tetap harus "berjuang" mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing. Kita harus melawan untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang punya harga diri. Selama ini kita kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa. Betapa banyak pulau-pulau yang seharusnya masuk wilayah kita, tetapi bisa diklaim oleh negara lain sebagai wilayahnya. Hasil budaya yang jelas-jelas karya bangsa Indonesia, tapi malah dikatakan produk Malaysia. Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri hanya dikenal sebagai TKW, pembantu Rumah Tangga atau buruh kasar lainnya. Kalaupun ada yang sangat berprestasi, hanya beberapa orang saja. Prestasi kita di dunia Internasional tidak ada yang patut dibanggakan, kecuali masuk rangking 10 besar negara terkorup di dunia. Beberapa dasawarsa yang lalu, kita masih bisa berbangga dengan prestasi pemain badminton kita yang merajai All England, Thomas Cup, Uber Cup dan Kejuaran Dunia, sekarang prestasi badminton kita sangat menurun mengikuti prestasi Tim Nasional Sepakbola yang menempati rangking 134 dunia, bulan lalu. Sungguh tragis kondisi kita, bangsa Indonesia di mata dunia. Suatu bukti bahwa mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan sebagai sebuah bangsa sangat sulit.
Apa yang mesti kita banggakan sebagai orang Indonesia...? Kondisi di dalam negeri juga menambah lunturnya rasa percaya diri kita sebagai Indonesia. Betapa banyak kerusuhan di negeri ini, ada yang karena kalah Pilkada sampai kepada perbedaan pendapat yang sebenarnya sangat sepele, yang tidak mengharuskan kita saling berkelahi sesama anak negeri. Di kampung saya masih ada orang "berebut" atau "mengusai" mesjid hanya karena perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih. Padahal agama kita mengajarkan bahwa; perbedaan itu rahmat.
Dan, yang paling menyedihkan kita bukan hanya kerusuhan saja, namun penjajahan budaya oleh bangsa asing telah membuat bangsa kita seperti kehilangan kendali. Budaya Barat secara tidak sadar sudah terintegrasi dalam budaya bangsa Indonseia. Anak-anak muda lebih mudah disuruh menghafal lagu-lagu Michel Jackson daripada disuruh hafal lagu-lagu perjuangan, apalagi disuruh menghafal ayat-ayat Al Qur'an. Pakaian mereka sudah lebih Barat daripada orang Barat. Begitu juga siaran TV, tidak mencerminkan lagi sebuah siaran TV di sebuah negara dengan ummat Muslim terbesar di dunia. Kekerasan dan eksploitasi aurat sudah menjadi hal yang biasa saja di negeri ini. Kemerdekaan anak-anak untuk mendapat siaran TV yang layak terampas oleh para kapitalis pemilik TV. Sungguh ironis.
Semua itu bermuara pada kesimpulan bahwa kita bukanlah Indonsesia yang benar-benar. Negeri kita hanyalah sekumpulan orang yang tidak merasa diri sebagai Indonesia, kecuali pada saat-saat perayaan Agustusan......
Dengan kondisi seperti sekarang, siapa yang bisa memperbaiki negeri...? Siapa yang layak menjadi pahlawan...? Sebagai sebuah negara, sudah merupakan tugas pemerintah-lah membawa perbaikan bagi bangsa dengan didukung sepenuh jiwa raga rakyatnya. Presiden sebagai Kepala Negara maupun sebagai Kepala Pemerintahan wajib mengendalikan keadaan dan mengembalikan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dari sisi ekonomi, keamanan, pendidikan, budaya, dsb. Khusus Presiden SBY, walau bukanlah Presiden yang sempurna (hanya manusia biasa), namun langkah-langkah beliau yang strategis harus tetap kita dukung, dengan catatan untuk saat ini beliau belumlah layak kita sebut sebagai "Pahlawan" yang telah bekerja 5 tahun periode pertama.
Sebagai rakyat, tugas kita adalah membantu pemerintah menciptakan iklim yang sejuk dalam negara. Kita bisa mengabdi sesuai dengan kemampuan kita sendiri. Kita harus mengisi kemerdekaan sebagai wujud rasa syukur dan penghargaan kepada para Pahlawan kemerdekaan yang telah merebut kedaulatan dari tangan penjajah. Kalaupun tidak bisa menyumbangkan sesuatu untuk bangsa, setidaknya janganlah kita jadi musuh bangsa dan negara. Minimal kita harus melaksanakan kewajiban, bukan malah menuntut hak. Kalau Anda sebagai aparat birokrat, bekerjalah dengan benar, janganlah Anda korupsi, karena dengan itu Anda telah merampas hak rakyat. Kalau Anda seniman, janganlah Anda membajak karya sendiri kemudian teriak-teriak mengatakan karya Anda di bajak orang lain. Bagi pelajar, tugasmu adalah belajar, bukan sibuk dengan ganja atau jenis narkoba lainnya. Ada tugas dan kewajiban masing-masing. Kita harus sadar bahwa dengan menjalankan semua sesuai dengan garis aturan yang berlaku, sesuai norma, dan tidak melanggar, saat itulah kita sudah bisa disebut punya andil mempertahankan kemerdekaan.
Beberapa hari lagi kita akan merayakan kemerdekaan. Mudah-mudahan setelah 64 tahun, kita adalah sebuah bangsa yang benar-benar merdeka. Bukan bangsa pecundang.
Dirgahayu Indonesia-ku............
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Sesungguhnya, kalau kita mau kembali membuka sejarah, hari penting dan "sakral" pada bulan Agustus bukan hanya tanggal 17 saja. Hari-hari lain, baik sebelum 17 Agustus maupun setelahnya, adalah hari-hari yang penuh perjuangan bagi bangsa Indonesia.
Kalau dulu para pahlawan kita berjuang untuk mencapai kemerdekaan, sekarang kita tetap harus "berjuang" mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing. Kita harus melawan untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang punya harga diri. Selama ini kita kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa. Betapa banyak pulau-pulau yang seharusnya masuk wilayah kita, tetapi bisa diklaim oleh negara lain sebagai wilayahnya. Hasil budaya yang jelas-jelas karya bangsa Indonesia, tapi malah dikatakan produk Malaysia. Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri hanya dikenal sebagai TKW, pembantu Rumah Tangga atau buruh kasar lainnya. Kalaupun ada yang sangat berprestasi, hanya beberapa orang saja. Prestasi kita di dunia Internasional tidak ada yang patut dibanggakan, kecuali masuk rangking 10 besar negara terkorup di dunia. Beberapa dasawarsa yang lalu, kita masih bisa berbangga dengan prestasi pemain badminton kita yang merajai All England, Thomas Cup, Uber Cup dan Kejuaran Dunia, sekarang prestasi badminton kita sangat menurun mengikuti prestasi Tim Nasional Sepakbola yang menempati rangking 134 dunia, bulan lalu. Sungguh tragis kondisi kita, bangsa Indonesia di mata dunia. Suatu bukti bahwa mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan sebagai sebuah bangsa sangat sulit.
Apa yang mesti kita banggakan sebagai orang Indonesia...? Kondisi di dalam negeri juga menambah lunturnya rasa percaya diri kita sebagai Indonesia. Betapa banyak kerusuhan di negeri ini, ada yang karena kalah Pilkada sampai kepada perbedaan pendapat yang sebenarnya sangat sepele, yang tidak mengharuskan kita saling berkelahi sesama anak negeri. Di kampung saya masih ada orang "berebut" atau "mengusai" mesjid hanya karena perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih. Padahal agama kita mengajarkan bahwa; perbedaan itu rahmat.
Dan, yang paling menyedihkan kita bukan hanya kerusuhan saja, namun penjajahan budaya oleh bangsa asing telah membuat bangsa kita seperti kehilangan kendali. Budaya Barat secara tidak sadar sudah terintegrasi dalam budaya bangsa Indonseia. Anak-anak muda lebih mudah disuruh menghafal lagu-lagu Michel Jackson daripada disuruh hafal lagu-lagu perjuangan, apalagi disuruh menghafal ayat-ayat Al Qur'an. Pakaian mereka sudah lebih Barat daripada orang Barat. Begitu juga siaran TV, tidak mencerminkan lagi sebuah siaran TV di sebuah negara dengan ummat Muslim terbesar di dunia. Kekerasan dan eksploitasi aurat sudah menjadi hal yang biasa saja di negeri ini. Kemerdekaan anak-anak untuk mendapat siaran TV yang layak terampas oleh para kapitalis pemilik TV. Sungguh ironis.
Semua itu bermuara pada kesimpulan bahwa kita bukanlah Indonsesia yang benar-benar. Negeri kita hanyalah sekumpulan orang yang tidak merasa diri sebagai Indonesia, kecuali pada saat-saat perayaan Agustusan......
Dengan kondisi seperti sekarang, siapa yang bisa memperbaiki negeri...? Siapa yang layak menjadi pahlawan...? Sebagai sebuah negara, sudah merupakan tugas pemerintah-lah membawa perbaikan bagi bangsa dengan didukung sepenuh jiwa raga rakyatnya. Presiden sebagai Kepala Negara maupun sebagai Kepala Pemerintahan wajib mengendalikan keadaan dan mengembalikan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dari sisi ekonomi, keamanan, pendidikan, budaya, dsb. Khusus Presiden SBY, walau bukanlah Presiden yang sempurna (hanya manusia biasa), namun langkah-langkah beliau yang strategis harus tetap kita dukung, dengan catatan untuk saat ini beliau belumlah layak kita sebut sebagai "Pahlawan" yang telah bekerja 5 tahun periode pertama.
Sebagai rakyat, tugas kita adalah membantu pemerintah menciptakan iklim yang sejuk dalam negara. Kita bisa mengabdi sesuai dengan kemampuan kita sendiri. Kita harus mengisi kemerdekaan sebagai wujud rasa syukur dan penghargaan kepada para Pahlawan kemerdekaan yang telah merebut kedaulatan dari tangan penjajah. Kalaupun tidak bisa menyumbangkan sesuatu untuk bangsa, setidaknya janganlah kita jadi musuh bangsa dan negara. Minimal kita harus melaksanakan kewajiban, bukan malah menuntut hak. Kalau Anda sebagai aparat birokrat, bekerjalah dengan benar, janganlah Anda korupsi, karena dengan itu Anda telah merampas hak rakyat. Kalau Anda seniman, janganlah Anda membajak karya sendiri kemudian teriak-teriak mengatakan karya Anda di bajak orang lain. Bagi pelajar, tugasmu adalah belajar, bukan sibuk dengan ganja atau jenis narkoba lainnya. Ada tugas dan kewajiban masing-masing. Kita harus sadar bahwa dengan menjalankan semua sesuai dengan garis aturan yang berlaku, sesuai norma, dan tidak melanggar, saat itulah kita sudah bisa disebut punya andil mempertahankan kemerdekaan.
Beberapa hari lagi kita akan merayakan kemerdekaan. Mudah-mudahan setelah 64 tahun, kita adalah sebuah bangsa yang benar-benar merdeka. Bukan bangsa pecundang.
Dirgahayu Indonesia-ku............
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
SAJAK MERDEKA
Merdeka...!!
Pekik pejuang masih terngiang-ngiang di kepalaku
seakan proklamasi baru kemarin sore,
padahal aku hanya menonton melalui film-film
yang berlayar hitam putih
Merdeka...!!
Karnaval di kotaku sangat ramai,
tank, mesiu, tombak, bambu runcing
Indonesia seperti enam puluh empat tahun yang lalu
kami berlagak pahlawan negara
hanya kami yang berhak merdeka,
padahal kami tak tahu
kami kehilangan makna merdeka
Merdeka bagi kami adalah karnaval
merah putih, umbul-umbul
dan panjat pinang.......
Tak salah kami maknai merdeka,
kalian para orangtua tidak pernah beri kami
arti merdeka!
Yang kami tahu,
negeri ini belumlah merdeka
para koruptor masih bebas merdeka
penjara bagi mereka ibarat tidur di hotel-hotel mewah
para penegak hukum masih kebal hukum
yang jadi korban tetaplah orang buta hukum
para konglomerat masih belum mengerti arti melarat
wajib pajak masih menghisap uang rakyat
Merdeka...!
Maaf, kami belum merasakannya.
kota juang, 14 agustus 2009 karya mukhlis abi fildza
Pekik pejuang masih terngiang-ngiang di kepalaku
seakan proklamasi baru kemarin sore,
padahal aku hanya menonton melalui film-film
yang berlayar hitam putih
Merdeka...!!
Karnaval di kotaku sangat ramai,
tank, mesiu, tombak, bambu runcing
Indonesia seperti enam puluh empat tahun yang lalu
kami berlagak pahlawan negara
hanya kami yang berhak merdeka,
padahal kami tak tahu
kami kehilangan makna merdeka
Merdeka bagi kami adalah karnaval
merah putih, umbul-umbul
dan panjat pinang.......
Tak salah kami maknai merdeka,
kalian para orangtua tidak pernah beri kami
arti merdeka!
Yang kami tahu,
negeri ini belumlah merdeka
para koruptor masih bebas merdeka
penjara bagi mereka ibarat tidur di hotel-hotel mewah
para penegak hukum masih kebal hukum
yang jadi korban tetaplah orang buta hukum
para konglomerat masih belum mengerti arti melarat
wajib pajak masih menghisap uang rakyat
Merdeka...!
Maaf, kami belum merasakannya.
kota juang, 14 agustus 2009 karya mukhlis abi fildza
Senin, 10 Agustus 2009
SURAT CINTA
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !
Karya : WS.Rendra, khusus ungkapan cinta kepada Soenarti, isteri pertamanya.
kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan.
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta.
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu :
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain ……
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa.
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit :
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku.
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !
Karya : WS.Rendra, khusus ungkapan cinta kepada Soenarti, isteri pertamanya.
Sabtu, 08 Agustus 2009
WS. RENDRA
Innalillahi wainnailaii raji'un....
WS. Rendra, seorang sastrawan besar negeri ini, telah meninggalkan kita semua dua hari yang lalu.
Saya hanyalah orang kampung, rakyat jelata... tidak punya ikatan apa-apa dengan almarhum, bukan saudaranya bahkan saya tidak pernah berkenalan secara langsung dengannya. Namun kala mendapat kabar bahwa beliau kalah melawan penyakitnya dan telah meenghembuskan nafas terakhir, saya seperti orang kehilangan semangat. Saya sangat sedih, sedih sekali.....
WS. Rendra, walaupun saya tidak terlalu mengagumi sosokmu sebagai manusia, namun namamu telah ada di sanubari saya sejak SMP. Rendra adalah salah satu inspirasi saya dalam memaknai hidup, beberapa karyanya telah saya hafal sejak SMA. Saya senang dengan "perlawanan" nya terhadap kekuasaan, sejak Orde Baru mencengkeram negeri ini. Dia bukan penjilat, laksana beberapa seniman kita lainnya yang menjadi "piaran" Istana, zaman dulu. Rendra punya karakter yang berbeda, walaupun tidak selamanya juga menjadi oposisi bagi penguasa.
Saya tidak banyak mencatat kiprah Rendra disini, karena sepak terjangnya pastilah telah dicatat oleh beribu-ribu anak negeri yang kagum padanya, terutama dalam sepekan ini, setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Yang saya tau beliau adalah orang besar, berbadan besar, berjiwa besar, punya keluarga besar, teater besar (Bengkel Teater) dan punya karya-karya besar (yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah sastra bangsa ini).
Dan satu lagi, saya tau, beliau sangat berperan besar bagi kemajuan sastra dan pegiatnya di Aceh. Banyak seniman Aceh yang dekat dengan beliau, salah satunya Fikar.W.Eda, salah seorang penyair nasional yang berasal dari Aceh.
Bukan hanya itu, beliau juga punya ikatan emosionil dengan tanah Aceh, termasuk juga dengan Muhammad Nazar, sang Wakil Gubernur. Kedekatan beliau dengan Aceh, barangkali kita bisa kita cermati melalui beberapa puisinya yang menggambarkan tentang Aceh. Malah sejak muda, kala beliau belum jadi Muallaf, sudah tercipta satu puisi tentang Cut Nyak Dien, pahlawan nasional. Puisi yang lahir taun 1963 tersebut cukup untuk menggambarkan bagaimana kecintaannya pada Serambi Mekkah, terutama kekagumannya pada sang pahlawan.
BALLADA CUT NYAK DIEN
Cut Nyak Dhien adalah harimau
yang tabah dan jelita
yang mengintip di antara rerumpun ilalang
di daerah sepanjang Sungai Woyla
yang mengembara dengan dendam yang mulia.
Menumpas kaphe dan penjajah.
Apabila suara ratib sudah menggema
di seluruh rimba
dan rencong serta pedang daun tebu
telah mulai gemerlapan
memantulkan kembali
cahaya bulan dan bintang-bintang
gemetarlah para kaphe dan penjajah
karena tahu bahwa api di tiap dada rakyat Aceh
takkan bisa dipadamkan!!!
Jogya, 10 Juli 1963.
Bukan hanya itu, setelah beliau "orang besar" pun, tidak melewatkan kesempatan untuk berpentas di Aceh. Menurut catatan Fikar W.Eda yang dimuat Harian Serambi, Rendra pertama kali ke Aceh tahun 1970, atas undangan Pemerintah Aceh saat itu. (tahun ini, Wagub Aceh, Muhammad Nazar yang merupakan salah seorang yang dekat dengannya malah belum lahir). Aceh saat itu seperti melawan Jakarta, karena Rendra adalah salah seorang yang menjadi "lawan" penguasa, dulu.
Catatan lainnya adalah "Universitas Syiah Kuala, Guru Kami" yang kemudian digubah menjadi "lagu kebangsaan" Unsyiah yaitu Hymne Universitas Syiah Kuala. Yang menggubahnya aalah Mukhtar Embut. (saya sendiri tidak hafal, karena saya bukan alumni Unsyiah).
Kemudian pada periode selanjutnya, kecintaan Rendra terhadap Aceh tidak berkurang. Penguasa daerah boleh berganti, generasi boleh berubah, namun Rendra tetaplah seorang yang peduli pada Aceh, termasuk ketika tsunami datang meluluhlantakkan negeri endatu dan membawa serta beberapa penyair Aceh dalam pusarannya. Salah satu karyanya yang menggambarkan tsunami adalah "Dimana kamu, Dekna.."
Rendra, betapapun aku tidak mengenalmu secara dekat, namun engkau adalah inspirator saya. Puisi dan sajakmu, memenuhi perbendaharaan saya. Kepulanganmu jelas membuat bangsa Indonesia sedih, termasuk saya. Namun apa hendak dikata, engkau adalah juga manusia biasa. Lahir, hidup kemudian mati. Semua manusia adalah sama, setelah hidup tentu akan mati, tergantung janji masing-masing dengan Allah SWT.
Yang berbeda adalah amalan masing-masing.
Ekspresi saya pada Rendra, saya tulis pada selembar kertas buram, mudah-mudahan akan membuat selalu teringat padamu.
SAJAK LARA UNTUK RENDRA
"ada yang datang, ada yang pergi...."
begitu katamu ketika gelombang raya
membawa serta dan menghanyutkan
beberapa pengisi kolom budaya
koran terkenal di tanoh endatu, lima tahun lalu...
(pada sala seorang teman saya yang menjadi guide-mu ke pusara korban tsunami)
kami tau...
saat itu, bukan engkau tak peduli
dan tak menangisi beberapa kawan
isterinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim
karena gelombang raya itu...
dan kami tau...
malah engkau sangat peduli
dan lahirlah "Dimana kamu, Dekna..."
"ada yang datang, ada yang pergi..."
aku yakin kalimat singkatmu itu
bukanlah pidato kematian, seperti yang sering aku dengar
dari para teungku saat melepaskan seseorang
menemui Sang Khalik...
engkau hanya sampaikan fakta hamba Tuhan,
bahwa ada kehidupan, ada kematian
"ada yang datang, ada yang pergi..."
itulah siklus kehidupan
manusia adalah pelakon, yang harus menjalani episode demi episode
skenarionya ada pada Sang Penguasa Alam
dan kini....
giliranmu tuntaskan episode kehidupan
dan sonsong kematian
yang siapapun hamba tak bisa
menundanya sedetikpun
Indonesia belangsungkawa
kepergianmu laksana terbakarnya beribu-ribu kamus
Aceh berduka dan menjadi yatim,
namun semangatmu untuk kami
tetap terpatri
"Dimana kamu, Dekna..." akan kami jaga.
Samadua, Agustus 2009.
Karya ; Mukhlis Aminullah, sebagai ungkapan kehilangan WS.Rendra
WS. Rendra, seorang sastrawan besar negeri ini, telah meninggalkan kita semua dua hari yang lalu.
Saya hanyalah orang kampung, rakyat jelata... tidak punya ikatan apa-apa dengan almarhum, bukan saudaranya bahkan saya tidak pernah berkenalan secara langsung dengannya. Namun kala mendapat kabar bahwa beliau kalah melawan penyakitnya dan telah meenghembuskan nafas terakhir, saya seperti orang kehilangan semangat. Saya sangat sedih, sedih sekali.....
WS. Rendra, walaupun saya tidak terlalu mengagumi sosokmu sebagai manusia, namun namamu telah ada di sanubari saya sejak SMP. Rendra adalah salah satu inspirasi saya dalam memaknai hidup, beberapa karyanya telah saya hafal sejak SMA. Saya senang dengan "perlawanan" nya terhadap kekuasaan, sejak Orde Baru mencengkeram negeri ini. Dia bukan penjilat, laksana beberapa seniman kita lainnya yang menjadi "piaran" Istana, zaman dulu. Rendra punya karakter yang berbeda, walaupun tidak selamanya juga menjadi oposisi bagi penguasa.
Saya tidak banyak mencatat kiprah Rendra disini, karena sepak terjangnya pastilah telah dicatat oleh beribu-ribu anak negeri yang kagum padanya, terutama dalam sepekan ini, setelah yang bersangkutan meninggal dunia. Yang saya tau beliau adalah orang besar, berbadan besar, berjiwa besar, punya keluarga besar, teater besar (Bengkel Teater) dan punya karya-karya besar (yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah sastra bangsa ini).
Dan satu lagi, saya tau, beliau sangat berperan besar bagi kemajuan sastra dan pegiatnya di Aceh. Banyak seniman Aceh yang dekat dengan beliau, salah satunya Fikar.W.Eda, salah seorang penyair nasional yang berasal dari Aceh.
Bukan hanya itu, beliau juga punya ikatan emosionil dengan tanah Aceh, termasuk juga dengan Muhammad Nazar, sang Wakil Gubernur. Kedekatan beliau dengan Aceh, barangkali kita bisa kita cermati melalui beberapa puisinya yang menggambarkan tentang Aceh. Malah sejak muda, kala beliau belum jadi Muallaf, sudah tercipta satu puisi tentang Cut Nyak Dien, pahlawan nasional. Puisi yang lahir taun 1963 tersebut cukup untuk menggambarkan bagaimana kecintaannya pada Serambi Mekkah, terutama kekagumannya pada sang pahlawan.
BALLADA CUT NYAK DIEN
Cut Nyak Dhien adalah harimau
yang tabah dan jelita
yang mengintip di antara rerumpun ilalang
di daerah sepanjang Sungai Woyla
yang mengembara dengan dendam yang mulia.
Menumpas kaphe dan penjajah.
Apabila suara ratib sudah menggema
di seluruh rimba
dan rencong serta pedang daun tebu
telah mulai gemerlapan
memantulkan kembali
cahaya bulan dan bintang-bintang
gemetarlah para kaphe dan penjajah
karena tahu bahwa api di tiap dada rakyat Aceh
takkan bisa dipadamkan!!!
Jogya, 10 Juli 1963.
Bukan hanya itu, setelah beliau "orang besar" pun, tidak melewatkan kesempatan untuk berpentas di Aceh. Menurut catatan Fikar W.Eda yang dimuat Harian Serambi, Rendra pertama kali ke Aceh tahun 1970, atas undangan Pemerintah Aceh saat itu. (tahun ini, Wagub Aceh, Muhammad Nazar yang merupakan salah seorang yang dekat dengannya malah belum lahir). Aceh saat itu seperti melawan Jakarta, karena Rendra adalah salah seorang yang menjadi "lawan" penguasa, dulu.
Catatan lainnya adalah "Universitas Syiah Kuala, Guru Kami" yang kemudian digubah menjadi "lagu kebangsaan" Unsyiah yaitu Hymne Universitas Syiah Kuala. Yang menggubahnya aalah Mukhtar Embut. (saya sendiri tidak hafal, karena saya bukan alumni Unsyiah).
Kemudian pada periode selanjutnya, kecintaan Rendra terhadap Aceh tidak berkurang. Penguasa daerah boleh berganti, generasi boleh berubah, namun Rendra tetaplah seorang yang peduli pada Aceh, termasuk ketika tsunami datang meluluhlantakkan negeri endatu dan membawa serta beberapa penyair Aceh dalam pusarannya. Salah satu karyanya yang menggambarkan tsunami adalah "Dimana kamu, Dekna.."
Rendra, betapapun aku tidak mengenalmu secara dekat, namun engkau adalah inspirator saya. Puisi dan sajakmu, memenuhi perbendaharaan saya. Kepulanganmu jelas membuat bangsa Indonesia sedih, termasuk saya. Namun apa hendak dikata, engkau adalah juga manusia biasa. Lahir, hidup kemudian mati. Semua manusia adalah sama, setelah hidup tentu akan mati, tergantung janji masing-masing dengan Allah SWT.
Yang berbeda adalah amalan masing-masing.
Ekspresi saya pada Rendra, saya tulis pada selembar kertas buram, mudah-mudahan akan membuat selalu teringat padamu.
SAJAK LARA UNTUK RENDRA
"ada yang datang, ada yang pergi...."
begitu katamu ketika gelombang raya
membawa serta dan menghanyutkan
beberapa pengisi kolom budaya
koran terkenal di tanoh endatu, lima tahun lalu...
(pada sala seorang teman saya yang menjadi guide-mu ke pusara korban tsunami)
kami tau...
saat itu, bukan engkau tak peduli
dan tak menangisi beberapa kawan
isterinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim
karena gelombang raya itu...
dan kami tau...
malah engkau sangat peduli
dan lahirlah "Dimana kamu, Dekna..."
"ada yang datang, ada yang pergi..."
aku yakin kalimat singkatmu itu
bukanlah pidato kematian, seperti yang sering aku dengar
dari para teungku saat melepaskan seseorang
menemui Sang Khalik...
engkau hanya sampaikan fakta hamba Tuhan,
bahwa ada kehidupan, ada kematian
"ada yang datang, ada yang pergi..."
itulah siklus kehidupan
manusia adalah pelakon, yang harus menjalani episode demi episode
skenarionya ada pada Sang Penguasa Alam
dan kini....
giliranmu tuntaskan episode kehidupan
dan sonsong kematian
yang siapapun hamba tak bisa
menundanya sedetikpun
Indonesia belangsungkawa
kepergianmu laksana terbakarnya beribu-ribu kamus
Aceh berduka dan menjadi yatim,
namun semangatmu untuk kami
tetap terpatri
"Dimana kamu, Dekna..." akan kami jaga.
Samadua, Agustus 2009.
Karya ; Mukhlis Aminullah, sebagai ungkapan kehilangan WS.Rendra
Senin, 03 Agustus 2009
JADILAH JIWA YANG IKHLAS
Apakah Anda termasuk orang yang senang membantu orang lain ? Walaupun tidak Anda jawab langsung pada saya, tentu dalam hati Anda masing-masing pasti ada jawaban. Kita pasti pernah menolong orang lain, begitu juga sebaliknya, kita pernah ditolong atau dibantu oleh orang lain. Hal itu merupakan suatu hal yang lumrah terjadi dalam hidup ini, karena kita tidak bisa hidup sendiri. Kita saling membutuhkan. Orang kaya, tidak bisa meneruskan atau melanjutkan usahanya tanpa si miskin yang menjadi buruh atau tenaga kerjanya. Begitu juga si miskin, membutuhkan si kaya sebagai orang memberinya pekerjaan. Saling ketergantungan dan saling memberi/membantu adalah fitrah manusia. Hanya saja, manusia selalu merasa dirinya paling hebat, bisa hidup tanpa orang lain. Baru memberi sedikit, telah merasa memberi banyak. Baru menolong orang sekedar saja, sudah merasa jadi dewa penolong.
Itulah sifat manusia, tidak ikhlas. Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.
Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.
Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.
Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, seberulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.
Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.
Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan aeorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.
Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.
Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.
Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.
Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?
Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.
Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang ikhlas, untuk diri sendiri maupun membantu orang lain. Insya Allah kita akan jadi hamba Allah SWT yang penuh rahmat.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Itulah sifat manusia, tidak ikhlas. Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.
Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.
Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.
Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, seberulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.
Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.
Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan aeorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.
Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.
Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.
Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.
Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?
Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.
Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang ikhlas, untuk diri sendiri maupun membantu orang lain. Insya Allah kita akan jadi hamba Allah SWT yang penuh rahmat.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
PERJALANAN MELINTASI KUBURAN ANEUK MANYAK

Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri pulang kampung ke Bireuen, menjenguk keluarga. Setelah saya tinggalkan beberapa minggu, karena harus melaksanakan tugas di Samadua, kepulangan kali ini tentu saja membawa selaksa kerinduan pada anak-anak, isteri dan orangtua serta adik-adik tercinta. Saya membayangkan, seraut wajah teduh perempuan ”penjaga rumah”, akan menyambut saya dengan cinta...... Saya tidak melupakan hangatnya pelukan dua gadis kecil ketika saya pulang pertama kali, bulan lalu. Saya membayangkan, sambutan yang sama akan menunggu di pintu rumah.
Tapi untuk itu saya harus menempuh ratusan kilometer, jalan berkelok, berliku, curam dan sempit. Itulah jalan peninggalan penjajah Belanda yang pada awalnya adalah jalan setapak. Konon, jalan tersebut dibuat untuk mempersingkat jarak tempuh antara Meulaboh dengan Pidie. Sebelumnya, untuk menuju Meulaboh dari Pidie, atau sebaliknya, harus melalui Banda Aceh, pada masa itu masih bernama Koetaradja.
Ya, untuk sampai ke Bireuen, sekarang bisa melewati puncak Geumpang menuju kawasan Pidie di utara. Kalau saya berangkat dari Samadua, tentu saya harus melewati tiga Kabupaten sebelum ”mendaki” gunung menuju Beureunun, kemudian melanjutkan perjalanan ke kampung halaman di Kota Juang tercinta, juga melewati dua Kabupaten lagi.
Perjalanan sejauh itu sangat melelahkan, namun saya menikmatinya dengan beberapa alasan. Pertama, saya yakin bahwa kepulangan saya akan disambut sukacita oleh keluarga, terutama isteri dan anak-anak. Sepasang mata indah, akan membawa saya tenggelam pada seribu danau. Tatapan rindu memancarkan aura keteduhan, yang bisa membuang gelisah, berhari-hari dan berminggu-minggu sendiri di Samadua.
Kedua, saya adalah orang yang suka ”berpetualang”. Perjalanan, jauh atau dekat, selalu saya nikmati. Setiap jengkal aspal dan ribuan meter tanah Tuhan yang yang saya lewati, beberapa diantaranya saya catat dalam memori yang terdalam. Ketika melewati gunung demi gunung, memecah belah kesunyian Tutut, Geumpang, Mane dan Tangse saya faham dengan banyaknya eksplorasi alam milik Tuhan, yang dilakukan oleh tangan-tangan jahil manusia.
Pada kesempatan kali ini saya tidak akan menulis tentang terbakarnya hutan Tangse, walaupun saya prihatin dengan kejadian itu. Biarlah insan pers dan aktivis lingkungan yang akan menyampaikan hal itu untuk masyarakat. Saya hanya ingin menulis ulasan tentang ”Kuburan Aneuk Manyak”, pada kelanjutan tulisan ini. Masalah kerinduan, sudah saya hantarkan pada awal tulisan ini. Sengaja, dalam perjalanan kali ini, saya luangkan waktu untuk singgah di kuburan tersebut untuk mengetahui sejarahnya, sekaligus sambil beristirahat di warung yang ada disekitar, sebagai penghilang rasa capai dan membunuh rasa lelah.
”Kuburan Aneuk Manyak” adalah legenda. Dan saya yakin, sebagian kecil masyarakat sudah pernah mengunjungi atau melintasi kuburan tersebut yang letaknya persis di pinggir jalan negara yang menghubungkan Meulaboh dengan Beureunun, berada dalam wilayah Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat.
Dari tulisan yang ditempelkan pada kuburan dan penjelasan singkat dari Majelis Adat Geumpang, terurai jelas sebuah kisah singkat tentang keberadaan kuburan tersebut. Seorang pemuda dari Meulaboh yang bernama Teungku Marhaban menikahi gadis asal Geumpang yang bernama Maisarah. Perkawinan itu dikaruniai seorang putera yang sangat tampan, menjadi buah hati yang mengisi hari-hari bahagia keluarga mereka. Sayang, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama, pada usia perkawinan menginjak 5 (lima) tahun, Maisarah meninggal dunia. Tinggallah Teungku Marhaban menduda, sambil mendidik anak semata wayangnya yang berusia 4 (empat) tahun.
Beberapa saat setelah kematian isterinya itu, Teungku Marhaban masih menetap di Geumpang, hingga kemudian beliau berniat untuk pulang ke Meulaboh. Untuk mencapai Meulaboh, harus melalui jalan setapak yang menghubungkan Geumpang ke Sungai Mas, cikal bakal jalan yang kita gunakan sekarang. Sejak dahulu, jalan ini sudah ramai digunakan oleh pejalan kaki, baik oleh serdadu Belanda di saat berpatroli maupun oleh pejuang Aceh yang bergerilya mencari informasi antara Pidie dan Meulaboh.
Memenuhi maksudnya untuk menetap di Meulaboh, beliau menjual seluruh harta benda, sehingga ia membawa uang dalam jumlah yang banyak, termasuk kepingan uang emas. Kabar kepulangan tersebut diberitahukan kepada seluruh kerabatnya. Salah seorang temannya secara sengaja mendatangi beliau untuk menanyakan kapan persisnya kepulangan tersebut. Tanpa menaruh rasa curiga, Teungku Marhaban pun membeberkan tanggal dan hari keberangkatannya ke Meulaboh.
Hari berganti, ayah dan anak piatu yang ditemani seorang sahabatnya itu melenggang pulang ke tanah kelahirannya. Dengan tertatih menyusuri jalanan yang terjal, bebatuan, hingga semak belukar yang menjadi dinding langkahnya, tibalah ketiga si pengembara di Gampong Bangkeh. Tepatnya di rumah geuchik setempat, yang kala itu dijabat oleh Keuchik Daud.
Dengan penuh rasa hormat, Teungku Marhaban memohon untuk bermalam di rumah orang yang paling disegani oleh masyarakat itu. Keesokan harinya, mereka bertiga kembali pamit untuk melanjutkan perjalanan semula, dengan menenteng “bu kulah” (nasi bungkus pakai daun pisang). Namun, entah bagaimana kelanjutannya, sahabat yang setia menemani itu sekitar dua hari berselang, tiba-tiba bergegas kembali pulang ke Gampông Bangkeh, sekaligus untuk kedua kalinya berjumpa dengan Keuchik Daud. Mereka sempat berbincang dengan warga setempat.
Sang sahabat tadi mengaku tak dapat melanjutkan perjalanan menemani Teungku Marhaban, karena terserang demam tinggi. Dia mengatakan khawatir penyakit yang dideritanya akan bertambah parah hingga diputuskan hari itu juga meninggalkan Gampong Bangkeh. Selanjutnya, dia meyebutkan perlu berobat ke Pidie.
Keesokan harinya, kawasan Geumpang yang dilalui Teungku Marhaban dan anaknya didatangi segerombolan serdadu Belanda. Setiba di Gampong Bangkeh, mereka menanyakan kepada Keuchik setempat, apakah dalam beberapa hari terakhir ini ada masyarakat yang melintas di jalan tersebut. Pasalnya, serdadu Belanda itu menemukan dua mayat terbujur kaku, tergeletak di kawasan Neungoh Ukheue Kayee (Pendakian Akar Kayu), yang merupakan korban penganiayaan. Tubuh kedua mayat tersebut tercabik-cabik dengan kondisi mengenaskan.
Keuchik Daud, atas perintah Ulee Balang, langsung memerintahkan masyarakat Bangkeh mengecek kebenaran berita tersebut. Setelah didalami dan ditelusuri dengan sesakma, ternyata dua mayat dimaksud adalah Teungku Marhaban dan anaknya yang berusia 4 tahun. “Lehernya digorok, tubuhnya tercabik-cabik terkena sayatan senjata tajam. Keduanya dikebumikan dalam satu lobang, mengingat sudah membusuk dan tragis sekali nasibnya. Ini Jelas-jelas akibat penganiayaan,” ungkap warga kala itu kepada Keuchik Daud.
Keterangan tersebut dilaporkan pada Ulee Balang untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan. Hasil informasi yang digali dan dikumpulkan dari beberapa warga yang melihat terakhir kalinya almarhum, disimpulkan bahwa yang melakukan pembunuhan adalah sahabat Teungku Marhaban sendiri.
Di bawah perintah Ulee Balang, kemudian sahabat yang menemani Teungku Marhaban akhirnya ditangkap. Hasil interogasi aparat gampông setempat, orang tersebut mengakui telah membunuh Teungku Marhaban dan anaknya untuk memperoleh harta benda yang dibawa saudagar itu. Tersangka pun dijatuhi hukuman berdasarkan hukum adat kala itu.
Untuk mengenang sejarah itu, masyarakat setempat pun akhirnya menamakan kawasan tersebut dengan naman Dusun Kubu Aneuk Manyak, masuk ke wilayah Gampong Tungkop, Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat. Bahkan, di samping makam dibangun sebuah musholla oleh Bank BPD Aceh yang diberi nama Al-Muhajirin, sebagai tempat beribadah bagi para pengguna jalan yang singgah di sana.
Demikianlah sekilas cerita ”Kuburan Aneuk Manyak” yang menyertai kepulangan saya kali ini, mudah-mudahan menarik minat Anda yang melintas untuk singgah sejenak di sana. Saya harus melanjutkan "perjalanan" menemui beberapa bidadari saya, yang sudah menunggu.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Senin, 20 Juli 2009
MAKNA ISRA' MI'RAJ
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa 'ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.
Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.
Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya." Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.
Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat.
Dalam bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.
Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya.204 Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai'i.205 Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra' adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.
Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor "ratu". Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa "malu" yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.
Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia mukmin, menurut Rasul, adalah "bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu."
Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.
Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan "telah datang ketetapan Allah," mengapa dinyatakan-Nya juga "jangan meminta agar disegerakan datangnya"? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya "kun" (jadilah), maka jadilah ia (QS 16:40).
Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa.
Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.
Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.
Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).
Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.
Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).
Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."
Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.
Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.
Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.
Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra' dan Mi 'raj terjadi, tetapi mengapa Isra' dan Mi 'raj.
Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra'-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra'), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.
Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.
Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.
Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut." Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.
Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra' dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).
Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).
Ditekankan dalam surat ini bahwa "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan" (QS 17:27).
Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).
Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra' ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).
Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan "jalan tengah" itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah:
Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).
Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).
Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra' sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
sumber ; media.isnet.org
Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.
Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya." Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.
Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra' dan Mi'raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.
Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat.
Dalam bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra' dan Mi'raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.
Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya.204 Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai'i.205 Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra' adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.
Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor "ratu". Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa "malu" yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.
Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra' dan Mi'raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia mukmin, menurut Rasul, adalah "bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu."
Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.
Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan "telah datang ketetapan Allah," mengapa dinyatakan-Nya juga "jangan meminta agar disegerakan datangnya"? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya "kun" (jadilah), maka jadilah ia (QS 16:40).
Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa.
Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.
Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.
Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).
Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.
Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).
Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."
Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.
Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.
Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.
Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra' dan Mi 'raj terjadi, tetapi mengapa Isra' dan Mi 'raj.
Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra'-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra'), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.
Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem. Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.
Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya.
Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: "Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut." Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.
Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra' dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).
Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).
Ditekankan dalam surat ini bahwa "Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan" (QS 17:27).
Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).
Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra' ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).
Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan "jalan tengah" itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah:
Katakanlah wahai Muhammad, "Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing." Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).
Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra' dan Mi'raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: "Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan)." Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).
Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra' sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
sumber ; media.isnet.org
Langganan:
Postingan (Atom)