Minggu, 05 Juli 2009
Leopold Werner von Ehrenfels
Berikut adalah kisah seorang Muallaf Austria, semoga dengan merenungi jejaknya, makin menguatkan pondasi iman kita, terutama bagi kita yang sejak lahir sudah Muslim. Silahkan simak kisahnya berikut ini.........
Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk (patuh) pada hukum yang abadi (ketentuan Allah).
Sejak masa kanak-kanak, Leopold Werner von Ehrenfels telah memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia Timur, khususnya dunia Islam. Demikian sepenggal kisah yang disampaikan saudara perempuannya, seorang penyair berkebangsaan Austria, Imma von Bodmershof, dalam sebuah artikel majalah sastra Islam Lahore terbitan tahun 1953, tentang Leopold Werner von Ehrenfels, yang kemudian berganti nama menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.
Ketertarikan Rolf, demikian biasa ia disapa, pada dunia Timur kemudian diwujudkan dengan mengunjungi negara-negara Balkan dan Turki manakala ia menginjak usia dewasa. Di setiap negara yang dikunjunginya, Rolf kerap mengikuti shalat berjamaah di masjid-masjid yang disambangi, meski pada saat itu dia masih seorang Nasrani. Apa yang dilakukan Rolf ini mendapat sambutan baik dari kaum Muslimin Turki, Albania, Yunani, dan Yugoslavia.
Sejak saat itu, perhatiannya terhadap Islam semakin bertambah, hingga akhirnya dia menyatakan masuk Islam pada tahun 1927. Setelah resmi memeluk Islam, Guru Besar Antropologi University of Madras ini kemudian memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.
Pada tahun 1932, Rolf mengunjungi anak benua India dan Pakistan. Selama di sana, dia sangat tertarik mempelajari soal-soal kebudayaan dan sejarah yang berhubungan dengan kedudukan wanita dalam Islam. Sekembalinya ke Austria, Rolf mengkhususkan diri dalam mempelajari soal-soal antropologi dari Matrilineal Civilization di India. Apa-apa yang dia pelajari mengenai antropologi Matrilineal Civilization di India, kemudian dia tuangkan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh The Oxford University Press. Buku ini merupakan buku antropologi pertama yang ditulis oleh Rolf.
Pada waktu Austria diduduki oleh pasukan Nazi Jerman tahun 1938, Rolf memutuskan untuk pergi lagi ke India dan bekerja di Hyderabad atas undangan Sir Akbar Hydari. Selama bermukim di India untuk kali kedua ini, Rolf mempelajari soal-soal antropologi di wilayah India Selatan dengan mendapat bantuan dari Wenner Gern Foundation New York di Assam.
Sejak tahun 1949, ia ditunjuk menjadi kepala bagian Antropologi pada University of Madras. Dan, pada tahun itu juga, Rolf mendapat medali emas SC Roy Golden Medal atas jasa-jasanya dalam bidang Sosial and Cultural Antropology dari Royal Asiatic Society of Bengal.
Di antara sekian banyak karangannya tentang Islam dan ilmu pengetahuan, ada dua jilid buku tentang antropologi India dan dunia, Ilm-ul-Aqwam (Anjuman Taraqqi-Delhi, 1941) dan sebuah risalah tentang suku bangsa Cochin dengan judul Kadar of Cochin (Madras, 1952).
Kebenaran Islam
Menurut Rolf, seperti dikutip dari buku Mengapa Kami Memilih Islam, Islam merupakan agama besar yang sangat berpengaruh atas jiwanya. Setidaknya, kata anak laki-laki satu-satunya dari Baron Christian Ehrenfels, pembangun teori 'Structure Psychology Modern' di Austria, ada delapan alasan yang telah menggugah kesadaran dalam dirinya tentang kebenaran agama Islam.
Ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan berangsur-angsur itu, ungkap Rolf, telah menunjukkan kepadanya bahwa agama-agama besar keluar dari hanya satu sumber. ''Bahwa orang-orang yang membawa kerasulan besar itu hanya membawa ajaran-ajaran Tuhan yang Satu. Dan, bahwa beriman kepada salah satu kerasulan ini berarti mencari iman dalam cinta kasih.''
Bagi Rolf, Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk kepada hukum yang abadi. Sedangkan ditinjau dari sudut sejarah, ungkapnya, Islam merupakan agama besar terakhir di atas planet bumi ini. Nabi Muhammad SAW adalah rasul Islam dan mata rantai terakhir dalam rangkaian para rasul, yang membawa risalah-risalah besar.
Islam, tambah Rolf, juga menonjol dalam hal penerimaan dan cara hidup kaum Muslimin oleh penganut agama yang terdahulu. ''Berarti dia melepaskan diri dari agamanya yang dahulu,'' kata dia. Hal ini sama seperti memeluk ajaran-ajaran Buddha, yang berarti melepaskan diri dari ajaran-ajaran Hindu.
Namun, agama-agama yang berbeda-beda itu, menurut dia, sebenarnya hanya buatan manusia, sedangkan kesatuan agama itu dari dan bersifat ketuhanan. ''Ajaran-ajaran Alquran-lah yang menekankan atas prinsip kesatuan ini. Dan, percaya atas kesatuan agama berarti menerima satunya fakta kejiwaan yang umum diterima oleh semua orang, pria dan wanita,'' paparnya.
Hal menonjol lainnya adalah ajaran Islam menekankan jiwa persaudaraan kemanusiaan, yang meliputi semua hamba Allah. Ini berbeda dengan konsep rasialisme atau sukuisme yang berdasarkan perbedaan bahasa, warna kulit, sejarah tradisional, dan lain-lain dogma alami.
Selain itu, menurut Rolf, Islam memberikan kedudukan yang mulia dan hak yang sebesar-besarnya kepada kaum perempuan. Dalam pengertian inilah, Rasulullah SAW bersabda dalam kata-katanya yang tidak bisa dilupakan oleh para pengikutnya, "Surga itu di bawah telapak kaki kaum ibu."
Agama Islam, dinilai Rolf, sangat menghargai hasil karya umat dari agama lain dengan tidak menghancurkannya. Hal tersebut bisa kita lihat dari bangunan Gereja Aya Sophia di Istanbul, Turki, yang dialihfungsikan menjadi masjid manakala tentara Islam berhasil menguasai wilayah tersebut. Penguasa Islam saat itu hanya mengubah desain interior bekas bangunan gereja tersebut, agar mirip dengan Masjid Sultan Ahmad atau Muhammad al-Fatih (Masjid Biru) di Istanbul. Bukti sejarah ini, kata dia, telah menunjukkan bahwa umat Islam pada dasarnya mencintai perdamaian dan kasih sayang terhadap umat dari agama lain. dia/berbagai sumber
Biodata:
Nama : Leopold Werner von Ehrenfels
Nama Islam : Baron Omar Rolf von Ehrenfels
Masuk Islam : 1927
Tempat/Tanggal Lahir: Austria, 28 April 1901
Wafat : 1980
sumber : Republika
MEMILIH PRESIDEN
Menjelang hari Pemungutan Suara Pilpres tanggal 8 Juli mendatang, saya masih agak bimbang. Secara jujur, saya mengatakan bahwa saya bingung mau memilih siapa.. Dulu, saat-saat Pemilu legislatif, saya masih mengagumi SBY sebagai sosok yang masih pantas untuk meneruskan jabatan satu periode lagi. Namun seiring waktu, keraguan pada SBY makin mengental saja. Bukan berarti berkhianat "bathin" untuk memilih Calon yang lain. Namun, saya merasa, dari ketiga pasangan yang ada saat ini tidak ada yang pantas menjadi Presiden Indonesia. Memang kalau ditinjau dari berbagai sisi, SBY sedikit lebih baik ketimbang Calon Presiden yang lain. Apalagi bila dikaitkan dengan Provinsi Aceh.
SBY telah mengambil berbagai kebijakan yang strategis tentang masa depan Aceh, bukan hanya saat menjabat Presiden, namun jauh sebelumnya yaitu saat masih menjadi Menko Polkam dalam Kabinet Megawati. Beliau rajin mengupayakan perdamaian Aceh, walaupun saat itu ybs tidak punya kewenangan lebih karena masih jadi anak buah Bu Mega. Dan seingat saya, kalau tidak salah, pada saat pengambilan keputusan penetapan Darurat Meliter untuk Aceh tanggal 18 Mei 2003, SBY sudah diluar Kabinet. SBY merehabilitasi keputusan Bu Mega tentang Darurat Sipil setelah beliau menjadi Presiden, kemudian meneruskan cara-cara yang bermartabat dalam penyelesaian masalah Aceh di forum internasional.
Memang, MoU Helsinki yang disepakati beberapa bulan setelah tsunami, bukan hanya "milik" SBY. Jusuf Kalla yang sekarang bersaing dengan SBY dalam Pilpres juga punya peran penting. Bersama rekan-rekannya dari Makassar (Bugis Connection), beliau juga sangat berjasa. Pendekatan dengan cara Bugis (seperti yang diceritakan oleh dr.Farid Hussen kemudian hari), merupakan salah satu kunci penting tercapainya kata sepakat dengan para petinggi GAM di luar negeri. Namun, bagaimanapun cara pendekatan yang dilakukan oleh JK dkk tentu tidak akan berhasil bila tidak disetujui oleh SBY, Presiden RI. Jadi dalam hal tercapainya perdamaian di Aceh, peran keduanya sebagai Presiden maupun sebagai Wapres sangat kental.
Bagaimana dengan Bu Mega...? Bagi sebagian orang Aceh tentu tidak akan melupakan pahitnya operasi meliter 6 tahun yang lalu, yang berlangsung di bawah kekuasaannya. Bagaimana harkat dan martabat masyarakat Aceh jatuh ke titik nadir saat operasi meliter berlangsung. Memang di satu sisi, apa yang diputuskannya "dapat" diterima dengan alasan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Namun disisi lain, "tidak dapat" diterima karena mempertahankan NKRI tidak harus dengan menerjunkan ratusan ribu pasukan ke Aceh. Buktinya SBY-JK dapat meredam gejolak di Aceh tanpa perang.
Belum lagi bila mengingat, bahwa sebelumnya (maksudnya sebelum DM/DS) Bu Mega pernah berjanji tidak akan ada setetespun darah orang Aceh dalam penyelesaian masalah Aceh.
Bila mengingat sepak terjang Bapaknya, Bung Karno, pasca kemerdekaan, rasanya semakin jelas arah pilihan orang Aceh. Masyarakat Aceh terluka oleh sejarah kepemimpinan dua orang anak beranak tersebut.
Pada kesempatan ini, saya tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan Mega dan memilih SBY maupun JK. Opini tentang ketiga Capres itu, terserah masing-masing. Ini hanya pendapat saya. Dan saya sendiri juga belum menentukan pilihan. Seperti yang saya kemukan di atas, saya masih bimbang.
Selain melihat dari sisi perdamaian, tentu ada beberapa indikator lain yang bisa kita pakai untuk menilai ketiganya. Saya tidak ingin mendzalimi, hanya saja beberapa catatan pantas ditulis.
SBY selama berkuasa, jelas banyak membawa kemajuan bagi bangsa ini, bersama JK. Saya tidak sempat lagi menyebutkan satu persatu, kalu anda mengikuti kinerjanya selama 5 tahun, anda pasti sudah mencatatnya sendiri beberapa keberhasilan itu. Hanya saja, kelemahannya juga banyak. Salah satu yang terkait dengan ummat adalah ketidaktegasannya membubarkan Ahmadiyah. Padahal sudah jelas hasil kajian Ulama, termasuk di beberapa negara Islam lainnya, bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan di negara lain dengan tegas dinyatakan bahwa Sesat.
Masalah ummat yang lain adalah "membiarkan" industri pertelivisian di Indonesia menyajikan tayangan "sampah" ke hadapan kita semua pemirsa Indonesia. Kalau pemimpin kita seorang yang tegas dan mengerti dampak dari "Bollywoodisasi" terhadap moral generasi muda kita, tentu akan bertindak tegas. Walaupun KPI adalah lembaga independen, sebagai Kepala Negara, SBY seharusnya wajib mengingatkan KPI, agar lebih berani dalam bertindak.
Dalam hal pemberantasan korupsi, kita memberi apresiasi. Namun perlu dicatat, pemberantasan korupsi masih tebang pilih. Putusan hukuman 4,5 tahun Pengadilan Tipikor terhadap besan SBY, Aulia Pohan tidak bisa mengklarifikasi adanya bahwa tidak ada tebang pilih dalam kasus korupsi. Tentu pembaca masih ingat kasus korupsi yang menimpa Anggota KPU periode lalu, bagaimana Hamid Awaluddin tidak tersentuh hukum, malah kemudian menjadi Menteri dan Dubes. Prof.Dr.Nazaruddin Syamsyuddin sendiri rela hidup dalam pengapnya penjara. Lebih dari itu, beliau "diharuskan" mencoreng semua prestasi dan kehormatan selama mengabdi kepada bangsa, baik sebagai Ketua KPU, maupun sebagai pakar ilmu politik.
Kasus Bank Indonesia juga demikian, Pak Bur, Pak Aulia, Pak Rusli semua jadi terhukum. Pak Anwar Nasution masih tenang-tenang saja sebagai Ketua BPK. Padahal saat itu posisinya sama persis dengan rekan-rekannya yang sudah terhukum.
JK bagaimana ? Sama seperti SBY juga. Kita tidak menutup mata dengan beberapa keberhasilannya. Namun kita juga mencatat, bahwa selama beliau menjadi Wapres, banyak orang Makassar mendapat posisi penting di negeri ini. Selain membawa gerbong Makssar, dia juga membawa gerbong Golkar dalam pemerintahan. Memang secara umum, tidak terlihat kekurangannya selama ini, namun bukan berarti beliau bersih-bersih saja. Semua kritikan terhadap kebijakan Pemerintah sudah terlanjur dialamatkan kepada Presiden, walaupun ada diantara kebijakan-kebijakan itu adalah buah dari JK.
Dan akhir-akhir ini malah JK ikut mengkritik Bosnya, seakan-akan kebijakan yang tidak populer sepenuhnya berasal dari SBY.
Sebagai Muslim, satu-satunya pertimbangan terhadap JK (maupun Wiranto) adalah istrinya telah menutup aurat. Walaupun saya belum mendapat informasi, tentang ketaatan terhadap ajaran agama mereka sehari-hari.
Track record Mega malah lebih parah. Bukan hanya masalah Aceh yang kita catat. Selama memimpin negeri ini 2,5 tahun, tidak ada prestasi yang menonjol yang dicatatnya. Malah menjadi boneka bangsa asing. Kita ingat bagaimana saat itu ia "menjual" BUMN kepada bangsa asing. Penjualan kapal tanker dibawah harga standar kepada Korea, juga merugikan bangsa Indonesia. Perjanjian bagi hasil pertambangan di Papua juga merugikan bangsa ini. Belum lagi soal issue keterlibatan asing dalam "pembuatan" UU Migas tahun 2002. Seperti kita ketahui, UU Migas produk dari DPR periode 1999-2004 yang didominasi oleh PDI Perjuangan. Dan disinyalir keterlibatan pihak asing dalam membiayai lahirnya UU tersebut.
Bagaimana dengan ketiga Cawapres ? Pada kesempatan ini tidak akan saya bahas, mengingat apapun track recordnya, pengambilan keputusan di negeri ini tetap pada Presiden. Jadi menurut saya, peran Wakil Presiden belum terlihat. Kalaupun selama ini JK sudah mulai menunjukkan, bahwa Wapres bukan ban serep, tetapi tetap saja tidak maksimal.
Kesimpulan dari tulisan saya di atas adalah secara umum tidak ada prestasi yang patut dibanggakan oleh Capres kita. SBY, JK dan Mega bukan yang terbaik. Kalaupun harus memilih, saya akan benar-benar menhitung baik-buruknya pilihan saya. Dan masih ada waktu tiga hari lagi untuk memutuskan.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Jumat, 03 Juli 2009
SAJAK LAUT
suara ombak pantai Ujung Tanah
tetap saja
bukan penawar
bagi sekeping hati yang gelisah
indahnya.....
Panorama pantai Samadua
tetap saja
bukan obat
bagi perasaan yang gundah
birunya Samudera....
makin lautkan rindu,
rindu pada Dinda,
pada Fildza,
pada Mazaya
dan pada kampung halaman.
karya : mukhlis aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Rabu, 24 Juni 2009
MENGENAL BERAGAM KECERDASAN
Gardner menyebutkan ada 9 kecerdasan yang mungkin dimiliki seseorang :
· Kecerdasan Pertama : logis-matematis
· Kecerdasan Kedua : linguistic-verbal (kebahasaan)
· Kecerdasan Ketiga : spasial-visual
· Kecerdasan Keempat : musikal
· Kecerdasan Kelima : kinestetik-ragawi
· Kecerdasan Keenam : naturalis
· Kecerdasan Ketujuh : intrapersonal
· Kecerdasan Kedelapan : interpersonal
· Kecerdasan Kesembilan : eksistensial
Kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan bahasa sering dikategorikan sebagai kecerdasan intelektual yang dulu sering dianggap sebagai faktor kepintaran seseorang. Padahal ada kecerdasan visual, musikal dan kinestetik-ragawi yang juga bisa mempengaruhi keberhasilan dalam dunia kerja. Enam kecerdasan tersebut bisa dikelompokan sebagai kategori keterampilan yang setidaknya harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat bertahan hidup.
Tiga kecerdasan berikutnya, yakni naturalis, intrapersonal dan interpesonal dapat membantu seseorang untuk meraih kesuksesan dalam berkarir, berkeluarga dan hubungan antar sesama dan juga terhadap alam. Kecerdasan ini mencakup kemampuan membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, serta hasrat keinginan diri sendiri dan orang lain. Salah satu peneliti yang mendukung kecerdasan emosi ini adalah Daniel Goleman, yang terkenal dengan bukunya, Emotional Intelligence.
Sedang kecerdasan spiritual dapat membantu seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya karena sudah menyadari makna hidup itu sendiri. Seseorang yang mengasah kecerdasan spiritualitasnya akan memiliki kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter dan nilai hidup yang dimilikinya.
Beragam aspek kecerdasan dalam diri seseorang secara bersama-sama membangun tingkat kecerdasan orang tersebut. Kecerdasan beragam inilah yang membuat masing-masing orang memiliki kepribadian yang unik dan tidak sama satu dengan yang lainnya. Seseorang bisa memiliki beberapa bahkan semua kecerdasan tersebut dengan selalu mengasah dan melatih semua potensi yang ada pada dirinya.
Konsep kecerdasan majemuk yang digagas oleh Howard Gardner ini telah mengoreksi keterbatasan cara berpikir konvensional yang seolah-olah hanya melihat kecerdasan dari nilai ujian atau tes intelegensi semata. Padahal untuk memperoleh kesuksesan dan terlebih kebahagiaan dalam hidup lebih banyak disumbangkan oleh kecerdasan yang bermuara dari hati.
Dirangkum dari berbagai sumber.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan
Senin, 15 Juni 2009
RINDU 2
Semua yang saya tinggalkan, merupakan "asset" yang tiada terkira nilainya. Dan karenanya, rindu saya pada semua itu tidak terkendalikan.... Saya harus menumpahkan selaksa rindu. Kepada siapa ? Kepada pantai elok Samadua ? atau kepada Tapak Naga? Tentu tidak! Kepada Allah-lah kiranya tempat mengadu, semoga rindu saya bermuara.
Saya telah seminggu menjalani hari-hari yang agak "asing" di Samadua, Aceh Selatan. Bukan masyarakatnya yang asing. Mereka malah sangat baik, penduduknya ramah, terbuka pada setiap orang, termasuk pada saya dan rekan-rekan lain dari "utara"...... Saya hanya merasa "asing" pada dunia baru saya yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya seperti angkatan laut yang diminta untuk terjun payung. Saya bukanlah seorang infanteri batalion A dipindahkan ke batalion B.
Berbeda dengan mereka, karena saya tidak saja harus memahami masyarakat yang selama ini tidak pernah saya gauli, namun lebih dari itu, karena saya juga harus mempelajari dunia baru yang "asing". Namun sampai hari kesembilan, saya belum menemukan kendala berarti. Sejauh ini, saya masih diberi kemudahan oleh Allah SWT termasuk bagaimana komunikasi saya dengan lingkungan baru. Saya sangat terbantu dengan cara-cara komunikasi yang selama ini saya terapkan. Saya adalah tipe orang yang terbuka.
Dalam pelaksanaan tugas baru, saya telah merasakan bantuan teman-teman, terutama bantuan dari Asisten FK di lapangan. Mereka layaknya bukan sebagai bawahan, tapi lebih sebagai teman yang juga senang dengan manajemen terbuka. Selama seminggu, saya mendiskusikan berbagai persoalan sambil juga saya belajar tentang pemberdayaan lebih mendalam. Saya yakin dengan filosofi bahwa kalau saya gagal karena diri saya, namun kalau berhasil dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari dukungan mereka. Saya suka sepakbola, jadi saya anggap saya adalah Coach, sementara mereka adalah pemain. Saling memahami, saling dukung dan saling pengertian untuk menerjemahkan semua tujuan agar berhasil dalam pertandingan.
Saat ini kami baru memulai pertandingan atau setidaknya 20 menit pertama. Masih 70 menit lagi pertandingan baru selesai. Banyak pekerjaan menanti kami didepan mata, yang tentu saja harus kami selesaikan dan menangkan. Dan sebagai pribadi, saya harus bisa menahan rasa rindu. Saya harus realistis, bahwa saat ini saya adalah kader pemberdayaan di Samadua, bukan di Kota Juang tercinta.
Sementara, Fildza dan Mazaya harus sabar.... Ibunya juga harus rela; tidak ada tangan yang mengelus denyut nadi dan gerak lembut calon pengisi daftar Kartu Keluarga selanjutnya.
Gerak riak pinggiran pantai Ujung Tanah mulai suburkan kecintaan pada Samadua. Kalau suatu saat, aku harus meninggalkannya dan kembali ke Kota Juang, aku akan mencatat sebuah memori. Pantai dan keindahan alam Samadua, telah suburkan rindu dan membantu aku lahirkan coretan-coretan kertas buram sebagai pelampiasan rindu pada Dinda, rindu pada Fildza, rindu pada Mazaya...............
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Rabu, 03 Juni 2009
MERANTAU
Namun dalam dua hari ini, saya merasakan kata itu lebih bermakna, karena mungkin esok atau lusa saya akan meninggalkan keluarga menuju Aceh Selatan, melaksanakan tugas sebagai Fasilitator PNPM. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat, namun harus ''mengorbankan'' hari-hari penuh cinta bersama keluarga.
Merantau, bagi saya sebenarnya bukan pertamakali. Sejak tamat SMA PGRI 1 Bireuen tahun 1991 saya sudah meninggalkan orangtua & adik-adik di Leubu Me, demi menempuh pendidikan di Banda Aceh. Delapan tahun di Banda Aceh, jiwa merantau saya makin mengkristal dan saya berani melangkah lebih jauh ke Jambi tahun 1998 untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Setelah lima tahun disana, pulang ke Aceh bukan ke tempat orangtua, melainkan juga ''merantau'' ke Pulo Kiton sampai sekarang. Walau bukan merantau jauh, namun bisalah bila dikatakan hijrah karena saya tinggal di Pulo Kiton juga karena saya terikat pekerjaan di Kota Juang.
Rupanya memang saya ditakdirkan harus merantau lagi lebih jauh, tidak cukup 30 menit perjalanan bila saya ingin menjenguk orangtua saya. Saya akan berangkat ke Samadua, sebuah kecamatan yang selama ini sangat terkenal dengan objek wisatanya, Air Terjun tujuh tingkat.
Karena sudah lama tidak pernah berpisah jauh dengan anak-anak maupun ibunya, nampaknya langkah saya memang agak berat. Harus saya akui, saya agak melankolis, apalagi bila mengingat bakal calon adik Mazaya. Perasaan saya berbeda jauh dibandingkan 11 tahun lalu, ketegaran saya sekokoh batu karang.
Hari ini saya asyik membuka berbagai referensi tentang Samadua maupun Aceh Selatan. Sebenarnya tidak terlalu urgen, namun perlu saya lakukan untuk menjelaskan kepada isteri maupun anak sulung, Fildza, berapa jauh dan jarak yang perlu ditempuh menuju kesana. Agar mereka tenang-tenang saja melepaskan saya pergi, merantau. Dan setelah melihat data-data yang saya unduh di Google, mereka tenang dan memberi support. Alhamdulillah......
Mereka berfikir positif, saya merantau demi mereka juga.....
Mudah-mudahan saya tegar membendung rasa kangen. Saya yakin rindu saya pada mereka akan bermuara. Terima kasih atas support kalian.....
Mukhlis Aminullah
Selasa, 02 Juni 2009
KELUARGA SAKINAH
Orang sering menyebut-nyebut tentang “masyarakat madani”. Sebuah gambaran tentang masyarakt sukses yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Islam menghendaki agar pilar-pilarnya dibangun pertama kali di dalam dada individuà kemudian di dalam sebuah rumah tanggaà kemudian dalam sebuah masyarakatà kemudian sebuah negaraà kemudian sebuah khilafahà kemudian di atas seluruh permukaan bumià sebelum akhirnya tegak di seluruh alam semesta ini, Insya Allah.
Keluarga merupakan salah satu elemen yang akan membangun sebuah masyarakat, dan seperti tadi telah disebutkan, menegakkan Islam dalam keluarga merupakan salah satu tahapan dalam mewujudkan cita-cita Islam. Dengan pemahaman tentang ini tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa sebuah keluarga sakinah (Keluarga yang berhasil menurut standar Islami) adalah cerminan sebuah masyarakat madani. Sedangkan masrakat madani sendiri merupakan standar Islami tentang sebuah masyarakat yang ”makmur, aman, tentram dan damai”.
Kira-kira apakah ciri-ciri persamaannya dan apakah cara mewujudkannya juga akan sama dengan cara mewujudkan karakteristik masyarakat madani ?. Dalam tulisan kali ini Insya Allah akan coba diuraikan beberapa ciri / karakteristik masyarakat madani yang tumbuh dari kumpulan keluarga sakinah.
Keluarga Robbani
Sebagaimana salah satu ciri masyarakat madani adalah bersifat Robbani, maka keluarga sakinah juga berciri robbani. Artinya, di dalam keluarga / masyarakat tersebut setiap anggotanya berusaha untuk berlomba di dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai Perekat utama keluarga/ masyarakat. Mereka menyadari betul bahwa hanya Allah sajalah yang pantas di jadikan tempat meminta bagi terwujudnya kebahagiaan bersama. Sebab mereka meyakini firman Allah sebagai berikut:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” (4:1)
Sebuah keluarga sakinah tidak pernah menjadikan variabel keduniaan sebagai faktor utama munculnya soliditas internal keluarga. Mereka juga percaya bahwa hanya dengan taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah) dan menegakkan aturan Allah sajalah maka kebahagiaan, kasih-sayang dan kecintaan sejati akan dirasakan di dalam keluarga. Suatu bentuk kebahagiaan yang tidak dibatasi selama hidup di dunia semata, melainkan jauh hingga berkumpul kembali di akhirat. Demikian juga dalam masyarakat madani di mana hukum Allah ditegakkan dengan sempurna.
Ayat pertama yang turun kepada Nabi kita Saw adalah ayat tadi: ” Bacalah!”, pelajarilah!
Keluarga sakinah adalah keluarga yang cinta ilmu, seperti juga masyarakat madani. Mereka saling belajar dan saling mengajarkan, antara yang tua kepada yang muda maupun sebaliknya. Keluarga yang menghargai ilmu sehingga menempatkan ahli ilmu di tempat yang dihormati, mencari ilmu dan mengajarkannya, serta kemudian bersyukur kepada Allah atas ilmu dan berkah ilmu, dan menggunakannya di jalan Allah. Keluarga sakinah tidak bersikap jumud maupun liberal dalam mensikapi ilmu. Seorang bapak menganjurkan anaknya untuk menuntut ilmu, membiayainya, kemudian juga menghormati anaknya yang mau membagi ilmu itu kepadanya dan siap menerima nasehat anaknya dengan ilmu yang dia (anak itu) pelajari dari gurunya. Bahkan sebelum itu sang bapak-lah yang mencarikan guru terbaik untuk anaknya itu. Singkatnya keluarga sakinah/ rabbani terdiri dari anggota keluarga yang telah manghayati sabda Rasulullah saw berikut:
“Barangsiapa ingin berhasil di dunia, tuntutlah ilmu. Barangsiapa ingin berhasil di akhirat, tuntutlah ilmu. Dan barangsiapa ingin berhasil di dunia dan di akhirat, tuntutlah ilmu.”
Meskipun demikian anggota keluarga sakinah tetap berpegang pada prinsip :
”pendapat siapapun dapat diterima dan ditolak, kecuali dari Allah dan RasulNya yang kita terima tanpa keraguan”.
Keluarga Yang Cinta Damai
Keluarga sakinah, seperti juga masyarakat madani, selalu berusaha untuk tampil sebagai rahmat bagi sekelilingnya. Dalam lingkungan yang kecil di dalam keluarga, suasana saling cinta mendasari hubungan antara mereka. Kakak dan adik saling cinta, bapak dan ibu menjadi teladan mereka. Bahkan dengan anggota keluarga temporer (misalnya pembantu rumahtangga) juga disayangi seperti keluarga sendiri, tidak direndahkan dan dianggap sebagai orang suruhan belaka.
Di lingkungan yang lebih besar di luar rumah, di antara tetangga, anggota-anggota keluarga sakinah memperlihatkan sikap dan sifat yang sama, bersikap santun kepada tetangga, tukang jualan, tukang sampah, penunggu warung, dan siapa saja yang ada di lingkungannya. Anak-anak keluarga sakinah akan dikenali dari akhlaknya yang santun, menghormati yang tua, menyayangi yang kecil, tidak suka mengganggu atau merugikan orang lain, jujur ketika berjual beli dan bertutur-kata. Siapapun yang melihat mereka akan berharap anak mereka-pun bersikap serupa, karena kesantunan dan kebaikan akhlak mereka. Anak-anak seperti ini akan menjadi cahaya mata bagi orang tua mereka, bahkan juga bagi lingkungannya. Siapapun akan bangga memiliki warga seperti mereka. Singkatnya mereka berusaha meneladani Rasulullah saw dalam hal yang Allah isyaratkan di dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (21:107)
Keluarga Yang Egaliter
Keluarga sakinah selalu berusaha mewujudkan suasana “sama tinggi sama rendah” di dalam rumah. Setiap anggota keluarga tidak hanya dikenalkan kewajiban yang harus dipenuhinya, melainkan juga diberitahu akan hak-hak yang dimilikinya. Baik ayah, suami, ibu, isteri maupun anak-anak bahkan pembantu menyadari bahwa ia memiliki hak-hak yang perlu dijaga dan dipenuhi. Dan fihak pertama yang harus memastikan bahwa hak-hak ini terpenuhi adalah kepala keluarga. Bukanlah sebuah miniatur masyarakat Islami atau madani bila yang memperoleh pemenuhan hak hanya sang ayah atau suami sedangkan anak dan isteri hanya punya daftar kewajiban. Misalnya dalam hal saling menasehati. Bukan hanya ayah kepada anak atau ibu kepada anak atau suami kepada isteri terdapat hak menasehati. Melainkan sebaliknya hendaknya dipastikan bahwa anakpun boleh dan dijamin memberikan nasehat kepada orang-tua atau isteri menasehati suami. Inilah miniatur masyarakat Islami dan madani. Ketika Umar bin Khattab berdiri di depan ummat pada hari dilantiknya menjadi khalifah, maka bangunlah seorang lelaki mengangkat pedangnya tinggi-tinggi seraya berujar: “Hai Amirul mu’minin, seandainya perjalanan kepemimpinanmu melenceng dari garis ketentuan Allah dan RasulNya, niscaya pedangku ini akan meluruskanmu.” Maka dengan tawadhu/ rendah hatinya Umar menjawab: “Alhamdulillah ada seorang lelaki ditengah ummat yang Umar pimpin akan meluruskanku tatkala aku menyimpang.” Dan pada saat itu tidak ada seorangpun yang menuduh lelaki tersebut sebagai tidak percaya atau tidak tsiqoh akan kepemimpinan Amirul mu’minin Umar bin Khattab ra. Justeru ke-tsiqoh-annya kepada Umar menyebabkan lelaki tersebut begitu leluasanya menyampaikan aspirasi secara asli dan apa adanya. Hal ini menunjukkan betapa egaliternya suasana masyarakat Islam kala itu. Dan setiap warga menjadi seperti itu karena lahir dari keluarga-keluarga yang memang sejak dini menanamkan nilai-nilai egaliter di rumah masing-masing.
Wallahu a’laam
Siti Aisyah Nurmi, majalah Eramuslim.
CATATAN ULANG TAHUN
Tidak perlu anda jawab, karena ini buka kuis mata kuliah di kampus. Dan yang pasti adalah beragam jawaban yang akan muncul, tergantung pada diri anda masing-masing. Bisa saja angka 36 tidak berarti apa-apa bagi anda......
Nah, bagi saya angka 36 itu penting, terutama hari kemarin.... Bagaimana kisahnya..?
Jum'at, tanggal 1 Juni 1973 orangtua saya memulai sebuah catatan penting dalam mengarungi kehidupan. Saya adalah putra pertama dari pasangan Bpk Aminullah Amin dengan Ibunda Aisyah Umar. Dari merekalah saya mengetahui angka 36 itu dimulai. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun terus berlalu sampai saya harus mencatat sendiri angka-angka itu.... Beruntung, setelah saya berkeluarga, isteri dan anak-anak saya tak lupa mencatat perubahan angka-angka itu. Walaupun hanya setahun sekali.....
Setiap tahun ketika saya harus melewati tanggal 1 Juni, saya mendapat hadiah yang berbeda dari isteri dan anak-anak saya. Namun, satu hal yang tidak berbeda adalah saya selalu merenungi pertambahan usia itu dan memaknainya dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Tidak dengan pesta ataupun tiup lilin gaya Amerika, namun cukup dengan sujud syukur sebagai tanda berterima kasih pada Sang penguasa semesta alam.
Bagaimana dengan hadiah tahun ini....? Ini dia ceritanya.
Saya pulang dari Banda Aceh mengikuti pelatihan Calon Fasilitator hari Minggu siang. Tiba dirumah sudah jam 21.30 wib menjelang penggantian hari. Saya disambut dengan pelukan hangat dua anak saya sambil mengucapkan selamat ulang tahun.... Betapa terharunya moment itu. Rasa capai setelah menempuh perjalanan dari Banda Aceh, hilang seketika.....
Apalagi ruang tamu rumah kami yang sempit sudah dihiasi dengan bunga kertas karya mereka. Sederhana, namun punya makna mendalam..... (Terima kasih anak-anak, ayah sayang banget sama kalian).
Hadiah dari ibunya anak-anak apa? Sengaja dari tadi belum saya sebutkan, karena ingin saya tulis pada akhir cerita ini.....
Ibunya Fildza & Mazaya memberi hadiah kejutan yang luar biasa. Bukan dompet, bukan celana, bukan tali pinggang maupun dalam bentuk barang-barang lainnya. Sesuatu yang luar biasa adalah ketika menjelang penggantian menit menuju 00.00 wib malam tanggal 1 Juni 2009 adalah saat dia memberikan sebuah hasil tes kehamilan yang menunjukkan Positive. Wow......
Sungguh saya sangat berbahagia. Saya membayangkan, seakan-akan dia sudah lahir saja. Seorang bayi kecil, laki-laki atau perempuan, tidak masalah. Yang saya bayangkan adalah pipinya pasti berisi seperti kedua kakaknya.
Sejak kemarin, saya terus menghitung waktu..... menghitung berapa ya kira-kira sisa usia saya.. ataupun berapa lama lagi si bayi mungil saya bakal lahir.... Mari kita nantikan, karena sebagai hamba, kita hanya bisa berharap diberi umur panjang, diberi anak-anak yang sehat, diberi isteri shalihah, diberi rezeki yang halal, dan sebagainya.
Terima kasih, Tuhan. Semoga rahmat-Mu terus berlanjut ya Allah..........
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Bireuen, Aceh.