Rabu, 03 Juni 2009
MERANTAU
Namun dalam dua hari ini, saya merasakan kata itu lebih bermakna, karena mungkin esok atau lusa saya akan meninggalkan keluarga menuju Aceh Selatan, melaksanakan tugas sebagai Fasilitator PNPM. Sebuah pekerjaan yang sebenarnya tidak terlalu berat, namun harus ''mengorbankan'' hari-hari penuh cinta bersama keluarga.
Merantau, bagi saya sebenarnya bukan pertamakali. Sejak tamat SMA PGRI 1 Bireuen tahun 1991 saya sudah meninggalkan orangtua & adik-adik di Leubu Me, demi menempuh pendidikan di Banda Aceh. Delapan tahun di Banda Aceh, jiwa merantau saya makin mengkristal dan saya berani melangkah lebih jauh ke Jambi tahun 1998 untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Setelah lima tahun disana, pulang ke Aceh bukan ke tempat orangtua, melainkan juga ''merantau'' ke Pulo Kiton sampai sekarang. Walau bukan merantau jauh, namun bisalah bila dikatakan hijrah karena saya tinggal di Pulo Kiton juga karena saya terikat pekerjaan di Kota Juang.
Rupanya memang saya ditakdirkan harus merantau lagi lebih jauh, tidak cukup 30 menit perjalanan bila saya ingin menjenguk orangtua saya. Saya akan berangkat ke Samadua, sebuah kecamatan yang selama ini sangat terkenal dengan objek wisatanya, Air Terjun tujuh tingkat.
Karena sudah lama tidak pernah berpisah jauh dengan anak-anak maupun ibunya, nampaknya langkah saya memang agak berat. Harus saya akui, saya agak melankolis, apalagi bila mengingat bakal calon adik Mazaya. Perasaan saya berbeda jauh dibandingkan 11 tahun lalu, ketegaran saya sekokoh batu karang.
Hari ini saya asyik membuka berbagai referensi tentang Samadua maupun Aceh Selatan. Sebenarnya tidak terlalu urgen, namun perlu saya lakukan untuk menjelaskan kepada isteri maupun anak sulung, Fildza, berapa jauh dan jarak yang perlu ditempuh menuju kesana. Agar mereka tenang-tenang saja melepaskan saya pergi, merantau. Dan setelah melihat data-data yang saya unduh di Google, mereka tenang dan memberi support. Alhamdulillah......
Mereka berfikir positif, saya merantau demi mereka juga.....
Mudah-mudahan saya tegar membendung rasa kangen. Saya yakin rindu saya pada mereka akan bermuara. Terima kasih atas support kalian.....
Mukhlis Aminullah
Selasa, 02 Juni 2009
KELUARGA SAKINAH
Orang sering menyebut-nyebut tentang “masyarakat madani”. Sebuah gambaran tentang masyarakt sukses yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Islam menghendaki agar pilar-pilarnya dibangun pertama kali di dalam dada individuà kemudian di dalam sebuah rumah tanggaà kemudian dalam sebuah masyarakatà kemudian sebuah negaraà kemudian sebuah khilafahà kemudian di atas seluruh permukaan bumià sebelum akhirnya tegak di seluruh alam semesta ini, Insya Allah.
Keluarga merupakan salah satu elemen yang akan membangun sebuah masyarakat, dan seperti tadi telah disebutkan, menegakkan Islam dalam keluarga merupakan salah satu tahapan dalam mewujudkan cita-cita Islam. Dengan pemahaman tentang ini tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa sebuah keluarga sakinah (Keluarga yang berhasil menurut standar Islami) adalah cerminan sebuah masyarakat madani. Sedangkan masrakat madani sendiri merupakan standar Islami tentang sebuah masyarakat yang ”makmur, aman, tentram dan damai”.
Kira-kira apakah ciri-ciri persamaannya dan apakah cara mewujudkannya juga akan sama dengan cara mewujudkan karakteristik masyarakat madani ?. Dalam tulisan kali ini Insya Allah akan coba diuraikan beberapa ciri / karakteristik masyarakat madani yang tumbuh dari kumpulan keluarga sakinah.
Keluarga Robbani
Sebagaimana salah satu ciri masyarakat madani adalah bersifat Robbani, maka keluarga sakinah juga berciri robbani. Artinya, di dalam keluarga / masyarakat tersebut setiap anggotanya berusaha untuk berlomba di dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai Perekat utama keluarga/ masyarakat. Mereka menyadari betul bahwa hanya Allah sajalah yang pantas di jadikan tempat meminta bagi terwujudnya kebahagiaan bersama. Sebab mereka meyakini firman Allah sebagai berikut:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.” (4:1)
Sebuah keluarga sakinah tidak pernah menjadikan variabel keduniaan sebagai faktor utama munculnya soliditas internal keluarga. Mereka juga percaya bahwa hanya dengan taqarrub ila Allah (mendekatkan diri kepada Allah) dan menegakkan aturan Allah sajalah maka kebahagiaan, kasih-sayang dan kecintaan sejati akan dirasakan di dalam keluarga. Suatu bentuk kebahagiaan yang tidak dibatasi selama hidup di dunia semata, melainkan jauh hingga berkumpul kembali di akhirat. Demikian juga dalam masyarakat madani di mana hukum Allah ditegakkan dengan sempurna.
Ayat pertama yang turun kepada Nabi kita Saw adalah ayat tadi: ” Bacalah!”, pelajarilah!
Keluarga sakinah adalah keluarga yang cinta ilmu, seperti juga masyarakat madani. Mereka saling belajar dan saling mengajarkan, antara yang tua kepada yang muda maupun sebaliknya. Keluarga yang menghargai ilmu sehingga menempatkan ahli ilmu di tempat yang dihormati, mencari ilmu dan mengajarkannya, serta kemudian bersyukur kepada Allah atas ilmu dan berkah ilmu, dan menggunakannya di jalan Allah. Keluarga sakinah tidak bersikap jumud maupun liberal dalam mensikapi ilmu. Seorang bapak menganjurkan anaknya untuk menuntut ilmu, membiayainya, kemudian juga menghormati anaknya yang mau membagi ilmu itu kepadanya dan siap menerima nasehat anaknya dengan ilmu yang dia (anak itu) pelajari dari gurunya. Bahkan sebelum itu sang bapak-lah yang mencarikan guru terbaik untuk anaknya itu. Singkatnya keluarga sakinah/ rabbani terdiri dari anggota keluarga yang telah manghayati sabda Rasulullah saw berikut:
“Barangsiapa ingin berhasil di dunia, tuntutlah ilmu. Barangsiapa ingin berhasil di akhirat, tuntutlah ilmu. Dan barangsiapa ingin berhasil di dunia dan di akhirat, tuntutlah ilmu.”
Meskipun demikian anggota keluarga sakinah tetap berpegang pada prinsip :
”pendapat siapapun dapat diterima dan ditolak, kecuali dari Allah dan RasulNya yang kita terima tanpa keraguan”.
Keluarga Yang Cinta Damai
Keluarga sakinah, seperti juga masyarakat madani, selalu berusaha untuk tampil sebagai rahmat bagi sekelilingnya. Dalam lingkungan yang kecil di dalam keluarga, suasana saling cinta mendasari hubungan antara mereka. Kakak dan adik saling cinta, bapak dan ibu menjadi teladan mereka. Bahkan dengan anggota keluarga temporer (misalnya pembantu rumahtangga) juga disayangi seperti keluarga sendiri, tidak direndahkan dan dianggap sebagai orang suruhan belaka.
Di lingkungan yang lebih besar di luar rumah, di antara tetangga, anggota-anggota keluarga sakinah memperlihatkan sikap dan sifat yang sama, bersikap santun kepada tetangga, tukang jualan, tukang sampah, penunggu warung, dan siapa saja yang ada di lingkungannya. Anak-anak keluarga sakinah akan dikenali dari akhlaknya yang santun, menghormati yang tua, menyayangi yang kecil, tidak suka mengganggu atau merugikan orang lain, jujur ketika berjual beli dan bertutur-kata. Siapapun yang melihat mereka akan berharap anak mereka-pun bersikap serupa, karena kesantunan dan kebaikan akhlak mereka. Anak-anak seperti ini akan menjadi cahaya mata bagi orang tua mereka, bahkan juga bagi lingkungannya. Siapapun akan bangga memiliki warga seperti mereka. Singkatnya mereka berusaha meneladani Rasulullah saw dalam hal yang Allah isyaratkan di dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (21:107)
Keluarga Yang Egaliter
Keluarga sakinah selalu berusaha mewujudkan suasana “sama tinggi sama rendah” di dalam rumah. Setiap anggota keluarga tidak hanya dikenalkan kewajiban yang harus dipenuhinya, melainkan juga diberitahu akan hak-hak yang dimilikinya. Baik ayah, suami, ibu, isteri maupun anak-anak bahkan pembantu menyadari bahwa ia memiliki hak-hak yang perlu dijaga dan dipenuhi. Dan fihak pertama yang harus memastikan bahwa hak-hak ini terpenuhi adalah kepala keluarga. Bukanlah sebuah miniatur masyarakat Islami atau madani bila yang memperoleh pemenuhan hak hanya sang ayah atau suami sedangkan anak dan isteri hanya punya daftar kewajiban. Misalnya dalam hal saling menasehati. Bukan hanya ayah kepada anak atau ibu kepada anak atau suami kepada isteri terdapat hak menasehati. Melainkan sebaliknya hendaknya dipastikan bahwa anakpun boleh dan dijamin memberikan nasehat kepada orang-tua atau isteri menasehati suami. Inilah miniatur masyarakat Islami dan madani. Ketika Umar bin Khattab berdiri di depan ummat pada hari dilantiknya menjadi khalifah, maka bangunlah seorang lelaki mengangkat pedangnya tinggi-tinggi seraya berujar: “Hai Amirul mu’minin, seandainya perjalanan kepemimpinanmu melenceng dari garis ketentuan Allah dan RasulNya, niscaya pedangku ini akan meluruskanmu.” Maka dengan tawadhu/ rendah hatinya Umar menjawab: “Alhamdulillah ada seorang lelaki ditengah ummat yang Umar pimpin akan meluruskanku tatkala aku menyimpang.” Dan pada saat itu tidak ada seorangpun yang menuduh lelaki tersebut sebagai tidak percaya atau tidak tsiqoh akan kepemimpinan Amirul mu’minin Umar bin Khattab ra. Justeru ke-tsiqoh-annya kepada Umar menyebabkan lelaki tersebut begitu leluasanya menyampaikan aspirasi secara asli dan apa adanya. Hal ini menunjukkan betapa egaliternya suasana masyarakat Islam kala itu. Dan setiap warga menjadi seperti itu karena lahir dari keluarga-keluarga yang memang sejak dini menanamkan nilai-nilai egaliter di rumah masing-masing.
Wallahu a’laam
Siti Aisyah Nurmi, majalah Eramuslim.
CATATAN ULANG TAHUN
Tidak perlu anda jawab, karena ini buka kuis mata kuliah di kampus. Dan yang pasti adalah beragam jawaban yang akan muncul, tergantung pada diri anda masing-masing. Bisa saja angka 36 tidak berarti apa-apa bagi anda......
Nah, bagi saya angka 36 itu penting, terutama hari kemarin.... Bagaimana kisahnya..?
Jum'at, tanggal 1 Juni 1973 orangtua saya memulai sebuah catatan penting dalam mengarungi kehidupan. Saya adalah putra pertama dari pasangan Bpk Aminullah Amin dengan Ibunda Aisyah Umar. Dari merekalah saya mengetahui angka 36 itu dimulai. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun terus berlalu sampai saya harus mencatat sendiri angka-angka itu.... Beruntung, setelah saya berkeluarga, isteri dan anak-anak saya tak lupa mencatat perubahan angka-angka itu. Walaupun hanya setahun sekali.....
Setiap tahun ketika saya harus melewati tanggal 1 Juni, saya mendapat hadiah yang berbeda dari isteri dan anak-anak saya. Namun, satu hal yang tidak berbeda adalah saya selalu merenungi pertambahan usia itu dan memaknainya dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Tidak dengan pesta ataupun tiup lilin gaya Amerika, namun cukup dengan sujud syukur sebagai tanda berterima kasih pada Sang penguasa semesta alam.
Bagaimana dengan hadiah tahun ini....? Ini dia ceritanya.
Saya pulang dari Banda Aceh mengikuti pelatihan Calon Fasilitator hari Minggu siang. Tiba dirumah sudah jam 21.30 wib menjelang penggantian hari. Saya disambut dengan pelukan hangat dua anak saya sambil mengucapkan selamat ulang tahun.... Betapa terharunya moment itu. Rasa capai setelah menempuh perjalanan dari Banda Aceh, hilang seketika.....
Apalagi ruang tamu rumah kami yang sempit sudah dihiasi dengan bunga kertas karya mereka. Sederhana, namun punya makna mendalam..... (Terima kasih anak-anak, ayah sayang banget sama kalian).
Hadiah dari ibunya anak-anak apa? Sengaja dari tadi belum saya sebutkan, karena ingin saya tulis pada akhir cerita ini.....
Ibunya Fildza & Mazaya memberi hadiah kejutan yang luar biasa. Bukan dompet, bukan celana, bukan tali pinggang maupun dalam bentuk barang-barang lainnya. Sesuatu yang luar biasa adalah ketika menjelang penggantian menit menuju 00.00 wib malam tanggal 1 Juni 2009 adalah saat dia memberikan sebuah hasil tes kehamilan yang menunjukkan Positive. Wow......
Sungguh saya sangat berbahagia. Saya membayangkan, seakan-akan dia sudah lahir saja. Seorang bayi kecil, laki-laki atau perempuan, tidak masalah. Yang saya bayangkan adalah pipinya pasti berisi seperti kedua kakaknya.
Sejak kemarin, saya terus menghitung waktu..... menghitung berapa ya kira-kira sisa usia saya.. ataupun berapa lama lagi si bayi mungil saya bakal lahir.... Mari kita nantikan, karena sebagai hamba, kita hanya bisa berharap diberi umur panjang, diberi anak-anak yang sehat, diberi isteri shalihah, diberi rezeki yang halal, dan sebagainya.
Terima kasih, Tuhan. Semoga rahmat-Mu terus berlanjut ya Allah..........
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Bireuen, Aceh.
''DUNIA BARU''
Setelah pelatihan dan dinyatakan lulus, secara resmi saya sudah bisa dikatakan sebagai seorang Fasilitator Kecamatan. Tugas-tugas pemberdayaan sudah menunggu saya. Apa saya bisa....? Pertanyaan yang sulit dijawab. Namun dalam hati yang paling dalam saya optimis akan bisa melakukannya. Toh saya juga pernah bekerja pada berbagai bidang yang berhubungan dengan masyarakat, termasuk selama 5 tahun terakhir menjadi Anggota KPU Bireuen dan aktif sebagai Ketua LSM LEPOE-MAT Bireuen. Hanya saja, mulai saat ini saya harus benar-benar konsentrasi mencurahkan pikiran dan tenaga saya demi suksesnya program ini. Saya harus mencoba ''mengalihkan'' sebagian jiwa saya yang selama ini sangat ''on'' dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan politik. Mudah-mudahan tidak mengalami kesulitan berarti, karena saya memang tidak bergabung dengan salah satu Partai Politik, baik sebagai anggota biasa maupun sebagai pengurus.
Sekedar curhat, bahwa sejak saya mengakhiri masa jabatan sebagai anggota KPU Bireuen beberapa waktu yang lalu, saya mengalami kesulitan untuk keluar dari bayang-bayang dunia yang telah ''mengangkat'' saya yaitu sebagai abdi demokrasi. Saya sempat menjadi calon anggota Panwaslu Bireuen, sebelum mengundurkan diri pada akhir Januari 2009. Saat itu saya memang harus memutuskan, apakah lanjut dalam dunia saya atau hijrah ke dunia lain yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya, yaitu sebagai Fasilitator PNPM.
Ketika akhirnya saya memutuskan memilih PNPM, pada awalnya saya harus ''mengorbankan'' perasaan dan jiwa saya. Mengapa ? Ada beberapa sebab, tentunya. Pertama, saya kehilangan kesempatan mengabdikan diri dalam proses Pemilu di Bireuen. Saya yakin, dengan pengalaman yang saya miliki, seharusnya bisa membantu proses Pemilu berjalan lebih baik. Kedua, selama 4 bulan, sejak akhir Januari s/d akhir Mei saya harus bersabar menunggu pelatihan dan penempatan sebagai kader pemberdayaan masyarakat. Saya sempat berpikir untuk mundur, kalau tidak dipanggil ikut pelatihan, minggu lalu.
Saat ini saya adalah salah seorang kader pemberdayaan masyarakat, yang tentu saja menjadi harapan bagi terangkatnya harkat dan martabat masyarakat pedesaan menjadi masyarakat yang mandiri dan sejahtera. Saya harus bisa membuang ''ego'' saya agar bisa berhasil. Artinya begini, saat ini saya tidak bisa hanya ''memelototi'' dunia demokrasi. Kalaupun saya tidak meninggalkan secara total, namun cukuplah bila hanya saya jadikan prioritas kedua. Sekarang, saya bertekad memasuki dunia baru, yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam beberapa hari ini saya mempersiapkan segala sesuatu sebelum meninggalkan keluarga menuju Samadua, Aceh Selatan.
Kiprah saya dinantikan.
Mukhlis Aminullah, kader pemberdayaan masyarakat.
Minggu, 24 Mei 2009
PRAMOEDYA ANANTA TOER

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, wafat di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun, secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.
Masa kecil
Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.
Pasca kemerdekaan Indonesia
Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.
Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Khususnya, ia menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia. Ia merupakan kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Pada 1960-an ia ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya di pulau Buru di kawasan timur Indonesia.
Penahanan dan masa setelahnya
Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
- 13 Oktober 1965 - Juli 1969
- Juli 1969 - 16 Agustus 1969 di Pulau Nusakambangan
- Agustus 1969 - 12 November 1979 di Pulau Buru
- November - 21 Desember 1979 di Magelang
Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Jilid pertamanya dibawakan secara oral pada para kawan sepenjaranya, dan sisanya diselundupkan ke luar negeri untuk dikoleksi pengarang Australia dan kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris dan Indonesia.
Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI, tapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.
Selama masa itu ia menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat 'protes' ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" di masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan yang dianugerahkan kepada Pramoedya.
Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut 'pencabutan', tetapi mengingatkan 'siapa Pramoedya itu'. Katanya, banyak orang tidak mengetahui 'reputasi gelap' Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Tetapi di pihak lain, Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.
Lubis juga mengatakan, HB Jassin pun akan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya. Tetapi, ternyata dalam pemberitaan berikutnya, HB Jassin malah mengatakan yang lain sama sekali dari pernyataan Mochtar Lubis.
Dalam berbagai opini-opininya di media, para penandatangan petisi 26 ini merasa sebagai korban dari keadaan pra-1965. Dan mereka menuntut pertanggungan jawab Pram, untuk mengakui dan meminta maaf akan segala peran 'tidak terpuji' pada 'masa paling gelap bagi kreativitas' pada zaman Demokrasi Terpimpin. Pram, kata Mochtar Lubis, memimpin penindasan sesama seniman yang tak sepaham dengannya.
Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya di masa pra-1965 itu tidak lebih dari 'golongan polemik biasa' yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang 'kelewat jauh'. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.
Semenjak Orde Baru berkuasa, Pramoedya tidak pernah mendapat kebebasan menyuarakan suaranya sendiri, dan telah beberapa kali dirinya diserang dan dikeroyok secara terbuka di koran.
Tetapi dalam pemaparan pelukis Joko Pekik, yang juga pernah menjadi tahanan di Pulau Buru, ia menyebut Pramoedya sebagai 'juru-tulis'. Pekerjaan juru-tulis yang dimaksud oleh Joko Pekik adalah Pramoedya mendapat 'pekerjaan' dari petugas Pulau Buru sebagai tukang ketiknya mereka. Bahkan menurut Joko Pekik, nasib Pramoedya lebih baik dari umumnya tahanan yang ada. Statusnya sebagai tokoh seniman yang oleh media disebar-luaskan secara internasional, menjadikan dia hidup dengan fasilitas yang lumayan - apalagi kalau ada tamu dari 'luar' yang datang pasti Pramoedya akan menjadi 'bintangnya'.
Masa tua
Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang. Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.
Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis. Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.
Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia dikabarkan telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.
Pada 6 Februari 2006 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, diadakan pameran khusus tentang sampul buku dari karya Pramoedya. Pameran ini sekaligus hadiah ulang tahun ke-81 untuk Pramoedya. Pameran bertajuk Pram, Buku dan Angkatan Muda menghadirkan sampul-sampul buku yang pernah diterbitkan di mancanegara. Ada sekitar 200 buku yang pernah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.
Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pihak keluarga akhirnya memutuskan membawa dia ke RS Sint Carolus hari itu juga. Pram didiagnosis menderita radang paru-paru, penyakit yang selama ini tidak pernah menjangkitinya, ditambah komplikasi ginjal, jantung, dan diabetes.
Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Setelah sadar, dia kembali meminta pulang. Meski permintaan itu tidak direstui dokter, Pram bersikeras ingin pulang. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik. Meski masih kritis, Pram sudah bisa memiringkan badannya dan menggerak-gerakkan tangannya.
Kondisinya sempat memburuk lagi pada pukul 20.00. Pram masih dapat tersenyum dan mengepalkan tangan ketika sastrawan Eka Budianta menjenguknya. Pram juga tertawa saat dibisiki para penggemar yang menjenguknya bahwa Soeharto masih hidup. Kondisi Pram memang sempat membaik, lalu kritis lagi. Pram kemudian sempat mencopot selang infus dan menyatakan bahwa dirinya sudah sembuh. Dia lantas meminta disuapi havermut dan meminta rokok. Tapi, tentu saja permintaan tersebut tidak diluluskan keluarga. Mereka hanya menempelkan batang rokok di mulut Pram tanpa menyulutnya. Kondisi tersebut bertahan hingga pukul 22.00.
Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga pukul 02.00. Saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. "Dorong saja saya," ujarnya. Namun, teman-teman dan kerabat yang menjaga Pram tak lelah memberi semangat hidup. Rumah Pram yang asri tidak hanya dipenuhi anak, cucu, dan cicitnya. Tapi, teman-teman hingga para penggemarnya ikut menunggui Pram.
Kabar meninggalnya Pram sempat tersiar sejak pukul 03.00. Tetangga-tetangga sudah menerima kabar duka tersebut. Namun, pukul 05.00, mereka kembali mendengar bahwa Pram masih hidup. Terakhir, ketika ajal menjemput, Pram sempat mengerang, "Akhiri saja saya. Bakar saya sekarang," katanya.
Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.
Ratusan pelayat tampak memenuhi rumah dan pekarangan Pram di Jalan Multikarya II No 26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pelayat yang hadir antara lain Sitor Situmorang, Erry Riyana Hardjapamekas, Nurul Arifin dan suami, Usman Hamid, Putu Wijaya, Goenawan Mohamad, Gus Solah, Ratna Sarumpaet, Budiman Sujatmiko, serta puluhan aktivis, sastrawan, dan cendekiawan. Hadir juga Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Terlihat sejumlah karangan bunga tanda duka, antara lain dari KontraS, Wapres Jusuf Kalla, artis Happy Salma, pengurus DPD PDI Perjuangan, Dewan Kesenian Jakarta, dan lain-lain. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga hadir melayat. Temasuk para anak muda fans Pram.
Jenazah dimandikan pukul 12.30 WIB, lalu disalatkan. Setelah itu, dibawa keluar rumah untuk dimasukkan ke ambulans yang membawa Pram ke TPU Karet Bivak. Terdengar lagu Internationale dan Darah Juang dinyanyikan di antara pelayat.
Berikut adalah karya-karya Mas Pram :
1946 – Sepoeloeh Kepala Nica
1947 – Kranji–Bekasi Jatuh, fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
1950 – Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta,
1950 – Keluarga Gerilya (1950)
1951 – Subuh (1951), kumpulan 3 cerpen
1951 – Percikan Revolusi, kumpulan cerpen
1951 – Mereka yang Dilumpuhkan (I & II)
1951 – Bukan Pasarmalam
1951 – Di Tepi Kali Bekasi
1951 – Dia yang
1952 – Cerita dari Blora
1953 – Gulat di Jakarta
1954 – Midah Si Manis Bergigi Emas
1954 – Korupsi
1954 – Mari Mengarang
1957 – Cerita Dari Jakarta
1957 – Cerita Calon Arang
1958 – Sekali Peristiwa di Banten Selatan
1962-65 – Gadis Pantai
1963 – Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia
1964 – Sejarah Bahasa Indonesia. Satu Percobaan
1965 – Panggil Aku Kartini Saja
1965 – Kumpulan Karya Kartini
1965 – Wanita Sebelum Kartini
1965 – Lentera
1980 – Bumi Manusia
1981 – Anak Semua Bangsa
1981 – Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga
1982 – Tempo Doeloe, antologi sastra pra-Indonesia
1985 – Jejak Langkah
1985 – Sang Pemula
1987 – Hikayat Siti Mariah,
1988 – Rumah Kaca (1988)
1995 – Memoar Oei Tjoe Tat
1995 – Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I
1995 – Arus Balik
1997 – Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II
1999 – Arok Dedes
2000 – Mangir
2000 – Larasati
2005 – Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Mukhlis Aminullah, pengagum Mas Pram. (sumber; wikipedia)
CEMPAKA MULIA
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak rekan pembaca (terutama peminat sastra) untuk menoleh ke belakang.
Amir Hamzah, seorang pujangga yang termasyur, meninggalkan berbagai karya yang sangat indah untuk dikenang. Berbahagialah Indonesia, memiliki bakat dan talenta yang luar biasa pada diri seorang anak negeri, Amir Hamzah.
Saya mengumpulkan sebagian puisi dan sajak dari berbagai sumber, yang merupakan warisan sang penyair untuk kita. Namun sebelum kita membaca sajak demi sajak, tentu lebih elok bila kita mengetahui riwayat beliau. Ringkas saja…….
Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah, tetapi biasa dipanggil Amir Hamzah. Ia dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Pamannya, Machmud, adalah Sultan Langkat yang berkedudukan di ibu kota Tanjung Pura, yang memerintah tahun 1927-1941. Ayahnya, Tengku Muhammad Adil (yang tidak lain adalah saudara Sultan Machmud sendiri), menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur.
Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927. Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum.
Amir Hamzah tidak dapat dipisahkan dari kesastraan Melayu. Oleh karena itu, tidak heran jika dalam dirinya mengalir bakat kepenyairan yang kuat. Buah Rindu adalah kumpulan puisi pertamanya yang menandai awal kariernya sebagai penyair. Puncak kematangannya sebagai penyair terlihat dalam kumpulan puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur. Selain menulis puisi, Amir Hamzah juga menerjemahkan buku Bagawat Gita.
Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai.
Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para Sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepda rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung.
Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revuolusi sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Berikut ada beberapa hasil karya Amir Hamzah untuk dikenang.
CEMPAKA MULIA
Kalau kulihat tuan, wahai suma
kelopak terkembang harum terserak
hatiku layu sejuk segala
rasakan badan tiada dapat bergerak
Tuan tumbuh tuan hamba kembang
di negeriku sana di kuburan abang
kemboja bunga rayuan
hatiku kechu melihat tuan
Bilamana beta telah berpulang
wah, semboja siapatah kembang
di atas kuburku, si dagang layang?
Kemboja, kemboja bunga rayuan
hendakkah tuan menebarkan bibit
barang sebiji di atas pangkuan
musafir lata malang berakit?
Melur takku mahu
mawar takku suka,
sebab semboja dari dahulu
telah kembang di kubur bonda
kemboja bunga rayuan
musafir anak Sumatera
Pulau Perca tempat pangkuan
bilamana fakir telah tiada.
PURNAMA RAYA
Purnama raya
bulan bercahaya
amat cuaca
ke mayapada
Purnama raya
gemala berdendang
tuan berkata
naiklah abang
Purnama raya
bujang berbangsi
kanda mara
memeluk dewi
Purnama raya
bunda mengulik
nyawa adinda
tuan berbisik.
Purnama raya
gadis menutuk
setangan kuraba
pintu diketuk
Purnama raya
bulan bercengkerama
beta berkata
tinggallah nyawa
Purnama raya
kelihatan jarum
adinda mara
kanda dicium
Purnama raya
cuaca benderang
permata kekanda
BUAH RINDU 1
Dikau sambur limbur pada senja
dikau alkamar purnama raya
asalkan kanda bergurau senda
dengan adinda tajuk mahkota.
Dituan rama-rama melayang
didinda dendang sayang
asalkan kandaa selang-menyelang
melihat adinda kekasih abang.
Ibu, seruku ini laksana pemburu
memikat perkutut di pohon ru
sepantun swara laguan rindu
menangisi kelana berhati mutu.
Kelana jauh duduk merantau
di balik gunung dewala hijau
di Seberang laut cermin silau
Tanah Jawa mahkota pulau...
Buah kenanganku entah ke mana
lalu mengembara ke sini sana
haram berkata sepatah jua
ia lalu meninggalkan beta.
ibu, lihatlah anakmu muda belia
setiap waktu sepanjang masa
duduk termenung berhati duka
laksana Asmara kehilangan seroja.
Bonda waktu tuan melahirkan beta
pada subuh kembang cempaka
adakah ibu menaruh sangka
bahawa begini peminta anakda?
Wah kalau begini naga-naganya
kayu basah dimakan api
aduh kalau begini laku rupanya
tentulah badan lekaslah fani.
Mukhlis Aminullah, penikmat sastra, berdomisili di Bireuen, Aceh.
MAKNA SEBUAH PILIHAN
Pada “RENUNGAN DIRI” secara sekilas saya menulis pernah merantau. Benar…
Dan sebenarnya bukan hanya merantau dalam arti fisik yang saya alami. Saya memaknai bukan hanya dengan mencatat bahwa saya pernah doyan mpek-mpek, pernah layari Batanghari setiap hari, pernah melihat gundulnya hutan Jambi dan bertegur sapa dengan suku Anak Dalam.
Ketika saya merantau, sesungguhnya saya juga mengalami masa-masa transformasi kebudayaan (maaf bila saya sok menggunakan bahasa Budayawan). Saya mengalami perkembangan jiwa dan perkembangan kepribadian.
Pada poin pertama, tentu saja saya sekeluarga harus hidup dengan lingkungan yang serba Jambi. Ada kalanya kami harus menyesuaikan tradisi sehari-hari dengan tradisi Kasang, yang berbeda dengan ketika berada di Aceh. Sedangkan pada poin kedua, saya merasa makin berkembang selama bekerja di sana. Seiring makin terpupuknya rasa percaya diri, saya aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi. Dan seringkali, karena kondisi, saya terpaksa maju ke depan menjadi “imam” bagi teman-teman. Dan lumrah saja, sebagai manusia biasa, tentu ada kepemimpinan yang berhasil dan yang gagal. Sayapun demikian. Hanya saja saya tidak ingin mencatat kepemimpinan yang sukses. Saya selalu teringat dengan kempimpinan yang tidak berhasil…..
Kisahnya adalah ketika saya didaulat oleh rekan-rekan memimpin organisasi serikat pekerja. Saya tidak menolak, karena saya pikir kami harus memperjuangkan nasib pekerja (dan buruh). Dan saya tertantang sekali….
Ketika tahun-tahun awal Reformasi, suasana Indonesia sangat kacau. Para petinggi Negara sibuk. Sebagian yang merasa dirinya pelopor robohnya Orde Baru, sibuk membagi-bagikan kue kekuasaan sesama “Reformis”. Sebagian lagi yang terlanjur mendapat stempel sebagai sisa-sisa Orde Baru, sibuk mencari dukungan kesana kemari agar bisa diikutkan dalam gerbong kaum “Pendobrak” dan menjadi Pahlawan kesiangan…..
Para pemuda, mahasiswa, pelajar dan juga pekerja tidak ketinggalan. Saya dan rekan-rekan pekerja menggunakan moment itu untuk memperjuangkan nasib. Idealisme sebagai pekerja (yang selama Orde Baru termarginal-kan) mencuat. Jati diri sebagai orang yang punya andil terhadap keberhasilan perusahaan tempat kami bekerja kami salurkan dengan cara-cara yang positif. Semangat perjuangan kami, para pekerja,salurkan dalam wadah yang legal.
Perjuangan kami berjalan apa adanya…..
sampai suatu ketika saya harus memutuskan; melanjutkan idealisme atau berhenti. Saya harus istikharah untuk saya dapat keputusan; berhenti ! Bukan sebuah pilihan yang bijak. Berhari-hari saya merenungi pilihan itu. Namun, kerana sesuatu sebab, saya harus memilih…….berhenti berjuang disana. Saya yakini bahwa saya bisa “berjuang” pada tempat yang berbeda dan bidang yang saya geluti pun berbeda. Dan kemudian terbukti ketika saya memberi kontribusi sebagai penyelenggara Pemilu di Kabupaten Bireuen, periode 2003-2008.
Namun satu hal yang tak akan saya lupakan adalah dukungan dari teman-teman pada keputusan saya, walaupun secara jujur mereka mengakui “kehilangan”…. Dan saya ingat pernah menulis sebuah puisi kepada mereka. Baru-baru ini seorang teman yang sekarang menjadi petinggi perusahaan tempat kami bekerja,dulu, mengirim kembali puisi lama itu……
BERHENTI
Sahabat…!
Saat langkah kita belum menoreh jejak
Ketika kita masih setengah perjalananan
Dan belum bisa wujudkan mimpi-mimpi
Aku harus berhenti melangkah….
Sahabat…!
Aku tak bisa menjangkau lagi
Pulau yang akan engkau tuju
Laut pisahkan semangat kita
Bagimu, saatnya kini menatap
Gelombang demi gelombang
Tuk lanjutkan episode demi episode
Menuju cita-cita mulia
Maafkan,
Aku tak bisa temani
Layari hari selanjutnya
Karya; Mukhlis Aminullah
Semoga kisah dan cerita di atas menjadi sebuah kenangan bagi saya. Hidup memang kadang harus memilih. Setiap pilihan ada konsekwensi-nya, apakah itu baik ataupun buruk.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Bireuen, Aceh.
Sabtu, 23 Mei 2009
RENUNGAN DIRI
Tanpa terasa umur kita setiap detik bertambah, dan tentu saja usia dan kesempatan makin berkurang. Hari-hari terlewati seakan biasa saja, padahal kalau kita sadar memaknai, hari-hari kita merupakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk beribadat kepadaNya. Sesungguhnya manusia selalu berada dalam kerugian, kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.
Begitulah hidup. Tanpa kita sadari, kita semakin tua. Kita melewati masa demi masa seakan begitu singkatnya. Saya masih bisa membayangkan masa kecil yang penuh warna di kampung saya, Leubu. Beranjak remaja, saya tumbuh di lingkungan yang baik. Alhamdulillah, pertama sekali saya harus berterima kasih kepada orangtua, yang telah menjaga anak sulungnya dengan baik. Kedua, saya harus berterima kasih pada alam, pada zaman dan pada kemajuan. Dengan perkembangan zaman saat itu, saya tidak tau apa itu narkoba, tidak kenal cimeng, dan sebagainya. Ketika saya bisa melewati masa remaja, sekali lagi saya harus bersyukur. Sebuah episode, memimpin diri sendiri sudah saya lewati, walau banyak kekurangan didalamnya.
Selanjutnya, perjalanan saya melayari hari demi hari penuh dengan cerita. Saya jadi mahasiswa, merantau, kemudian bekerja diluar daerah. Tibalah saatnya. Saya harus mengambil keputusan; melanjutkan perjalanan seorang diri atau memutuskan untuk menjadi seorang lelaki.
Tahun 1999 saya memutuskan; saatnya meningkatkan tanggung jawab dari sekedar memimpin diri sendiri untuk menjadi pemimpin orang lain yaitu berkeluarga.
Sepuluh tahun berlalu, bermacam cerita sudah tertoreh dalam sanubari. Sekarang adalah masa-masa yang genting. Anak sulung, Ananda Fildza Alifa, beranjak besar. Saya yakin, berlalunya waktu demi waktu yang tanpa terasa, dia akan menjadi seorang dara. Kami harus bisa mendidiknya menjadi dara puspita, yang baik akhlaknya dan berbudi mulia. Bukan pekerjaan mudah, karena zaman tidak bersahabat dengan cita-cita.
Begitulah, saya sudah melewati separuh perjalanan. Kita tidak mengetahui rahasia masa depan. Kita sebagai hambaNya diwajibkan untuk selalu mengingat bahwa hidup adalah pinjaman, yang tentu saja akan diminta kembali olehNya.
Sebelum masa itu tiba, mari gunakan pinjaman sebagai modal yang sebaik-baiknya.
Mudah-mudahan kita panjang umur, hingga bisa melanjutkan separuh perjalanan lagi.
Mukhlis Aminullah, sebuah renungan diri.