Senin, 07 Desember 2015

SIAPA PENGELOLA NEGARA

sambil menulis puisi pahit
dan menyeruput kopi tanpa gula
aku bertanya
siapa pengelola negara?

(mengamati negara yg sedang huru hara)

Banda Aceh, 1 Desember 2015 mukhlis aminullah

Sabtu, 24 Oktober 2015

PERADUAN

sejurus kemudian
selimut segera mengantarmu
ke peraduan
angin danau di luar jendelapun
menepi
memberi kesempatan padamu
untuk bermimpi


Takengon, 23 Oktober 2015 mukhlis aminullah

Senin, 07 September 2015

CUACA SORE DI BIREUEN

panasnya mentari seperti dendam
pada angin
tak cukup berleha-leha
di beranda
dengan kain sarung
kotaku gersang dan panas

Bireuen, 07 September 2015 mukhlis aminullah

Jumat, 04 September 2015

TAKENGON PAGI INI

dan, hujanpun tersenyum
menyambut pagi
aku terperangkap
dalam aroma kopi
tidak bisa kemana-mana


Takengon, 4 September 2015 mukhlis aminullah

Kamis, 03 September 2015

JALAN LINTANG (BA'DA INSYA)

dinginnya memilin tulang
merinding
sejuk bersembunyi dalam jaket
hanya beberapa kedai yang buka
selebihnya para penjual terkulai
dalam selimut
begitulah, dan aku selalu rindu
untuk kembali ke sini


Takengon, 03 September 2015 mukhlis aminullah

Selasa, 01 September 2015

PANTAI SAMADUA

di pantai ini
aku pernah menjaring pelangi
pada sore menjelang
kuintip matahari terbenam
oh, indahnya....
pada suatu masa
aku kan terkenang


Aceh, 29 Agustus 2015 mukhlis aminullah

Rabu, 19 Agustus 2015

PADA HARI INI, 19 AGUSTUS

pada hari ini
tidak ada lagi hormat bendera
tidak ada lagi upacara
tidak ada lagi karnaval
pada hari ini
tidak ada lagi teriakan bergema
tidak ada lagi drumband ceria
tidak ada apa-apa lagi
pada hari ini
sembilan belas agustus,
kemerdekaan kita, tamat
(semua perilaku kembali seperti semula)


Bireuen 19 Agustus 2015 mukhlis aminullah

Selasa, 18 Agustus 2015

NASIONALISME

"kepada sang saka merah putih! hormaaaaat grakkk!"
upacara bendera para koruptor
dari sebuah penjara
nasionalismenya tetap menyala


Rutan Bireuen, 17 Agustus 2015 mukhlis aminullah