Minggu, 19 Januari 2014

TEKNIK MEMBACA PUISI YANG BAIK

“Puisi adalah seni dari segala seni,” adalah kutipan dari perkataan Popo Iskandar seorang pelukis dan budayawan dari Bandung.

Puisi adalah pernyataan dari keadaan atau kualitas hidup manusia. Membaca puisi berarti berusaha menyelami diri sampai ke intinya. Apabila seseorang ingin menikmati puisi, ia harus memiliki kemampuan untuk menempatkan dirinya sebagai penyair.

Ada sebuah cerita. Tersebut sang penyair Moh. Iqbal kelahiran Sialkot – Punjab 22 Februari 1873, keturunan dari Brahmana yang berasal dari Kashmir. Ia membacakan sebuah puisi karyanya di depan seorang filosof besar Prancis, yang ketika itu sakit lumpuh dan ia dapat terlompat berdiri dari kursinya, karena tergugah oleh keadaan isi puisi sang penyair (judul: LA TASUBU DZAHRA–Jangan Melalaikan Waktu). Isi puisi itu mengambil tema dari hadist Nabi.

Timbul pertanyaan pada diri kita, mengapa bisa terjadi seperti itu? Jawabnya tidak lain adalah, karena karya cipta sastra (terutama puisi) lebih dekat dengan kehidupan kita. Puisi digali dari kehidupan. Jadi, antara hidup dan puisi tak ada jarak pemisah, hidup adalah manifestasi puitis.

“Saya mencintai puisi,” kata sang penyair, “sebagaimana saya mencintai hidup ini.”

Bagaimana kita membaca puisi dengan baik dan sampai sasaran/tujuan makna dari puisi yang kita baca sesuai maksud Sang Penyair? Ada beberapa tahapan yang harus di perhatikan oleh sang pembaca puisi, antara lain:

Interpretasi(penafsiran/pemahaman makna puisi)

Dalam proses ini diperlukan ketajaman visi dan emosi dalam menafsirkan dan membedah isi puisi. Memahami isi puisi adalah upaya awal yang harus dilakukan oleh pembaca puisi, untuk mengungkap makna yang tersimpan dan tersirat dari untaian kata yang tersurat.

Vocal

Artikulasi
Pengucapan kata yang utuh dan jelas, bahkan di setiap hurufnya.
Diksi
Pengucapan kata demi kata dengan tekanan yang bervariasi dan rasa.
Tempo
Cepat lambatnya pengucapan (suara). Kita harus pandai mengatur dan menyesuaikan dengan kekuatan nafas. Di mana harus ada jeda, di mana kita harus menyambung atau mencuri nafas.
Dinamika
Lemah kerasnya suara (setidaknya harus sampai pada penonton, terutama pada saat lomba membaca puisi). Kita ciptakan suatu dinamika yang prima dengan mengatur rima dan irama, naik turunnya volume dan keras lembutnya diksi, dan yang penting menjaga harmoni di saat naik turunnya nada suara.
Modulasi
Mengubah (perubahan) suara dalam membaca puisi.
Intonasi
Tekanan dan laju kalimat.
Jeda
Pemenggalan sebuah kalimat dalam puisi.
Pernafasan
Biasanya, dalam membaca puisi yang digunakan adalah pernafasan perut.

Penampilan

Salah satu factor keberhasilan seseorang membaca puisi adalah kepribadian atau performance diatas pentas. Usahakan terkesan tenang, tak gelisah, tak gugup, berwibawa dan meyakinkan (tidak demam panggung).
Gerak
Gerakan seseorang membaca puisi harus dapat mendukung isi dari puisi yang dibaca. Gerak tubuh atau tangan jangan sampai klise.
Komunikasi
Pada saat kita membaca puisi harus bias memberikan sentuhan, bahkan menggetarkan perasaan dan jiwa penonton.
Ekspresi
Tampakkan hasil pemahaman, penghayatan dan segala aspek di atas dengan ekspresi yang pas dan wajar.
Konsentrasi
Pemusatan pikiran terhadap isi puisi yang akan kita baca.
Dengan pemaparan tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa membaca puisi bukan sekedar menyampaikan arus pemikiran penyair, tapi kita juga harus menghadirkan jiwa sang penyair. Kita harus menyelami dan memahami proses kreatif sang penyair, bagaimana ia dapat melahirkan karya puisi.

sumber: http://lumintu.multiply.com

Sabtu, 18 Januari 2014

GELISAH SI TIKUS

ada yang gelisah
saat mematut diri
pada cermin retak
tampaklah muka tikus
yang makin gundah
ternyata tikusnya
takut KPK!

Bireuen, 17 Januari 2014 mukhlis aminullah

Ada politisi yang tidak tenang dalam beberapa hari ini.

"Mantap itu Barang.... "

Kamis, 16 Januari 2014

KHAYALAN BERHAJI

aku seorang penghayal!
dan kau seorang pemimpi
membayangkan dunia dalam pelukan
suatu hari aku akan mendampingimu
keliling dunia
kau mencium Hajaral Aswad
aku melakukan Tawaf
kita ke makam Rasulullah
aku menangis, kaupun menangis
sambil mencoba hapus dosa-dosa
dalam pelukan ibadah

aku ingin jadi pengantin (lagi)
dalam singgasana indah
bersamamu berhaji ke Baitullah
kapankah? kapankah?

Bireuen, 16 Januari 2013 mukhlis aminullah

Bersyukur bagi sahabat yang sudah melaksanakan ibadah Haji...

Rabu, 15 Januari 2014

RINDU TERBAWA ANGIN

laksana menulis galau
pada selembar tissue
lembab dan basah
tiada guna juga
kau mengirim salam
rindu kita telah terbawa angin
(aku bahagia dengan keluargaku,
semoga kau bahagia dengan keluargamu)

Bireuen, 15 Januari 2014  mukhlis aminullah

Senin, 13 Januari 2014

USIA SEMAKIN TUA

adalah sebuah gugatan bagimu
bila aku mengatakan bahwa kau
semakin tua
aku memaklumi andaikan kaupun
harus marah kepadaku
dan aku akan tetap mengatakan
bahwa kau semakin tua

kita tidak bisa membohongi usia
semua manusia jadi tua, pada saatnya
dan seandainya aku semakin tua
akan kuberikan semua tahta
kepada para pemuda
untuk mengurus rakyat dan negara
(aku ingat lagu "Pak Tua" milik Sawung Jabo)

Bireuen, 13 Januari 2013mukhlis aminullah

Semakin tua yang saya maksudkan adalah usia tua/uzur yang tidak memungkinkan lagi mengurus rakyat dan negara. Fidel Castro saja mundur demi Kuba.

Minggu, 12 Januari 2014

IJAB KABUL

telah kulunasi hutangmu, ayah!
dalam sebuah ijab kabul
(putri manismu telah kunikahkan)

Bireuen, 9 Januari 2013 mukhlis aminullah
Selamat Menempuh Hidup Baru adikku, Evi Saputri. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah! Dan, almarhum ayah kita akan sangat berbahagia di sana.

Selasa, 07 Januari 2014

HUJAN

hujan
gerimisku menjadi pahlawan
untuk kering kerontang
Alhamdulillah!

Bireuen. 6 Januari 2014 mukhlis aminullah

Minggu, 05 Januari 2014

KHIANAT

pada malam yang kian pikun
ingin kumuntahkan
semua omong kosongmu
dalam semangkok darah
agar kau tahu
korban nyawa saudara-saudara kita
bukan tumbal untuk kau
diangkat menjadi Penguasa

Bireuen, 5 Januari 2014 mukhlis aminullah