Dalam beberapa malam terakhir, saya sangat kesulitan memejamkan mata. Setelah sekian lama merebahkan badan di atas ranjang saya tetap tidak bisa memejamkan mata. Pada malam-malam pertama, memang pikiran selalu teringat kepada almarhum ayah saya yang baru meninggal dunia, dua bulan yang lalu. Hal wajar. Seorang anak lelaki merindukan ayahnya.
Namun pada malam-malam berikutnya bukan soal ayah yang membuat mata saya sulit terpejam di kala malam. Banyak masalah lainnya yang tanpa sengaja terpikirkan. Enthalah.... Yang pasti saya adalah seorang susah tidur.
Yang membuat saya bersyukur adalah ketika saya tidak bisa tidur, saya masih diberi kenikmatan iman, sehingga saya mengambil kesempatan untuk membaca ayat-ayat suci Al Qur'an, konon lagi sekarang bulan Ramadhan. Membaca Al Qur'an akan mendapat pahala berlimpah dari Allah SWT.
Disela-sela waktu luang setelah tadarus, saya masih diberi kesempatan dan sedikit kemampuan untuk menulis puisi atau sajak. Entah berapa puluh saja sudah saya tulius selama 10 (sepuluh) hari Ramadhan. Setiap sore atau malam hari saya ingin menulis. Tak terkecuali jam sudah menunjukkan dinihari.
Terakhir saya menulis puisi tentang para pemimpin negeri ini yang sudah seperti preman. Negeri ini makin rusak oleh ulah para preman berdasi. Mereka adalah para penguasa yang menggunakan kewenangannya secara semena-mena. Mereka adalah para borjuis yang munafik. Secara kasat mata nampaknya mereka bak pahlawan, tapi sesungguhnya mereka adalah para penyamun. Saya sangat tidak respek terhadap penguasa negeri ini, saat ini. Kelihatan santun, mengusung issue kemerdekaan diri bagi masyarakat, tetapi kenyataan malah negeri makin parah. Setiap kebijakan dalam pemerintahan semata-mata memperjuangkan kelompoknya saja atau kader partai politik yang memgusungnya jadi borjuis seperti sekarang. Belum lagi kebijakan-kebijakan lainnya yang hampir selalu saja menabrak norma-norma serta etika moral. Hidup ibarat berlaku hukum rimba, tapi berlaku dalam dunia nyata dan dalam era globalisasi.
Kembali ke soal puisi. Benar! Saya memang menulis puisi yang terkesan sangat kejam dan kasar. Judulnya NEGERI MILIK PARA BEDEBAH. Puisi ini melengkapi puisi sebelumnya yang juga sarat kritik sosial yang berjudul TERIAK PENGUASA dan UANG KERTAS PENGUASA. Tiga puisi yang membuat merah muka para penguasa yang membacanya (dan tentu saja para penguasa yang mengerti maknanya).
Saya tidak tahu darimana awalnya, sehingga saya memberi judul NEGERI MILIK PARA BEDEBAH. Yang jelas, saya ingin menulis sekeras-kerasnya. Ingin mengkritik dengan sekeras-kerasnya. Di pikiran saya hanya ingin menulis tentang para penguasa yang sudah bedebah atau celaka atau ciloko. Puisi tersebut bisa teman-teman baca di postingan saya sebelum ini.
Saya selalu saja memposting puisi-puisi saya di facebook. Nah, tanpa disangka, seorang teman saya berkomentar bahwa puisi saya mirip dengan tulisan Tere Liye. Terkejut saya membaca. Untuk menghindari kesalahan opini publik terhadap saya, buru-buru saya jelaskan padanya bahwa saya belum membaca karya Tere Liye, dan tentu saja tidak mau di cap sebagai plagiator. Segera saya cek dan browsing di internet. Ternyata dengan memakai kata kunci PARA BEDEBAH saja, akan dengan mudah kita temui tentang Novel karya Tere Liye yang tebalnya mencapai 440 halaman. Saya belum memiliki buku tersebut, dengan membaca sinopsi di internet sudah cukup memuaskan saya. Tidak ada kaitan sedikitpun isi maupun makna yang terkandung dalam puisi saya dengan isi cerita novel milik Tere Liye. Kalau puisi saya bercerita tentang penguasa (subjeknya), sementara dalam novel Tere Liye menggambarkan secara utuh kondisi negeri yang memang dikuasai para bedebah, dalam arti luas. Di negeri tersebut ada bandit yang dianalogikan sebagai bedebah, ada pihak lain juga yang kayak bedebah, dsb. Dan, Insya Allah malam ini saya akan tidur nyenyak, telah berhasil membuktikan bahwa saya bukan plagiator. Kalaupun judul puisi kebetulan hampir sama dengan judul Novel milik Tere Liye, itu hanya suatu kebetulan. Yah, sama juga dengan judul puisi yang ditulis oleh pengarang lainnya.
Ada satu puisi karangan Adhie Massardi,mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid, yang judulnya hampir sama demgan judul puisi saya. Tetapi setelah saya membaca lebih mendalam, puisi beliau seperti menggambarkan kondisi Indonesia saat ini secara telanjang. Berbeda dengan saya, yang menulis dalam sudut yang agak sempit. Namun yang pasti satu hal, kami berdua telah berani mengkritik penguasa.
Lebih jelasnya, teman-teman bisa membaca puisi SAJAK NEGERI PARA BEDEBAH karya Adhie Massardi berikut ini :
NEGERI PARA BEDEBAH
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
Jakarta, 2009.
Nah, bagaimana tanggapan teman-teman tentang puisi milik AdhieMassardi? Silahkan nilai juga puisi milik saya. Terlepas ada kekurangan dalam ejaan dan tutur maupun tata letak kalimat, tapi satu hal bahwa ada benang merah antara keduanya. Kedua karya tulis tersebut SANGAT BERANI.
Wallahu a'lam bish-shawabi
Salam hangat,
mukhlis aminullah, penulis puisi.
Sabtu, 20 Juli 2013
Jumat, 19 Juli 2013
NEGERI MILIK PARA BEDEBAH
ternyata negeri ini terlanjur
jadi milik para bedebah!
hukum rimba sangat mulia
uang laksana berhala, dipuja!
senyum manis penguasa
seakan pelepas dahaga
padahal semua itu murka!
penguasa jadi tuan tanah
rakyat kalah dan menyerah!
martabat bangsa terpelanting
dan jatuh dengan wajah lusuh
ternyata negeri ini benar-benar
jadi milik para bedebah
kami ditipu dan tertipu
oleh senyuman dan wajah ramah
milik para bedebah
kasihan,...
Bireuen, 19 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
(kepada para bedebah yang merampas hak-hak kami)
inspirasi dari judul buku Tere Liye
jadi milik para bedebah!
hukum rimba sangat mulia
uang laksana berhala, dipuja!
senyum manis penguasa
seakan pelepas dahaga
padahal semua itu murka!
penguasa jadi tuan tanah
rakyat kalah dan menyerah!
martabat bangsa terpelanting
dan jatuh dengan wajah lusuh
ternyata negeri ini benar-benar
jadi milik para bedebah
kami ditipu dan tertipu
oleh senyuman dan wajah ramah
milik para bedebah
kasihan,...
Bireuen, 19 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
(kepada para bedebah yang merampas hak-hak kami)
inspirasi dari judul buku Tere Liye
Kamis, 18 Juli 2013
SILEUT
aku melihat senyum nan ranun
di wajahmu
seperti siluet dalam sebuah lukisan
di dinding rumah kita; bercahaya
aku ingin terus membingkai cinta
sampai usia senja, bersamamu
Bireuen, 18 Juli 2013 mukhlis aminullah
(kepada : ummi fildza)
di wajahmu
seperti siluet dalam sebuah lukisan
di dinding rumah kita; bercahaya
aku ingin terus membingkai cinta
sampai usia senja, bersamamu
Bireuen, 18 Juli 2013 mukhlis aminullah
(kepada : ummi fildza)
Senin, 15 Juli 2013
SENYUM BULAN
mengabaikan senyum bulan
bukan berarti petang sedang diam
setelah mengikat janji
empat belas tahun
hanya kamu yang tahu isi hatiku
bahwa luruh lantak bumi,
aku tetap akan bersamamu
Kota Juang, 15 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
bukan berarti petang sedang diam
setelah mengikat janji
empat belas tahun
hanya kamu yang tahu isi hatiku
bahwa luruh lantak bumi,
aku tetap akan bersamamu
Kota Juang, 15 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
Minggu, 14 Juli 2013
UANG KERTAS PENGUASA
apa guna bagiku secarik kertas?
kertas tetaplah kertas
bagiku, biasa saja secarik kertas
entahlah, bagimu !
aku tak perlu kertas-kertas itu
buang ! buang ! buang....!!!
jangan sodorkan padaku kertas
jangan paksa aku terima kertas
bawa padaku uang kertas
yang masih baru, seri terbaru
aku hanya perlu uang kertas
bukan kertas-kertas!!
anakku tidak mau dikirim kertas
dia butuh uang kertas
aku tidak bisa beli tanah
dengan kertas-kertas
tanahku dibeli dengan uang kertas
isteri mudaku tidak mau terima kertas
perhiasannya dibeli dengan uang kertas
mertuaku tak perlu kertas-kertas
kebunnya dibeli dengan uang kertas
buang! buang ! buang....!!!
jangan sodorkan padaku kertasmu
bawalah padaku sekoper uang kertas!
jangan ketahuan KPK iya....!
Kota Juang 14 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
episode kritik penguasa (jangan ada yang marah!)
kertas tetaplah kertas
bagiku, biasa saja secarik kertas
entahlah, bagimu !
aku tak perlu kertas-kertas itu
buang ! buang ! buang....!!!
jangan sodorkan padaku kertas
jangan paksa aku terima kertas
bawa padaku uang kertas
yang masih baru, seri terbaru
aku hanya perlu uang kertas
bukan kertas-kertas!!
anakku tidak mau dikirim kertas
dia butuh uang kertas
aku tidak bisa beli tanah
dengan kertas-kertas
tanahku dibeli dengan uang kertas
isteri mudaku tidak mau terima kertas
perhiasannya dibeli dengan uang kertas
mertuaku tak perlu kertas-kertas
kebunnya dibeli dengan uang kertas
buang! buang ! buang....!!!
jangan sodorkan padaku kertasmu
bawalah padaku sekoper uang kertas!
jangan ketahuan KPK iya....!
Kota Juang 14 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
episode kritik penguasa (jangan ada yang marah!)
Sabtu, 13 Juli 2013
TERIAK PENGUASA
tak peduli apa kata mereka
apa hubungan aku dengan mereka?
biar mereka sibuk semua
tak ada urusan aku dengan
mereka!
aku adalah Raja! aku Ketua!
aku Penguasa! aku adalah Panglima
tak ada yang berani melawanku
aku bisa lakukan apa saja
tak peduli kata mereka
aku tak butuh suaramu!
aku tak butuh suaramu!
sekali lagi kukatakan,
aku tak butuh suaramu!
kecuali nanti tahun 2014
Kota Juang, 12 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
apa hubungan aku dengan mereka?
biar mereka sibuk semua
tak ada urusan aku dengan
mereka!
aku adalah Raja! aku Ketua!
aku Penguasa! aku adalah Panglima
tak ada yang berani melawanku
aku bisa lakukan apa saja
tak peduli kata mereka
aku tak butuh suaramu!
aku tak butuh suaramu!
sekali lagi kukatakan,
aku tak butuh suaramu!
kecuali nanti tahun 2014
Kota Juang, 12 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
Jumat, 12 Juli 2013
MEMIMPIKAN AYAH
siang yang terik
hati masih saja mendung
mimpi petang belum bisa
akhiri semua duka
terhadap kepergianmu
aku rindu wajah teduh itu
untuk sekedar mengajak
berbuka puasa bersama!
Kota Juang, 11 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
hati masih saja mendung
mimpi petang belum bisa
akhiri semua duka
terhadap kepergianmu
aku rindu wajah teduh itu
untuk sekedar mengajak
berbuka puasa bersama!
Kota Juang, 11 Juli 2013 karya mukhlis aminullah
MENERIMA KEKALAHAN
Kekalahan jika dirasakan memang terasa pahit. Tapi kalau mau diresapi
kadang terasa manis.. Ada orang yang memaknai kekalahan sebagai bentuk
kegagalan, inilah kepahitan. Namun ada juga yang memaknainya kegagalan sebagai bentuk kemenangan yang tertunda, inilah buah manis.
Sekarang coba kita tanyakan kepada diri kita sendiri, berapa kali kita
mengalami kekalahan? Kalau saya sendiri berkali-kali. Saya pernah kalah
dalam prestasi sekolah, pernah kalah
dalam perlombaan, dan masih banyak lagi yang lain. Tiga kali pernah kalah dalam seleksi KIP yaitu tahun 2008 sebanyak 2 kali dan tahun 2013 satu kali. Awalnya saya suka
meratapi kekalahan tersebut. Apalagi kekalahan yang saya rasakan tidak dengan cara yang sportif, penuh intrik politik.
Tapi setelah saya renungkan ternyata tidak ada gunanya meratapi kekalahan.
Pada umumnya saat kita menerima kekalahan hal yang umum dirasakan adalah kecewa. Saya yakin hampir sebagian besar orang merasakan hal yang serupa. Apakah itu hal yang wajar? Saya katakan ya selama tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Kalau terlalu larut yang ada kita akan menjadi pesimis atas tindakan yang akan kita lakukan selanjutnya. Akhirnya kita akan takut melangkah untuk menebus kekalahan dengan sebuah kemenangan.
Kalau kita mau belajar dari sejarah dan belajar dari pengalaman hidup seseorang, di luar sana banyak orang-orang hebat yang di awal karier dan cita-citanya pernah mengalami kekalahan.Tapi mereka enjoy-enjoy saja. Karena mereka yakin kekalahan hari ini bisa dibayar di hari yang akan datang. Hari ini kita boleh kalah, tapi hari yang akan datang kita pasti bisa merebut kemenangan. Ini adalah prinsip hidup para pejuang sejati, yang tidak akan pernah menyerah sampai titik darah yang penghabisan.
Kalah dalam pertarungan itu adalah hal yang biasa. Tapi kekalahan sejati adalah ketika kita tidak mampu bangkit dari kekalahan, tidak mau mencoba untuk berbenah diri dan melanjutkan perjuangan. Inilah makna dari kekalahan yang sebenarnya. Jika hal ini sudah menggrogoti pikiran dan jiwa, maka kita tinggal menunggu kehancuran.
Tentu kita semua mengenal siapa Arnold, bintang film laga terkenal itu. Dan siapa yang mengenal si Rambo, Silvester Stallone. Sebelum keduanya terkenal dan hebat seperti sekarang, keduanya adalah orang miskin.
Maaf, sekedar mencatat, siapa yang tak kenal mantan Menteri BUMN asal Aceh Sofyan Djalil? Beliau adalah ciri khas orang sukses yang berasal dari nol. Berangkat sebagai anggota keluarga sederhana, beliau memperjuangkan hidupnya di belantara Ibukota seorang diri. Pernah tidur di Mesjid Istiqlal tahun 80-an. Tentu beliau tidak berhenti berusaha, terus menerus. Kalah dalam pertarungan hidup, tidak diratapi. Terus berusaha, sampai kemudian beliau berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika.
Cerita di atas hanya pengingat bagi kita bahwa kekalahan bukanlah akhir, tapi itu adalah awal menuju sebuah kesuksesan. Tidak ada orang yang ingin kalah, tapi kalau memang kita harus kalah, terimalah itu dengan lapang dada dan berjiwa besar.
Cara Menerima Kekalahan secara Positif
Berikut adalah beberapa cara positif yang bisa kita lakukan untuk menerima sebuah kekalahan dan memulai usaha untuk mencapai sebuah kemenangan.
1.Mengakui Kelebihan Lawan
Ketika kita mengalami kekalahan, maka hal yang seharusnya kita lakukan pertama adalah mengakui kelebihan lawan. Ini adalah wujud dari jiwa besar yang kita miliki. Akuilah bahwa memang lawan kita lebih baik diri kita. Apakah mengakui kelebihan lawan itu hal mudah? Memang tidak mudah, tapi kalau mau jujur dengan diri sendiri maka semua akan menjadi mudah. Kenapa orang lain bisa menang dan kita kalah, itu adalah tanggung jawab kita bukan tanggung jawab orang lain.
2.Tidak Perlu Beralasan
Orang yang banyak memberikan alasan adalah orang yang tidak bisa menerima kekalahan dengan jiwa yang besar. Berbagai alasan yang mereka utarakan hanya untuk menutupi kekurangan yang mereka punya. Hal ini tentu bukanlah mental yang dimiliki para juara, karena mental juara tidak akan punya pemikiran semacam itu. Jika diri kita masih suka mencari alasan dan suka mengambinghitamkan orang lain. Maka kemenangan tidak akan kita raih, kalaupun kita menang, kemenangan itu hanya semu.
3.Evaluasi Diri
Hal terpenting dalam hidup ini saat menerima kekalahan adalah dengan melakukan evaluasi diri. Evaluasi ini bisa di lakukan dengan banyak hal. Misalnya dengan merenung (introspeksi diri), meminta masukan dari orang lain, mau menerima kritik dan kalau perlu datanglah ke ahli yang punya kemampuan. Evaluasi diri ini akan menjadikan kita lebih peka terhadap kelemahan diri dan selalu berupaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut.
4.Belajarlah Terus
Setiap orang yang menang dan ingin mempertahankan kemenangannya maka ia harus belajar terus. Apalagi bagi kita yang kalah. Belajar itu adalah kunci keberhasilan dalam meraih kemenangan. Belajar ini bisa kita lakukan di mana saja dan dari siapa saja, termasuk dengan lawan kita. Seorang pejuang sejati dalam keadaan apapun ia selalu belajar untuk mengasah diri untuk menjadi pemenang Perlu saya ingatkan juga di luar sana lawan-lawan kita juga belajar terus. Sekarang coba kita bayangkan apa jadinya jika kita tidak mau belajar? Saya rasa tidak perlu dijelaskan pun anda akan tahu.
5.Mencobalah Terus
Ada kalanya kita melihat orang yang mengalami kekalahan cenderung memiliki kecemasan dan ketakutan. Kecemasan dan ketakutan inilah yang membuat mereka tidak berani mengambil risiko untuk yang ke dua kalinya atau seterusnya. Tentu hal ini bukanlah mental para pemenang sejati. Para pemenang sejati tidak akan pernah berhenti berjuang meskipun kekalahan demi kekalahan terus dialami. Namun ia tidak pernah menyerah dan yakin akan mencapai sebuah kemenangan. Bahkan bangsa ini pun pernah mengalami ratusan bahkan ribuan kali kekalahan, Namun apakah pemuda dan bangsa Indonesia kapok untuk berjuang? Tidak! Karena kalau kapok tidak mungkin bangsa ini bisa merdeka.
Maka dari itu untuk menjadi pemenang sejati anda harus berjiwa besar menerima kekalahan.
Mukhlis Aminullah
Tapi setelah saya renungkan ternyata tidak ada gunanya meratapi kekalahan.
Pada umumnya saat kita menerima kekalahan hal yang umum dirasakan adalah kecewa. Saya yakin hampir sebagian besar orang merasakan hal yang serupa. Apakah itu hal yang wajar? Saya katakan ya selama tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Kalau terlalu larut yang ada kita akan menjadi pesimis atas tindakan yang akan kita lakukan selanjutnya. Akhirnya kita akan takut melangkah untuk menebus kekalahan dengan sebuah kemenangan.
Kalau kita mau belajar dari sejarah dan belajar dari pengalaman hidup seseorang, di luar sana banyak orang-orang hebat yang di awal karier dan cita-citanya pernah mengalami kekalahan.Tapi mereka enjoy-enjoy saja. Karena mereka yakin kekalahan hari ini bisa dibayar di hari yang akan datang. Hari ini kita boleh kalah, tapi hari yang akan datang kita pasti bisa merebut kemenangan. Ini adalah prinsip hidup para pejuang sejati, yang tidak akan pernah menyerah sampai titik darah yang penghabisan.
Kalah dalam pertarungan itu adalah hal yang biasa. Tapi kekalahan sejati adalah ketika kita tidak mampu bangkit dari kekalahan, tidak mau mencoba untuk berbenah diri dan melanjutkan perjuangan. Inilah makna dari kekalahan yang sebenarnya. Jika hal ini sudah menggrogoti pikiran dan jiwa, maka kita tinggal menunggu kehancuran.
Tentu kita semua mengenal siapa Arnold, bintang film laga terkenal itu. Dan siapa yang mengenal si Rambo, Silvester Stallone. Sebelum keduanya terkenal dan hebat seperti sekarang, keduanya adalah orang miskin.
Maaf, sekedar mencatat, siapa yang tak kenal mantan Menteri BUMN asal Aceh Sofyan Djalil? Beliau adalah ciri khas orang sukses yang berasal dari nol. Berangkat sebagai anggota keluarga sederhana, beliau memperjuangkan hidupnya di belantara Ibukota seorang diri. Pernah tidur di Mesjid Istiqlal tahun 80-an. Tentu beliau tidak berhenti berusaha, terus menerus. Kalah dalam pertarungan hidup, tidak diratapi. Terus berusaha, sampai kemudian beliau berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika.
Cerita di atas hanya pengingat bagi kita bahwa kekalahan bukanlah akhir, tapi itu adalah awal menuju sebuah kesuksesan. Tidak ada orang yang ingin kalah, tapi kalau memang kita harus kalah, terimalah itu dengan lapang dada dan berjiwa besar.
Cara Menerima Kekalahan secara Positif
Berikut adalah beberapa cara positif yang bisa kita lakukan untuk menerima sebuah kekalahan dan memulai usaha untuk mencapai sebuah kemenangan.
1.Mengakui Kelebihan Lawan
Ketika kita mengalami kekalahan, maka hal yang seharusnya kita lakukan pertama adalah mengakui kelebihan lawan. Ini adalah wujud dari jiwa besar yang kita miliki. Akuilah bahwa memang lawan kita lebih baik diri kita. Apakah mengakui kelebihan lawan itu hal mudah? Memang tidak mudah, tapi kalau mau jujur dengan diri sendiri maka semua akan menjadi mudah. Kenapa orang lain bisa menang dan kita kalah, itu adalah tanggung jawab kita bukan tanggung jawab orang lain.
2.Tidak Perlu Beralasan
Orang yang banyak memberikan alasan adalah orang yang tidak bisa menerima kekalahan dengan jiwa yang besar. Berbagai alasan yang mereka utarakan hanya untuk menutupi kekurangan yang mereka punya. Hal ini tentu bukanlah mental yang dimiliki para juara, karena mental juara tidak akan punya pemikiran semacam itu. Jika diri kita masih suka mencari alasan dan suka mengambinghitamkan orang lain. Maka kemenangan tidak akan kita raih, kalaupun kita menang, kemenangan itu hanya semu.
3.Evaluasi Diri
Hal terpenting dalam hidup ini saat menerima kekalahan adalah dengan melakukan evaluasi diri. Evaluasi ini bisa di lakukan dengan banyak hal. Misalnya dengan merenung (introspeksi diri), meminta masukan dari orang lain, mau menerima kritik dan kalau perlu datanglah ke ahli yang punya kemampuan. Evaluasi diri ini akan menjadikan kita lebih peka terhadap kelemahan diri dan selalu berupaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut.
4.Belajarlah Terus
Setiap orang yang menang dan ingin mempertahankan kemenangannya maka ia harus belajar terus. Apalagi bagi kita yang kalah. Belajar itu adalah kunci keberhasilan dalam meraih kemenangan. Belajar ini bisa kita lakukan di mana saja dan dari siapa saja, termasuk dengan lawan kita. Seorang pejuang sejati dalam keadaan apapun ia selalu belajar untuk mengasah diri untuk menjadi pemenang Perlu saya ingatkan juga di luar sana lawan-lawan kita juga belajar terus. Sekarang coba kita bayangkan apa jadinya jika kita tidak mau belajar? Saya rasa tidak perlu dijelaskan pun anda akan tahu.
5.Mencobalah Terus
Ada kalanya kita melihat orang yang mengalami kekalahan cenderung memiliki kecemasan dan ketakutan. Kecemasan dan ketakutan inilah yang membuat mereka tidak berani mengambil risiko untuk yang ke dua kalinya atau seterusnya. Tentu hal ini bukanlah mental para pemenang sejati. Para pemenang sejati tidak akan pernah berhenti berjuang meskipun kekalahan demi kekalahan terus dialami. Namun ia tidak pernah menyerah dan yakin akan mencapai sebuah kemenangan. Bahkan bangsa ini pun pernah mengalami ratusan bahkan ribuan kali kekalahan, Namun apakah pemuda dan bangsa Indonesia kapok untuk berjuang? Tidak! Karena kalau kapok tidak mungkin bangsa ini bisa merdeka.
Maka dari itu untuk menjadi pemenang sejati anda harus berjiwa besar menerima kekalahan.
Mukhlis Aminullah
Langganan:
Postingan (Atom)