"seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi"
Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu,
mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara,
ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan
lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang
beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.
Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi
berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil
melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika
melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya,
“Masya Allah” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”
Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.
”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,
“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”
Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.
”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan
menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!”
’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi
lembah dan bukit di sekalian padang.
“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.
”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”
“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“
“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!”
Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Utsman pun masuk dan
menutup pintu dangaunya. Dia bersandar dibaliknya & bergumam,
”Demi Allah, benarlah Dia & RasulNya. Engkau memang bagai Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”
‘Umar memang bukan ‘Utsman. Pun juga sebaliknya. Mereka berbeda, dan masing-masing menjadi unik dengan watak khas yang dimiliki.
‘Umar, jagoan yang biasa bergulat di Ukazh, tumbuh di tengah bani
akhzum nan keras & bani Adi nan jantan, kini memimpin kaum mukminin.
Sifat-sifat itu –keras, jantan, tegas, tanggungjawab & ringan tangan turun
gelanggang – dibawa ‘Umar, menjadi ciri khas kepemimpinannya.
‘Utsman, lelaki pemalu, anak tersayang kabilahnya, datang dari keluarga bani
‘Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman sentausa. ’Umar tahu itu.
Maka tak dimintanya ‘Utsman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar
unta zakat yang melarikan diri. Tidak. Itu bukan kebiasaan ‘Utsman. Rasa
malulah yang menjadi akhlaq cantiknya. Kehalusan budi perhiasannya.
Kedermawanan yang jadi jiwanya. Andai ‘Utsman jadi menyuruh sahayanya mengejar
unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskan karena Allah & dibekalinya
bertimbun dinar.
Itulah ‘Umar. Dan inilah ‘Utsman. Mereka berbeda.
Bagaimanapun, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Utsman berusaha keras
meneladani sebagian perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup
sederhana ketika menjabat sebagai Khalifah misalnya.
“Suatu hari aku melihat ‘Utsman berkhutbah di mimbar Nabi ShallaLlaahu
‘Alaihi wa Sallam di Masjid Nabawi,” kata Anas . “Aku menghitung tambalan di
surban dan jubah ‘Utsman”, lanjut Anas, “Dan kutemukan tak kurang dari tiga
puluh dua jahitan.”
Dalam Dekapan ukhuwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita
memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang harus kita punya
adalah; jangan mengukur orang dengan baju kita sendiri, atau baju milik tokoh
lain lagi.
Dalam dekapan ukhuwah setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak
memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat tulus pada saudara yang sedang
diberi amanah memimpin umat. Tetapi jangan membebani dengan cara
membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat pada saudara yang tengah
diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara
menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf.
Dalam dekapan ukhuwah, berilah nasehat saudara yang dianugerahi ilmu.
Tapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid
ibn Tsabit yang menguasai bahawa Ibrani dalam empat belas hari.
Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman
yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa
yang berbeda. ‘Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu,
punya jawaban yang telak dan lucu.
“Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan ‘Umar” kata lelaki kepada ‘Ali,
“Keadaannya begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa
kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaanya begini kacau dan rusak?”
“Sebab,” kata ‘Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan ‘Umar, rakyatnya seperti aku.
Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”
Dalam dekapan ukhuwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada
untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan menuntut orang lain
berperilaku seperti halnya Abu Bakar, ‘Umar, “Utsman atau ‘Ali.
Sebagaimana Nabi tidak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu
Bakar, fahamilah dalam-dalam tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri
kita sebagai orang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk
berperilaku sebagaimana para salafush shalih dan sesudah itu tak perlu
sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.
Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga menjadi teladan,
akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan
yang sunyi dalam dekapan ukhuwah.
Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing hati memiliki
kecenderungannya, masing-masing badan memiliki pakaiannya dan
masing-masing kaki mempunyai sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan
sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladannya akan menjadi
ikutan sepanjang masa.
Selanjutnya, kita harus belajar untuk menerima bahwa sudut pandang orang
lain adalah juga sudut pandang yang absah. Sebagai sesama mukmin,
perbedaan dalam hal-hal bukan asasi
tak lagi terpisah sebagai “haq” dan “bathil”. Istilah yang tepat adalah “shawab” dan “khatha”.
Tempaan pengalaman yang tak serupa akan membuatnya lebih berlainan lagi antara satu dengan yang lain.
Seyakin-yakinnya kita dengan apa yang kita pahami, itu tidak seharusnya
membuat kita terbutakan dari kebenaran yang lebih bercahaya.
Imam Asy Syafi’i pernah menyatakan hal ini dengan indah. “Pendapatku ini
benar,” ujar beliau,”Tetapi mungkin mengandung kesalahan. Adapun
pendapat orang lain itu salah, namun bisa jadi mengandung kebenaran.”
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah
Jumat, 04 Januari 2013
NYALAKAN LILIN
Apa arti sebuah lilin dalam kehidupan? Mungkin ini terlalu
dipertanyakan. Sebab, lilin hanya sebuah benda kecil. Kegunaannya baru
Nampak ketika lampu listrik di rumah kita padam. Tapi, lilin adalah
cahaya. Dan cahaya merupakan sebentuk materi. Kebalikannya adalah gelap.
Yang terakhir ini bukan materi. Ia tidak memiliki daya. Ia adalah
keadaan hampa cahaya. Karena itu, meskipun kecil, lilin selalu dapat
mengusir gelap.
Allah memisalkan petunjuk dengan cahaya, kesesatan sebagai gelap. Ini mengisyaratkan, pasukan kesesatan tak memiliki sedikitpun daya di depan pasukan cahaya. Ia hadir ketika pasukan cahaya menghilang. Sepanjang sejarah, umat kita mengalami kesesatan ketika ‘roda pergerakan syiar dakwah’ berhenti bergerak.
Disini tersirat sebuah kaidah syiar dakwah. Bahwa gelap yang menyelimuti langit kehidupan kita, sebenarnya dapat diusir dengan mudah, bila kita mau menyalakan lilin syiar ini kembali. Berhentilah mengikuk gelap. Ia toh tak berwujud dan tak berdaya. Kita tak perlu memanggil matahari untuk mengusirnya. Tidak juga bulan.
Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan kutukan. Sama seperti tak bergunanya, ratapan di depan sebuah bencana. Musibah, jahiliyah, kekalahan yang sekarang merajalela di seantero dunia Islam kita, tak perlu ‘di islah’ dengan kutukan ataupun ratapan. Sebab kedua tindakan itu tidak menunjukan sikap ‘Ijabiyah’ (positif) dalam menghadapi realita. “Adalah lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan”.
Sikap ijabiyah menuntut kita untuk menciptakan kehadiran yang berimbang dengan kehadiran fenomena jahiliyah dalam pentas kehidupan. Ini mungkin tak kita selesaikan dalam sekejap. Tapi sikap mental imani yang paling minimal, yang harus terpatri dalam jiwa kita, adalah membuang keinginan untuk pasrah atau menghindari kenyataan. Kenyataan yang paling buruk sekalipun, tidak boleh melebihi besarnya kapasitas jiwa dan iman kita untuk menghadapinya.
Disini ada sebuah pengajaran yang agung. Bahwa sudah saatnya kita membuang kecenderungan meremehkan potensi diri kita. Ketika kita mempersembahkan sebuah amal yang sangat kecil, saat itu kita harus membesarkan jiwa kita dengan mengharap hasil yang memadai. Sebab amal yang kecil itu, selama ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal yang lebih besar. Ibnul Qayyim mengatakan, sunnah yang baik, akan mengajak pelakunya melakukan ‘saudara-saudara’ sunnah itu.
Akhirnya, tutuplah matamu dan nyalakan lilin, lalu: “Katakanlah, telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna”.
Diambil dari buku Arsitek Peradaban,
ditulis oleh Ust. Anis Matta Lc.
Allah memisalkan petunjuk dengan cahaya, kesesatan sebagai gelap. Ini mengisyaratkan, pasukan kesesatan tak memiliki sedikitpun daya di depan pasukan cahaya. Ia hadir ketika pasukan cahaya menghilang. Sepanjang sejarah, umat kita mengalami kesesatan ketika ‘roda pergerakan syiar dakwah’ berhenti bergerak.
Disini tersirat sebuah kaidah syiar dakwah. Bahwa gelap yang menyelimuti langit kehidupan kita, sebenarnya dapat diusir dengan mudah, bila kita mau menyalakan lilin syiar ini kembali. Berhentilah mengikuk gelap. Ia toh tak berwujud dan tak berdaya. Kita tak perlu memanggil matahari untuk mengusirnya. Tidak juga bulan.
Tak ada yang dapat kita selesaikan dengan kutukan. Sama seperti tak bergunanya, ratapan di depan sebuah bencana. Musibah, jahiliyah, kekalahan yang sekarang merajalela di seantero dunia Islam kita, tak perlu ‘di islah’ dengan kutukan ataupun ratapan. Sebab kedua tindakan itu tidak menunjukan sikap ‘Ijabiyah’ (positif) dalam menghadapi realita. “Adalah lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuk kegelapan”.
Sikap ijabiyah menuntut kita untuk menciptakan kehadiran yang berimbang dengan kehadiran fenomena jahiliyah dalam pentas kehidupan. Ini mungkin tak kita selesaikan dalam sekejap. Tapi sikap mental imani yang paling minimal, yang harus terpatri dalam jiwa kita, adalah membuang keinginan untuk pasrah atau menghindari kenyataan. Kenyataan yang paling buruk sekalipun, tidak boleh melebihi besarnya kapasitas jiwa dan iman kita untuk menghadapinya.
Disini ada sebuah pengajaran yang agung. Bahwa sudah saatnya kita membuang kecenderungan meremehkan potensi diri kita. Ketika kita mempersembahkan sebuah amal yang sangat kecil, saat itu kita harus membesarkan jiwa kita dengan mengharap hasil yang memadai. Sebab amal yang kecil itu, selama ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal yang lebih besar. Ibnul Qayyim mengatakan, sunnah yang baik, akan mengajak pelakunya melakukan ‘saudara-saudara’ sunnah itu.
Akhirnya, tutuplah matamu dan nyalakan lilin, lalu: “Katakanlah, telah datang kebenaran. Sesungguhnya kebatilan itu pasti sirna”.
Diambil dari buku Arsitek Peradaban,
ditulis oleh Ust. Anis Matta Lc.
AMPOLP UNGU (UNDANGAN)
bergetar! bergetar tanganku
menerima sepucuk suratmu
terpikir olehku itu adalah isyarat
tentang indahnya Laut Tawar
bercerita tentang dinginnya
Takengon yang kita singgahi
beberapa waktu silam
aku terpesona, amplop ungu!
ya, amplop ungu!
aku yakin isinya berkisah
tentang luasnya alam
dan yang pernah kita impikan
untuk kita lalui bersama-sama,
dan itu cerita kita berdua
pada suatu sore di tepi danau
aku terpesona, amplop ungu!
dan, sesaat kemudian aku terdiam
ternyata kau mengirim undangan
"mohon do'a restu" katamu
dan amplop ungu jadi buram
aku diam, alam bukan milik kita!
Takengon, Desember 2012
karya mukhlis aminullah
(kisah seorang teman baik saya, sabar elo iya...)
menerima sepucuk suratmu
terpikir olehku itu adalah isyarat
tentang indahnya Laut Tawar
bercerita tentang dinginnya
Takengon yang kita singgahi
beberapa waktu silam
aku terpesona, amplop ungu!
ya, amplop ungu!
aku yakin isinya berkisah
tentang luasnya alam
dan yang pernah kita impikan
untuk kita lalui bersama-sama,
dan itu cerita kita berdua
pada suatu sore di tepi danau
aku terpesona, amplop ungu!
dan, sesaat kemudian aku terdiam
ternyata kau mengirim undangan
"mohon do'a restu" katamu
dan amplop ungu jadi buram
aku diam, alam bukan milik kita!
Takengon, Desember 2012
karya mukhlis aminullah
(kisah seorang teman baik saya, sabar elo iya...)
Kamis, 03 Januari 2013
ULANG TAHUN
adakah gerimis pagi hari
terus membasahi cinta?
sambut pagi milikmu
yang ke tiga puluh tujuh
aku ingin merayakan
hanya dengan do'a
agar kamu panjang umur
dan kita dapat merayakan
pagi berikutnya bersama
anak-anak kita
sampai usia tua!
hai,
"Selamat Ulang Tahun"
Bireuen, 3 Januari 2013
karya mukhlis aminullah
terus membasahi cinta?
sambut pagi milikmu
yang ke tiga puluh tujuh
aku ingin merayakan
hanya dengan do'a
agar kamu panjang umur
dan kita dapat merayakan
pagi berikutnya bersama
anak-anak kita
sampai usia tua!
hai,
"Selamat Ulang Tahun"
Bireuen, 3 Januari 2013
karya mukhlis aminullah
BUNGA MEKAR
embun menetes perlahan
bunga mekar di taman rumah
merah merona pipi puan
saat cinta kita menyambut pagi
subuh sudah dekat, rupanya
jangan lupa mandi!
Bireuen, 15 Oktober 2012
karya mukhlis aminullah
KURUS
tulang, hanya tulang
tersisa di tubuh ini
ketika rasa sakit mengerang
semua kenikmatan hilang
hanya tinggal kulit
pembungkus tulang!
asa hanya padaMu, Rabb-ku
agar badan ini sehat kembali
dan tidak nampak lagi
kulit membungkus tulang!
Kota Juang, 28 Desember 2012
karya mukhlis aminullah
tersisa di tubuh ini
ketika rasa sakit mengerang
semua kenikmatan hilang
hanya tinggal kulit
pembungkus tulang!
asa hanya padaMu, Rabb-ku
agar badan ini sehat kembali
dan tidak nampak lagi
kulit membungkus tulang!
Kota Juang, 28 Desember 2012
karya mukhlis aminullah
Minggu, 02 Desember 2012
KEKUATAN LANGKAH PERTAMA
Langkah pertama selalu diperlukan. Perjalanan 1.000 km selalu diawali dengan langkah pertama. Bisnis besar, karir yang cemerlang, dan kehidupan sukses lainnya diawali dengan langkah pertama.
Atau saat Anda memasuki kehidupan yang baru, baik dalam bisnis, karir,
keluarga, dan sebagainya, Anda akan melalui langkah pertama.Apa
istimewanya langkah pertama? Langkah pertama itu berat. Seperti mobil
atau sepeda motor, untuk mulai menggelinding harus menggunakan gigi
satu karena memerlukan tenaga yang besar. Setelah berjalan, mobil bisa
menggunakan gigi 2,3,4, dan 5. Langkah pertama juga adalah momentum.
Kesulitan akan terjadi pada langkah pertama, dan itu adalah wajar.
Namun, saat kita berhasil melalui langkah pertama, maka apa yang kita
lakukan akan lebih lancar.
Langkah Pertama Tidak Berhasil
Banyak orang yang mengalami kegagalan
pada langkah pertama. Kegagalan ini adalah wajar. Namanya juga langkah
pertama, berat dan kita masih meraba-raba. Langkah pertama memang
seringkali begitu sulit sehingga banyak yang gagal. Namun, bukan
masalah gagal atau tidaknya yang harus menjadi perhatian Anda, tetapi
yang lebih penting adalah bagaimana Anda menyikapi kegagalan tersebut.
Karena kegagalan di langkah pertama itu
adalah sesuatu yang wajar, maka Anda tidak perlu kecewa, tidak perlu
sedih, apalagi menyerah karena putus asa. Santai saja. Berpikirlah yang
jernih untuk mencari jawaban agar Anda bisa melangkah dengan benar.
Tariklah nafas untuk mencari dan mengumpulkan energi untuk memulai
melangkahkan kaki. Cobalah lagi dengan cara yang berbeda setelah Anda
mempelajari kesalahan sebelumnya.
Langkah Pertama : Keluar Zona Nyaman
Saat Anda melakukan langkah pertama,
artinya ada sedang berusaha keluar dari zona nyaman. Memang perpindahan
zona selalu memerlukan energi lebih. Anda perlu energi lebih untuk
mempelajari langkah-langkah yang harus Anda tempuh. Anda perlu energi
sebab daya tarik zona nyaman begitu besar dan Anda harus lepas dari
tarikan untuk kembali ke zona nyaman.
“Wah ternyata sulit, ini bukan untuk saya.”
“Saya tidak sanggup melakukan hal ini.”
“Saya memang tidak berbakat.”
Kata-kata diatas adalah lagu lama Anda di
zona nyaman. Jangan biarkan hati Anda menyanyikan lagu-lagu ini karena
Anda akan terus terlena menikmati zona nyaman. Tidak ada kenyamanan
sejati di zona nyaman.
Sekali Anda berhasil mengayunkan langkah
pertama, artinya Anda sudah berada di zona zukses. Langkah selanjutnya
akan lebih mudah. Yang Anda perlukan sekarang adalah cari tahu
bagaimana cara melangkah dan kumpulkan energi untuk kekuatan langkah
Anda. Ingat, langkah pertama adalah titik awal keberhasilan Anda.
Jangan berhenti apalagi mundur.
Langkah Pertama Seorang Bayi
Lihatlah seorang bayi yang sedang belajar
berjalan. Dia mencoba berjalan, kemudian terjatuh. Mungkin dia nagis,
tetapi dia berusaha lagi untuk mencoba melangkah dengan penuh
keceriaan. Sampai akhirnya dia mampu berjalan dengan penuh suka cita.
Kita bisa meniru seorang bayi yang tidak
pernah menyerah meski sulit untuk melangkah yang pertama. Karena kita
tahu, ada keceriaan, kebahagiaan, dan keberhasilan setelah kita mampu
melangkah yang pertama kali. Teruslah mencoba, teruslah melangkah meski
Anda harus jatuh bangun. Belajarlah cara melangkah yang benar. Carilah
bimbingan seperti seorang bayi yang dituntun oleh ibunya untuk
melangkah.
Kadang, seorang ibu memperlihatkan mainan
kesukaan bayinya agar mau mencoba untuk berjalan. Untuk merangsang dan
menambah motivasi. Begitu juga, jika Anda merasa kehilangan motivasi,
lihatlah dalam imajinasi Anda bahwa di depan ada sesuatu yang Anda
inginkan. Lihatlah terus dan kejarlah dengan ceria dan penuh semangat
agar langkah pertama Anda penuh energi.
Tidak berhasil pada langkah pertama itu wajar, yang penting teruslah mencoba untuk melangkah.
Senin, 26 November 2012
CINTA ITU SEPERTI MENUNGGU BIS
Sebuah bis datang, dan kau bilang, “Wah…terlalu sumpek dan panas, nggak bisa duduk nyaman nih! aku tunggu bis berikutnya saja”
Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini… nggak mau ah..”
Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,
“Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan”. Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..
Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju!
Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..
Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kau pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.
Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kau masih bisa berteriak ‘Kiri !’ dan keluar dengan sopan.
Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Cerita ini juga berarti, kalau kau benar-benar menemukan bis yang kosong, kau sukai dan bisa kau percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kau dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kau masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.
Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih dan kok gak cakep begini… nggak mau ah..”
Bis selanjutnya datang, cool dan kau berminat, tapi dia seakan-akan tidak melihatmu dan melewatimu begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,
“Nggak ada AC nih, gua bisa kepanasan”. Maka kamu membiarkan bis keempat pergi..
Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor. Ketika bis kelima datang, kau sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya. Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kau tuju!
Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama..
Moral dari cerita ini, sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kau pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.
Tidak ada salahnya memiliki persyaratan untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita. Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kau masih bisa berteriak ‘Kiri !’ dan keluar dengan sopan.
Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu. Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Cerita ini juga berarti, kalau kau benar-benar menemukan bis yang kosong, kau sukai dan bisa kau percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kau dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu. Untuk dia memberi kesempatan kau masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.
Langganan:
Postingan (Atom)