Kerendah Hatian bisa melampaui
segala pendakian tahap demi tahap! Ia adalah
pintu yang tak terkunci, karena semua
telah diserahkan kepadanya!
Adalah kotor, dia yang memperturutkan
kedirian. Dan sucilah ia yang mengikuti akal.
Sedang kerendah hatian berarti mendirikan
sebuah tenda di sisi lain dari keduanya.
Hati para pencinta Tuhan telah membentuk
sebuah lingkaran kerendah hatian,
maka kerendah hatian adalah guru
dari para guru. Dimana seluruh hati
adalah muridnya.
Jalaluddin Rumi
(9326-9328)
Jumat, 21 Oktober 2011
DIA YANG ASING
Dia mengaku Allah Tuhan yang Esa
tapi bacaan syahadat dia lupa
mushaf alqur'an menjadi pajangan dalam rak sempit
sedangkan koran dan majalah menjadi bacaan wajib
Dia mengaku Islam
Walau Sholat jarang dia tegakkan
kesibukan menjadi sebuah alasan
sibuk main, sibuk kerja, atau sibuk fesbukan
dia mengaku iman
walau puasa ramadhan sering dia tinggalkan
saat saudaranya kehausan dan kelaparan
dia asyik nongkrong di warung makan
dia mengaku ihsan
tapi zakat tak pernah dia tunaikan
ibadah haji dianggapnya jalan-jalan
hanya mengharapkan penghormatan dari kawan
jika dia itu adalah kita semua
ingatlah, saat nanti kita meregang nyawa
takkan ada bekal dibawa
kecuali amal sholih selama hidup di dunia
kala Mungkar dan Nakir mengajukan tanya
hanya iman dan taqwa yang mampu menjawabnya
sebelum saat itu menghampiri
mari kita perbaiki diri
berusaha mensucikan hati
hingga ajal menjemput kita nanti
karya; saiful (by dudung.net)
tapi bacaan syahadat dia lupa
mushaf alqur'an menjadi pajangan dalam rak sempit
sedangkan koran dan majalah menjadi bacaan wajib
Dia mengaku Islam
Walau Sholat jarang dia tegakkan
kesibukan menjadi sebuah alasan
sibuk main, sibuk kerja, atau sibuk fesbukan
dia mengaku iman
walau puasa ramadhan sering dia tinggalkan
saat saudaranya kehausan dan kelaparan
dia asyik nongkrong di warung makan
dia mengaku ihsan
tapi zakat tak pernah dia tunaikan
ibadah haji dianggapnya jalan-jalan
hanya mengharapkan penghormatan dari kawan
jika dia itu adalah kita semua
ingatlah, saat nanti kita meregang nyawa
takkan ada bekal dibawa
kecuali amal sholih selama hidup di dunia
kala Mungkar dan Nakir mengajukan tanya
hanya iman dan taqwa yang mampu menjawabnya
sebelum saat itu menghampiri
mari kita perbaiki diri
berusaha mensucikan hati
hingga ajal menjemput kita nanti
karya; saiful (by dudung.net)
HIBURAN SEJATI, BAGAIMANA MEMILIKINYA?
Syarat bagi ketenangan hati ialah keperluan asasinya diisi yaitu iman. Orang yang beriman akan mendapat kepuasan dengan hiburan yang berbekas di hati.
Hiburan yang sejati puncaknya adalah hati yang tenang. Syarat bagi ketenangan hati ialah keperluan asasinya diisi, yaitu iman. Orang beriman akan mendapat kepuasan dengan hiburan yang berbekas pada hati. Artinya, jika hati benar-benar disuburkan dengan iman, maka hati pun akan terhibur. Inilah hiburan sejati bagi orang-orang beriman:
1. Berhubungan dengan Allah dengan sholat dan mendengar lantunan azan.
Rasulullah saw bersabda, " Wahai Bilal, tenangkan kami dengan azanmu." Hanya dengan sholat , hati orang yang bertaqwa sudah terhibur sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Sejuk mataku di dunia dengan solat." Hati orang-orang bertaqwa terhibur dengan sholatnya karena mereka merasa seolah-olah sedang berbisik-bisik, bermesra, mengadu dan merintih dengan kekasih hatinya. Siapa yang tidak merasa terhibur kalau sudah bersama kekasih?
2. Melaksanakan perintah Allah.
Apabila melaksanakan perintah Allah, orang-orang beriman akan terhibur kerana merasakan perintah itu datangnya dari kekasih hati. Bila yang memerintahnya adalah kekasih, apa lagi yang ingin disusah-susahkan? Kalau sudah cinta, lautan api akan diseberangi. Puncak Himalaya akan sanggup didaki. Orang yang tidak tahu menyangka mereka menderita tetapi sebenarnya mereka bahagia.
3. Bergaul dengan banyak orang.
Orang yang telah mendapat hibuan sejati, sikapnya tenang. Bila bergaul dengan manusia, mereka terhibur dan menghibur. Kasih sayang terpancar pada wajah, sikap dan tutur katanya. Bagi orang beriman, kasih sayang dalam pergaulan memberi hiburan yang sangat bernilai. Dia menyayangi dan disayangi. Sebaliknya, manusia yang tidak mendapat hiburan sejati menjadi seorang pemarah, pendendam dan emosional. Mereka tidak terhibur dan tidak dapat menghibur. Dalam pergaulan, mereka selalu menyakiti orang lain karena mereka mencoba mendapatkan 'hiburan' dengan melepaskan keresahan yang ada dalam hatinya.
4. Menerima ketentuan hidup dari Allah.
Orang mukmin juga merasa terhibur dengan warna kehidupan yang diberikan Allah. Hatinya senantiasa bersangka baik dengan Allah. Hal itu yang membuatnya tidak pernah merasa resah. Bila diberi nikmat, mereka terhibur lalu mereka bersyukur. Diberi kesusahan mereka juga terhibur lalu mereka bersabar. Bila sakit, terasa diberi kesempatan untuk mendapat ampunan. Hanya badan yang sakit, tetapi hati tetap kuat dan sehat untuk mengingat Allah. Bila sehat, terasa diberi rahmat.
5. Melihat dan merenungi ciptaan Allah.
Orang yang beriman juga akan terhibur dengan melihat alam ciptaan Allah. Timbul rasa tenang, gembira dan bahagia melihat pantai-pantai yang bersih, bukit yang menghijau, laut yang berombak dan sebagainya. Melihat, mendengar dan berfikir itu sudah cukup untuk merasakan keindahan Penciptanya.
Sebaliknya mereka yang tidak beriman atau lemah imannya memerlukan hiburan luar yang sangat banyak. Walaupun sudah bermacam-macam jenis hiburan yang dinikmati, tetapi hidup masih menjemukan. Mereka tidak pernah puas karena apa yang mereka nikmati hanya hiburan palsu. Jika iman sudah disuburkan di dalam hati, manusia tidak memerlukan hiburan yang banyak seperti sekarang ini. Mereka cukup terhibur dengan membaca al-quran, nasyid, lagu-lagu tanpa musik yang melalaikan, bershalawat dan ibadah-ibadah yang lain. Semua itu sudah cukup untuk memuaskan hati. Namun ini tidaklah berarti orang beriman menolak langsung hiburan-hiburan dari luar diri.
Bagi mereka, hiburan luar itu boleh saja untuk lebih menyuburkan lagi hiburan dari dalam diri, yakni iman, dengan syarat ia mematuhi syariat. Alunan ayat suci al-Quran, nasyid yang mengagungkan Allah, shalawat yang memuji nabi, puisi yang menghaluskan rasa kehambaan kepada Allah, pasti akan semakin menyuburkan iman, sumber hiburan utama di dalam hati orang yang beriman.
Inilah garis pemisah antara hiburan sejati yang dinikmati oleh orang beriman dengan hiburan palsu yang melalaikan orang yang tidak beriman. Inilah hakikat yang masih belum tersurat di mata masyarakat. Masih banyak yang menganggap, jika Islam diterapkan, maka kehidupan akan berubah menjadi suram dan murung. Tidak ada keceriaannya karena mereka beranggapan bahwa Islam menolak hiburan. Tetapi kini, hal itu sudah terjawab bahwa Allah swt telah menyediakan satu hiburan sejati kepada para hamba-Nya.Hiburan yang dapat dirasakan di dunia lagi sebelum hamba-Nya menikmati hiburan yang hakiki di akhirat.
sumber; dudung.net
Hiburan yang sejati puncaknya adalah hati yang tenang. Syarat bagi ketenangan hati ialah keperluan asasinya diisi, yaitu iman. Orang beriman akan mendapat kepuasan dengan hiburan yang berbekas pada hati. Artinya, jika hati benar-benar disuburkan dengan iman, maka hati pun akan terhibur. Inilah hiburan sejati bagi orang-orang beriman:
1. Berhubungan dengan Allah dengan sholat dan mendengar lantunan azan.
Rasulullah saw bersabda, " Wahai Bilal, tenangkan kami dengan azanmu." Hanya dengan sholat , hati orang yang bertaqwa sudah terhibur sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Sejuk mataku di dunia dengan solat." Hati orang-orang bertaqwa terhibur dengan sholatnya karena mereka merasa seolah-olah sedang berbisik-bisik, bermesra, mengadu dan merintih dengan kekasih hatinya. Siapa yang tidak merasa terhibur kalau sudah bersama kekasih?
2. Melaksanakan perintah Allah.
Apabila melaksanakan perintah Allah, orang-orang beriman akan terhibur kerana merasakan perintah itu datangnya dari kekasih hati. Bila yang memerintahnya adalah kekasih, apa lagi yang ingin disusah-susahkan? Kalau sudah cinta, lautan api akan diseberangi. Puncak Himalaya akan sanggup didaki. Orang yang tidak tahu menyangka mereka menderita tetapi sebenarnya mereka bahagia.
3. Bergaul dengan banyak orang.
Orang yang telah mendapat hibuan sejati, sikapnya tenang. Bila bergaul dengan manusia, mereka terhibur dan menghibur. Kasih sayang terpancar pada wajah, sikap dan tutur katanya. Bagi orang beriman, kasih sayang dalam pergaulan memberi hiburan yang sangat bernilai. Dia menyayangi dan disayangi. Sebaliknya, manusia yang tidak mendapat hiburan sejati menjadi seorang pemarah, pendendam dan emosional. Mereka tidak terhibur dan tidak dapat menghibur. Dalam pergaulan, mereka selalu menyakiti orang lain karena mereka mencoba mendapatkan 'hiburan' dengan melepaskan keresahan yang ada dalam hatinya.
4. Menerima ketentuan hidup dari Allah.
Orang mukmin juga merasa terhibur dengan warna kehidupan yang diberikan Allah. Hatinya senantiasa bersangka baik dengan Allah. Hal itu yang membuatnya tidak pernah merasa resah. Bila diberi nikmat, mereka terhibur lalu mereka bersyukur. Diberi kesusahan mereka juga terhibur lalu mereka bersabar. Bila sakit, terasa diberi kesempatan untuk mendapat ampunan. Hanya badan yang sakit, tetapi hati tetap kuat dan sehat untuk mengingat Allah. Bila sehat, terasa diberi rahmat.
5. Melihat dan merenungi ciptaan Allah.
Orang yang beriman juga akan terhibur dengan melihat alam ciptaan Allah. Timbul rasa tenang, gembira dan bahagia melihat pantai-pantai yang bersih, bukit yang menghijau, laut yang berombak dan sebagainya. Melihat, mendengar dan berfikir itu sudah cukup untuk merasakan keindahan Penciptanya.
Sebaliknya mereka yang tidak beriman atau lemah imannya memerlukan hiburan luar yang sangat banyak. Walaupun sudah bermacam-macam jenis hiburan yang dinikmati, tetapi hidup masih menjemukan. Mereka tidak pernah puas karena apa yang mereka nikmati hanya hiburan palsu. Jika iman sudah disuburkan di dalam hati, manusia tidak memerlukan hiburan yang banyak seperti sekarang ini. Mereka cukup terhibur dengan membaca al-quran, nasyid, lagu-lagu tanpa musik yang melalaikan, bershalawat dan ibadah-ibadah yang lain. Semua itu sudah cukup untuk memuaskan hati. Namun ini tidaklah berarti orang beriman menolak langsung hiburan-hiburan dari luar diri.
Bagi mereka, hiburan luar itu boleh saja untuk lebih menyuburkan lagi hiburan dari dalam diri, yakni iman, dengan syarat ia mematuhi syariat. Alunan ayat suci al-Quran, nasyid yang mengagungkan Allah, shalawat yang memuji nabi, puisi yang menghaluskan rasa kehambaan kepada Allah, pasti akan semakin menyuburkan iman, sumber hiburan utama di dalam hati orang yang beriman.
Inilah garis pemisah antara hiburan sejati yang dinikmati oleh orang beriman dengan hiburan palsu yang melalaikan orang yang tidak beriman. Inilah hakikat yang masih belum tersurat di mata masyarakat. Masih banyak yang menganggap, jika Islam diterapkan, maka kehidupan akan berubah menjadi suram dan murung. Tidak ada keceriaannya karena mereka beranggapan bahwa Islam menolak hiburan. Tetapi kini, hal itu sudah terjawab bahwa Allah swt telah menyediakan satu hiburan sejati kepada para hamba-Nya.Hiburan yang dapat dirasakan di dunia lagi sebelum hamba-Nya menikmati hiburan yang hakiki di akhirat.
sumber; dudung.net
SAKIT
seminggu sudah
jiwaku resah
hati pun pilu belum berlalu
sungguh,
lara, nestapa...
aku tak sanggup menatap mu
terbaring lemah
dengan mata kecut pandangi langit-langit kamar
dan jarum suntik
seminggu sudah
jiwa ku gundah
hati sedih mata basah...
(memandang tubuh cekingmu
adalah bukan kebiasaanku selama 38 tahun)
Ibu,
teriring do'a selalu untukmu
agar engkau segera sembuh
Kota Juang, 20 Oktober 2011 karya mukhlis abi fildza
(untuk ibu tercinta)
jiwaku resah
hati pun pilu belum berlalu
sungguh,
lara, nestapa...
aku tak sanggup menatap mu
terbaring lemah
dengan mata kecut pandangi langit-langit kamar
dan jarum suntik
seminggu sudah
jiwa ku gundah
hati sedih mata basah...
(memandang tubuh cekingmu
adalah bukan kebiasaanku selama 38 tahun)
Ibu,
teriring do'a selalu untukmu
agar engkau segera sembuh
Kota Juang, 20 Oktober 2011 karya mukhlis abi fildza
(untuk ibu tercinta)
Minggu, 09 Oktober 2011
BUNGA LUKISAN
laksana indah kelopak bunga
warnanya cerah tenteramkan mata
harumnya tebar pesona
jadikan undangan tumbuhkan asa
jiwamu tenang
seperti bulan
mengintip pelan malam purnama
jadikan mimpi memagut rasa
perangaimu lembut
kayak lukisan
hati tak bosan sambut ceria
dalamnya laut
bukan alasan
takut menyelam raih permata
wahai,
angin sepoi sore...
izinkan aku menjaga taman
sampai usia senja
kota juang, 9 Oktober 2011 karya mukhlis abi fildza.
warnanya cerah tenteramkan mata
harumnya tebar pesona
jadikan undangan tumbuhkan asa
jiwamu tenang
seperti bulan
mengintip pelan malam purnama
jadikan mimpi memagut rasa
perangaimu lembut
kayak lukisan
hati tak bosan sambut ceria
dalamnya laut
bukan alasan
takut menyelam raih permata
wahai,
angin sepoi sore...
izinkan aku menjaga taman
sampai usia senja
kota juang, 9 Oktober 2011 karya mukhlis abi fildza.
NODA
apa yang mesti ku baca
pada raut wajahmu yang bening...?
selain kebodohanku,
yang telah khianati kesucian cinta kita
kini saatnya melangkah pergi
menjauh,
dari cinta yang bukan aku punya
sebelum noda itu membunuhku
dan
merusak jiwa membabi buta
kota juang, 9 Okotober 2011 karya mukhlis abi fildza,
(sebuah refleksi untuk sahabat yang mencoba bermain-main dengan cinta---yang lain)
pada raut wajahmu yang bening...?
selain kebodohanku,
yang telah khianati kesucian cinta kita
kini saatnya melangkah pergi
menjauh,
dari cinta yang bukan aku punya
sebelum noda itu membunuhku
dan
merusak jiwa membabi buta
kota juang, 9 Okotober 2011 karya mukhlis abi fildza,
(sebuah refleksi untuk sahabat yang mencoba bermain-main dengan cinta---yang lain)
"PERSAHABATAN"
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
by Kahlil Gibran
Dan dia? menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam? persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika? kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
by Kahlil Gibran
RASULULLAH S.A.W & PENGEMIS BUTA
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata:
“Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”
Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Rasulullah SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha (salah satu istri Rasulullah SAW). Beliau bertanya kepada anaknya,
“Anakku adakah sunnah kekasihku (Muhammad) yang belum aku kerjakan?”.
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya,
“Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu?”, tanya Abu Bakar r.a.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.
Sebagaimana kita ketahui bersama Abu Bakar r.a adalah sebagai Amirul Mu’minin (Khalifah/Raja/Presiden seluruh ummat Islam pada waktu itu.
Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak,
“Siapakah kamu?”.
Abu Bakar r.a menjawab,
“Aku orang yang biasa”.
“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu,
“Ketika ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku dengan lembut”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
“Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun ikut menangis, kemudian berkata,
“Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya mengucapkan “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh..” dihadapan Abu Bakar r.a.
“Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”
Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Rasulullah SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha (salah satu istri Rasulullah SAW). Beliau bertanya kepada anaknya,
“Anakku adakah sunnah kekasihku (Muhammad) yang belum aku kerjakan?”.
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya,
“Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu?”, tanya Abu Bakar r.a.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.
Sebagaimana kita ketahui bersama Abu Bakar r.a adalah sebagai Amirul Mu’minin (Khalifah/Raja/Presiden seluruh ummat Islam pada waktu itu.
Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak,
“Siapakah kamu?”.
Abu Bakar r.a menjawab,
“Aku orang yang biasa”.
“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu,
“Ketika ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku dengan lembut”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
“Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun ikut menangis, kemudian berkata,
“Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya mengucapkan “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh..” dihadapan Abu Bakar r.a.
Langganan:
Postingan (Atom)