Diabolis adalah iblis dalam bahasa Yunani kuno. Menurut A Jeffery dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur'an, istilah diabolisme berarti pemikiran, watak dan
perilaku ala iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam al Qur'an dinyatakan, iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Inilah penggalan alenia pertama artikel berjudul “Diabolisme Intelektual” karya Dr Syamsuddin Arief MA.
Sebagaimana diketahui, iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud pada Adam. Apakah iblis atheis? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan Allah. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya 100%. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut kafir? Di sinilah persoalannya.
Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah saw, seperti orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.
Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan. Harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. "Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission," tegas Profesor Naquib al-Attas.
Kesalahan iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang, aba wa istakbara (QS 2:34, 15:31, 20:116); menganggap dirinya hebat, istakbara (QS 2:34, 38:73, 38:75); dan melawan perintah Tuhan, fasaqa an amri rabbihi (QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya.
Iblis adalah ”prototype intelektual keblinger”. Sebagaimana dikisahkan dalam al Qur'an, sejurus setelah ia divonis, iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.
Pertanyaannya, apakah kaum orientalis yang melakukan distorsi ajaran Islam merupakan bagian dari Diabolisme Intelektual? Untuk menjawab ini, sekaligus mengurai sepak terjang kaum orientalis, berikut kita ikuti wawancawra wartawan Sabili dengan Dr Syamsuddin Arief MA. Pakar orientalis yang sedang menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman.
Apakah semua keruwetan yang terjadi di dunia Islam disebabkan oleh orientalis?
Memang orientalis punya andil dalam merusak dan menimbulkan keruwetan dalam dunia Islam. Namun berapa prosentasenya kita tidak tahu secara pasti. Dalam surat at Taubah dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik antara sebagian dengan sebagian yang lain saling tolong-menolong. Jadi, para orientalis juga saling bahu membahu dalam merusak dunia Islam.
Bagaimanakah perkembangan dan dinamika orientalisme saat ini?
Saya melihat orientalisme bukan sebuah gerakan. Dalam konferensi-konferensi dan pertemuan yang biasa mereka lakukan. Mereka memang memiliki jaringan melalui beberapa organisasi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) namun sifatnya informal karena lintas negara. Yang menyatukan mereka adalah human interest yakni mereka mempunyai minat dan ketertarikan yang sama dalam dunia internasional.
Orientalis Barat kebanyakan adalah keturunan Yahudi. Orang Yahudi menganggap dalam stratifikasi masyarakatnya, yang paling tinggi kedudukannya ialah yang paling berilmu. Seperti ilmuwan, saintis apalagi yang plus ahli agama. Hampir kebanyakan kaum Yahudi mempunyai cita-cita untuk menjadi ilmuwan terutama menjadi ilmuwan yang ahli agama yang biasa disebut ulama Bani Israil.
Bagaimanakah sikap orientalis terhadap al-Qur’an?
Orientalis sejak dahulu hingga sekarang mengkaji al-Qur’an untuk mencari kelemahan, mereka tidak percaya bahwa al-Qur’an adalah wahyu dan menganggapnya buatan Muhammad saw. Sebab apabila mereka mengakui bahwa Muhammad adalah nabi maka gugurlah agama Yahudi.
Al-Qur’an merupakan target utama serangan misionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah nabi saw. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen dan lain-lain.
Orientalis lebih tertarik mengkaji apa?
Yang pertama tentu mempelajari al-Qur’an. Mereka mengatakan ini merupakan suatu pendekatan baru dalam mempelajari al-Qur’an dengan metode linguistik, apa adanya tanpa perlu mengkaji asal-usulnya, bahkan mereka mengatakan pendekatan lama mengandung polemik.
Memang benar bahwa corpus kesarjanaan Barat mengenai al-Qur’an cukup beragam. Tidak semua orientalis hendak menghancurkan Islam dengan menebarkan keraguan terhadap al-Qur’an dan hadist. Ada juga orientalis yang konon bermaksud ‘baik’ dan tampak simpati kepada Islam yang disebut counter examples. Di bidang hukum Islam mereka sangat mempunyai kepentingan karena mereka tahu orang-orang Islam semakin semangat mempelajari dan menerapkan ekonomi Islam.
Bagaimanakah pengaruh orientalis di balik gerakan anti-hadits?
Serangan orientalis terhadap hadist dilancarkan secara bertahap, terencana dan bersama-sama. Ada yang menyerang matan-nya seperti Sprenger, Muir dan Goldziher. Menyerang isnad-nya seperti Horovitz, Schacht dan Juynboll.
Serangan mereka diarahkan ke semua kategori; sebagian menyerang hadist sejarah yang berhubungan dengan sirah. Misalnya Kister, Scholler, Motzki. Sebagian yang lain menggugat hadist hukum atau fiqih seperti Shacht, Powers dan Gilliot.
Gugatan para orientalis dan misionaris Yahudi dan Kristen telah menimbulkan dampak yang cukup besar. Melalui tulisannya yang diterbitkan dan dibaca luas, mereka telah berhasil mempengaruhi dan meracuni pemikiran sebagian umat Islam. Muncullah gerakan anti-hadist di India, Pakistan, Mesir dan Asia Tenggara. Pada tahun 1906 sebuah gerakan yang menamakan dirinya Ahli al-Qur’an muncul di bagian barat Punjab, Lahore, dan Amritsar. Pimpinannya Abdullah Chakrawali dan Khwaja Ahmad Din, mereka menolak hadist secara keseluruhan.
Dalam propagandanya, gerakan ini mengklaim bahwa al-Qur’an saja sudah cukup untuk menjelaskan semua perkara agama. Akibatnya mereka menyimpulkan shalat hanya empat kali sehari, tanpa adzan dan iqamah, tanpa takbiratul ihram. Selain itu mereka menganggap tidak ada shalat ‘Id dan shalat jenazah.
Apakah orientalis sekarang gencar melakukan aktivitasnya melalui LSM?
Memang institusi penting bagi mereka untuk menjalankan aktivitasnya karena mempunyai dampak yang luas. Tentunya dengan restu dan dukungan dari pemerintah. Mereka mempunyai dana yang kuat dan fasilitas yang memadai untuk melancarkan aksinya. Selain itu sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling bantu membantu dalam menebarkan racun orientalisme.
Bagaimanakah mereka membuat kaderisasi?
Itu memang strategi mereka yang paling mudah. Sebagaimana yang dilakukan Inggris di daerah jajahannya. Misalnya di Indonesia mereka melakukan kaderisasi di Manado, Sumatera Barat dan Salatiga. Oleh karena itu tokoh-tokoh nasional pada waktu itu berasal dari kota-kota tersebut. Tidak semua orientalis melakukan aktivitasnya dengan disamarkan, ada juga yang terangan-terangan.
Apa saja motivasi dan topik kajian orientalis?
Kajian teologi Islam oleh para orientalis Barat telah dimulai sejak awal abad ke-19 Masehi, tidak lama setelah bangsa-bangsa Eropa menaklukan hampir seluruh dunia Islam. Berbekal manuskrip karya para ulama dan ilmuwan Islam yang diboyong ke Eropa, mereka mulai mempelajari dan mengkaji satu per satu khazanah intelektual Islam.
Mereka meyakini kebenaran kata-kata Sir Francis Bacon dalam risalahnya ‘de haeresibus’ tahun 1597 bahwa ilmu adalah kekuatan. Hegemoni militer, politik dan ekonomi akan tumbang jika tidak didukung oleh pengetahuan. Mereka yakin untuk menaklukan dunia Islam mereka harus mengetahui Islam dari berbagai aspeknya dari orang Islam sendiri.
Apa dampak orientalis bagi dunia Islam?
Secara positif mereka banyak menyadarkan kita akan pentingnya membaca sejarah para ulama-ulama Islam kita. Mereka mengangkut manuskrip kita keluar negeri yang merupakan sejarah keilmuwan kita untuk dipelajari dan diaplikasikan sehingga mereka lebih maju dari umat Islam.
Di Irak setelah invasi Amerika, benda dan manuskrip Islam yang ada di Irak banyak diboyong keluar oleh AS. Memang di AS memiliki teknologi yang lebih canggih untuk menjaga manuskrip. Secara negatif mereka mendudukan diri mereka sebagi otoritas dalam berpendapat dan mengambil keputusan. Pendapat dan pemikiran merekalah yang harus didengar dan dipakai.
Apakah benar mereka memasuki dunia pendidikan?
Kebanyakan para pelajar Muslim yang dikirim belajar atau studi ke luar negeri setelah kembali ke Indonesia pikirannya teracuni oleh pemikiran orientalis. Kemudian mereka memiliki posisi yang strategis sepulangnya ke negara asalnya, misalnya menjadi leader dalam dunia pendidikan dan memasuki dunia birokrat. Oleh karena itu mereka mengambil para dosen-dosen dari universitas bahkan kampus-kampus Islam untuk melakukan studi di negaranya agar dapat mewarnai pemikirannya.
Apakah liberalisasi yang telah merebak ke berbagai bidang adalah kerjaan orientalis?
Ya memang. Itu faktor eksternal hasil dari kerja orientalis. Para ahli sejarah umumnya sepakat bahwa Eropa telah mengalami sekularisasi sejak 250 tahun terakhir. Yang masih mereka perdebatkan hanyalah soal bagaimana dan mengapa proses itu terjadi.
Pengaruh liberalisasi lebih gencar terjadi setelah kembalinya dosen-dosen yang belajar ke luar negeri misalnya dari kampus Mc Gill di Kanada. Meskipun demikian orang-orang UIN membantah bahwa yang terjadi itu sangat kecil. Padahal racun orientalis sangat berbahaya walaupun kecil.
Maraknya aliran sesat apakah pekerjaan orientalis?
Secara tidak langsung, iya. Sebab orientalis lebih suka mengetengahkan yang dipinggir, membesarkan yang kecil dan meminggirkan yang di tengah. Misalnya aliran Syiah dan Ahmadiyah, yang kita anggap salah, oleh mereka dikaburkan sehingga seolah-oleh dianggap benar
Musailamah al-Kadzab, mereka mengatakan dari mana kita tahu ia nabi palsu. Mereka beranggapan Nabi Muhammad jadi nabi karena punya kekuatan, kekuasaan dan punya dukungan yang banyak. Musailamah kalah karena tidak punya dukungan.
Apakah orientalis bisa disamakan dengan Diabolisme Intelektual?
Sepanjang pemikiran dan penelitiannya bertentangan dengan kebenaran hakiki dari Ilahi Rabbi, bisa dikatakan sama.
Bagaimana cara mengidentifikasi ilmuwan seperti ini?
Tak sulit mengidentifikasinya, karena ciri-cirinya telah diterangkan dalam al-Qur'an. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, tapi tak pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Firaun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meski hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum). Mereka selalu mencari argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Yang penting baginya bukan kebenaran tapi pembenaran. Dalam tradisi keilmuwan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut al-'inadiyyah.
Kedua, bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi saw, "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (Al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)." (HR Imam Muslim No147) Orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan al-Qur'an atau hadis Nabi saw dianggap dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lainnya. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik, skeptis, menghujat al-Qur'an dan Hadits, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.
Ketiga, bermuka dua dan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam ini diancam Allah dalam al Qur'an: "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya." (7:146)
Keempat, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang bathil dipoles dan dikemas sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan dipreteli sehingga kelihatan seperti bathil. Atau dicampur-aduk keduanya sehingga tak jelas lagi beda antara yang benar dan salah. Strategi ini memang sangat efektif membuat orang lain bingung dan terkecoh.
Contohnya, seperti yang dilakukan oleh pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya. Untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bil-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.
Berarti sama seperti yang dilakukan kaum orientalis Barat?
Hal ini dilakukan oleh orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Ini tak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahlal-kitab lima talbisunal-haqq bil-bathil wa taktumul-haqq wa antum ta'lamun?" Yang mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.
Al Qur'an telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka," (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa "Sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik," (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahua'lam.
Bagaimana cara melawan dan menghadang sepak terjang mereka saat ini?
Kalau kita melihat serpak terjang mereka yang begitu luar biasa, kita bisa berputus asa. Namun al-Qur’an melarang kita berputus apa, memang tidak mesti instan bisa kita selesaikan. Tentunya harus kita lakukan secara berjamaah diberbagai bidang baik di bidang pendidikan (perguruan tinggi), ekonomi dan lembaga swadaya masyarakat yang islami.
Kita harus berani tampil beda untuk melakukan peningkatan di bidang pendidikan agar tidak perlu lagi mengirim para dosen dan guru untuk studi ke luar negeri. Oksidentalisme itu tidak bisa basa-basi. Itu sebenarnya sudah dilakukan sejak lama untuk mengimbangi pemikiran orientalis seperti yang dilakukan di Jerman, membuka jurusan S1 untuk mempelajari sejarah, budaya dan seluk beluk dunia Barat. Sehingga setelah itu mereka bisa masuk dalam dunia pendidikan dan perusahaan milik orientalis untuk menjadi penyeimbang.
sumber : wawancara wartawan SABILI dengan
Dr Syamsuddin Arief MA
Dosen Islamic International University Malaysia
Sabtu, 18 Juli 2009
Rabu, 15 Juli 2009
PENDIDIKAN MAZAYA

Pendidikan anak. Dua kata yang selalu membuat saya berfikir keras, bila tiba-tiba saya mengingatnya. Bukan apa-apa, saya hanya merasa hal itu merupakan suatu pekerjaan yang maha berat bagi kami sekeluarga. Zaman sudah berubah. Mendidik anak membutuhkan tenaga ektra. Bisa dibayangkan, perbandingannya, antara tiga puluh tahun yang lalu dengan saat ini. Bagaimana ketika saya kecil orangtua saya menerapkan disiplin yang tinggi bagi anak-anaknya. Kami sekeluarga mengikuti aturan tersebut dengan ikhlas. Sejak kecil kami (saya dan adik-adik) sudah ditanamkan nilai-nilai agama. Pagi sekolah, siang mengaji di dayah, malam mengaji di rumah.
Saat ini...? Dunia sudah berbeda. Walaupun saya dan isteri masih bisa mengajarkan pelajaran agama di rumah, juga mengaji di balai pengajian, namun saya rasa itu belum cukup. Tantangan dari lingkungan yang serba modern, mau tidak mau kami harus menambah kuantitas dan kualitas pelajaran agar mereka, anak-anak saya, dapat berjalan sesuai dengan rel yang digariskan.
Anak saya yang sulung, Ananda Fildza Alifa, tahun ini sudah duduk di kelas 4 MIN Pulo Kiton, Kota Juang. Berprestasi lumayan bagus, walau bukan rangking terbaik. Anak saya yang kedua, Ananda Zhafira Mazaya, tahun ini mulai masuk TK. Mengingat pentingnya pendidikan usia pra sekolah, saya mempercayakan pendidikan formalnya pada TK Azkiyya, yang dikelola oleh rekan-rekan akhwat kader PKS Bireuen. Sementara pendidikan di rumah tetap tugas kami. Dan mengingat saya bertugas jauh dari keluarga, untuk sementara, isteri saya menjadi single parent. Saya tetap memantau setiap hari melalui sarana handphone.
Saya sangat menggaris bawahi pendidikan pra sekolah atau pendidikan anak usia dini. Karena pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar pertumbuhan dan perkembangan si anak. Baik pertumbuhan fisik, daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, sosio emosional, bahasa dan komunikasi.
Ketika si sulung, Fildza masih usia 3-6 tahun, kami sangat memperhatikan soal itu. Dia kami percayakan masuk TK Raudhatul Anfal, yang lumayan bagus untuk ukuran kota Bireuen, saat itu. Begitupun terhadap adiknya, Mazaya, sekarang. Selain menempuh pendidikan formal di TK Azkiyya, di rumahpun pendidikannya kami prioritaskan. Sekedar mengulang info saja, untuk memaksimalkan pendidikan di rumah, kami singkirkan kotak ajaib yang sangat merusak generasi. Ya...kami tidak punya siaran TV. Jadinya seperti rumah tahun 70-an, ketika TV hanya ada di balai desa kampung.
Terkait dengan pendidikan Mazaya, beberapa waktu yang lalu saya usahakan untuk mengantarnya masuk sekolah hari pertama, sekaligus memantau dari dekat model pendidikan usia dini yang diselenggarakan oleh TK Azkiyya, Bireuen. Sebenarnya saya ingin tiap hari menjadi "guide" bagi Mazaya, tapi karena saya harus segera kembali ke Samadua, terpaksa hari-hari berikutnya lakon itu jadi tugas mamaknya .
Pada kesempatan ini, saya abadikan moment saat dia hari pertama sekolah. Mudah-mudahan jadi kenang-kenangan yang berarti.
Terima kasih atas waktu sehari yang sangat berharga saya di Kota Juang.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
SEKILAS TENTANG "SANDIWARA LANGIT"
Bagi teman-teman yang pernah membaca tulisan saya sebelumnya, mungkin tidak perlu saya sampaikan lagi bahwa saya adalah salah seorang penggemar Sastra, terutama Sajak, Puisi dan Cerpen. Saya juga gemar membaca, apa saja, terutama terkait dengan politik, hukum, agama dan sebagainya.
Saya sudah hampir enam minggu bertugas di Aceh Selatan. Sebelum berangkat dari Kota Juang, saya membungkus rapi beberapa buku baru, yang belum sempat saya. Diantaranya beberapa buku tentang Obama, Presiden Amerika. Yang lainnya adalah “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” karya Hendro Sobroto yang menceritakan kisah dan posisi Sintong Panjaitan dalam berbagai kejadian penting di negeri ini. Buku lain adalah “Sandiwara Langit” karya Abu Umar Basyier, novel religius. Judulnya ringkas, namun membuat hasrat hati untuk membacanya makin menggebu. Saya pikir isinya pasti menarik………. Sehingga saya mendahulukan novel ini untuk dibaca ketimbang buku-buku yang lain.
Dan benar saja! Ketika mulai membaca lembar demi lembar, saya seperti menonton sebuah film atau drama, dimana seakan-akan alur cerita dan sosok pemerannya terbayang dengan jelas dimata saya. Seberapa hebat sih ceritanya…..? Kenapa saya seperti nonton film. Saya anjurkan Anda membacanya, bisa dengan meminjam (lebih baik membeli)……
Namun sebelumnya, pada kesempatan ini saya akan menguraikan sedikit beberapa sinopsis singkat dari paragraf-paragraf penting yang terdapat dalam bab-bab buku ini.
Adalah Rizqaan, tokoh utama dalam buku ini, salah satu contoh, dari segelintir umat manusia yang secara apik dianugerahi kekuatan dalam menjalani semua takdirnya, yang teramat berat dan sakit menyayat hati. Tokoh penting lainnya adalah Halimah, isteri Rizqaan yang merupakan seorang hamba Allah yang begitu taat pada Tuhannya maupun suaminya.
“Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperolah kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya.” (Riwayat Ahmad dan Abu dawud)
Ia adalah pemuda shalih, yang berjuang keras menyelamatkan diri dari fitnah membujang, dengan segera menikah dengan segala keterbatasan yang ada. Modal belum ada, pekerjaan pun tak punya. Dan Halimah, pemudi yang juga shalihah, putri Pak Rozaq, seorang pengusaha kaya raya menjadi pilihannya. Meski dari keluarga apa adanya, sebagai muslim idealis, ia tak gentar menemui keluarga Halimah, untuk maju meminang. Terkesan nekat, tetapi begitulah, selama itu adalah kebenaran yang diyakin, pantang bagi Rizqaan untuk bersurut langkah.
Keunikan kisah ini, dimulai ketika Pak Rozaq mau menikahkan mereka, namun dengan satu syarat. Bila dalam sepuluh tahun ia tidak bisa sukses dan membahagiakan Halimah, maka ia harus menceraikannya.
Hidup memang benar-benar penuh hal tak terduga, yang kadang begitu sulit dipercaya. Yang tak jarang memaksa kita untuk menerima realita, bahwa itu memang benar terjadi adanya. Selama sepuluh tahun itu, mereka makin menemukan cinta sejati, cinta hanya karena dan kepada Allah semata. Makin kuat, mengakar dan menghebat, lebih dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Mengokohkan jiwa mereka dan menhadapi segala badai yang menerpa, dari kematian ayah Rizqaan dalam kebakaran pabrik, yang juga membangkrutkan usahanya, hingga berujung pada perceraian yang dipaksakan, demi menepati perjanjian. Atau kisah kematian Halimah yang begitu dramatis, sampai kebesaran hati Rizqaan memaafkan ‘dalang’ penyebab kebakaran sekaligus kematian ayahnya.
Pada bab berikutnya, digambarkan latar belakang kehidupan pemuda shalih bernama Rizqaan ini dan juga pemudi shalihah bernama Halimah, yang nampaknya mempunyai beberapa kesamaan dan idealisme yang membuat mereka cocok satu sama lain. Rizqaan adalah seorang penuntut ilmu yang gigih yang langka dimana dikala kalangan pemuda yang lainnya larut dalam kehidupan dunia muda dengan beragam fenomenanya. Halimah adalah sosok muslimah yang teguh menjalani fitrahnya menjadi seorang muslimah kaffah dilingkungan keluarga yang jauh dari nilai agama.
Dan bab-bab selanjutnya adalah torehan tinta dari perjalanan panjang dan melelahkan dari babak-babak kehidupan dua orang muda-mudi dalam mengayuh dayung sebuah biduk kecil bernama rumah tangga yang mereka bangun dengan dasar ketaqwaan kepada Rabb mereka. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Juga sampai pada masa-masa cobaan yang mereka sudah bukan dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang bisa saja menjerumuskan mereka ke jurang kenistaan.
Rizqaan memulai perjuangannya memberi nafkah kepada istrinya dengan mencoba berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dari sedikit modal yang dimilikinya. Kedua insan ini memulai hidup dalam keprihatinan, namun mereka tetap sabar dan yakin akan ketentuan yang diberikan Allah kepada mereka. Dari mulai diceritakan saat-saat mereka hanya makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya me-manage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses, berkat kejujurannya dan teguhnya memegang prinsip agamanya untuk tidak berdekatan dengan segala hal yang berbau haram maupun syubhat yang melingkupi bidang pekerjaannya. Rizqaan adalah tipe pekerja keras, namun ia bukanlah hamba dunia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun ia berniat menundukkan dunia itu agar menjadi ladang akhirat baginya. Kehidupan ruhaninya yang dulu pun tak menjadi rusak dikarenakan kesibukannya mencari harta, bahkan Rizqaan yang hanya lulusan SMA ini telah menjelma menjadi sosok yang layak menyandang gelar Al-Ustadz.
Kebahagiaan keduanya lengkap tatkala mereka mendapatkan keturunan dari Allah. Bisnis Rizqaan semakin maju, hingga kini Rizqaan sudah bukan lagi penjaja roti keliling tapi sudah menjadi seorang pengusaha roti yang mempekerjakan beberapa karyawan. Omzetnya pun bukan lagi puluhan ribu seperti ketika awal-awal ia merintis usahanya, namun sudah menjadi puluhan juta. Kerikil-kerikil tajam sudah barang tentu menjadi selingan dalam kehidupannya.
Pada bulan keenam tahun kesepuluh pernikahan mereka adalah puncak kebahagiaan yang mereka rasakan, tidak ada lagi kesusahan dalam hidup mereka. Rizqaan sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah mereka bukanlah rumah petak kontrakan ala kadarnya, namun sudah menjadi rumah mewah dengan pabrik roti di belakangnya. Akhirnya memasuki bulan kesebelas kehidupan yang mereka jalani terasa begitu lambat ketika mereka berusaha untuk mempertahankan kehidupan mereka dan menunggu hingga saat tiba bagi Rizqaan untuk membuktikan janjinya kepada mertuanya. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, menjadikan mereka bukan hanya kehilangan harta benda tetapi juga kehilangan ayah Rizqaan, yang terperangkap dalam kamar sehingga meninggal dunia. Belakangan di akhir cerita diceritakan, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Baru beberapa dua hari berselang dari musibah kebakaran tersebut, musibah lain datang menyapa. Hari itu adalah hari final dari perjanjian yang diucapkan Rizqaan saat akad nikah sepuluh tahun yang lalu. Sang mertua (Bapak Halimah) dengan kejamnya menagih janji dari Rizqaan dan menyatakan bahwa Rizqaan tidak dapat memenuhi janjinya, karena saat ini Rizqaan telah menjadi seorang yang bangkrut. Akhirnya dalam pergulatan batin yang hebat sebagai seorang muslim dan muslimah yang menaati Allah dan Rasulnya. Mau tak mau mereka harus menepati janji mereka.
Pada bab-bab selanjutnya dikisahkan bagaimana Rizqaan merintis kembali usahanya yang telah hancur dengan sekuat tenaga dan ketabahannya menghadapi cobaan. Juga dikisahkan bagaimana kehidupan Halimah selanjutnya selepas menyandang predikat sebagai seorang janda yang sangat tidak dia harapkan. Tak lupa bagaimana rintihan putra mereka Nabhaan yang saat itu berusia delapan tahun ketika menanyakan kenapa kehidupannya tidak bisa bahagia seperti dulu lagi.
Sampai pada suatu saat, ketika ada seorang duda kaya raya anak seorang pejabat yang mengutarakan keinginan untuk menikahi Halimah. Dikisahkan inilah sebab mengapa Asyraf, abang Halimah, melakukan perbuatan keji merusak kehidupan rumah tangga Rizqaan dan Halimah. Namun entah apa yang dibicarakan oleh Halimah, duda tersebut dan ayahnya, ketika mereka berniat melamar Halimah, sehingga menjadikan mereka mengurungkan niat untuk melamarnya. Saat diceraikan oleh Rizqaan, Halimah sedang mengandung anak kedua mereka, dan saat menjadi janda kondisi kesehatan Halimah menjadi memburuk dan ternyata Halimah telah divonis menderita leukimia (kanker darah) dengan diagnosa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hari-hari berlalu sampai suatu ketika Ayah Halimah menyadari bahwa Halimah tidak akan bisa menikah dengan lelaki lain selain Rizqaan.
Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali. Perangai orangtua Halimah, terutama ayahnya sudah berubah, berbanding terbalik dengan saat-saat sebelumnya. Pada saat itu juga Ayah Halimah menyampaikan usulan agar Rizqaan dan Halimah bersatu kembali. Rizqaan tentu tidak menunggu lama untuk mengambil keputusan, sehingga saat itu juga bersedia dinikahkan kembali. Halimah adalah jantung hatinya, walaupun sebelumnya Halimah sudah menceritakan bahwa dia menderita leukemia, dengan hasil diagnosa dokter bahwa usianya sekitar 4 bulan lagi.
Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang sulung Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba dan juga menjadi dalang penyebab kebakaran gudang dan rumah Rizqaan, yang turut menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut.
Pada saat bersamaan, Halimah jatuh pingsan dan sakit. Leukimianya kian parah. Ketika ia sempat siuman, dia menanyakan pada Rizqaan tentang keikhlasan bila suatu waktu harus “berpisah” dengannya. Sebagai hamba Allah, Rizqaan tentu saja ikhlas. Dan akhirnya janji Halimah dengan Allah SWT tidak bergeser sedetikpun. Dia menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan suaminya setelah sebelumnya sempat mengucapkan syahadat beberapa kali.
Itulah sepenggal kisah novel religius “Sandiwara Langit” yang memberi banyak hikmah bagi kita semua. Bukan saja bagi kita seorang Muslim, tetapi juga dijadikan sarana dakwah kepada orang-orang yang belum mengenal Islam dengan sekelumit kaidah-kaidah syariyah di dalamnya.
Istimewa buku ini adalah pemaparan kembali dari kisah nyata benar-benar terjadi, untuk bersama kita petik hikmahnya. Makin memikat, saat penyusun kisah, Ustadz Abu Umar Basyier Al-maedany, juga menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah untuk makin memperkuat bahasan.
Mudah-mudahan sedikit pemaparan dari saya membuat “penasaran” rekan-rekan untuk membaca sendiri kalimat demi kalimat dalam novel tersebut. Saya akan melanjutkan membaca buku yang lain. Mudah-mudahan ada waktu senggang disela-sela banyaknya pekerjaan.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Saya sudah hampir enam minggu bertugas di Aceh Selatan. Sebelum berangkat dari Kota Juang, saya membungkus rapi beberapa buku baru, yang belum sempat saya. Diantaranya beberapa buku tentang Obama, Presiden Amerika. Yang lainnya adalah “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando” karya Hendro Sobroto yang menceritakan kisah dan posisi Sintong Panjaitan dalam berbagai kejadian penting di negeri ini. Buku lain adalah “Sandiwara Langit” karya Abu Umar Basyier, novel religius. Judulnya ringkas, namun membuat hasrat hati untuk membacanya makin menggebu. Saya pikir isinya pasti menarik………. Sehingga saya mendahulukan novel ini untuk dibaca ketimbang buku-buku yang lain.
Dan benar saja! Ketika mulai membaca lembar demi lembar, saya seperti menonton sebuah film atau drama, dimana seakan-akan alur cerita dan sosok pemerannya terbayang dengan jelas dimata saya. Seberapa hebat sih ceritanya…..? Kenapa saya seperti nonton film. Saya anjurkan Anda membacanya, bisa dengan meminjam (lebih baik membeli)……
Namun sebelumnya, pada kesempatan ini saya akan menguraikan sedikit beberapa sinopsis singkat dari paragraf-paragraf penting yang terdapat dalam bab-bab buku ini.
Adalah Rizqaan, tokoh utama dalam buku ini, salah satu contoh, dari segelintir umat manusia yang secara apik dianugerahi kekuatan dalam menjalani semua takdirnya, yang teramat berat dan sakit menyayat hati. Tokoh penting lainnya adalah Halimah, isteri Rizqaan yang merupakan seorang hamba Allah yang begitu taat pada Tuhannya maupun suaminya.
“Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperolah kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut istrinya.” (Riwayat Ahmad dan Abu dawud)
Ia adalah pemuda shalih, yang berjuang keras menyelamatkan diri dari fitnah membujang, dengan segera menikah dengan segala keterbatasan yang ada. Modal belum ada, pekerjaan pun tak punya. Dan Halimah, pemudi yang juga shalihah, putri Pak Rozaq, seorang pengusaha kaya raya menjadi pilihannya. Meski dari keluarga apa adanya, sebagai muslim idealis, ia tak gentar menemui keluarga Halimah, untuk maju meminang. Terkesan nekat, tetapi begitulah, selama itu adalah kebenaran yang diyakin, pantang bagi Rizqaan untuk bersurut langkah.
Keunikan kisah ini, dimulai ketika Pak Rozaq mau menikahkan mereka, namun dengan satu syarat. Bila dalam sepuluh tahun ia tidak bisa sukses dan membahagiakan Halimah, maka ia harus menceraikannya.
Hidup memang benar-benar penuh hal tak terduga, yang kadang begitu sulit dipercaya. Yang tak jarang memaksa kita untuk menerima realita, bahwa itu memang benar terjadi adanya. Selama sepuluh tahun itu, mereka makin menemukan cinta sejati, cinta hanya karena dan kepada Allah semata. Makin kuat, mengakar dan menghebat, lebih dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya. Mengokohkan jiwa mereka dan menhadapi segala badai yang menerpa, dari kematian ayah Rizqaan dalam kebakaran pabrik, yang juga membangkrutkan usahanya, hingga berujung pada perceraian yang dipaksakan, demi menepati perjanjian. Atau kisah kematian Halimah yang begitu dramatis, sampai kebesaran hati Rizqaan memaafkan ‘dalang’ penyebab kebakaran sekaligus kematian ayahnya.
Pada bab berikutnya, digambarkan latar belakang kehidupan pemuda shalih bernama Rizqaan ini dan juga pemudi shalihah bernama Halimah, yang nampaknya mempunyai beberapa kesamaan dan idealisme yang membuat mereka cocok satu sama lain. Rizqaan adalah seorang penuntut ilmu yang gigih yang langka dimana dikala kalangan pemuda yang lainnya larut dalam kehidupan dunia muda dengan beragam fenomenanya. Halimah adalah sosok muslimah yang teguh menjalani fitrahnya menjadi seorang muslimah kaffah dilingkungan keluarga yang jauh dari nilai agama.
Dan bab-bab selanjutnya adalah torehan tinta dari perjalanan panjang dan melelahkan dari babak-babak kehidupan dua orang muda-mudi dalam mengayuh dayung sebuah biduk kecil bernama rumah tangga yang mereka bangun dengan dasar ketaqwaan kepada Rabb mereka. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Juga sampai pada masa-masa cobaan yang mereka sudah bukan dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang bisa saja menjerumuskan mereka ke jurang kenistaan.
Rizqaan memulai perjuangannya memberi nafkah kepada istrinya dengan mencoba berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dari sedikit modal yang dimilikinya. Kedua insan ini memulai hidup dalam keprihatinan, namun mereka tetap sabar dan yakin akan ketentuan yang diberikan Allah kepada mereka. Dari mulai diceritakan saat-saat mereka hanya makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya me-manage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses, berkat kejujurannya dan teguhnya memegang prinsip agamanya untuk tidak berdekatan dengan segala hal yang berbau haram maupun syubhat yang melingkupi bidang pekerjaannya. Rizqaan adalah tipe pekerja keras, namun ia bukanlah hamba dunia. Ia bekerja keras untuk mendapatkan dunia, namun ia berniat menundukkan dunia itu agar menjadi ladang akhirat baginya. Kehidupan ruhaninya yang dulu pun tak menjadi rusak dikarenakan kesibukannya mencari harta, bahkan Rizqaan yang hanya lulusan SMA ini telah menjelma menjadi sosok yang layak menyandang gelar Al-Ustadz.
Kebahagiaan keduanya lengkap tatkala mereka mendapatkan keturunan dari Allah. Bisnis Rizqaan semakin maju, hingga kini Rizqaan sudah bukan lagi penjaja roti keliling tapi sudah menjadi seorang pengusaha roti yang mempekerjakan beberapa karyawan. Omzetnya pun bukan lagi puluhan ribu seperti ketika awal-awal ia merintis usahanya, namun sudah menjadi puluhan juta. Kerikil-kerikil tajam sudah barang tentu menjadi selingan dalam kehidupannya.
Pada bulan keenam tahun kesepuluh pernikahan mereka adalah puncak kebahagiaan yang mereka rasakan, tidak ada lagi kesusahan dalam hidup mereka. Rizqaan sudah menjadi seorang pengusaha sukses. Rumah mereka bukanlah rumah petak kontrakan ala kadarnya, namun sudah menjadi rumah mewah dengan pabrik roti di belakangnya. Akhirnya memasuki bulan kesebelas kehidupan yang mereka jalani terasa begitu lambat ketika mereka berusaha untuk mempertahankan kehidupan mereka dan menunggu hingga saat tiba bagi Rizqaan untuk membuktikan janjinya kepada mertuanya. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, menjadikan mereka bukan hanya kehilangan harta benda tetapi juga kehilangan ayah Rizqaan, yang terperangkap dalam kamar sehingga meninggal dunia. Belakangan di akhir cerita diceritakan, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Baru beberapa dua hari berselang dari musibah kebakaran tersebut, musibah lain datang menyapa. Hari itu adalah hari final dari perjanjian yang diucapkan Rizqaan saat akad nikah sepuluh tahun yang lalu. Sang mertua (Bapak Halimah) dengan kejamnya menagih janji dari Rizqaan dan menyatakan bahwa Rizqaan tidak dapat memenuhi janjinya, karena saat ini Rizqaan telah menjadi seorang yang bangkrut. Akhirnya dalam pergulatan batin yang hebat sebagai seorang muslim dan muslimah yang menaati Allah dan Rasulnya. Mau tak mau mereka harus menepati janji mereka.
Pada bab-bab selanjutnya dikisahkan bagaimana Rizqaan merintis kembali usahanya yang telah hancur dengan sekuat tenaga dan ketabahannya menghadapi cobaan. Juga dikisahkan bagaimana kehidupan Halimah selanjutnya selepas menyandang predikat sebagai seorang janda yang sangat tidak dia harapkan. Tak lupa bagaimana rintihan putra mereka Nabhaan yang saat itu berusia delapan tahun ketika menanyakan kenapa kehidupannya tidak bisa bahagia seperti dulu lagi.
Sampai pada suatu saat, ketika ada seorang duda kaya raya anak seorang pejabat yang mengutarakan keinginan untuk menikahi Halimah. Dikisahkan inilah sebab mengapa Asyraf, abang Halimah, melakukan perbuatan keji merusak kehidupan rumah tangga Rizqaan dan Halimah. Namun entah apa yang dibicarakan oleh Halimah, duda tersebut dan ayahnya, ketika mereka berniat melamar Halimah, sehingga menjadikan mereka mengurungkan niat untuk melamarnya. Saat diceraikan oleh Rizqaan, Halimah sedang mengandung anak kedua mereka, dan saat menjadi janda kondisi kesehatan Halimah menjadi memburuk dan ternyata Halimah telah divonis menderita leukimia (kanker darah) dengan diagnosa bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hari-hari berlalu sampai suatu ketika Ayah Halimah menyadari bahwa Halimah tidak akan bisa menikah dengan lelaki lain selain Rizqaan.
Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali. Perangai orangtua Halimah, terutama ayahnya sudah berubah, berbanding terbalik dengan saat-saat sebelumnya. Pada saat itu juga Ayah Halimah menyampaikan usulan agar Rizqaan dan Halimah bersatu kembali. Rizqaan tentu tidak menunggu lama untuk mengambil keputusan, sehingga saat itu juga bersedia dinikahkan kembali. Halimah adalah jantung hatinya, walaupun sebelumnya Halimah sudah menceritakan bahwa dia menderita leukemia, dengan hasil diagnosa dokter bahwa usianya sekitar 4 bulan lagi.
Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang sulung Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba dan juga menjadi dalang penyebab kebakaran gudang dan rumah Rizqaan, yang turut menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut.
Pada saat bersamaan, Halimah jatuh pingsan dan sakit. Leukimianya kian parah. Ketika ia sempat siuman, dia menanyakan pada Rizqaan tentang keikhlasan bila suatu waktu harus “berpisah” dengannya. Sebagai hamba Allah, Rizqaan tentu saja ikhlas. Dan akhirnya janji Halimah dengan Allah SWT tidak bergeser sedetikpun. Dia menghembuskan nafas terakhir dalam pelukan suaminya setelah sebelumnya sempat mengucapkan syahadat beberapa kali.
Itulah sepenggal kisah novel religius “Sandiwara Langit” yang memberi banyak hikmah bagi kita semua. Bukan saja bagi kita seorang Muslim, tetapi juga dijadikan sarana dakwah kepada orang-orang yang belum mengenal Islam dengan sekelumit kaidah-kaidah syariyah di dalamnya.
Istimewa buku ini adalah pemaparan kembali dari kisah nyata benar-benar terjadi, untuk bersama kita petik hikmahnya. Makin memikat, saat penyusun kisah, Ustadz Abu Umar Basyier Al-maedany, juga menyisipkan dalil-dalil Al Qur’an dan Assunnah untuk makin memperkuat bahasan.
Mudah-mudahan sedikit pemaparan dari saya membuat “penasaran” rekan-rekan untuk membaca sendiri kalimat demi kalimat dalam novel tersebut. Saya akan melanjutkan membaca buku yang lain. Mudah-mudahan ada waktu senggang disela-sela banyaknya pekerjaan.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Minggu, 05 Juli 2009
Leopold Werner von Ehrenfels
Rekan-rekan pembaca...
Berikut adalah kisah seorang Muallaf Austria, semoga dengan merenungi jejaknya, makin menguatkan pondasi iman kita, terutama bagi kita yang sejak lahir sudah Muslim. Silahkan simak kisahnya berikut ini.........
Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk (patuh) pada hukum yang abadi (ketentuan Allah).
Sejak masa kanak-kanak, Leopold Werner von Ehrenfels telah memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia Timur, khususnya dunia Islam. Demikian sepenggal kisah yang disampaikan saudara perempuannya, seorang penyair berkebangsaan Austria, Imma von Bodmershof, dalam sebuah artikel majalah sastra Islam Lahore terbitan tahun 1953, tentang Leopold Werner von Ehrenfels, yang kemudian berganti nama menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.
Ketertarikan Rolf, demikian biasa ia disapa, pada dunia Timur kemudian diwujudkan dengan mengunjungi negara-negara Balkan dan Turki manakala ia menginjak usia dewasa. Di setiap negara yang dikunjunginya, Rolf kerap mengikuti shalat berjamaah di masjid-masjid yang disambangi, meski pada saat itu dia masih seorang Nasrani. Apa yang dilakukan Rolf ini mendapat sambutan baik dari kaum Muslimin Turki, Albania, Yunani, dan Yugoslavia.
Sejak saat itu, perhatiannya terhadap Islam semakin bertambah, hingga akhirnya dia menyatakan masuk Islam pada tahun 1927. Setelah resmi memeluk Islam, Guru Besar Antropologi University of Madras ini kemudian memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.
Pada tahun 1932, Rolf mengunjungi anak benua India dan Pakistan. Selama di sana, dia sangat tertarik mempelajari soal-soal kebudayaan dan sejarah yang berhubungan dengan kedudukan wanita dalam Islam. Sekembalinya ke Austria, Rolf mengkhususkan diri dalam mempelajari soal-soal antropologi dari Matrilineal Civilization di India. Apa-apa yang dia pelajari mengenai antropologi Matrilineal Civilization di India, kemudian dia tuangkan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh The Oxford University Press. Buku ini merupakan buku antropologi pertama yang ditulis oleh Rolf.
Pada waktu Austria diduduki oleh pasukan Nazi Jerman tahun 1938, Rolf memutuskan untuk pergi lagi ke India dan bekerja di Hyderabad atas undangan Sir Akbar Hydari. Selama bermukim di India untuk kali kedua ini, Rolf mempelajari soal-soal antropologi di wilayah India Selatan dengan mendapat bantuan dari Wenner Gern Foundation New York di Assam.
Sejak tahun 1949, ia ditunjuk menjadi kepala bagian Antropologi pada University of Madras. Dan, pada tahun itu juga, Rolf mendapat medali emas SC Roy Golden Medal atas jasa-jasanya dalam bidang Sosial and Cultural Antropology dari Royal Asiatic Society of Bengal.
Di antara sekian banyak karangannya tentang Islam dan ilmu pengetahuan, ada dua jilid buku tentang antropologi India dan dunia, Ilm-ul-Aqwam (Anjuman Taraqqi-Delhi, 1941) dan sebuah risalah tentang suku bangsa Cochin dengan judul Kadar of Cochin (Madras, 1952).
Kebenaran Islam
Menurut Rolf, seperti dikutip dari buku Mengapa Kami Memilih Islam, Islam merupakan agama besar yang sangat berpengaruh atas jiwanya. Setidaknya, kata anak laki-laki satu-satunya dari Baron Christian Ehrenfels, pembangun teori 'Structure Psychology Modern' di Austria, ada delapan alasan yang telah menggugah kesadaran dalam dirinya tentang kebenaran agama Islam.
Ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan berangsur-angsur itu, ungkap Rolf, telah menunjukkan kepadanya bahwa agama-agama besar keluar dari hanya satu sumber. ''Bahwa orang-orang yang membawa kerasulan besar itu hanya membawa ajaran-ajaran Tuhan yang Satu. Dan, bahwa beriman kepada salah satu kerasulan ini berarti mencari iman dalam cinta kasih.''
Bagi Rolf, Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk kepada hukum yang abadi. Sedangkan ditinjau dari sudut sejarah, ungkapnya, Islam merupakan agama besar terakhir di atas planet bumi ini. Nabi Muhammad SAW adalah rasul Islam dan mata rantai terakhir dalam rangkaian para rasul, yang membawa risalah-risalah besar.
Islam, tambah Rolf, juga menonjol dalam hal penerimaan dan cara hidup kaum Muslimin oleh penganut agama yang terdahulu. ''Berarti dia melepaskan diri dari agamanya yang dahulu,'' kata dia. Hal ini sama seperti memeluk ajaran-ajaran Buddha, yang berarti melepaskan diri dari ajaran-ajaran Hindu.
Namun, agama-agama yang berbeda-beda itu, menurut dia, sebenarnya hanya buatan manusia, sedangkan kesatuan agama itu dari dan bersifat ketuhanan. ''Ajaran-ajaran Alquran-lah yang menekankan atas prinsip kesatuan ini. Dan, percaya atas kesatuan agama berarti menerima satunya fakta kejiwaan yang umum diterima oleh semua orang, pria dan wanita,'' paparnya.
Hal menonjol lainnya adalah ajaran Islam menekankan jiwa persaudaraan kemanusiaan, yang meliputi semua hamba Allah. Ini berbeda dengan konsep rasialisme atau sukuisme yang berdasarkan perbedaan bahasa, warna kulit, sejarah tradisional, dan lain-lain dogma alami.
Selain itu, menurut Rolf, Islam memberikan kedudukan yang mulia dan hak yang sebesar-besarnya kepada kaum perempuan. Dalam pengertian inilah, Rasulullah SAW bersabda dalam kata-katanya yang tidak bisa dilupakan oleh para pengikutnya, "Surga itu di bawah telapak kaki kaum ibu."
Agama Islam, dinilai Rolf, sangat menghargai hasil karya umat dari agama lain dengan tidak menghancurkannya. Hal tersebut bisa kita lihat dari bangunan Gereja Aya Sophia di Istanbul, Turki, yang dialihfungsikan menjadi masjid manakala tentara Islam berhasil menguasai wilayah tersebut. Penguasa Islam saat itu hanya mengubah desain interior bekas bangunan gereja tersebut, agar mirip dengan Masjid Sultan Ahmad atau Muhammad al-Fatih (Masjid Biru) di Istanbul. Bukti sejarah ini, kata dia, telah menunjukkan bahwa umat Islam pada dasarnya mencintai perdamaian dan kasih sayang terhadap umat dari agama lain. dia/berbagai sumber
Biodata:
Nama : Leopold Werner von Ehrenfels
Nama Islam : Baron Omar Rolf von Ehrenfels
Masuk Islam : 1927
Tempat/Tanggal Lahir: Austria, 28 April 1901
Wafat : 1980
sumber : Republika
Berikut adalah kisah seorang Muallaf Austria, semoga dengan merenungi jejaknya, makin menguatkan pondasi iman kita, terutama bagi kita yang sejak lahir sudah Muslim. Silahkan simak kisahnya berikut ini.........
Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk (patuh) pada hukum yang abadi (ketentuan Allah).
Sejak masa kanak-kanak, Leopold Werner von Ehrenfels telah memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia Timur, khususnya dunia Islam. Demikian sepenggal kisah yang disampaikan saudara perempuannya, seorang penyair berkebangsaan Austria, Imma von Bodmershof, dalam sebuah artikel majalah sastra Islam Lahore terbitan tahun 1953, tentang Leopold Werner von Ehrenfels, yang kemudian berganti nama menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.
Ketertarikan Rolf, demikian biasa ia disapa, pada dunia Timur kemudian diwujudkan dengan mengunjungi negara-negara Balkan dan Turki manakala ia menginjak usia dewasa. Di setiap negara yang dikunjunginya, Rolf kerap mengikuti shalat berjamaah di masjid-masjid yang disambangi, meski pada saat itu dia masih seorang Nasrani. Apa yang dilakukan Rolf ini mendapat sambutan baik dari kaum Muslimin Turki, Albania, Yunani, dan Yugoslavia.
Sejak saat itu, perhatiannya terhadap Islam semakin bertambah, hingga akhirnya dia menyatakan masuk Islam pada tahun 1927. Setelah resmi memeluk Islam, Guru Besar Antropologi University of Madras ini kemudian memutuskan untuk mengganti namanya menjadi Baron Omar Rolf von Ehrenfels.
Pada tahun 1932, Rolf mengunjungi anak benua India dan Pakistan. Selama di sana, dia sangat tertarik mempelajari soal-soal kebudayaan dan sejarah yang berhubungan dengan kedudukan wanita dalam Islam. Sekembalinya ke Austria, Rolf mengkhususkan diri dalam mempelajari soal-soal antropologi dari Matrilineal Civilization di India. Apa-apa yang dia pelajari mengenai antropologi Matrilineal Civilization di India, kemudian dia tuangkan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh The Oxford University Press. Buku ini merupakan buku antropologi pertama yang ditulis oleh Rolf.
Pada waktu Austria diduduki oleh pasukan Nazi Jerman tahun 1938, Rolf memutuskan untuk pergi lagi ke India dan bekerja di Hyderabad atas undangan Sir Akbar Hydari. Selama bermukim di India untuk kali kedua ini, Rolf mempelajari soal-soal antropologi di wilayah India Selatan dengan mendapat bantuan dari Wenner Gern Foundation New York di Assam.
Sejak tahun 1949, ia ditunjuk menjadi kepala bagian Antropologi pada University of Madras. Dan, pada tahun itu juga, Rolf mendapat medali emas SC Roy Golden Medal atas jasa-jasanya dalam bidang Sosial and Cultural Antropology dari Royal Asiatic Society of Bengal.
Di antara sekian banyak karangannya tentang Islam dan ilmu pengetahuan, ada dua jilid buku tentang antropologi India dan dunia, Ilm-ul-Aqwam (Anjuman Taraqqi-Delhi, 1941) dan sebuah risalah tentang suku bangsa Cochin dengan judul Kadar of Cochin (Madras, 1952).
Kebenaran Islam
Menurut Rolf, seperti dikutip dari buku Mengapa Kami Memilih Islam, Islam merupakan agama besar yang sangat berpengaruh atas jiwanya. Setidaknya, kata anak laki-laki satu-satunya dari Baron Christian Ehrenfels, pembangun teori 'Structure Psychology Modern' di Austria, ada delapan alasan yang telah menggugah kesadaran dalam dirinya tentang kebenaran agama Islam.
Ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan berangsur-angsur itu, ungkap Rolf, telah menunjukkan kepadanya bahwa agama-agama besar keluar dari hanya satu sumber. ''Bahwa orang-orang yang membawa kerasulan besar itu hanya membawa ajaran-ajaran Tuhan yang Satu. Dan, bahwa beriman kepada salah satu kerasulan ini berarti mencari iman dalam cinta kasih.''
Bagi Rolf, Islam telah memberikan rasa aman dengan cara tunduk kepada hukum yang abadi. Sedangkan ditinjau dari sudut sejarah, ungkapnya, Islam merupakan agama besar terakhir di atas planet bumi ini. Nabi Muhammad SAW adalah rasul Islam dan mata rantai terakhir dalam rangkaian para rasul, yang membawa risalah-risalah besar.
Islam, tambah Rolf, juga menonjol dalam hal penerimaan dan cara hidup kaum Muslimin oleh penganut agama yang terdahulu. ''Berarti dia melepaskan diri dari agamanya yang dahulu,'' kata dia. Hal ini sama seperti memeluk ajaran-ajaran Buddha, yang berarti melepaskan diri dari ajaran-ajaran Hindu.
Namun, agama-agama yang berbeda-beda itu, menurut dia, sebenarnya hanya buatan manusia, sedangkan kesatuan agama itu dari dan bersifat ketuhanan. ''Ajaran-ajaran Alquran-lah yang menekankan atas prinsip kesatuan ini. Dan, percaya atas kesatuan agama berarti menerima satunya fakta kejiwaan yang umum diterima oleh semua orang, pria dan wanita,'' paparnya.
Hal menonjol lainnya adalah ajaran Islam menekankan jiwa persaudaraan kemanusiaan, yang meliputi semua hamba Allah. Ini berbeda dengan konsep rasialisme atau sukuisme yang berdasarkan perbedaan bahasa, warna kulit, sejarah tradisional, dan lain-lain dogma alami.
Selain itu, menurut Rolf, Islam memberikan kedudukan yang mulia dan hak yang sebesar-besarnya kepada kaum perempuan. Dalam pengertian inilah, Rasulullah SAW bersabda dalam kata-katanya yang tidak bisa dilupakan oleh para pengikutnya, "Surga itu di bawah telapak kaki kaum ibu."
Agama Islam, dinilai Rolf, sangat menghargai hasil karya umat dari agama lain dengan tidak menghancurkannya. Hal tersebut bisa kita lihat dari bangunan Gereja Aya Sophia di Istanbul, Turki, yang dialihfungsikan menjadi masjid manakala tentara Islam berhasil menguasai wilayah tersebut. Penguasa Islam saat itu hanya mengubah desain interior bekas bangunan gereja tersebut, agar mirip dengan Masjid Sultan Ahmad atau Muhammad al-Fatih (Masjid Biru) di Istanbul. Bukti sejarah ini, kata dia, telah menunjukkan bahwa umat Islam pada dasarnya mencintai perdamaian dan kasih sayang terhadap umat dari agama lain. dia/berbagai sumber
Biodata:
Nama : Leopold Werner von Ehrenfels
Nama Islam : Baron Omar Rolf von Ehrenfels
Masuk Islam : 1927
Tempat/Tanggal Lahir: Austria, 28 April 1901
Wafat : 1980
sumber : Republika
MEMILIH PRESIDEN
Sudah lama sekali saya tidak menulis tentang politik, tepatnya semenjak habis Pemilu legislatif beberapa waktu yang lalu. Bukan kehabisan topik atau ide...! Namun keterbatasan waktulah yang jadi penyebabnya.
Menjelang hari Pemungutan Suara Pilpres tanggal 8 Juli mendatang, saya masih agak bimbang. Secara jujur, saya mengatakan bahwa saya bingung mau memilih siapa.. Dulu, saat-saat Pemilu legislatif, saya masih mengagumi SBY sebagai sosok yang masih pantas untuk meneruskan jabatan satu periode lagi. Namun seiring waktu, keraguan pada SBY makin mengental saja. Bukan berarti berkhianat "bathin" untuk memilih Calon yang lain. Namun, saya merasa, dari ketiga pasangan yang ada saat ini tidak ada yang pantas menjadi Presiden Indonesia. Memang kalau ditinjau dari berbagai sisi, SBY sedikit lebih baik ketimbang Calon Presiden yang lain. Apalagi bila dikaitkan dengan Provinsi Aceh.
SBY telah mengambil berbagai kebijakan yang strategis tentang masa depan Aceh, bukan hanya saat menjabat Presiden, namun jauh sebelumnya yaitu saat masih menjadi Menko Polkam dalam Kabinet Megawati. Beliau rajin mengupayakan perdamaian Aceh, walaupun saat itu ybs tidak punya kewenangan lebih karena masih jadi anak buah Bu Mega. Dan seingat saya, kalau tidak salah, pada saat pengambilan keputusan penetapan Darurat Meliter untuk Aceh tanggal 18 Mei 2003, SBY sudah diluar Kabinet. SBY merehabilitasi keputusan Bu Mega tentang Darurat Sipil setelah beliau menjadi Presiden, kemudian meneruskan cara-cara yang bermartabat dalam penyelesaian masalah Aceh di forum internasional.
Memang, MoU Helsinki yang disepakati beberapa bulan setelah tsunami, bukan hanya "milik" SBY. Jusuf Kalla yang sekarang bersaing dengan SBY dalam Pilpres juga punya peran penting. Bersama rekan-rekannya dari Makassar (Bugis Connection), beliau juga sangat berjasa. Pendekatan dengan cara Bugis (seperti yang diceritakan oleh dr.Farid Hussen kemudian hari), merupakan salah satu kunci penting tercapainya kata sepakat dengan para petinggi GAM di luar negeri. Namun, bagaimanapun cara pendekatan yang dilakukan oleh JK dkk tentu tidak akan berhasil bila tidak disetujui oleh SBY, Presiden RI. Jadi dalam hal tercapainya perdamaian di Aceh, peran keduanya sebagai Presiden maupun sebagai Wapres sangat kental.
Bagaimana dengan Bu Mega...? Bagi sebagian orang Aceh tentu tidak akan melupakan pahitnya operasi meliter 6 tahun yang lalu, yang berlangsung di bawah kekuasaannya. Bagaimana harkat dan martabat masyarakat Aceh jatuh ke titik nadir saat operasi meliter berlangsung. Memang di satu sisi, apa yang diputuskannya "dapat" diterima dengan alasan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Namun disisi lain, "tidak dapat" diterima karena mempertahankan NKRI tidak harus dengan menerjunkan ratusan ribu pasukan ke Aceh. Buktinya SBY-JK dapat meredam gejolak di Aceh tanpa perang.
Belum lagi bila mengingat, bahwa sebelumnya (maksudnya sebelum DM/DS) Bu Mega pernah berjanji tidak akan ada setetespun darah orang Aceh dalam penyelesaian masalah Aceh.
Bila mengingat sepak terjang Bapaknya, Bung Karno, pasca kemerdekaan, rasanya semakin jelas arah pilihan orang Aceh. Masyarakat Aceh terluka oleh sejarah kepemimpinan dua orang anak beranak tersebut.
Pada kesempatan ini, saya tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan Mega dan memilih SBY maupun JK. Opini tentang ketiga Capres itu, terserah masing-masing. Ini hanya pendapat saya. Dan saya sendiri juga belum menentukan pilihan. Seperti yang saya kemukan di atas, saya masih bimbang.
Selain melihat dari sisi perdamaian, tentu ada beberapa indikator lain yang bisa kita pakai untuk menilai ketiganya. Saya tidak ingin mendzalimi, hanya saja beberapa catatan pantas ditulis.
SBY selama berkuasa, jelas banyak membawa kemajuan bagi bangsa ini, bersama JK. Saya tidak sempat lagi menyebutkan satu persatu, kalu anda mengikuti kinerjanya selama 5 tahun, anda pasti sudah mencatatnya sendiri beberapa keberhasilan itu. Hanya saja, kelemahannya juga banyak. Salah satu yang terkait dengan ummat adalah ketidaktegasannya membubarkan Ahmadiyah. Padahal sudah jelas hasil kajian Ulama, termasuk di beberapa negara Islam lainnya, bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan di negara lain dengan tegas dinyatakan bahwa Sesat.
Masalah ummat yang lain adalah "membiarkan" industri pertelivisian di Indonesia menyajikan tayangan "sampah" ke hadapan kita semua pemirsa Indonesia. Kalau pemimpin kita seorang yang tegas dan mengerti dampak dari "Bollywoodisasi" terhadap moral generasi muda kita, tentu akan bertindak tegas. Walaupun KPI adalah lembaga independen, sebagai Kepala Negara, SBY seharusnya wajib mengingatkan KPI, agar lebih berani dalam bertindak.
Dalam hal pemberantasan korupsi, kita memberi apresiasi. Namun perlu dicatat, pemberantasan korupsi masih tebang pilih. Putusan hukuman 4,5 tahun Pengadilan Tipikor terhadap besan SBY, Aulia Pohan tidak bisa mengklarifikasi adanya bahwa tidak ada tebang pilih dalam kasus korupsi. Tentu pembaca masih ingat kasus korupsi yang menimpa Anggota KPU periode lalu, bagaimana Hamid Awaluddin tidak tersentuh hukum, malah kemudian menjadi Menteri dan Dubes. Prof.Dr.Nazaruddin Syamsyuddin sendiri rela hidup dalam pengapnya penjara. Lebih dari itu, beliau "diharuskan" mencoreng semua prestasi dan kehormatan selama mengabdi kepada bangsa, baik sebagai Ketua KPU, maupun sebagai pakar ilmu politik.
Kasus Bank Indonesia juga demikian, Pak Bur, Pak Aulia, Pak Rusli semua jadi terhukum. Pak Anwar Nasution masih tenang-tenang saja sebagai Ketua BPK. Padahal saat itu posisinya sama persis dengan rekan-rekannya yang sudah terhukum.
JK bagaimana ? Sama seperti SBY juga. Kita tidak menutup mata dengan beberapa keberhasilannya. Namun kita juga mencatat, bahwa selama beliau menjadi Wapres, banyak orang Makassar mendapat posisi penting di negeri ini. Selain membawa gerbong Makssar, dia juga membawa gerbong Golkar dalam pemerintahan. Memang secara umum, tidak terlihat kekurangannya selama ini, namun bukan berarti beliau bersih-bersih saja. Semua kritikan terhadap kebijakan Pemerintah sudah terlanjur dialamatkan kepada Presiden, walaupun ada diantara kebijakan-kebijakan itu adalah buah dari JK.
Dan akhir-akhir ini malah JK ikut mengkritik Bosnya, seakan-akan kebijakan yang tidak populer sepenuhnya berasal dari SBY.
Sebagai Muslim, satu-satunya pertimbangan terhadap JK (maupun Wiranto) adalah istrinya telah menutup aurat. Walaupun saya belum mendapat informasi, tentang ketaatan terhadap ajaran agama mereka sehari-hari.
Track record Mega malah lebih parah. Bukan hanya masalah Aceh yang kita catat. Selama memimpin negeri ini 2,5 tahun, tidak ada prestasi yang menonjol yang dicatatnya. Malah menjadi boneka bangsa asing. Kita ingat bagaimana saat itu ia "menjual" BUMN kepada bangsa asing. Penjualan kapal tanker dibawah harga standar kepada Korea, juga merugikan bangsa Indonesia. Perjanjian bagi hasil pertambangan di Papua juga merugikan bangsa ini. Belum lagi soal issue keterlibatan asing dalam "pembuatan" UU Migas tahun 2002. Seperti kita ketahui, UU Migas produk dari DPR periode 1999-2004 yang didominasi oleh PDI Perjuangan. Dan disinyalir keterlibatan pihak asing dalam membiayai lahirnya UU tersebut.
Bagaimana dengan ketiga Cawapres ? Pada kesempatan ini tidak akan saya bahas, mengingat apapun track recordnya, pengambilan keputusan di negeri ini tetap pada Presiden. Jadi menurut saya, peran Wakil Presiden belum terlihat. Kalaupun selama ini JK sudah mulai menunjukkan, bahwa Wapres bukan ban serep, tetapi tetap saja tidak maksimal.
Kesimpulan dari tulisan saya di atas adalah secara umum tidak ada prestasi yang patut dibanggakan oleh Capres kita. SBY, JK dan Mega bukan yang terbaik. Kalaupun harus memilih, saya akan benar-benar menhitung baik-buruknya pilihan saya. Dan masih ada waktu tiga hari lagi untuk memutuskan.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Menjelang hari Pemungutan Suara Pilpres tanggal 8 Juli mendatang, saya masih agak bimbang. Secara jujur, saya mengatakan bahwa saya bingung mau memilih siapa.. Dulu, saat-saat Pemilu legislatif, saya masih mengagumi SBY sebagai sosok yang masih pantas untuk meneruskan jabatan satu periode lagi. Namun seiring waktu, keraguan pada SBY makin mengental saja. Bukan berarti berkhianat "bathin" untuk memilih Calon yang lain. Namun, saya merasa, dari ketiga pasangan yang ada saat ini tidak ada yang pantas menjadi Presiden Indonesia. Memang kalau ditinjau dari berbagai sisi, SBY sedikit lebih baik ketimbang Calon Presiden yang lain. Apalagi bila dikaitkan dengan Provinsi Aceh.
SBY telah mengambil berbagai kebijakan yang strategis tentang masa depan Aceh, bukan hanya saat menjabat Presiden, namun jauh sebelumnya yaitu saat masih menjadi Menko Polkam dalam Kabinet Megawati. Beliau rajin mengupayakan perdamaian Aceh, walaupun saat itu ybs tidak punya kewenangan lebih karena masih jadi anak buah Bu Mega. Dan seingat saya, kalau tidak salah, pada saat pengambilan keputusan penetapan Darurat Meliter untuk Aceh tanggal 18 Mei 2003, SBY sudah diluar Kabinet. SBY merehabilitasi keputusan Bu Mega tentang Darurat Sipil setelah beliau menjadi Presiden, kemudian meneruskan cara-cara yang bermartabat dalam penyelesaian masalah Aceh di forum internasional.
Memang, MoU Helsinki yang disepakati beberapa bulan setelah tsunami, bukan hanya "milik" SBY. Jusuf Kalla yang sekarang bersaing dengan SBY dalam Pilpres juga punya peran penting. Bersama rekan-rekannya dari Makassar (Bugis Connection), beliau juga sangat berjasa. Pendekatan dengan cara Bugis (seperti yang diceritakan oleh dr.Farid Hussen kemudian hari), merupakan salah satu kunci penting tercapainya kata sepakat dengan para petinggi GAM di luar negeri. Namun, bagaimanapun cara pendekatan yang dilakukan oleh JK dkk tentu tidak akan berhasil bila tidak disetujui oleh SBY, Presiden RI. Jadi dalam hal tercapainya perdamaian di Aceh, peran keduanya sebagai Presiden maupun sebagai Wapres sangat kental.
Bagaimana dengan Bu Mega...? Bagi sebagian orang Aceh tentu tidak akan melupakan pahitnya operasi meliter 6 tahun yang lalu, yang berlangsung di bawah kekuasaannya. Bagaimana harkat dan martabat masyarakat Aceh jatuh ke titik nadir saat operasi meliter berlangsung. Memang di satu sisi, apa yang diputuskannya "dapat" diterima dengan alasan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Namun disisi lain, "tidak dapat" diterima karena mempertahankan NKRI tidak harus dengan menerjunkan ratusan ribu pasukan ke Aceh. Buktinya SBY-JK dapat meredam gejolak di Aceh tanpa perang.
Belum lagi bila mengingat, bahwa sebelumnya (maksudnya sebelum DM/DS) Bu Mega pernah berjanji tidak akan ada setetespun darah orang Aceh dalam penyelesaian masalah Aceh.
Bila mengingat sepak terjang Bapaknya, Bung Karno, pasca kemerdekaan, rasanya semakin jelas arah pilihan orang Aceh. Masyarakat Aceh terluka oleh sejarah kepemimpinan dua orang anak beranak tersebut.
Pada kesempatan ini, saya tidak mengajak pembaca untuk meninggalkan Mega dan memilih SBY maupun JK. Opini tentang ketiga Capres itu, terserah masing-masing. Ini hanya pendapat saya. Dan saya sendiri juga belum menentukan pilihan. Seperti yang saya kemukan di atas, saya masih bimbang.
Selain melihat dari sisi perdamaian, tentu ada beberapa indikator lain yang bisa kita pakai untuk menilai ketiganya. Saya tidak ingin mendzalimi, hanya saja beberapa catatan pantas ditulis.
SBY selama berkuasa, jelas banyak membawa kemajuan bagi bangsa ini, bersama JK. Saya tidak sempat lagi menyebutkan satu persatu, kalu anda mengikuti kinerjanya selama 5 tahun, anda pasti sudah mencatatnya sendiri beberapa keberhasilan itu. Hanya saja, kelemahannya juga banyak. Salah satu yang terkait dengan ummat adalah ketidaktegasannya membubarkan Ahmadiyah. Padahal sudah jelas hasil kajian Ulama, termasuk di beberapa negara Islam lainnya, bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan di negara lain dengan tegas dinyatakan bahwa Sesat.
Masalah ummat yang lain adalah "membiarkan" industri pertelivisian di Indonesia menyajikan tayangan "sampah" ke hadapan kita semua pemirsa Indonesia. Kalau pemimpin kita seorang yang tegas dan mengerti dampak dari "Bollywoodisasi" terhadap moral generasi muda kita, tentu akan bertindak tegas. Walaupun KPI adalah lembaga independen, sebagai Kepala Negara, SBY seharusnya wajib mengingatkan KPI, agar lebih berani dalam bertindak.
Dalam hal pemberantasan korupsi, kita memberi apresiasi. Namun perlu dicatat, pemberantasan korupsi masih tebang pilih. Putusan hukuman 4,5 tahun Pengadilan Tipikor terhadap besan SBY, Aulia Pohan tidak bisa mengklarifikasi adanya bahwa tidak ada tebang pilih dalam kasus korupsi. Tentu pembaca masih ingat kasus korupsi yang menimpa Anggota KPU periode lalu, bagaimana Hamid Awaluddin tidak tersentuh hukum, malah kemudian menjadi Menteri dan Dubes. Prof.Dr.Nazaruddin Syamsyuddin sendiri rela hidup dalam pengapnya penjara. Lebih dari itu, beliau "diharuskan" mencoreng semua prestasi dan kehormatan selama mengabdi kepada bangsa, baik sebagai Ketua KPU, maupun sebagai pakar ilmu politik.
Kasus Bank Indonesia juga demikian, Pak Bur, Pak Aulia, Pak Rusli semua jadi terhukum. Pak Anwar Nasution masih tenang-tenang saja sebagai Ketua BPK. Padahal saat itu posisinya sama persis dengan rekan-rekannya yang sudah terhukum.
JK bagaimana ? Sama seperti SBY juga. Kita tidak menutup mata dengan beberapa keberhasilannya. Namun kita juga mencatat, bahwa selama beliau menjadi Wapres, banyak orang Makassar mendapat posisi penting di negeri ini. Selain membawa gerbong Makssar, dia juga membawa gerbong Golkar dalam pemerintahan. Memang secara umum, tidak terlihat kekurangannya selama ini, namun bukan berarti beliau bersih-bersih saja. Semua kritikan terhadap kebijakan Pemerintah sudah terlanjur dialamatkan kepada Presiden, walaupun ada diantara kebijakan-kebijakan itu adalah buah dari JK.
Dan akhir-akhir ini malah JK ikut mengkritik Bosnya, seakan-akan kebijakan yang tidak populer sepenuhnya berasal dari SBY.
Sebagai Muslim, satu-satunya pertimbangan terhadap JK (maupun Wiranto) adalah istrinya telah menutup aurat. Walaupun saya belum mendapat informasi, tentang ketaatan terhadap ajaran agama mereka sehari-hari.
Track record Mega malah lebih parah. Bukan hanya masalah Aceh yang kita catat. Selama memimpin negeri ini 2,5 tahun, tidak ada prestasi yang menonjol yang dicatatnya. Malah menjadi boneka bangsa asing. Kita ingat bagaimana saat itu ia "menjual" BUMN kepada bangsa asing. Penjualan kapal tanker dibawah harga standar kepada Korea, juga merugikan bangsa Indonesia. Perjanjian bagi hasil pertambangan di Papua juga merugikan bangsa ini. Belum lagi soal issue keterlibatan asing dalam "pembuatan" UU Migas tahun 2002. Seperti kita ketahui, UU Migas produk dari DPR periode 1999-2004 yang didominasi oleh PDI Perjuangan. Dan disinyalir keterlibatan pihak asing dalam membiayai lahirnya UU tersebut.
Bagaimana dengan ketiga Cawapres ? Pada kesempatan ini tidak akan saya bahas, mengingat apapun track recordnya, pengambilan keputusan di negeri ini tetap pada Presiden. Jadi menurut saya, peran Wakil Presiden belum terlihat. Kalaupun selama ini JK sudah mulai menunjukkan, bahwa Wapres bukan ban serep, tetapi tetap saja tidak maksimal.
Kesimpulan dari tulisan saya di atas adalah secara umum tidak ada prestasi yang patut dibanggakan oleh Capres kita. SBY, JK dan Mega bukan yang terbaik. Kalaupun harus memilih, saya akan benar-benar menhitung baik-buruknya pilihan saya. Dan masih ada waktu tiga hari lagi untuk memutuskan.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Jumat, 03 Juli 2009
SAJAK LAUT
gemuruh.....
suara ombak pantai Ujung Tanah
tetap saja
bukan penawar
bagi sekeping hati yang gelisah
indahnya.....
Panorama pantai Samadua
tetap saja
bukan obat
bagi perasaan yang gundah
birunya Samudera....
makin lautkan rindu,
rindu pada Dinda,
pada Fildza,
pada Mazaya
dan pada kampung halaman.
karya : mukhlis aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
suara ombak pantai Ujung Tanah
tetap saja
bukan penawar
bagi sekeping hati yang gelisah
indahnya.....
Panorama pantai Samadua
tetap saja
bukan obat
bagi perasaan yang gundah
birunya Samudera....
makin lautkan rindu,
rindu pada Dinda,
pada Fildza,
pada Mazaya
dan pada kampung halaman.
karya : mukhlis aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Rabu, 24 Juni 2009
MENGENAL BERAGAM KECERDASAN
Kecerdasaan yang dimiliki seseorang ternyata tidak hanya sebatas kecerdasan intelektual (IQ) semata seperti yang selama ini kita kenal. Ada beberapa kecerdasan yang ikut mempengaruhi jalan keberhasilan dan kebahagiaan kita. Menurut peneliti Howard Gardner dalam buku “Multiple Intelligences”, setidaknya ada sembilan macam kecerdasan yang ada pada manusia.
Gardner menyebutkan ada 9 kecerdasan yang mungkin dimiliki seseorang :
· Kecerdasan Pertama : logis-matematis
· Kecerdasan Kedua : linguistic-verbal (kebahasaan)
· Kecerdasan Ketiga : spasial-visual
· Kecerdasan Keempat : musikal
· Kecerdasan Kelima : kinestetik-ragawi
· Kecerdasan Keenam : naturalis
· Kecerdasan Ketujuh : intrapersonal
· Kecerdasan Kedelapan : interpersonal
· Kecerdasan Kesembilan : eksistensial
Kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan bahasa sering dikategorikan sebagai kecerdasan intelektual yang dulu sering dianggap sebagai faktor kepintaran seseorang. Padahal ada kecerdasan visual, musikal dan kinestetik-ragawi yang juga bisa mempengaruhi keberhasilan dalam dunia kerja. Enam kecerdasan tersebut bisa dikelompokan sebagai kategori keterampilan yang setidaknya harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat bertahan hidup.
Tiga kecerdasan berikutnya, yakni naturalis, intrapersonal dan interpesonal dapat membantu seseorang untuk meraih kesuksesan dalam berkarir, berkeluarga dan hubungan antar sesama dan juga terhadap alam. Kecerdasan ini mencakup kemampuan membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, serta hasrat keinginan diri sendiri dan orang lain. Salah satu peneliti yang mendukung kecerdasan emosi ini adalah Daniel Goleman, yang terkenal dengan bukunya, Emotional Intelligence.
Sedang kecerdasan spiritual dapat membantu seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya karena sudah menyadari makna hidup itu sendiri. Seseorang yang mengasah kecerdasan spiritualitasnya akan memiliki kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter dan nilai hidup yang dimilikinya.
Beragam aspek kecerdasan dalam diri seseorang secara bersama-sama membangun tingkat kecerdasan orang tersebut. Kecerdasan beragam inilah yang membuat masing-masing orang memiliki kepribadian yang unik dan tidak sama satu dengan yang lainnya. Seseorang bisa memiliki beberapa bahkan semua kecerdasan tersebut dengan selalu mengasah dan melatih semua potensi yang ada pada dirinya.
Konsep kecerdasan majemuk yang digagas oleh Howard Gardner ini telah mengoreksi keterbatasan cara berpikir konvensional yang seolah-olah hanya melihat kecerdasan dari nilai ujian atau tes intelegensi semata. Padahal untuk memperoleh kesuksesan dan terlebih kebahagiaan dalam hidup lebih banyak disumbangkan oleh kecerdasan yang bermuara dari hati.
Dirangkum dari berbagai sumber.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan
Gardner menyebutkan ada 9 kecerdasan yang mungkin dimiliki seseorang :
· Kecerdasan Pertama : logis-matematis
· Kecerdasan Kedua : linguistic-verbal (kebahasaan)
· Kecerdasan Ketiga : spasial-visual
· Kecerdasan Keempat : musikal
· Kecerdasan Kelima : kinestetik-ragawi
· Kecerdasan Keenam : naturalis
· Kecerdasan Ketujuh : intrapersonal
· Kecerdasan Kedelapan : interpersonal
· Kecerdasan Kesembilan : eksistensial
Kecerdasan matematika-logika dan kecerdasan bahasa sering dikategorikan sebagai kecerdasan intelektual yang dulu sering dianggap sebagai faktor kepintaran seseorang. Padahal ada kecerdasan visual, musikal dan kinestetik-ragawi yang juga bisa mempengaruhi keberhasilan dalam dunia kerja. Enam kecerdasan tersebut bisa dikelompokan sebagai kategori keterampilan yang setidaknya harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat bertahan hidup.
Tiga kecerdasan berikutnya, yakni naturalis, intrapersonal dan interpesonal dapat membantu seseorang untuk meraih kesuksesan dalam berkarir, berkeluarga dan hubungan antar sesama dan juga terhadap alam. Kecerdasan ini mencakup kemampuan membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, serta hasrat keinginan diri sendiri dan orang lain. Salah satu peneliti yang mendukung kecerdasan emosi ini adalah Daniel Goleman, yang terkenal dengan bukunya, Emotional Intelligence.
Sedang kecerdasan spiritual dapat membantu seseorang untuk menemukan kebahagiaan dalam hidupnya karena sudah menyadari makna hidup itu sendiri. Seseorang yang mengasah kecerdasan spiritualitasnya akan memiliki kelebihan yang terlihat dari integritas, karakter dan nilai hidup yang dimilikinya.
Beragam aspek kecerdasan dalam diri seseorang secara bersama-sama membangun tingkat kecerdasan orang tersebut. Kecerdasan beragam inilah yang membuat masing-masing orang memiliki kepribadian yang unik dan tidak sama satu dengan yang lainnya. Seseorang bisa memiliki beberapa bahkan semua kecerdasan tersebut dengan selalu mengasah dan melatih semua potensi yang ada pada dirinya.
Konsep kecerdasan majemuk yang digagas oleh Howard Gardner ini telah mengoreksi keterbatasan cara berpikir konvensional yang seolah-olah hanya melihat kecerdasan dari nilai ujian atau tes intelegensi semata. Padahal untuk memperoleh kesuksesan dan terlebih kebahagiaan dalam hidup lebih banyak disumbangkan oleh kecerdasan yang bermuara dari hati.
Dirangkum dari berbagai sumber.
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan
Senin, 15 Juni 2009
RINDU 2
Rindu. Itulah perasaan yang saya alami sehari-hari dalam seminggu terakhir ini. Betapa tidak! Saya telah sembilan hari meninggalkan keluarga di Bireuen. Saya harus berpisah dengan isteri tercinta, anak-anak saya yang manis dan orangtua/mertua saya yang bijaksana yang selama ini selalu mendukung saya. Saya telah meninggalkan Kota Juang yang telah memberi banyak hal kepada saya selama 6 tahun terakhir.......
Semua yang saya tinggalkan, merupakan "asset" yang tiada terkira nilainya. Dan karenanya, rindu saya pada semua itu tidak terkendalikan.... Saya harus menumpahkan selaksa rindu. Kepada siapa ? Kepada pantai elok Samadua ? atau kepada Tapak Naga? Tentu tidak! Kepada Allah-lah kiranya tempat mengadu, semoga rindu saya bermuara.
Saya telah seminggu menjalani hari-hari yang agak "asing" di Samadua, Aceh Selatan. Bukan masyarakatnya yang asing. Mereka malah sangat baik, penduduknya ramah, terbuka pada setiap orang, termasuk pada saya dan rekan-rekan lain dari "utara"...... Saya hanya merasa "asing" pada dunia baru saya yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya seperti angkatan laut yang diminta untuk terjun payung. Saya bukanlah seorang infanteri batalion A dipindahkan ke batalion B.
Berbeda dengan mereka, karena saya tidak saja harus memahami masyarakat yang selama ini tidak pernah saya gauli, namun lebih dari itu, karena saya juga harus mempelajari dunia baru yang "asing". Namun sampai hari kesembilan, saya belum menemukan kendala berarti. Sejauh ini, saya masih diberi kemudahan oleh Allah SWT termasuk bagaimana komunikasi saya dengan lingkungan baru. Saya sangat terbantu dengan cara-cara komunikasi yang selama ini saya terapkan. Saya adalah tipe orang yang terbuka.
Dalam pelaksanaan tugas baru, saya telah merasakan bantuan teman-teman, terutama bantuan dari Asisten FK di lapangan. Mereka layaknya bukan sebagai bawahan, tapi lebih sebagai teman yang juga senang dengan manajemen terbuka. Selama seminggu, saya mendiskusikan berbagai persoalan sambil juga saya belajar tentang pemberdayaan lebih mendalam. Saya yakin dengan filosofi bahwa kalau saya gagal karena diri saya, namun kalau berhasil dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari dukungan mereka. Saya suka sepakbola, jadi saya anggap saya adalah Coach, sementara mereka adalah pemain. Saling memahami, saling dukung dan saling pengertian untuk menerjemahkan semua tujuan agar berhasil dalam pertandingan.
Saat ini kami baru memulai pertandingan atau setidaknya 20 menit pertama. Masih 70 menit lagi pertandingan baru selesai. Banyak pekerjaan menanti kami didepan mata, yang tentu saja harus kami selesaikan dan menangkan. Dan sebagai pribadi, saya harus bisa menahan rasa rindu. Saya harus realistis, bahwa saat ini saya adalah kader pemberdayaan di Samadua, bukan di Kota Juang tercinta.
Sementara, Fildza dan Mazaya harus sabar.... Ibunya juga harus rela; tidak ada tangan yang mengelus denyut nadi dan gerak lembut calon pengisi daftar Kartu Keluarga selanjutnya.
Gerak riak pinggiran pantai Ujung Tanah mulai suburkan kecintaan pada Samadua. Kalau suatu saat, aku harus meninggalkannya dan kembali ke Kota Juang, aku akan mencatat sebuah memori. Pantai dan keindahan alam Samadua, telah suburkan rindu dan membantu aku lahirkan coretan-coretan kertas buram sebagai pelampiasan rindu pada Dinda, rindu pada Fildza, rindu pada Mazaya...............
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Semua yang saya tinggalkan, merupakan "asset" yang tiada terkira nilainya. Dan karenanya, rindu saya pada semua itu tidak terkendalikan.... Saya harus menumpahkan selaksa rindu. Kepada siapa ? Kepada pantai elok Samadua ? atau kepada Tapak Naga? Tentu tidak! Kepada Allah-lah kiranya tempat mengadu, semoga rindu saya bermuara.
Saya telah seminggu menjalani hari-hari yang agak "asing" di Samadua, Aceh Selatan. Bukan masyarakatnya yang asing. Mereka malah sangat baik, penduduknya ramah, terbuka pada setiap orang, termasuk pada saya dan rekan-rekan lain dari "utara"...... Saya hanya merasa "asing" pada dunia baru saya yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya seperti angkatan laut yang diminta untuk terjun payung. Saya bukanlah seorang infanteri batalion A dipindahkan ke batalion B.
Berbeda dengan mereka, karena saya tidak saja harus memahami masyarakat yang selama ini tidak pernah saya gauli, namun lebih dari itu, karena saya juga harus mempelajari dunia baru yang "asing". Namun sampai hari kesembilan, saya belum menemukan kendala berarti. Sejauh ini, saya masih diberi kemudahan oleh Allah SWT termasuk bagaimana komunikasi saya dengan lingkungan baru. Saya sangat terbantu dengan cara-cara komunikasi yang selama ini saya terapkan. Saya adalah tipe orang yang terbuka.
Dalam pelaksanaan tugas baru, saya telah merasakan bantuan teman-teman, terutama bantuan dari Asisten FK di lapangan. Mereka layaknya bukan sebagai bawahan, tapi lebih sebagai teman yang juga senang dengan manajemen terbuka. Selama seminggu, saya mendiskusikan berbagai persoalan sambil juga saya belajar tentang pemberdayaan lebih mendalam. Saya yakin dengan filosofi bahwa kalau saya gagal karena diri saya, namun kalau berhasil dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari dukungan mereka. Saya suka sepakbola, jadi saya anggap saya adalah Coach, sementara mereka adalah pemain. Saling memahami, saling dukung dan saling pengertian untuk menerjemahkan semua tujuan agar berhasil dalam pertandingan.
Saat ini kami baru memulai pertandingan atau setidaknya 20 menit pertama. Masih 70 menit lagi pertandingan baru selesai. Banyak pekerjaan menanti kami didepan mata, yang tentu saja harus kami selesaikan dan menangkan. Dan sebagai pribadi, saya harus bisa menahan rasa rindu. Saya harus realistis, bahwa saat ini saya adalah kader pemberdayaan di Samadua, bukan di Kota Juang tercinta.
Sementara, Fildza dan Mazaya harus sabar.... Ibunya juga harus rela; tidak ada tangan yang mengelus denyut nadi dan gerak lembut calon pengisi daftar Kartu Keluarga selanjutnya.
Gerak riak pinggiran pantai Ujung Tanah mulai suburkan kecintaan pada Samadua. Kalau suatu saat, aku harus meninggalkannya dan kembali ke Kota Juang, aku akan mencatat sebuah memori. Pantai dan keindahan alam Samadua, telah suburkan rindu dan membantu aku lahirkan coretan-coretan kertas buram sebagai pelampiasan rindu pada Dinda, rindu pada Fildza, rindu pada Mazaya...............
Mukhlis Aminullah, berdomisili di Samadua, Aceh Selatan.
Langganan:
Postingan (Atom)