Sabtu, 23 Mei 2009

KISAH ISLAM-NYA DAWUD ABDUL HAKIM

Kisah ini disampaikan oleh seorang mantan Mahasiswa Universitas New York. Dahulunya dia bernama David Hunsicker. Kepalanya nyaris gundul, selalu membawa tasbih, mengenakan celana jeans belel dan kemeja flanel seperti penebang pohon, dan duduk santai di kursinya.

Dia berkata bahwa orang tuanya "menganggap Islam sebagai agamanya orang kulit hitam" karena kesan yang mereka dapatkan dari Farrakhan dan Malcolm X di masa lalu. Maka ketika saya memutuskan ingin menjadi seorang Muslim mereka tidak mengerti bagaimana saya bisa begitu. Jika saya pergi ke masjid, ibu saya berkata, "Jadi kamu satu-satunya orang kulit putih disana?" [Tertawa]

Dawud mencoba beberapa agama sebelum memutuskan memeluk agama Islam. Kunjungannya ke Turki dalam pertukaran pelajar mempercepat keputusannya.

Berikut ini adalah kisahnya……semoga menjadi pemicu semangat kita untuk mempertahankan iman kita sampai titik darah penghabisan…………………………..

Saya dilahirkan di Allentown, Pennsylvania, 23 Oktober 1971. Saya tinggal di sebuah desa di daerah pinggiran. Germansville. Dapat saya katakan bahwa sekarang 80 persen penduduknya adalah orang Belanda Pennsylvania dan setiap orang mempunyai nenek moyang Jerman.

Mungkin ada sekitar 500 orang di kota itu, berpencar di tempat yang luas. Sampai umur lima tahun saya tinggal di pertanian keluarga. Setelah itu kami pindah seperempat mil jauhnya dari tempat itu dan mendirikan rumah kami sendiri di atas tanah yang dahulunya sebuah ladang. Seorang tua di sekitar tempat itu selalu menyesali ayah saya mengapa dia membangun rumah di tanah perkebunan kentang yang tersubur di daerah itu.

Yang membuat saya mengambil keputusan ikut dalam pertukaran pelajar adalah karena saya bukan seorang Amerika yang patriotik. Saya tidak percaya pada Mimpi Amerika. Saya pikir saya tidak akan pernah mempercayainya. Saya mencari tempat lain yang dapat saya sebut rumah dan saya mulai mencari agama yang lain.

Saya mempelajari agama Buddha. Tampaknya tak ada yang memuaskan saya. Saya mencari sesuatu semacam naskah guru yang suci. Saya membeli sebuah terjemahan Al-Quran. Ketika sedang membaca seluruh isinya, saya terhenyak. Buku itu berbicara pada saya. Buku itu mengatakan pada saya bahwa saya harus menjadi seorang Muslim. Saya tak dapat melihat jalan yang lain kecuali menjadi seorang Muslim. Al-Quran itu menjelaskan segala sesuatunya kepada saya. Saya mengenali kebenaran.

Saya mengumumkan diri saya kepada orang-orang di sekitar saya bahwa saya seorang Muslim. Itu sebelum saya mengucapkan kalimat syahadat. Saya tidak pernah berjumpa dengan seorang Muslim. Saya hanya merasa bahwa saya seorang Muslim.

Saya berusaha untuk mendapatkan lebih banyak buku. Pada saat saya ingin menjadi seorang Muslim dan ingin pergi ke Jerman karena itu merupakan tanah air suku saya, pada saat itu pula saya mengetahui bahwa banyak suku Turki di Jerman yang merupakan orang Muslim. Saya berharap dapat berjumpa dengan mereka dan mereka mau mengajarkan pada saya lebih jauh tentang Islam. Turki merupakan satu-satunya negara Islam yang ditawarkan dalam program pertukaran pelajar itu. Turki merupakan pilihan kedelapan saya dalam daftar tersebut. Secara kebetulan saya dikirim ke sana.

Ketika sampai di Turki saya mendapatkan banyak buku. Orang Muslim tersebar di sekeliling saya. Saya dapat mendengar suara azan lima kali sehari. Maka saya semakin matang sebagai Muslim. Saya berada di sana selama setahun.

Kebanyakan orang Turki tidak mau berpikir dua kali mengenai agama Islam. Banyak di antara mereka justru menyatakan diri ateis, "Oh, kami tidak mempercayai hal itu. Kami terlalu baik untuk itu. Kami ingin menjadi orang Barat. Kami ingin menjadi seperti orang Eropa." Mereka mengabaikan Islam. Tetapi saya masih mempunyai beberapa teman Muslim yang saleh. Saya terjebak di antara teman-teman yang ateis karena mereka menginginkan gaya hidup Amerika. Agar tidak terserang rindu tanah air, saya cenderung untuk lebih sering bersama orang-orang ateis itu. Tetapi teman-teman Muslim lain berkata, "Nah, Anda harus mulai mengikuti shalat Jumat." Saya mulai mencoba melaksanakannya. Mereka membantu saya mempelajari cara melakukan shalat.

Saat pertama saya menghadiri shalat Jumat adalah pada malam Mi'raj. Saya bersama keluarga [tuan rumah] saya dan kami sedang berpuasa.

Di Istambul terdapat banyak tempat suci. Kami mengunjungi salah satunya. Saya tidak tahu siapa yang dikuburkan di sana. Orang asing tak diizinkan masuk. Kami berdoa di makam itu. Waktu itu hari Jumat. Saya sangat gelisah karena saya takut melakukan kesalahan. Ada seorang anak Turki bersama kami. Saya pikir dia tidak pernah menghadiri acara berdoa itu sebelumnya. Kami berdua tersesat. Saya ingat saya duduk di sana, mencoba menghayati makna upacara itu. Saya ikuti semua gerakan sebaik mungkin.

Pada 1988 saya berkumpul bersama beberapa darwis Mawlawi. Mawlawi adalah anggota kelompok Whirling Dervishes yang termasyhur di Turki. Menyaksikan mereka memberi perasaan spiritual pada saya. Saya memutuskan ingin menjadi seorang darwis. Saya tidak ingin menjadi Muslim semata. Kebetulan seorang bibi di keluarga tuan rumah saya ternyata anggota tarekat Mawlawi ini. Tarekat Mawlawi diperbolehkan melakukan pertemuan secara bebas. Tetapi seluruh kelompok darwis dilarang di Turki. Karena itu mereka mengadakan pertemuan rahasia kecil di Istambul.

Bibi membawa saya ke pertemuan itu dan mengantarkan saya pada syaikh mereka. Mereka melakukan tarian berputar itu sebentar kemudian berzikir. Syaikh bertanya pada saya, "Anda ingin menjadi darwis?" Saya jawab, "Ya," dan dia menyahut, "Anda sudah mengucapkan syahadat?" "Belum," jawab saya. Lantas dia membimbing saya membaca syahadat dan menerima saya masuk tarekat tersebut.

Upacara penerimaan itu dilakukan secara simbolis. Saya harus mencium pangkuan dan tangannya. Saya mengenakan topi kerucut. Saya tundukkan kepada saya ke lututnya, dan dia meletakkan tangannya di kepala saya, dan menyampaikan doa untuk saya. Saya berlutut sementara dia duduk di sebuah kursi.

Itulah tahap pertama untuk menjadi anggota Mawlawi. Saya mencoba tarian berputar itu di rumah tapi tidak benar-benar menghayatinya.

Saya bersyukur bahwa saya tidak pernah lagi pergi ke pertemuan itu karena sekarang saya berpendapat Sufisme bukanlah Islam yang benar. Sebaliknya saya senang mendapatkan teman-teman Muslim yang lebih baik di sekolah, Muslim-muslim tradisional, Muslim-muslim Sunni. Mereka mengajarkan lebih banyak daripada yang dapat diajarkan kaum Mawlawi itu, karena banyak anggota Mawlawi yang tidak shalat lima kali sehari. Kebanyakan mereka lebih Mawlawi daripada Muslim.

Di sekolah setiap hari Jumat kami harus menyelinap diam-diam untuk melaksanakan shalat Jumat, karena sebenarnya kami tidak dibolehkan pergi ke luar sekolah untuk melaksanakannya. Tetapi dulu pernah ada seorang pimpinan sekolah yang simpatik terhadap kaum Muslimin. Dia tidak bisa meninggalkan sekolah untuk menunaikan shalat Jumat, tapi membolehkan kami pergi. Dia membuat catatan kecil dalam bahasa Arab yang berbunyi, "Orang-orang ini boleh keluar gerbang dan pergi shalat Jumat." Kami memberikannya pada penjaga pintu yang bisa membaca tulisan Arab. Dia pun berkata, "Oke, kalian boleh keluar, kalian boleh pergi shalat Jumat."

Satu setengah blok dari sekolah itu ada sebuah masjid. Tetapi kadang-kadang kepala sekolah itu berkata, "Saya mohon maaf, banyak yang keberatan. Saya tidak bisa mengizinkan kalian keluar minggu ini." Jadi kami pun pergi ke belakang sekolah, memanjat pagar dan melompat keluar, supaya kami bisa menunaikan shalat Jumat.

Saya tidak mengerti, tapi rasanya pengalaman itu seperti pengalaman spiritual. Saya menikmatinya. Saya melakukannya setiap minggu. Dalam hal tertentu, apa yang saya kerjakan ini membuat keluarga tuan rumah saya kembali ke akar mereka. Ayah angkat saya sering meninggalkan shalat, tetapi ketika saya datang dan menyatakan ingin menjadi seorang Muslim, dia jadi rajin shalat. Saya pikir pernyataan saya membuat dia merasa malu.

Di bulan Ramadhan kami melakukan shalat fajar berjamaah. Terkadang ibu juga ikut. Mereka mempunyai banyak tikar sembahyang. Tikar-tikar itu digelar di ruang tengah.

Sekitar dua minggu setelah saya mengucapkan syahadat bersama Mawlawi itu, saya pergi ke mufti masjid di dekat tempat kerja ayah angkat saya dan kembali mengucapkan syahadat di sana. Saya ingin meresmikannya. Saya ingin ada sebuah dokumen tertulis yang menyatakan bahwa saya seorang Muslim. Saya tidak memperolehnya karena saya masih di bawah umur untuk pindah agama. Dia bicara dalam bahasa Turki, saya tidak mengerti.

Suatu hari saya dan seorang teman sekolah pergi ke sebuah masjid besar. Saat itu sudah waktu ashar. Kota ini berpenduduk 8 juta jiwa, hanya sepuluh orang yang ikut shalat di masjid yang begitu bersejarah itu. Ini menakjubkan bagi saya. Masjid itu dibangun oleh sultan yang dinyatakan sebagai khalifah, makamnya ada di sebelah masjid itu, tapi tak ada seorang pun di sana. Maksud saya, orang-orang hanya datang untuk melihat-lihat dan ada turis di mana-mana, tapi tak seorang pun yang shalat berjamaah. Saya ikut shalat berjamaah. Saya katakan pada teman saya setelah itu, ini menyedihkan sekali karena tak ada orang yang hadir di sana. Pada kesempatan lain saya bertemu dengan teman yang sama di Masjid Biru. Waktu itu hari Sabtu siang, saat shalat zuhur. Masjid besar itu penuh manusia. Menyenangkan sekali. Masjid itu besar dan megah. Berhiaskan arabesk berwarna biru terang. Tiang-tiangnya raksasa.

Orang-tua saya datang pada tiga minggu terakhir saya di sana.

Mereka harus melihat apa-apa yang saya ceritakan lewat surat, dan mereka harus belajar sedikit banyak tentang Islam karena di surat saya katakan, "Hai, sekarang saya seorang Muslim."

Bahkan sebelum saya ke Turki, ketika saya menyatakan diri seorang Muslim, ibu saya berkata, "Selama engkau menyembah Tuhan yang sama dengan yang kami sembah, saya tidak melarang apa pun yang kau lakukan." Begitulah sampai saat ini.

***

Ketika saya berada di Turki, semua orang adalah orang Turki --semua serba seragam. Tetapi ketika tiba di New York dan pergi ke sebuah masjid, sangat menakjubkan untuk menyaksikan berbagai suku dan kebangsaan yang berlainan berkumpul bersama. Saya tumbuh di masyarakat pedesaan. Seperti yang saya katakan, tak ada orang kulit hitam dalam masyarakat saya, tidak ada orang Asia. Islam benar-benar mendewasakan saya dalam masalah ini.

Ketika saya kembali [dari Turki], saya melanjutkan sekolah SMA. Saya telah memilih nama depan saya, saya mengubahnya dari David menjadi Davud, tetapi saya tidak memberitahu orang-orang, karena mereka telah mengenal saya sebagai David selama hidup saya. Beberapa orang mengira itu hanya bentuk lain dari nama lama saya. Tetapi orang-orang yang mengenal saya dengan baik mengetahui bahwa saya seorang Muslim dan cukup mengerti apa arti perubahan nama itu.

Saya baru memasuki usia enam belas dan baru belajar menyetir. Saya tahu ada sebuah masjid golongan Syi'ah di sekitar sini, tetapi saya mempunyai prasangka terhadap orang-orang Syi'ah. Saya tidak ingin pergi ke sana. Saya tidak tahu tentang masjid yang lain karena masjid-masjid itu terdaftar di buku telepon di bawah judul "organisasi keagamaan", bukan di bawah "gereja Islam" seperti masjid Syi'ah itu.

Ironisnya, ada seorang Muslim terkemuka dari Allentown tewas dalam kecelakaan, dan surat kabar menyebutkan di mana penguburannya akan dilangsungkan, di sebuah masjid. Saya berkata, "Wouw di manakah ini?" Saya tidak tahu letak tempat tersebut.

Dua minggu sesudah itu saya pergi melakukan shalat Jumat saya yang pertama. Saya mengenakan pakaian Islam, pakaian Islam Turki --celana lebar, dengan pasak rendah. Saya menambahkan ikat kepala pada peci saya. Saya masuk dan bertanya di mana saya dapat mengambil air wudhu, dan mereka menunjukkan tempatnya. Lalu saya duduk dan mengikuti shalat Jumat. Tak lama kemudian orang-orang datang menghampiri saya dan berkata, Hai, saya fulan dan fulan; senang berjumpa Anda, dan persahabatan terjalin dari sana.

Saya ingin mempelajari ilmu hukum Islam dan menjadi seorang faqih. Itulah cita-cita saya, insyaallah. Itulah sebabnya saya ingin belajar bahasa Arab-agar saya mempunyai alat untuk mempelajari hukum Islam. Saya telah mendaftar di American University di Kairo, yang merupakan universitas Amerika yang diakui. Mereka mengkhususkan pada studi Arab dan Timur Tengah. Saya sedang menanti surat pemberitahuan penerimaan. Jika diterima, saya pasti pergi.

Mukhlis Aminullah, sumber Buku Jihad Gaya Amerika, Islam setelah Malcolm X (Steven Barbosa)

KAREEM ABDUL JABBAR; LOMPATAN IMAN

Dengan tinggi badan 86 inci, dia sering kesulitan melalui pintu masuk. Untuk memandang wajahnya Anda harus mendongak seperti melihat ke puncak pohon. Dan jika dia duduk, kita dapat membayangkan seolah-olah dia berada di ruang kelas satu dengan meja dan kursi yang mungil.

Abdul-Jabbar adalah pemain basket terbesar dalam sejarah, enam kali meraih predikat NBA Most Valuable Player, mengikuti 1.525 pertandingan NBA, dan mencatat 38.028 poin. Dialah pemilik apa yang dikatakan Bill Russell sebagai "hal yang paling indah dalam olah raga" --sky hook.

Sebagai seorang kutu buku dari Harlem, dia memimpin tim sekolahnya, Power Memorial, mendapatkan 71 kemenangan langsung, kemudian membawa UCLA merebut 88 kemenangan dari 90 pertandingan, dan memperoleh tiga gelar nasional. Dia begitu pandai, dan begitu tinggi, sehingga NCAA seringkali mengubah peraturannya untuk menyatakan pemasukan bolanya tidak sah.

Salah satu move terpenting yang dibuatnya terjadi di luar lapangan: memeluk agama Islam. Terjemahan namanya adalah "Hamba Allah yang Baik Hati dan Kuat."

Ada sebuah pusat kebudayaan Afrika di Harlem, kaum Muslimin menempati lantai lima gedung itu. Saya pergi ke sana, dengan mengenakan jubah Afrika yang berwarna-warni. Seorang pemuda berkata, "Anda tidak membutuhkan tempat ini." Saya jelaskan, "Saya ingin menjadi seorang Muslim." Saya mengucapkan dua kalimat syahadat. Kami melakukan shalat Jumat bersama-sama ...

Ada seorang teman saya bernama Hamaas. Saya pernah belajar Islam darinya. Dia adalah mantan drummer jazz. Ayah saya mengenalnya. Dia sebenarnya telah memulai dengan baik. Hamaas diberi pelajaran tentang Islam oleh seorang laki-laki dari

Bangladesh yang merupakan pengikut ilmu kebatinan. Banyak sekali orang-orang yang bersifat esoteris dari daerah India. Mereka mengetahui beberapa hal yang tidak mudah untuk dijelaskan. Saya pikir Hamaas masuk ke kelompok mereka.

Seiring dengan berjalannya waktu, dia menjadi yakin bahwa kebanyakan orang yang berusaha mengajar orang Amerika menjadi Muslim itu munafik. Menurut Hamaas mereka sebenarnya tidak berhak mengajarkan apa pun kepada orang Muslim Amerika. Dia ingin kami mempelajari Islam dan tidak terjebak dalam memuja orang Arab. Banyak rekan-rekan Amerika, karena tidak memiliki identitas apa pun, akhirnya memakai identitas orang yang mengajarkan Islam pada mereka. Kami tidak memiliki ikatan yang diperoleh turun-temurun dari generasi ke generasi. Kami tidak memiliki fondasi ekonomi serta kepandaian berkomunikasi seperti yang dimiliki oleh orang Muslim dari Timur. Struktur keluarga kami telah hancur.

Hamaas sangat membenci bangsa Arab dan orang-orang yang bersikap superior, yang ingin mengajarkan rekan-rekannya di Amerika bagaimana menjadi seorang Muslim. Ini adalah sesuatu yang harus diwaspadai. Beberapa orang dari Selatan pergi ke luar negeri. Mereka belajar sedikit tentang orang dan bahasa Arab, kembali ke Amerika, dan berkata bahwa dia adalah tokoh mesianik dari Sudan, kemudian mengadakan sebuah jamat di Brooklyn --padahal orang itu berasal dari Selatan!

Tetapi sejalan dengan itu, Hamaas terjerumus ke dalam kultus pribadi. Ini tidak baik. Saya tidak banyak menjelaskan seberapa buruknya hal itu dalam buku saya, sebab saya tidak ingin terlibat di dalamnya. Mereka dengan gampang melakukan kekerasan. Anda lihat apa yang terjadi di Washington pada 1977. Saya ingin menjauhkan diri dari mereka.

Hamaas Abdul-Khaalis, sebelumnya adalah seorang pejabat tinggi di Nation of Islam, menjadi orang yang terang-terangan menampakkan kebencian terhadap Islam versi Elijah Mtthammad. Hamaas mencela Elijah sebagai nabi palsu dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada para pengikutnya. Orang-orang dari kuil Philadelphia melakukan pembalasan. Mereka memasuki rumah Hamaas ketika dia sedang pergi dan menembak kepala istrinya enam kali. Mereka juga menembak putrinya (berhasil diselamatkan), dan menenggelamkan tiga dari enam anaknya yang lain, serta cucu perempuannya yang baru berumur sembilan hari.

Beberapa tahun kemudian, Hamaas dan pengikutnya mengambil alih Gedung Balaikota Washington, D.C., Islamic Center, dan markas besar B'nai B'rith. Dengan menawan beberapa sandera, dia menuntut agar film Mohammad, Messenger of God (yang melukai perasaan religiusnya) diturunkan dari gedung-gedung bioskop dan orang-orang yang dituduh membunuh anggota keluarganya, dan orang-orang yang dituduh membunuh Malcolm X, agar diserahkan kepadanya. Seorang wartawan yang berusia dua puluh empat tahun terbunuh dalam baku tembak dengan polisi. Hamaas akhirnya menyerah setelah para duta besar dari Mesir, Iran, dan Pakistan duduk dengannya untuk membaca dan mendiskusikan Al-Quran.

Mental saya lemah, karena cara saya dibesarkan membuat saya mudah tunduk pada orang-orang yang berkepribadian kuat dan sangat berkuasa. Orang-tua saya selalu bilang, Engkau harus mendengar kata-kata pengasuhmu, engkau harus menurut pada pelatihmu, dan engkau harus menurut pada gurumu. Dan sekarang ada orang yang benar-benar tertarik pada orang yang ingin memahami apakah Islam yang sebenarnya. Saya belajar padanya. Saya sangat beruntung karena dia tidak mengejar uang saya.

Mungkinkah dia bisa memeras Anda dan mendapatkan apa yang dia inginkan?

Mungkin. Ketika suasana menjadi semakin buruk dan mereka perlu uang untuk mengeluarkan orang-orang dari penjara dan membayar para pengacara, mereka berbuat hal-hal yang tidak masuk akal. Tetapi sampai saat ini, mereka belum pernah benar-benar berhasil memeras saya.

Syahadat saya yang pertama sebenarnya sudah cukup. Anda menyatakan bahwa Anda percaya pada Allah di hadapan para saksi. Itu cukup.

Tetapi Hamaas mengharuskan kami mempelajari lima kalimat, mencukur rambut kami, mencukur bulu ketiak dan bagian bawah kami. Itu tradisi dari Bangladesh. Masalah itu memang disebutkan di beberapa hadis, tetapi dia mempunyai beberapa hadis yang direkayasa manusia.

Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Al-Quran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu sepuluh jam tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal.

Pada musim panas berikutnya saya pergi ke Libya dan Arab Saudi. Saya belajar berbicara bahasa Arab dan sedikit lebih mendalaminya. Itu terjadi pada 1973. Pada musim dingin di tahun itulah pembunuhan itu terjadi.

Saya sedang bermain [basket]. Saya mendapat telepon dari salah seorang rekan di D.C. Dia berbisik. Saya berkata, "Apa yang terjadi?"

Saya benar-benar terkejut dan tidak percaya. Saya tidak dapat mengerti mengapa orang tega membunuh anak-anak. Perbuatan gila. Ketakutan melanda keluarga saya. Ketakutan melanda orang-orang di D.C.

Saya pergi ke D.C. dan membantu penguburan, lalu menghabiskan empat sampai enam minggu berjalan-jalan dengan perlindungan FBI.

Kemudian mereka menangkap orang-orang yang melakukan hal itu.

Saya pikir Hamaas terserang paranoia. Pada saat itu saya pikir dia pasti akan meninggalkan rumahnya di D.C. untuk beberapa tahun berikutnya.

Saya tidak ingin melakukan apa yang dilakukan Muhammad Ali. Dia mengumumkan secara terbuka kepindahan agamanya. Itu bisa ditafsirkan sebagai pernyataan politik, pernyataan menentang perang, dan pernyataan rasial. Saya hanya akan

menguatkan identitas saya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim. Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip.

Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggil saya dengan Abdul Kareem. Hamaas berkata, Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.

Allah memberkati saya dengan memberikan kekuatan yang besar pada saya. Itu benar. Saya harus mensyukurinya, saya tidak ingin keadaan itu membuat saya sombong.

Orang-orang tampaknya menyukai hal itu. Orang-tua saya sedikit gelisah menanggapinya. Tetapi mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.

Saya tidak pernah berhasil menegakkan disiplin untuk shalat lima kali setiap hari. Saya banyak berada di luar dan banyak urusan. Terutama ketika saya sedang bermain. Saya terlalu capai untuk bangun melakukan shalat subuh. Saya harus bermain basket pada waktu maghrib dan isya'. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan shalat zuhur. Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu. Tapi sejak berhenti bermain, saya menjadi semakin baik. Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah ridha atas apa yang telah saya lakukan.

Saya tahu bersekolah di sekolah Katolik memberikan dasar yang kuat bagi saya. Jesus (Isa) adalah seorang Muslim. Jadi saya telah dibelokkan mengenai hal itu. Tetapi dengan Islam Anda dapat menjelaskan segala sesuatu tentang Jesus. Tiba-tiba semuanya jadi masuk akal. Anda tidak harus mempercayai bahwa tiga adalah satu. Jika Anda minta orang Kristen untuk menjelaskan hal itu secara logis, atau bertanya bagaimana Injil dikumpulkan dan ditulis, dan menyebutkan bahwa pasti ada kesalahan manusia dalam Al-Kitab itu, mereka pasti tidak mau membicarakan hal itu dengan Anda. Masalah itu sangat membingungkan. Jika Anda seorang Kristen, sangat sulit bagi Anda untuk mempertahankan pendapat tersebut dan itu akan membawa Anda kepada berbagai macam frustrasi dan kemarahan. Itulah yang saya lihat di dunia Kristen.

Dalam Islam, Anda mempunyai kitab suci yang sangat jelas dan tidak terusik. Jika Anda orang yang beriman dan logis, dan Anda menjalankan apa yang diperintahkan Al-Quran, Allah akan merestui Anda dan Anda dapat melihat bahwa itulah jalan hidup yang benar untuk diikuti.

Saya selalu mempunyai keyakinan yang kuat pada Allah Yang Mahatinggi, dan jika saya membaca Al-Quran [dan] tentang Nabi Muhammad, menjadi sangat jelas bagi saya bahwa Kitab ini merupakan wahyu terakhir.

Di sini kami tidak memiliki kepaduan sebagai suatu komunitas; tidak ada lembaga yang melayani kami sebagai suatu komunitas; kami orang-orang yang belum berpengalaman. Saya pikir jumlah kami cukup banyak. Saya berpikir bahwa kami tidak terorganisir sebagaimana seharusnya. Kaum Muslim di Amerika berpencar-pencar, tetapi jika kami bergabung sebagai satu kelompok, pasti akan sangat mengejutkan banyak orang.

Anda harus sedikit lebih waspada di sini, sebab Anda akan didiskriminasikan jika Anda seorang Muslim --bukan dalam komunitas Muslim [tetapi] dalam komunitas yang lebih luas. Jadi orang-orang harus waspada, jangan terlalu mengumbar sebagai Muslim.

Tapi saya pikir sekarang keadaannya sudah banyak berubah. Saya gembira melihat kenyataan ini. Saya pikir penyerbuan Rusia atas Afganistan banyak membantu masalah kaum Muslim Amerika. Hingga saat ini, orang Amerika memandang kaum Muslim sebagai orang-orang fanatik yang tidak akan melakukan apa-apa kecuali melaksanakan ajaran Islam, dan fundamentalisme membuat mereka menjadi kekuatan yang radikal.

Kemudian ketika Rusia menyerbu Afganistan dan orang-orang Muslim Afganistan mempunyai sikap yang sama terhadap Komunisme sebagaimana yang mereka lakukan, Amerika berkata, kita harus mendukung para pejuang kemerdekaan yang mengagumkan ini, yang berjuang demi agama mereka. [Tertawa].

Tapi agama mereka sama dengan agama kaum fanatik itu. Tiba-tiba, karena mereka berjuang melawan Komunisme, bantuan, dedikasi, dan komitmen mereka menjadi hal yang baik untuk Amerika. Sekarang orang melihat bahwa kaum Muslimin dapat menjadi sekutu, sekaligus menjadi musuh Anda. Turki merupakan contoh yang tepat dalam hal ini. Turki adalah anggota NATO. Tetapi akan sangat sulit bagi mereka untuk melepas Islam. Saya berada di sana dua atau tiga tahun yang lalu.

Islam mempunyai citra menindas hak-hak wanita. Anda harus bicara panjang lebar untuk menjelaskan bagaimana Islam melindungi hak-hak wanita. Tak seorang pun akan mempercayai hal itu. Dan perlakuan orang Arab membuat hampir mustahil bagi setiap orang untuk memahami, bahkan bagi orang Muslim, bahwa kaum wanita tidak dianjurkan untuk ditindas.

Orang Arab, khususnya orang Arab yang kaya, benar-benar memberikan perlakuan yang negatif terhadap kaum wanita. Perlakuan mereka terhadap para wanita mereka telah merembes ke seluruh dunia Islam. Itu bukan seperti yang dicontohkan Rasulullah. Rasulullah membantu istrinya berdagang. Dia tidak dapat menjalankan bisnis karena dia seorang wanita. Beliau menjadi penasihatnya. Beliau membuatnya beruntung, karena beliau seorang pedagang yang cerdas.

Beberapa rekan mempunyai lebih dari satu istri dan mereka hidup dengan sejahtera. Itu merupakan suatu parodi. Mereka perlu diingatkan bahwa mereka menindas para istri dan anak mereka, apa yang mereka lakukan tidak bertanggung jawab dan tidak Islami. Al-Quran dengan jelas menyatakan bahwa Anda dapat memilih lebih dari satu istri --jika Anda mampu memenuhi kebutuhan orang-orang yang berada dalam pengawasan Anda. Dan jika Anda tidak dapat melakukannya, maka Anda tidak diizinkan untuk berpoligami. Itu sangat jelas.

Sesuatu yang menyenangkan terjadi pada saya. Putra saya Amir ibunya bukan Muslim, dia menganut agama Buddha. Saya tidak bisa membayangkan akan jadi apa anak itu. Yang dapat saya lakukan hanyalah mengajarkan kepadanya apa yang

dapat saya ajarkan. Mereka mengadakan diskusi di kelas tentang agama monoteistik. Mereka berbicara sesuatu tentang Islam. Amir membetulkan teks itu. Dia menjelaskan rukun Islam.

Dia berumur dua belas tahun. Mereka memintanya untuk membuat suatu laporan. Mereka berkata bahwa Islam adalah agama monoteistik yang terbaru. Amir menjelaskan bahwa Al-Quran adalah Kitab Suci yang terbaru, tetapi Islam adalah agama yang paling tua, dimulai dengan Adam. Begitu dituliskannya. Dia menceritakannya pada saya. Saya sangat terkejut mengetahui dia memasukkan segala yang saya ajarkan ke dalam hati.

Saya dahulu dicuci otak untuk menjadi seorang Katolik. Ayah saya seorang Katolik tetapi dia tidak mendalaminya. Anda tahu bagaimana yang diajarkan di sekolah Katolik. Saya tidak betah dengan ajaran itu. Saya tidak bisa membuat anak-anak saya menjadi Muslim. Jadi saya begitu bahagia melihat mereka meresapi apa yang saya ajarkan.

Ketika saya pertama dikontrak Lakers, saya mengenal beberapa pemuda Detroit. Mereka murid sekolah menengah atas, penggemar basket. Mereka datang untuk melihat kami bermain. Salah satu dari mereka berbicara mengenai Islam pada saya setelah itu. Dia seorang Muslim. Tak satu pun dari temannya Muslim. Saya memberi mereka beberapa tiket.

Dua belas tahun berlalu. Kami bermain untuk Piston untuk kejuaraan dunia 1988. Rekan-rekan itu menelepon saya. Lima di antara pemuda itu telah menjadi Muslim. Dua di antaranya segera mengikuti. Beserta anak-anak mereka. Saya merasa seperti seorang paman, seolah-olah mereka adalah adik saya. Dan mereka sudah punya anak sekarang. Mereka baik-baik saja. Mereka masih menjalankan ajaran Islam dan itu mengubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Ada seorang rekan berbangsa Kurdi di Dallas. Dia akan membawa keluarganya untuk mengunjungi saya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan mereka datang. Saya berkata, "Saya merasa sangat dihormat. Terimakasih."

Mereka berkata, "Tidak, kami yang berterimakasih, Kami mendapat banyak rahmat untuk ini."

Saya berkata, "Apa maksud Anda?"

Dia berkata, "Ayah saya berkata pada saya bahwa jika saya datang ke Amerika, saya akan melihat orang yang benar-benar Muslim."

Saya berkata, "Apa yang Anda bicarakan? Kami baru saja berjuang untuk membuka mata kami di sini."

Dia berkata, "Tidak. Di negara kami, kami mempunyai banyak pengetahuan, tetapi semangat yang di sini [menepuk dadanya], tidak ada. Ketika saya sampai di sini, saya melihat orang-orang berpegang pada Islam tanpa berbekal pengetahuan apa

pun, hanya dengan iman dan ketetapan hati untuk memperbaiki diri."

Saya berusaha untuk melakukan apa yang dapat saya lakukan. Karena saya tidak dapat berpuasa di bulan Ramadhan, saya selalu memberi makan sebuah keluarga. Saya memberi sedekah. Saya memberi uang kepada rekan sesama Muslim dan mengatakan kepadanya untuk apa uang itu. Mereka memberi makan orang-orang. Saya tahu banyak orang yang memerlukan uang untuk makan, jadi saya memberi mereka bahan makanan untuk sebulan. Saya harus melakukan itu; saya memiliki pendapatan yang lebih banyak, maka saya mempunyai kewajiban untuk itu. Pendapatan saya tidak membebaskan saya dari kewajiban.

Mukhlis Aminullah, sumber Buku Jihad Gaya Amerika, Islam setelah Malcolm X (Steven Barbosa)

Jumat, 22 Mei 2009

KENALI DIRI ATASI STRES

Kunci mengatasi stres ternyata sederhana saja, kenali diri sendiri dan jangan segan berkomunikasi dengan orang lain.

Stres, sepertinya istilah yang satu itu kian populer. Soehendro, dokter spesialis kejiwaan, mengatakan setiap orang tidak bisa terhindar dari stres. Ini merupakan bentuk ketegangan berupa reaksi fisik, psike, dan perilaku, saat seseorang menyesuaikan diri terhadap tekanan, ujarnya dalam seminar awam bertajuk “Stres dan Permasalahannya” yang digelar di Jakarta, belum lama ini.

Penyebab stres beragam, mulai dari harga kebutuhan pokok yang melonjak, tekanan pekerjaan, kemacetan lalu lintas, dan berbagai masalah dalam keluarga serta tekanan karena tidak lolos jadi Anggota DPR. Ketika kita kurang mampu beradaptasi, baik dari segi fisik, psike, maupun sosial, disitulah stres muncul, paparnya.

Meski begitu, stres tidak terlalu buruk. Jika dikelola dengan baik, stres justru bisa menjadi proses belajar dalam kehidupan. Itu berarti juga membantu mematangkan kedewasaan seeorang. Mengatasi stres, menurut Soehendro, harus dilakukan dengan kembali ke inti permasalahan atau sumber stres. Kemudian sandingkan dengan karakter pribadi. Gali apa yang sebenarnya diinginkan dari kita, bagaimana masalah tersebut mempengaruhi, dan jalan keluar apa yang paling tepat untuk sumber masalah itu.Psikolog RosdianaTarigan memberikan pilihan untuk mengenali diri guna mengatasi stres. Kita bisa membuat semacam jurnal. Misalnya, hari ini saya merasa begini, lalu saya atasi dengan cara A, hasilnya saya jadi merasa begitu, terangnya.

Jika kemudian hasilnya selama beberapa kali tidak pernah melegakan, itu pertanda seseorang sudah tidak mampu mengatasi sendiri. Artinya, anda butuh orang lain untuk diajak bicara. Bercerita pada sahabat akan membantu orang mengatasi stres. Setelah lega, Anda akan lebih mudah mencari jalan keluar. Jika kesulitan menemukan orang yang dipercaya, tidak ada salahnya terbuka kepada orang yang kira-kira memiliki pandangan netral. Misalnya tokoh agama, psikolog, atau psikiater alias dokter spesialis kejiwaan. Rosdiana menyarankan mendatangi psikolog saat masih mampu berkonsentrasi dan berbincang-bincang. Tapi jika stres mulai menyebar ke keluhan fisik, dan anda sudah kesulitan bertukar pikiran, psikiater merupakan pilihan yang tepat.

Mukhlis Aminullah, dari berbagai sumber.

Jumat, 15 Mei 2009

HIKMAH PENGHARAMAN BABI

Di dalam Al Qur’an, sekurang-kurangnya Allah SWT memberikan larangan memakan babi pada empat surat yang berlainan. Pertama Allah SWT melarangnya dalam surat Al Baqarah ;
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al Baqarah: 173).

Berikutnya, dalam surat Ali Imran, Allah SWT mengulangi kembali larangan-Nya. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala….” (QS Ali Imran: 3).

Kemudian, seperti hendak menegaskan, Allah SWT melarang lagi pada surat Al An’am ayat 145 ;

“Katakanlah: Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Pada surat An Nahl, Allah SWT kembali mengingatkan manusia atas larangan memakan binatang yang satu ini.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS an Nahl: 115).

Betapa sayangnya Allah SWT pada hamba-Nya. Tentu saja ada hikmah, apalagi ketika Allah mengulang-ulang perintah atau larangan-Nya yang ada dalam Al Qur’an. Dalam sebuah buku berjudul Hidangan Islami, karya Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, terbetik sebuah kisah tentang dialog seorang ulama besar, Muhammad Abduh dengan seorang yang mempertanyakan pengharaman babi dalam Islam. Peristiwa ini terjadi di Perancis, dimana bagi masyarakat setempat, daging babi adalah makanan sehari-hari.

Sang penanya mengajukan argumentasi, “Kalian, umat Islam mengatakan bahwa babi haram karena babi memakan sampah dan mengandung cacing pita, mikroba-mikroba serta bakteri juga ada di dalam babi. Hal itu sudah tidak ada lagi, karena babi diternak dalam peternakan modern dengan kebersihan yang terjamin, juga prosesnya steril. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya?”

Syekh Muhammad Abduh dikisahkan tak menjawab dengan buru-buru. Beliau meminta untuk dibawakan dua ekor ayam jantan dan satu ayam betina. Syekh Muhammad Abduh juga meminta dua ekor babi jantan dan seekor babi betina. Hadirin bertanya-tanya tentang permintaan itu. “Saya akan perlihatkan pada kalian sebuah rahasia,” ujar Syekh Muhammad Abduh dengan tenang.

Maka dilepaslah dua ekor ayam jantan dan seekor ayam betina di dalam satu kandang. Tak perlu waktu lama, dua ekor ayam jantan bertarung dengan hebatnya untuk mendapatkan betina, hingga satu diantaranya kalah. Kini giliran babi. Dua ekor babi jantan dan seekor babi betina, dilepas dalam kandang yang sama. Kali ini semua hadirin menyaksikan pemandangan yang berbeda.

Babi jantan yang satu membantu sesama jantan untuk melampiaskan hasrat seksualnya pada babi betina, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan menjaga dan membela babi betina. “Saudara-saudara, daging babi membunuh ghirah orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang laki-laki, tanpa rasa cemburu melihat dan membiarkan istrinya bersama laki-laki lain. Seorang bapak membiarkan anak perempuannya bersama laki-laki lain tanpa perasaan was-was. Itulah sifat-sifat yang menular dari babi pada siapa saja yang memakannya,” ujar Syekh Muhammad Abduh.

Kisah di atas adalah bagian kecil yang diungkap oleh para ulama tentang hikmah larangan memakan babi yang ditentukan Allah SWT. Ketika Swine Influenza merebak, para ahli kedokteran buru-buru memberikan keterangan, bahwa tak ada hubungan sama sekali antara flu babi dan memakan daging babi. Tentu saja hampir semua paham, bahwa memakan daging babi tak memiliki kaitan dengan virus flu babi. Tapi pernyataannya pun bisa dijadikan semacam logika terbalik, “Tak makan saja bisa terserang, apalagi mereka yang memakan. Ibarat pemancar bertemu dengan receiver.”

Salah satu argumentasi ilmiah pernah disebutkan oleh DR. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman. “Memakan daging babi yang terjangkit cacing babi tidak hanya berbahaya, tapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolesterol dan memperlambat proses penguraian protein di dalam tubuh. Akibatnya mudah terserang kanker usus, iritasi kuilt, eksim, rematik dan banyak lagi. Bukankah sudah kita ketahui bahwa virus-virus influenza yang berbahaya bisa hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi,” ujar DR Hoffman.

Kajian ilmiah yang dilakukan oleh DR Muhammad Abdul Khair juga menemukan fakta menarik. Di negara-negara yang penduduknya mengonsumsi daging babi, jenis penyakit meningkat cukup drastis. Sementara di negeri-negeri Islam angkanya cukup rendah. Hasil penelitian ini pernah dipresentasikan dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang “Penyakit Alat Pencernaan” di Sao Paulo pada tahun 1986.

Sebenarnya, bukan agama Islam saja yang dalam ajarannya melarang umatnya memakan daging babi. Dalam Alkitab, pada Ulangan 14: 08, juga terdapat larangan memakan babi. Tapi terjadi perdebatan karena dalam ayat ini tertulis babi hutan.

Flu babi yang dalam bahasa klinis disebut dengan kode H1N1, sesungguhnya juga bukan virus baru. Banyak peristiwa dalam sejarah yang menyebutkan bahwa virus ini telah memakan korban yang besar. Pada tahun 1918, virus ini telah membunuh lebih dari 20 juta manusia yang hari itu jumlahnya tentu belum sebanyak sekarang. Bahkan ada data yang menyebutkan, lebih dari 40 juta jiwa meninggal karena flu babi. Virus ini berjangkit dari kuman-kuman yang ada pada babi dan menular pada tentara Amerika pada Perang Dunia I. Mobilisasi militer akhirnya membuat virus ini menyebar dengan cepat dan ganas.

Pada tahun 1957, muncul kasus Asian Flu dan juga Flu Hongkong yang terjadi pada tahun 1968. Virus-virus ini bermula dari babi dan telah memakan korban hampir dua juta orang. Pada kurun yang sama, tahun 1950-an, pemerintah Amerika pernah merilis bahaya mengonsumsi daging babi. Washington Post pada 31 Mei 1952 pernah memuatnya sebagai berita utama.

Temuan menarik yang tak bisa dianggap enteng oleh para ilmuwan adalah penelitian yang dipimpin oleh DR.Yoshihiro Kawaoka dari Universitas Winsconsin beserta 12 saintis lainnya. Hasil penelitian mereka diturunkan dalam Journal of Virology pada tahun 1997 dan menyebutkan bahwa kerongkongan babi memiliki sel-sel tertentu yang mampu mengubah berbagai kuman menjadi virus berbahaya yang mengancam jiwa manusia. Bukan hanya jurnal ilmiah, kantor berita seperti BBC pun pernah mengulas secara luas peran babi yang menjadi pemicu virus-virus ganas dalam sejarah kesehatan dunia.

Wahyu dan akal, ilmu dan iman, dalam dunia ilmiah seperti kedokteran, tak semestinya dipisahkan. Wahyu dan iman sepatutnya dijadikan pijakan untuk selanjutnya ditelusuri melalui ilmu dan akal. Kasus pengharaman babi yang diturunkan melalui larangan Allah, tentu bertujuan baik untuk manusia. Dan tugas kita mencari dan menggalinya secara ilmiah.

Berbagai virus yang ada di dunia menemukan tempat inkubasi yang sangat strategi dalam hewan seperti babi. Kemudian bermutasi menjadi virus-virus ganas yang menjangkiti para pemakan babi. Selanjutnya, para pemakan babi akan menularkan virus-virus tersebut kepada orang-orang yang bahkan menyentuh babi pun tak pernah. Inilah kesimpulan yang dihasilkan oleh para ilmuwan yang mempelajari kasus flu burung yang menghebohkan dunia belum lama ini.

Profesor Robin Weiss dari Institut Kajian Kanker London menemukan, bahwa daging babi memiliki banyak virus yang tak bisa dipisahkan atau dimatikan dari dagingnya karena virus-virus tersebut dibawa babi dalam DNA-nya. Lewat kajian yang dilakukannya, akhirnya Robin Weiss berhasil membuat pemerintah Inggris mengeluarkan larangan transplantasi organ babi pada manusia. (Campaign for Responsible Transplantation - Press Releases 1998, New Biotech Partnership Threatens Public Health, Oct. 21 1998)

Sungguh, Maha Besar dengan segala perintah dan larangan-Nya. Andai saja manusia berendah hati, tak pongah dan merasa mengetahui banyak hal di dunia, tentu kita akan mendapatkan banyak hikmah dari satu larangan saja. Larangan Allah pada daging babi, ternyata menyimpan rahasia yang mampu menyelamatkan manusia.


Shanty Hayuningtyas
, dimuat di Sabili.

BIOGRAFI RINGKAS YUSUF AL QARDHAWI

Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia telah menghafal Al Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi kemudian melanjutkan studynya ke Universitas Al Azhar, Fakultas Ushuluddin dan menyelesaikannya pada tahun 1952 M.
Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah pernah dipenjara sejak masa mudanya. Di Mesir, saat umurnya 23 tahun dipenjarakan oleh Raja Faruk pada tahun 1949, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober, kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalek. Alasannya, khutbah khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rezim saat itu.

Qardhawi memiliki tujuh orang anak, empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing masing, dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki lakinya.

Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir di Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3nya. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Qardhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligis istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat Qardhawi kerap kali menghadiri pertemuan internasional para pemuka agama di Eropa maupun di Amerika sebagai wakil dari kelompok islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Qardhowi menempati posisi vital dalam pergerakan islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen. Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Yusuf Al Qardhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, fakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan islam, penyatuan pemikiran islam, pengetahuan islam umum, serial tokoh tokoh islam, sastra dan lainnya. Sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Qardhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Mukhlis Aminullah, peminat agama, berdomisili di Bireuen.

BOEDIONO DILIHAT DARI BERBAGAI SISI

Menjelang masa akhir pendaftaran Capres/Cawapres ke KPU, sampai saat ini hanya satu pasangan yang sudah memastikan diri menjadi Calon yaitu JK/Wiranto yang diusung oleh Partai Golkar dengan Partai Hanura. Sementara yang lainnya belu ada kepastian. Kasak kusuk yang terdengar adalah masih ada tarik ulur antara satu Calon dengan yang lainnya. Prabowo belum pasti dengan Mega. SBY juga belum mendeklarasaikan diri dengan Boediono sebagai Cawapres. Masih ada berbagai kemungkinan, termasuk pembatalan Boediono sebagai Cawapresnya, walaupun kepastiannya hampir seratus persen.

Bagi orang awam yang jarang membaca berita-berita ekonomi, tentu saja bertanya siapa dan apa kapasitasnya sehingga SBY memilih ybs sebagai Cawapres. Bagi elit, Boediono tidak asing lagi karena beliau adalah Gubernur Bank Indonesia setelah sebelumnya sebagai Menko Perekonomian/Kepala Bappenas.

Pemilihan beliau sebagai Cawapres oleh SBY tentu suatu kehormatan bagi ybs. Dan SBY punya beberapa alasan yang logis, setidaknya menurut SBY, mengapa Boediono yang diusung.....
Alasan pertama tentu saja karena Boediono memenuhi 5 (lima) kriteria yang ditetapkan SBY beberapa waktu yang yaitu integritas, kapabilitas, loyal dan tidak kepentingan politik serta bisa diterima masyarakat.
Alasan selanjutnya adalah rekam jejak Boediono yang baik, sehingga diharapkan akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat maupun dunia internasional. Beliau tidak tersangkut kasus korupsi, karirnya tidak pernah cacat dan selama ini dikenal nentral sehingga bisa masuk ke semua kalangan.
Guru Besar FE UGM dan Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979 ini, terbukti selama menjadi Menkeu pada Kabinet Megawati, Menko Perekonomian pada Kabinet SBY maupun sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Selama menjabat Menkeu, ia berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumubuhan ekonomi. Saat baru menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukannya adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.

Departemen Keuangan di bawah kendali pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu pun berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Apalagi kala itu, Pemilihan Umum 2004 juga berlangsung. Kondisi rawan itu pun berhasil dilalui tanpa terjadi guncangan ekonomi.

Dia berhasil menggalang kerjasama dengan Bank Indonesia dan tim ekonomi lainnya, kecuali dengan Kwik Kian Gie yang kala itu tampak berbicara sendiri sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas.

Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia berhasil memperbaiki keuangan pemerintah dengan sangat baik sehingga mampu membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional.

Sebelum menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001–2004) dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono telah menjabat Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.

Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, ini memperoleh gelar S1 (Bachelor of Economics (Hons.)) dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, meraih gelar Master of Economics dari Universitas Monash, Australia. Kemudian meraih gelar S3 (Ph.D) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania pada tahun 1979.

Bila melihat sepak terjang Boediono, apalagi dikaitkan dengan Profesionalisme dan pengalaman nya selama ini, rasanya cukup pantas beliau diusung sebagai Cawapres bagi SBY. Namun kita tidak boleh menutup mata, dari sisi politis, pemilihan beliau sebagai kebijakan tidak populis. Kalau dipaksakan akan menjadi sebuah perjudian bagi SBY dalam usaha menduduki kursi Presiden satu periode yang akan datang.

Latar belakang Boediono yang bukan berasal dari unsur Partai Politik diprediksikan akan menggangu jalannya Pemerintahan, bila duet ini terpilih, kelak. Para pengamat politik mengkhawatirkan minimnya dukungan dari parlemen bila ada kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan perlemen.

Sekarang saja kondisi ini sudah terlihat jelas.reaksi keras PKS, PPP, PKB dan PAN yang sebelumnya mengatakan akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Keempat Partai ini yang kebetulan saja adalah partai Islam, merasa terkejut dan sempat mengancam akan membentuk poros alternatif atau mengalihkan dukungan kepada pasangan Capres-Cawapres lainnya, bila SBY tetap memaksakan memilih Boediono.

Mereka menggelar rapat di salah satu ruangan Fraksi PKS di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa 12/5. Peserta rapat adalah Ketua F-PKS Mahfudz Siddiq, Sekjen PKS Anis Matta, Ketua F-PPP Lukman Hakim Saifuddin, Ketua F-PAN yang juga Sekjen PAN Zulkifli Hasan, Ketua DPP PAN M Najib, serta Wakil Sekjen PKB Imam Nachrowi.

Seusai rapat, Ketua F-PKS Mahfudz Siddiq mengatakan pihaknya terkejut dengan informasi itu karena tidak ada pembahasan sebelumnya. Sekjen PKS Anis Matta juga dengan nada kecewa mengaku sudah mendapat pemberitahuan dan undangan menghadiri deklarasi koalisi pendukung SBY pada 15 Mei di Bandung, Jawa Barat. Karena itulah, katanya, partai-partai pendukung SBY merasa perlu mengusung satu sikap apabila putusan soal cawapres itu terus dipaksakan tanpa berbicara dengan anggota koalisi lainnya. Mahfudz Siddiq mengatakan, empat parpol kecewa karena Partai Demokrat mengabaikan aspirasi partai koalisi. Ia mengungkapkan sebelumnya sudah ada aspirasi dari parpol koalisi dan berpandangan lebih baik Cawapres dari parpol agar memiliki kemampuan politik yang lebih kokoh. Mereka juga berharap Cawapres diambil dari partai berbasis Islam.

Menurut Mahfudz Siddiq, sosok Boediono tidak mencerminkan hal tesebut. Karena itu, empat parpol ini bersepakat mengadakan rapat lanjutan untuk membahas sikap yang akan diambil. "Hitung-hitungan kami, kalau PKS dan empat parpol ini gabung dengan Gerindra, terus misalnya kami gabung dengan Hanura dan Golkar. Maka jumlah kursi kita bisa 60 persen di parlemen. Ini poros alternatif," kata Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq, saat jumpa pers, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/5).

Malam harinya, mereka (minus PKB) pun melanjutkan pertemuan di Hotel Nikko Jakarta. Pertemuan itu dihadiri Sekjen PKS Anis Matta, Ketua F-PKS DPR Mahfudz Siddiq, Sekretaris F-PKS DPR Abu Bakar Al Habsyi, Wakil Sekjen PPP Roma Hurmuziy, dan Fungsionaris PAN M Najib. Dalam pertemuan, mereka mempertanyakan dan membahas sejumlah kriteria yang pernah disampaikan SBY terkait Cawapres yang akan digandengnya jika SBY akhirnya benar menggandeng Boediono.

Seusai pertemuan, mereka menggelar konferensi pers. "Kalau lihat kriteria akseptabilitas dan mendukung koalisi yang kuat, apa alasannya memilih Boediono?" kata Anis bernada tanya. Mereka pun menilai sikap SBY dan Demokrat yang secara serta-merta memilih Boediono, tidak menjunjung tinggi tata krama komunikasi politik. Padahal, dalam koalisi, hal yang paling krusial adalah komunikasi dan koordinasi di antara peserta koalisi.

Menurut Sekjen PKS Anis Matta, hal inilah yang mengecewakan mereka sebagai mitra koalisi yang membutuhkan pola komunikasi ideal. "Yang menjadi perhatian kami adalah pola pengambilan keputusannya. Kita tidak tahu konsideritasnya," tutur Anis seusai pertemuan di Hotel Nikko, Selasa (12/5).

Begitu pula Wakil Sekjen PPP Romahurmuzi merasa harga diri partainya cukup dilangkahi dengan keputusan sepihak Demokrat tersebut. "Ini masalah harga diri partai. Mereka harusnya ingat masih ada gerbong panjang ke belakang," tutur Romahurmuzi.

Sehubungan dengan itu, mereka sepakat untuk meneruskan pembicaraan mengenai hal ini dalam komunikasi yang lebih tinggi lagi, yaitu komunikasi di kalangan pimpinan PKS, PAN, PPP dan PKB.

Namun pada waktu yang hampir bersamaan, Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo, Mensesneg Hatta Rajasa dan Menseskab Sudi Silalahi mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan, di Wisma Negara. Menurut Hatta Rajasa, Presiden PKS Tifatul Sembiring juga diundang tetapi tidak hadir. Tetapi ketika hal ini dikonfirmasi pers kepada Tifatul, ia mengaku tidak memperoleh undangan. "Ya tidak diundang dan kita tidak tahu, mungkin miss di mana kita tidak tahu," jelasnya.

Seusai pertemuan ini, Hatta Rajasa kepada pers mengungkapkan bahwa kepada para Ketua Umum Parpol itu diberikan penjelasan kemudian didiskusikan mengenai Cawapres pilihan SBY. “Saya kira kuncinya adalah komunikasi menjelaskan itu,” jelas Hatta. Menurut Hatta Rajasa, pemilihan Boediono sudah melalui pertimbangan dan proses yang cukup panjang, tidak ada titipan. Langkah itu dilakukan guna menegakkan sistem presidensial. “Maka sebaiknya cawapres dipilih capresnya. Karena memang demikianlah kita berkomitmen menegakkan sistem presidensial,” ujar Hatta.

Di tengah kabar kepastian SBY memilih Boediono sebagai Cawapres, tengah berproses komunikasi politik antara Partai Demokrat dengan PDIP. Boediono dikenal dekat dengan Megawati dan PDIP. Namun, Sekjen PDIP Pramono Anung mengatakan dipilihnya Boediono bukan atas titipan PDIP.

Sementara, pengamat politik J Kristiadi menilai Keputusan SBY memilih Boediono, seorang ekonom profesional tanpa partai pendukung, sebagai Cawapres pendampingnya dalam pilpres mendatang, mencerminkan kepercayaan diri SBY dan Partai Demokrat. Menurutnya, pilihan itu menegaskan bahwa SBY lebih memprioritaskan kecocokan personal ketimbang kepentingan koalisi di parlemen. Namun, Kristiadi mengingatkan, hati-hati, jangan rasa percaya diri ini begitu kentara karena nanti bisa jadi bumerang.

Kristiadi mengapresiasi ketegasan sikap Boediono sebagai sosok ekonom profesional dalam mengatasi sejumlah persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Namun, ia menilai Boediono lemah dalam manuver politik.

Kristiadi merasa kuatir, bagaimana nanti pasangan yang keduanya adalah sosok akademis, ini memimpin negara yang penuh dengan lika-liku politik. Karena itu, kata Kristiadi, mereka harus memiliki seorang tokoh penghubung antara pemerintah dan parlemen.

Sementara mengenai reaksi kekecewaan dan protes para petinggi partai koalisi pendukung Partai Demokrat atas pilihan SBY meminang Boediono sebagai Cawapres, Kristiadi merasa tidak mengerti kenapa parpol-parpol itu marah. "Bukankah mereka sejak awal sudah memberi sinyal kepada SBY untuk menggunakan hak prerogratifnya memilih Cawapresnya?" ujar pengamat politik dari CSIS itu.

Kristiadi kuatir, jangan-jangan kemarahan parpol-parpol koalisi Demokrat ini hanya sandiwara untuk menaikan posisi tawar politik guna mendapat jatah kursi lebih banyak di kabinet. "Atau jangan-jangan ada kelompok lain yang bermain, misalnya mungkin Gerindra mulai mendekati mereka dan memberi tawaran yang lebih menarik dan partai-partai ini mencari alasan untuk bisa hengkang dari koalisi dengan Demokrat," ucapnya.

Penuhi Kriteria

Sementara itu, pagi keesokan harinya, Rabu (13/5), Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada pers mengatakan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mendekati lima kriteria dasar Cawapres yang dirilis SBY. "Memang tidak ada yang sempurna. Dari lima hal dasar cawapres yang disampaikan Pak SBY, jatuhlah pilihan pada Pak Boediono," kata Anas.

Kelima kriteria itu adalah pertama, memiliki integritas yang ditandai kepribadian dan moral yang tinggi termasuk moral politik. Kedua, memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam menjalankan tugas negara.

Ketiga, mempunyai loyalitas kepada kepala pemerintahan dan bebas dari konflik kepentingan. Keempat, diterima oleh mayoritas rakyat. Kelima, mampu meningkatkan kekokohan efektifitas koalisi pemerintahan.

Namun, menurut Anas, bukan berarti calon-calon lain yang diajukan oleh partai mitra koalisi tidak memenuhi kriteria tersebut. "Semua calon sama-sama baik, tapi capres perlu diberi ruang yang cukup untuk memilih mana yang terbaik," jelas Anas.

Menurut Anas, Presiden dan Wapres, harus merupakan dua tokoh yang bisa saling menerima dengan ikhlas dan memiliki tingkat kecocokan kimiawi yang tinggi sehingga bisa bekerja sama. Perihal keluhan mitra koalisi yang tak merasa diajak berkomunikasi, Anas mengatakan sudah melakukan pertemuan dengan PKB, PAN, dan PPP, tapi PKS tidak mengirimkan perwakilan partainya.

Lebih tegas dan jelas, Anas Urbaningrum mengatakan, pembicaraan koalisi yang dilakukan Partai Demokrat dengan mitra koalisi sejak awal menekankan pada kecocokan platform dan agenda kerja, bukan soal cawapres.

Menurut Anas, sebelumnya Partai Demokrat sudah menyampaikan bahwa mengenai posisi Cawapres pendamping Capres SBY, sepenuhnya diserahkan kepada SBY. "Sejak awal, koalisi memang agendanya bukan bagi-bagi jatah. Pembicaraan koalisi tidak diawali dengan pembicaraan Cawapres dan jatah kabinet, tapi platform dan agenda 5 tahun yang akan datang agar partai-partai koalisi konsisten dengan platform. Pendirian Partai Demokrat sudah disampaikan kepada rekan-rekan partai yang akan berkoalisi, sebaiknya soal Cawapres diserahkan ke SBY" kata Anas.

Kontrak Politik

Perihal kontrak politik, Anis Matta mengungkapkan sudah ada konfirmasi dari Demokrat bahwa rencana penandatanganan kontrak politik di antara partai-partai koalisi yang sedianya dilakukan 13 Mei 2009, ditunda. Namun, katanya, Partai Demokrat tidak memberikan alasan penundaan waktu penandatanganan kontrak politik. Ke depan, katanya, nota kesepahaman hanya ditandatangani secara multilateral, tidak bilateral seperti kesepakatan sebelumnya.

Sebelumnya, PKS telah mengajukan draft kontrak politik dengan SBY dan Partai Demokrat yang secara substantif antara lain menekankan agar pemerintahan koalisi memprioritaskan alternatif pengambilan keputusan yang Islami dan mengutamakan jabatan-jabatan penting kepada yang beragama Islam.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa banyak sisi yang menjadi pertimbangan bagi SBY sehingga memilih Boediono, setelah dengan berbagai pertimbangan yang matang. Namun dalam dunia politik, kita tidak boleh hanya memandang hanya dari sudut pandang kita sendiri. Ada dinamika lain yang harus menjadi perhatian dan menjadi bahan pertimbangan. Karena kadang kala, apa yang menurut kita sudah baik (sesuai dengan standar kita), namun dari kacamata pihak lain belum sepenuhnya baik. Untuk seharusnya SBY mengakomodir berbagai pertimbangan yang disampaikan oleh rekan-rekan partai yang berkoalisi, dengan cara yang lebih bijak dan tidak meruntuhkan kewibawaannya sebagai Capres sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai pemenang Pemilu 2009.

Mukhlis Aminullah, mantan Anggota KPU Bireuen, Aceh.

Selasa, 12 Mei 2009

POLITIK : KEPENTINGAN ABADI

Ungkapan yang sering kita dengar dari para pelaku politik bahwa “dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan yang abadi” tampak benar adanya. Ungkapan tersebut bukan hanya jargon politik atau sekedar omong kosong belaka. Sejarah perpolitikan Indonesia sudah memberi bukti.

Pada masa Orde Lama, bagaimana akhir dari perpaduan ''Duo Proklamator'' kita...? Ketika awal berdiri Republik ini hubungan mesra keduanya merupakan spirit bagi rakyat dan pejuang kemerdekaan dalam menahan gempuran NICA untuk mempertahankan kemerdekaan. Endingnya adalah sangat kontra produktif dengan semangat Proklamasi. Mohammad Hatta mengundurkan diri dengan kepala tegak sebagai Wapres karena merasa tidak seiring sejalan lagi dengan Presiden dalam membangun Indonesia.

Pada masa Orde Baru setali tiga uang. Soeharto membangun ''kerajaan''nya dengan berbagai cara yang tidak polpuler dimata rakyat. Orang-orang dekatnya yang sama-sama pernah berjuang mengganyang PKI, seperti Sarwo Edhie Wibowo dan AH. Nasution ditinggalkannya begitu saja karena berbeda haluan politik serta mengganggu ''kepentingan'' kekuasaan. Sarwo Edhie ''dibuang'' menjadi Duta Besar ke beberapa negara. AH. Nasution tidak berkutik di dalam negeri. Walaupun dikalangan meliter beliau sangat dihormati, namun dimata Soeharto, beliau adalah rival yang selalu harus diwaspadai gerak-geriknya.
Dan sesungguhnya bukan hanya Sarwo Edhie dan AH. Nasution saja, banyak tokoh lainnya yang bernasib sama, termasuk Hoegeng. Hanya saja mereka berdua adalah dua kisah paling nyata dan ditulis dalam sejarah.

Pada masa Orde Reformasi, kejadian yang sama terulang lagi. Hanya saja pelakonnya berbeda.
Amin Rais dkk dari garis Islam Reformis (kata pers) menggalang kekuatan untuk menghadang Megawati agar tidak terpilih sebagai Presiden. Padahal semua orang tahu, PDI Perjuangan sebagai pemenang Pemilu 1999 sangat pantas maju memimpin negeri ini, ketika itu.
Amin Rais dkk menggalang kekuatan poros tengah untuk ''menaikkan'' Gus Dur menjadi Presiden. Dan berhasil.
Jadilah Indonesia menjadi bahan ''tertawaan'' sebahagian kalangan karena memilih seorang Presiden yang tidak dapat melihat, namun dapat mendengar (bisikan). Padahal kita tau, sebelum era Reformasi, hubungan Gus Dur dengan Amin Rais sebenarnya kurang mesra. Gus Dur sebelumnya adalah Ketua NU, sementara Amien Rais adalah Ketua DPP Muhammadiyah.
Jelas sekali ada politik kepentingan saat itu, yang tidak bisa dikatankan ''demi rakyat''......

Apa dinyana..... kesempatan Gus Dur untuk bersenang-senang di Istana tidak sampai satu periode. Pada tahun 2001, Sidang Istimewa MPR di bawah komando Amien Rais, sang teman, memaksa Gus Dur keluar dari Istana Kepresidenan dengan celana pendek. Sungguh naif. Dan kejadian juga akan dicatat dalam lembaran sejarah bangsa ini.
Kasihan sekali.... namun sekali lagi, apa mau dikata. Politik itu kejam, kata sebagian orang.

Pada akhir tahun 2003, hubungan SBY sebagai Menteri pada Kabinet Gotong Royong dengan Megawati mulai tidak harmonis. Mega saat itu, mencium gelagat tidak baik dari gerak gerik SBY yang sudah mempersiapkan diri menuju Pemilu 2004. Ending dari hubungan yang tidak stabil itu adalah ketika Ketua Dewan Pembina PDI Perjuangan yang juga suami Mega, Taufik Kiemas, menuduh SBY kekanak-kanakan karena ''memprotes'' kebijakan Mega yang tidak mengundang- nya dalam Rapat di Istana. Padahal rapat itu membahas kondisi keamanan di Aceh, merupakan job-nya SBY sebagai Menko Polkam.
Akhirnya SBY keluar dari Kabinet dan mempersiapkan diri untuk maju sebagai Presiden pada Pemilu 2004. Kedua orang ini menjadi kompetitor dalam hajatan yang diselenggarakan oleh KPU.
Hubungan keduanya tidak harmonis lagi. Bukan hanya berbeda haluan politik, namun juga tidak saling bertegur sapa sebagai sesama Muslim. Sampai saat ini.
Bahkan beberapa waktu yang lalu, sebelum pemungutan suara, keduanya saling mengejek. Awalnya diawali oleh Mega yang mengkritik BLT. Tidak berapa lama SBY, dengan gaya khasnya yang low profile, membalas atau mementahkan semua ''tuduhan'' Mega di hadapan ratusan ribu massa yang menghadiri kampanye Partai Demokrat di Senayan.

Suhu politik makin tinggi. Setelah pemungutan suara dan LSI mengumumkan hasil Quick count-nya dengan menempatkan Partai Demokrat pada rangking teratas, semua pihak melakukan ziz zag, bermanuver layaknya di lintasan arena balapan Formula Satu. Sebelum JK-Wiranto mendeklarasikan diri, arah koalisi sudah nampak mengerucut kepada dua blok. Blok PDI Perjuangan + Partai Golkar melawan Partai Demokrat, dkk.
Namun setelah JK-Wiranto menyatakan kepada publik ''Lebih Cepat, Lebih Baik'' hubungan koalisi seakan mencair lagi. Apalagi setelah Prabowo menyatakan dirinya hanya bersedia menjadi Capres, bukan Cawapres, arah koalisi makin tidak jelas.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi lagi. Para tokoh politik seakan ingin mengulang sejarah, dalam dunia politik tidak ada kawan maupun lawan abadi. Hubungan Partai Demokrat dengan PDI Perjuangan yang selama ini berada dalam dua kutub yang berbeda, mencair ke arah yang lebih baik.
Dalam sepekan terakhir,terjadi pendekatan yang serius mengenai kemungkinan akan bergabungnya PDI Perjuangan ke dalam koalisi yang sedang dibangun Partai Demokrat. Persoalan harga diri Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati terpaksa dikesampingkan demi terbentuknya bangunan koalisi besar pemerintahan mendatang jika SBY terpilih kembali pada Pilpres 8 Juli 2009.

Bagi penggagas, pendukung, atau kader PDI Perjuangan yang prokoalisi baru ini, pendekatan antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat membuka peluang bagi PDI Perjuangan untuk masuk ke dalam pemerintahan mendatang. Sebaliknya, bagi mereka yang kontra, koalisi ini merendahkan harga diri Megawati dan harkat PDI Perjuangan yang selama lima tahun terakhir beroposisi terhadap pemerintahan SBY-JK. Ini juga menunjukkan betapa elite politik di PDI Perjuangan sudah mengaku kalah sebelum bertanding.

Memang hubungan kedua partai ini baru tahap penjajakan. Namun, dengan berbagai pertimbangan yang rasional masing-masing partai, tidak mustahil hubungan ini akan berlanjut, walaupun Megawati harus rela merubuhkan kepercayaan para rekan-rekan partai lain yang terlanjur mendeklarasikan Koalisi Besar Parlemen, beberapa waktu yang lalu. Bisa saja Megawati tidak maju sebagai Presiden, namun cukup mendapat ''jatah'' Menteri dari Kabinet SBY yang akan datang.

Semua kemungkinan bisa terjadi. Inilah arena politik. Layak-lah bila di akhir tulisan kita ulang kembali jargon lama '
“dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan yang abadi”...............
Mari kita simak langkah mereka selanjutnya........

Mukhlis Aminullah, mantan Anggota KPU Bireuen, Aceh.


Senin, 04 Mei 2009

YERUSSALEM DALAM LINTAS SEJARAH

Yerussalem……
Apa yang ada di benak anda bila disebutkan kata di atas…? Saya yakin anda akan menyatakan bahwa itu adalah salah kota terbesar di Israel, negara yang selama ini menjadi teman dekat AS sekaligus menjadi lawan bagi dunia Islam.

Namun pada kesempatan ini saya tidak akan menulis tentang politik dunia yang salah satu masalah pokoknya adalah masalah Israel-Palestina. Saya akan mengajak anda, pembaca, untuk mengingat Yerussalem dalam nuansa Islam, atau tepatnya nuansa sejarah Islam.

Yerussalem adalah kota suci ketiga bagi umat Islam, setelah Mekkah dan Madinah. Di awal perkembangan agama Islam, Yerussalem menempati posisi yang sangat penting. Selama pe riode Mekkah hingga satu tahun pasca hijrah ke Madinah, kota itu sempat menjadi kiblat pertama bagi umat Islam. Setelah itu, Rasulullah SAW memindahkan arah kiblat ke Masjid Haram, di Mekkah. Pertautan Islam dengan Yerussalem juga tercatat dalam lembaran sejarah yang maha penting, yakni peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW melalui Isra Mikraj itu sungguh amat istimewa. Sebab, lewat perjalanan itulah Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat.

Allah SWT berfirman;

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS: Al Israa:1).

Yerussalem pun bertambah istimewa, lantaran di kota itulah beberapa Rasul terdahulu menerima wahyu dari Sang Khalik. Syahdan, kali pertama Yerussalem dibangun Nabi Daud AS setelah menguasai kota itu dari ma syarakat Yebusit. Nabi Daud lalu me ngembangkan dan menjadikan Yerussalem sebagai ibu kota kerajaannya.

Tahta kerajaan Nabi Daud lalu digantikan Nabi Sulaiman AS. Di kota itu, Nabi Sulaiman membangun sebuah Haekal atau Harem Syarif (tempat yang mulia) yang lengkap dengan singgasananya. Para ahli sejarah Yahudi menyatakan, Nabi Sulaiman membangun sebuah kuil yang bernama Baitallah.

Haekal atau Baitallah itu menjadi tempat beribadah umat Yahudi pertama yang indah dan megah. Di tengah Haekal itulah terdapat sebuah batu hitam bernama Sakhrah Muqaddasah. Berlandaskan batu itulah, Rasulullah SAW melanjutkan mikraj menghadap Sang pencipta untuk menerima perintah menjalankan shalat.

Pasukan Babilonia menguasai Yerusalem setelah merebutnya dari orang Yahudi. Di bawah kendali dan perintah Raja Babilonia, Nebukadnezar bangunan Haekal dihancurkan. Pada masa itu, Yerusalem terlarang bagi orang Yahudi. Ketika kekuasaan diambil alih Kerajaan Parsi, orang Yahudi kembali bisa memasuki kota itu.

Umat Yahudi pun kembali diizinkan membangun kembali Haekal atau Baitallah yang telah luluh lantak. Bangunan Baitallah yang kedua itu dibangun pada masa kepemimpinan Herodus Yang Agung. Setelah itu, Yerussalem jatuh ke tangan Kerajaan Romawi. Pada masa itu, orang Yahudi melakukan pemberontakan. Lagi-lagi, Haekal atau Baitallah itu diratakan dengan tanah oleh tentara Romawi.

Kaisar Romawi memerintahkan supaya Yerussalem dibangun kembali. Di kota itu dibangun kuil bagi orang Romawi. Orang Yahudi kembali tak diizinkan untuk menjalankan ibadahnya. Bagi Kaisar Constantine dari Kerajaan Bizantium, Yerussalem merupakan tempat yang penting. Constantine menjadikan kota itu sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher pada tahun 335 M.

Yerussalem memasuki babak baru ketika tentara Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab mulai melakukan ekspansi pertama. Umar memerintahkan jenderal perang Muslim, Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menaklukan kepongahan Kerajaan Bizantium. Pada 638 M, Yerussalem dapat ditaklukkan tentara Muslim beserta kota-kota lainnya seperti Mesir, Suriah, Damaskus hingga Maroko.

Secara pribadi, Umar bin Khattab datang langsung ke Yerussalem untuk menerima penyerahan kota itu kepada kekhalifahan Islam. Awalnya, Umar ditawari untuk bersembahyang di dalam Church of the Holy Sepulcher, namun Umar menolak dan meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif.

Umar mendapati tempat itu dalam kondisi kotor. Ia lalu memerintahkan agar tempat itu dibersihkan. Khalifah pun membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al-Aqsa. Setelah itu, pemerintahan Umar membangun Kubah Sakhrah atau yang kemudian dikenal sebagai Kubah Umar.

Di bawah kepemimpinan Umar, kebebasan menjalankan ibadah dihormati. Toleransi antar umat beragama begitu harmonis. Setiap pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya sesuai agama dan keyakinannya secara tenang dan aman. Tak heran, jika kepala rahib Yerusalem amat berterima kasih kepada tentara Islam yang telah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium.

Kota perang

Di bawah kekuasaan Islam, Yerusalem tumbuh begitu pesat. Selain di era Khulafa Ar-Rasyidin, pada masa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina.

Sayangnya kerukunan umat beragama di kota tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi itu akhirnya retak. Saat Al- Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah berkuasa, Gereja Jirat Suci dihancurkan. Konon, kebijakan khalifah inilah yang menjadi salah satu pemantik terjadinya Perang Salib. Yerussalem akhirnya ditaklukkan tentara Perang Salib pada tahun 1099 M dari kekuasaan Khalifah Al-Musta’li.

Umat Islam, Yahudi, dan bahkan Kristen pun dibantai tentara Perang Salib. Tentara Perang Salib ternyata tak bisa membedakan orang Kristen yang tinggal di Yerussalem. Di Yerussalem pun lalu munculah kerajaan Kristen pertama dan Godfrey menjadi raja perdananya. Umat Islam kembali berhasil merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M di bawah komando pahlawan perang Islam, Salahuddin Al-Ayubi.

Kedamaian kembali tercipta di tanah Yerussalem. Tak ada pembantaian dan semua umat beragama bebas menjalankan keyakinannya. Namun pada tahun 1243, Yerussalem jatuh kembali ke tangan tentara Salib. Pada tahun 1517, Yerussalem kembali dikuasai Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Yerussalem akhirnya terlepas dari genggaman kekuasaan umat Islam setelah Turki kalah dalam Perang Dunia I.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Yerussalem

Sebelum Perang Salib meletus, Yerussalem berada da lam masa kejayaan. Kota itu menjelma menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Tak heran, bila di Yerussalem tersebar begitu banyak madrasah yang melahirkan sederet ilmuwan Muslim terkemuka. Sayang, kemakmuran dan kemajuan itu sirna begitu saja, setelah tentara Perang Salib menghancurkan dan membunuhi penduduk kota suci itu.

Seorang pelancong Muslim, Nasruddin Khusraw pada tahun 1047 M sempat bertandang ke Yerussalem. Ia mencatat, Yerussalem telah mencapai kemajuan beberapa dekade sebelum berkecamuk nya Perang Salib. Menurut Nasruddin, pada era itu Yerussalem begitu makmur. Harga barang-barang begitu murah. Kotanya juga begitu indah berhiaskan pasar nan cantik dan gedung-gedung yang tinggi.

Menurut Nasruddin, Yerussalem sudah memiliki sederet seniman dan setiap hasil karyanya memiliki pasar tersendiri. Jumlah penduduk kota itu pun terbilang begitu besar. Satu hal yang membuat Nasruddin terkagum- kagum, di kota itu ternyata sudah berdiri rumah sakit (RS) yang besar. RS yang dikelola dengan dana wakaf, menggratiskan biaya pengobatan pasien dan membayar dokter dengan gaji yang besar.

Nasruddin juga menuturkan, di kota itu juga berdiri asrama-asrama bagi para Sufi tinggal dan beribadah. Pada era keemasan Islam di Yerusalem, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, namun juga tempat mengembangkan ilmu pengetahun dan kebudayaan Islam. Di sekitar Masjid Al- Aqsa berdiri sejumlah madrasah tempat para pelajar menuntut ilmu.

Beberapa madrasah yang ber diri di Yerussalem itu antara lain, Madrasah Farisiya yang dibangun Emir Faresuddin Albky. Selain itu ada pula Madrasah Nahriye, Nassiriya, Qataniya, Fakriya, Ba la diya dan Tankeziya. Sejumlah wanita asal Turki berada di belakang pembangunan madrasah-madrasah yang berada di sekitar Al-Aqsa.

Menjamurnya madrasah di se kitar Al-Aqsa menandakan aktivitas perkembangan ilmu pengetahuan begitu menggeliat di Yerussalem pada masa kejayaan Islam. Pada abad ke-11 M, di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk beragam aktivitas kebudayaan berkembang di Yerussalem. Sejumlah sarjana dari Barat dan Timur bertandang dan menetap di kota ini. Mereka ikut ambil bagian untuk memperkaya kehidupan kebudayaan.

Beberapa ilmuwan yang ikut mengembangkan aktivitas kebudayaan dan ilmu pengetahuan itu antara lain; Sha’afiite Nasir bin Ibrahim Al-Maqdisi (1096) yag mengajar di madrasah Nassriyya; Ata al-Maqdisi (Abu’l Fadl); serta Al-Rumali. Abu’l Farradj Abd Al- Waheed juga ber mukim di Yerussalem untuk menyebarkan Madzhab Hanbali di Yerussalem. Dia menulis Kitab al- Djawaher yakni tafsir Alquran.

Selain itu, beberapa ulamalainnya yang tinggal di Yerusalem seperti Abu Fath Nasr, pengarang sejumlah karya. Abu’l Maaly Al-Mucharraf merupakan ilmuwan besar Yerussalem yang menulis kitab Fadail al-Bayt Al-muqaddas wa Asakh ra. Kitab itu mengupas tentang kota beserta sejarahnya. Ulama sekaligus ilmuwan Muslim tersohor, Al-Ghazali (lahir 1058) juga bermukim di kota ini.

Kubah Batu, Saksi Kejayaan Islam

Masjid berkubah pertama itu berada di tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif yang terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerussalem (Baitul Maq dis). Masjid itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Mekkah).

Adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang memprakarsai pembangunan Kubah Batu pada tahun 66 H/685 M dan selesai tahun 72 H/691 M. Pembangunan masjid itu sepenuhnya dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja’ bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.

Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.

Bentuk kubahnya banyak di pengaruhi arsitektur Bizantium. Sejarawan Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42 kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.

Di batu tersebut Nabi Muhammad SAW melakukan mikraj dan sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam). Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Selain itu juga terdapat mihrab-mihrab besar yang jumlahnya mencapai 13 buah.

Wallahu’alam

Mukhlis Aminullah, peminat sejarah Islam