Jumat, 15 Mei 2009

BIOGRAFI RINGKAS YUSUF AL QARDHAWI

Lahir di sebuah desa kecil di Mesir bernama Shafth Turaab di tengah Delta pada 9 September 1926. Usia 10 tahun, ia telah menghafal Al Qur’an. Menamatkan pendidikan di Ma’had Thantha dan Ma’had Tsanawi, Qardhawi kemudian melanjutkan studynya ke Universitas Al Azhar, Fakultas Ushuluddin dan menyelesaikannya pada tahun 1952 M.
Tapi gelar doktornya baru dia peroleh pada tahun 1972 dengan disertasi “Zakat dan Dampaknya Dalam Penanggulangan Kemiskinan”, yang kemudian di sempurnakan menjadi Fiqh Zakat. Sebuah buku yang sangat konprehensif membahas persoalan zakat dengan nuansa modern.

Sebab keterlambatannya meraih gelar doktor, karena dia sempat meninggalkan Mesir akibat kejamnya rezim yang berkuasa saat itu. Ia terpaksa menuju Qatar pada tahun 1961 dan di sana sempat mendirikan Fakultas Syariah di Universitas Qatar. Pada saat yang sama, ia juga mendirikan Pusat Kajian Sejarah dan Sunnah Nabi. Ia mendapat kewarganegaraan Qatar dan menjadikan Doha sebagai tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Qardhawi pernah pernah dipenjara sejak masa mudanya. Di Mesir, saat umurnya 23 tahun dipenjarakan oleh Raja Faruk pada tahun 1949, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober, kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun.

Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalek. Alasannya, khutbah khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rezim saat itu.

Qardhawi memiliki tujuh orang anak, empat putri dan tiga putra. Sebagai seorang ulama yang sangat terbuka, dia membebaskan anak anaknya untuk menuntut ilmu apa saja sesuai dengan minat dan bakat serta kecenderungan masing masing, dan hebatnya lagi, dia tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki lakinya.

Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir di Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3nya. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika.

Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya, kita bisa membaca sikap dan pandangan Qardhawi terhadap pendidikan modern. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Sebabnya ialah, karena Qardhawi merupakan seorang ulama yang menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itu, menurut Qardhawi, telah menghambat kemajuan umat Islam.

Yusuf Qardhawi dikenal sebagai ulama dan pemikir islam yang unik sekaligis istimewa, keunikan dan keistimewaanya itu tak lain dan tak bukan ia memiliki cara atau metodologi khas dalam menyampaikan risalah islam, lantaran metodologinya itulah dia mudah diterima di kalangan dunia barat sebagai seorang pemikir yang selalu menampilkan islam secara ramah, santun, dan moderat, kapasitasnya itulah yang membuat Qardhawi kerap kali menghadiri pertemuan internasional para pemuka agama di Eropa maupun di Amerika sebagai wakil dari kelompok islam.

Dalam lentera pemikiran dan dakwah islam, kiprah Yusuf Qardhowi menempati posisi vital dalam pergerakan islam kontemporer, waktu yang dihabiskannya untuk berkhidmat kepada islam, bercearamah, menyampaikan masalah masalah aktual dan keislaman di berbagai tempat dan negara menjadikan pengaruh sosok sederhana yang pernah dipenjara oleh pemerintah mesir ini sangat besar di berbagai belahan dunia, khususnya dalam pergerakan islam kontemporer melalui karya karyanya yang mengilhami kebangkitan islam moderen. Sekitar 125 buku yang telah beliau tulis dalam berbagai demensi keislaman, sedikitnya ada 13 aspek kategori dalam karya karya Yusuf Al Qardhawi, seperti masalah masalah : fiqh dan ushul fiqh, ekonomi islam, ulum Al Quran dan As sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, fakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan islam, penyatuan pemikiran islam, pengetahuan islam umum, serial tokoh tokoh islam, sastra dan lainnya. Sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat, sedikitnya 55 judul buku Qardhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Mukhlis Aminullah, peminat agama, berdomisili di Bireuen.

BOEDIONO DILIHAT DARI BERBAGAI SISI

Menjelang masa akhir pendaftaran Capres/Cawapres ke KPU, sampai saat ini hanya satu pasangan yang sudah memastikan diri menjadi Calon yaitu JK/Wiranto yang diusung oleh Partai Golkar dengan Partai Hanura. Sementara yang lainnya belu ada kepastian. Kasak kusuk yang terdengar adalah masih ada tarik ulur antara satu Calon dengan yang lainnya. Prabowo belum pasti dengan Mega. SBY juga belum mendeklarasaikan diri dengan Boediono sebagai Cawapres. Masih ada berbagai kemungkinan, termasuk pembatalan Boediono sebagai Cawapresnya, walaupun kepastiannya hampir seratus persen.

Bagi orang awam yang jarang membaca berita-berita ekonomi, tentu saja bertanya siapa dan apa kapasitasnya sehingga SBY memilih ybs sebagai Cawapres. Bagi elit, Boediono tidak asing lagi karena beliau adalah Gubernur Bank Indonesia setelah sebelumnya sebagai Menko Perekonomian/Kepala Bappenas.

Pemilihan beliau sebagai Cawapres oleh SBY tentu suatu kehormatan bagi ybs. Dan SBY punya beberapa alasan yang logis, setidaknya menurut SBY, mengapa Boediono yang diusung.....
Alasan pertama tentu saja karena Boediono memenuhi 5 (lima) kriteria yang ditetapkan SBY beberapa waktu yang yaitu integritas, kapabilitas, loyal dan tidak kepentingan politik serta bisa diterima masyarakat.
Alasan selanjutnya adalah rekam jejak Boediono yang baik, sehingga diharapkan akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat maupun dunia internasional. Beliau tidak tersangkut kasus korupsi, karirnya tidak pernah cacat dan selama ini dikenal nentral sehingga bisa masuk ke semua kalangan.
Guru Besar FE UGM dan Doktor Ekonomi Bisnis lulusan Wharton School University of Pennsylvania, AS 1979 ini, terbukti selama menjadi Menkeu pada Kabinet Megawati, Menko Perekonomian pada Kabinet SBY maupun sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Selama menjabat Menkeu, ia berhasil membenahi bidang fiskal, masalah kurs, suku bunga dan pertumubuhan ekonomi. Saat baru menjabat Menkeu, langkah pertama yang dilakukannya adalah menyelesaikan Letter of Intent dengan IMF yang telah disepakati sebelumnya serta mempersiapkan pertemuan Paris Club September 2001. Paris Club ini merupakan salah satu pertemuan penting karena menyangkut anggaran 2002. Setelah itu, dia bersama tim ekonomi Kabinet Gotong-Royong, secara terencana mengakhiri kerjasama dengan IMF (Dana Moneter Internasional) Desember 2003.

Departemen Keuangan di bawah kendali pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943, itu pun berhasil melampaui masa transisi pascaprogram IMF, yang sebelumnya sudah dia ingatkan akan sangat rawan, bukan hanya menyangkut masalah dana, tetapi juga menyangkut rasa percaya (confidence) pasar. Apalagi kala itu, Pemilihan Umum 2004 juga berlangsung. Kondisi rawan itu pun berhasil dilalui tanpa terjadi guncangan ekonomi.

Dia berhasil menggalang kerjasama dengan Bank Indonesia dan tim ekonomi lainnya, kecuali dengan Kwik Kian Gie yang kala itu tampak berbicara sendiri sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/ Kepala Bappenas.

Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia berhasil memperbaiki keuangan pemerintah dengan sangat baik sehingga mampu membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional.

Sebelum menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu, Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001–2004) dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono telah menjabat Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto.

Guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, ini memperoleh gelar S1 (Bachelor of Economics (Hons.)) dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, meraih gelar Master of Economics dari Universitas Monash, Australia. Kemudian meraih gelar S3 (Ph.D) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania pada tahun 1979.

Bila melihat sepak terjang Boediono, apalagi dikaitkan dengan Profesionalisme dan pengalaman nya selama ini, rasanya cukup pantas beliau diusung sebagai Cawapres bagi SBY. Namun kita tidak boleh menutup mata, dari sisi politis, pemilihan beliau sebagai kebijakan tidak populis. Kalau dipaksakan akan menjadi sebuah perjudian bagi SBY dalam usaha menduduki kursi Presiden satu periode yang akan datang.

Latar belakang Boediono yang bukan berasal dari unsur Partai Politik diprediksikan akan menggangu jalannya Pemerintahan, bila duet ini terpilih, kelak. Para pengamat politik mengkhawatirkan minimnya dukungan dari parlemen bila ada kebijakan-kebijakan yang tidak sejalan dengan perlemen.

Sekarang saja kondisi ini sudah terlihat jelas.reaksi keras PKS, PPP, PKB dan PAN yang sebelumnya mengatakan akan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Keempat Partai ini yang kebetulan saja adalah partai Islam, merasa terkejut dan sempat mengancam akan membentuk poros alternatif atau mengalihkan dukungan kepada pasangan Capres-Cawapres lainnya, bila SBY tetap memaksakan memilih Boediono.

Mereka menggelar rapat di salah satu ruangan Fraksi PKS di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Selasa 12/5. Peserta rapat adalah Ketua F-PKS Mahfudz Siddiq, Sekjen PKS Anis Matta, Ketua F-PPP Lukman Hakim Saifuddin, Ketua F-PAN yang juga Sekjen PAN Zulkifli Hasan, Ketua DPP PAN M Najib, serta Wakil Sekjen PKB Imam Nachrowi.

Seusai rapat, Ketua F-PKS Mahfudz Siddiq mengatakan pihaknya terkejut dengan informasi itu karena tidak ada pembahasan sebelumnya. Sekjen PKS Anis Matta juga dengan nada kecewa mengaku sudah mendapat pemberitahuan dan undangan menghadiri deklarasi koalisi pendukung SBY pada 15 Mei di Bandung, Jawa Barat. Karena itulah, katanya, partai-partai pendukung SBY merasa perlu mengusung satu sikap apabila putusan soal cawapres itu terus dipaksakan tanpa berbicara dengan anggota koalisi lainnya. Mahfudz Siddiq mengatakan, empat parpol kecewa karena Partai Demokrat mengabaikan aspirasi partai koalisi. Ia mengungkapkan sebelumnya sudah ada aspirasi dari parpol koalisi dan berpandangan lebih baik Cawapres dari parpol agar memiliki kemampuan politik yang lebih kokoh. Mereka juga berharap Cawapres diambil dari partai berbasis Islam.

Menurut Mahfudz Siddiq, sosok Boediono tidak mencerminkan hal tesebut. Karena itu, empat parpol ini bersepakat mengadakan rapat lanjutan untuk membahas sikap yang akan diambil. "Hitung-hitungan kami, kalau PKS dan empat parpol ini gabung dengan Gerindra, terus misalnya kami gabung dengan Hanura dan Golkar. Maka jumlah kursi kita bisa 60 persen di parlemen. Ini poros alternatif," kata Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq, saat jumpa pers, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (12/5).

Malam harinya, mereka (minus PKB) pun melanjutkan pertemuan di Hotel Nikko Jakarta. Pertemuan itu dihadiri Sekjen PKS Anis Matta, Ketua F-PKS DPR Mahfudz Siddiq, Sekretaris F-PKS DPR Abu Bakar Al Habsyi, Wakil Sekjen PPP Roma Hurmuziy, dan Fungsionaris PAN M Najib. Dalam pertemuan, mereka mempertanyakan dan membahas sejumlah kriteria yang pernah disampaikan SBY terkait Cawapres yang akan digandengnya jika SBY akhirnya benar menggandeng Boediono.

Seusai pertemuan, mereka menggelar konferensi pers. "Kalau lihat kriteria akseptabilitas dan mendukung koalisi yang kuat, apa alasannya memilih Boediono?" kata Anis bernada tanya. Mereka pun menilai sikap SBY dan Demokrat yang secara serta-merta memilih Boediono, tidak menjunjung tinggi tata krama komunikasi politik. Padahal, dalam koalisi, hal yang paling krusial adalah komunikasi dan koordinasi di antara peserta koalisi.

Menurut Sekjen PKS Anis Matta, hal inilah yang mengecewakan mereka sebagai mitra koalisi yang membutuhkan pola komunikasi ideal. "Yang menjadi perhatian kami adalah pola pengambilan keputusannya. Kita tidak tahu konsideritasnya," tutur Anis seusai pertemuan di Hotel Nikko, Selasa (12/5).

Begitu pula Wakil Sekjen PPP Romahurmuzi merasa harga diri partainya cukup dilangkahi dengan keputusan sepihak Demokrat tersebut. "Ini masalah harga diri partai. Mereka harusnya ingat masih ada gerbong panjang ke belakang," tutur Romahurmuzi.

Sehubungan dengan itu, mereka sepakat untuk meneruskan pembicaraan mengenai hal ini dalam komunikasi yang lebih tinggi lagi, yaitu komunikasi di kalangan pimpinan PKS, PAN, PPP dan PKB.

Namun pada waktu yang hampir bersamaan, Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo, Mensesneg Hatta Rajasa dan Menseskab Sudi Silalahi mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PPP Suryadharma Ali, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Sekjen PAN Zulkifli Hasan, di Wisma Negara. Menurut Hatta Rajasa, Presiden PKS Tifatul Sembiring juga diundang tetapi tidak hadir. Tetapi ketika hal ini dikonfirmasi pers kepada Tifatul, ia mengaku tidak memperoleh undangan. "Ya tidak diundang dan kita tidak tahu, mungkin miss di mana kita tidak tahu," jelasnya.

Seusai pertemuan ini, Hatta Rajasa kepada pers mengungkapkan bahwa kepada para Ketua Umum Parpol itu diberikan penjelasan kemudian didiskusikan mengenai Cawapres pilihan SBY. “Saya kira kuncinya adalah komunikasi menjelaskan itu,” jelas Hatta. Menurut Hatta Rajasa, pemilihan Boediono sudah melalui pertimbangan dan proses yang cukup panjang, tidak ada titipan. Langkah itu dilakukan guna menegakkan sistem presidensial. “Maka sebaiknya cawapres dipilih capresnya. Karena memang demikianlah kita berkomitmen menegakkan sistem presidensial,” ujar Hatta.

Di tengah kabar kepastian SBY memilih Boediono sebagai Cawapres, tengah berproses komunikasi politik antara Partai Demokrat dengan PDIP. Boediono dikenal dekat dengan Megawati dan PDIP. Namun, Sekjen PDIP Pramono Anung mengatakan dipilihnya Boediono bukan atas titipan PDIP.

Sementara, pengamat politik J Kristiadi menilai Keputusan SBY memilih Boediono, seorang ekonom profesional tanpa partai pendukung, sebagai Cawapres pendampingnya dalam pilpres mendatang, mencerminkan kepercayaan diri SBY dan Partai Demokrat. Menurutnya, pilihan itu menegaskan bahwa SBY lebih memprioritaskan kecocokan personal ketimbang kepentingan koalisi di parlemen. Namun, Kristiadi mengingatkan, hati-hati, jangan rasa percaya diri ini begitu kentara karena nanti bisa jadi bumerang.

Kristiadi mengapresiasi ketegasan sikap Boediono sebagai sosok ekonom profesional dalam mengatasi sejumlah persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Namun, ia menilai Boediono lemah dalam manuver politik.

Kristiadi merasa kuatir, bagaimana nanti pasangan yang keduanya adalah sosok akademis, ini memimpin negara yang penuh dengan lika-liku politik. Karena itu, kata Kristiadi, mereka harus memiliki seorang tokoh penghubung antara pemerintah dan parlemen.

Sementara mengenai reaksi kekecewaan dan protes para petinggi partai koalisi pendukung Partai Demokrat atas pilihan SBY meminang Boediono sebagai Cawapres, Kristiadi merasa tidak mengerti kenapa parpol-parpol itu marah. "Bukankah mereka sejak awal sudah memberi sinyal kepada SBY untuk menggunakan hak prerogratifnya memilih Cawapresnya?" ujar pengamat politik dari CSIS itu.

Kristiadi kuatir, jangan-jangan kemarahan parpol-parpol koalisi Demokrat ini hanya sandiwara untuk menaikan posisi tawar politik guna mendapat jatah kursi lebih banyak di kabinet. "Atau jangan-jangan ada kelompok lain yang bermain, misalnya mungkin Gerindra mulai mendekati mereka dan memberi tawaran yang lebih menarik dan partai-partai ini mencari alasan untuk bisa hengkang dari koalisi dengan Demokrat," ucapnya.

Penuhi Kriteria

Sementara itu, pagi keesokan harinya, Rabu (13/5), Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada pers mengatakan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono mendekati lima kriteria dasar Cawapres yang dirilis SBY. "Memang tidak ada yang sempurna. Dari lima hal dasar cawapres yang disampaikan Pak SBY, jatuhlah pilihan pada Pak Boediono," kata Anas.

Kelima kriteria itu adalah pertama, memiliki integritas yang ditandai kepribadian dan moral yang tinggi termasuk moral politik. Kedua, memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam menjalankan tugas negara.

Ketiga, mempunyai loyalitas kepada kepala pemerintahan dan bebas dari konflik kepentingan. Keempat, diterima oleh mayoritas rakyat. Kelima, mampu meningkatkan kekokohan efektifitas koalisi pemerintahan.

Namun, menurut Anas, bukan berarti calon-calon lain yang diajukan oleh partai mitra koalisi tidak memenuhi kriteria tersebut. "Semua calon sama-sama baik, tapi capres perlu diberi ruang yang cukup untuk memilih mana yang terbaik," jelas Anas.

Menurut Anas, Presiden dan Wapres, harus merupakan dua tokoh yang bisa saling menerima dengan ikhlas dan memiliki tingkat kecocokan kimiawi yang tinggi sehingga bisa bekerja sama. Perihal keluhan mitra koalisi yang tak merasa diajak berkomunikasi, Anas mengatakan sudah melakukan pertemuan dengan PKB, PAN, dan PPP, tapi PKS tidak mengirimkan perwakilan partainya.

Lebih tegas dan jelas, Anas Urbaningrum mengatakan, pembicaraan koalisi yang dilakukan Partai Demokrat dengan mitra koalisi sejak awal menekankan pada kecocokan platform dan agenda kerja, bukan soal cawapres.

Menurut Anas, sebelumnya Partai Demokrat sudah menyampaikan bahwa mengenai posisi Cawapres pendamping Capres SBY, sepenuhnya diserahkan kepada SBY. "Sejak awal, koalisi memang agendanya bukan bagi-bagi jatah. Pembicaraan koalisi tidak diawali dengan pembicaraan Cawapres dan jatah kabinet, tapi platform dan agenda 5 tahun yang akan datang agar partai-partai koalisi konsisten dengan platform. Pendirian Partai Demokrat sudah disampaikan kepada rekan-rekan partai yang akan berkoalisi, sebaiknya soal Cawapres diserahkan ke SBY" kata Anas.

Kontrak Politik

Perihal kontrak politik, Anis Matta mengungkapkan sudah ada konfirmasi dari Demokrat bahwa rencana penandatanganan kontrak politik di antara partai-partai koalisi yang sedianya dilakukan 13 Mei 2009, ditunda. Namun, katanya, Partai Demokrat tidak memberikan alasan penundaan waktu penandatanganan kontrak politik. Ke depan, katanya, nota kesepahaman hanya ditandatangani secara multilateral, tidak bilateral seperti kesepakatan sebelumnya.

Sebelumnya, PKS telah mengajukan draft kontrak politik dengan SBY dan Partai Demokrat yang secara substantif antara lain menekankan agar pemerintahan koalisi memprioritaskan alternatif pengambilan keputusan yang Islami dan mengutamakan jabatan-jabatan penting kepada yang beragama Islam.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa banyak sisi yang menjadi pertimbangan bagi SBY sehingga memilih Boediono, setelah dengan berbagai pertimbangan yang matang. Namun dalam dunia politik, kita tidak boleh hanya memandang hanya dari sudut pandang kita sendiri. Ada dinamika lain yang harus menjadi perhatian dan menjadi bahan pertimbangan. Karena kadang kala, apa yang menurut kita sudah baik (sesuai dengan standar kita), namun dari kacamata pihak lain belum sepenuhnya baik. Untuk seharusnya SBY mengakomodir berbagai pertimbangan yang disampaikan oleh rekan-rekan partai yang berkoalisi, dengan cara yang lebih bijak dan tidak meruntuhkan kewibawaannya sebagai Capres sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai pemenang Pemilu 2009.

Mukhlis Aminullah, mantan Anggota KPU Bireuen, Aceh.

Selasa, 12 Mei 2009

POLITIK : KEPENTINGAN ABADI

Ungkapan yang sering kita dengar dari para pelaku politik bahwa “dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan yang abadi” tampak benar adanya. Ungkapan tersebut bukan hanya jargon politik atau sekedar omong kosong belaka. Sejarah perpolitikan Indonesia sudah memberi bukti.

Pada masa Orde Lama, bagaimana akhir dari perpaduan ''Duo Proklamator'' kita...? Ketika awal berdiri Republik ini hubungan mesra keduanya merupakan spirit bagi rakyat dan pejuang kemerdekaan dalam menahan gempuran NICA untuk mempertahankan kemerdekaan. Endingnya adalah sangat kontra produktif dengan semangat Proklamasi. Mohammad Hatta mengundurkan diri dengan kepala tegak sebagai Wapres karena merasa tidak seiring sejalan lagi dengan Presiden dalam membangun Indonesia.

Pada masa Orde Baru setali tiga uang. Soeharto membangun ''kerajaan''nya dengan berbagai cara yang tidak polpuler dimata rakyat. Orang-orang dekatnya yang sama-sama pernah berjuang mengganyang PKI, seperti Sarwo Edhie Wibowo dan AH. Nasution ditinggalkannya begitu saja karena berbeda haluan politik serta mengganggu ''kepentingan'' kekuasaan. Sarwo Edhie ''dibuang'' menjadi Duta Besar ke beberapa negara. AH. Nasution tidak berkutik di dalam negeri. Walaupun dikalangan meliter beliau sangat dihormati, namun dimata Soeharto, beliau adalah rival yang selalu harus diwaspadai gerak-geriknya.
Dan sesungguhnya bukan hanya Sarwo Edhie dan AH. Nasution saja, banyak tokoh lainnya yang bernasib sama, termasuk Hoegeng. Hanya saja mereka berdua adalah dua kisah paling nyata dan ditulis dalam sejarah.

Pada masa Orde Reformasi, kejadian yang sama terulang lagi. Hanya saja pelakonnya berbeda.
Amin Rais dkk dari garis Islam Reformis (kata pers) menggalang kekuatan untuk menghadang Megawati agar tidak terpilih sebagai Presiden. Padahal semua orang tahu, PDI Perjuangan sebagai pemenang Pemilu 1999 sangat pantas maju memimpin negeri ini, ketika itu.
Amin Rais dkk menggalang kekuatan poros tengah untuk ''menaikkan'' Gus Dur menjadi Presiden. Dan berhasil.
Jadilah Indonesia menjadi bahan ''tertawaan'' sebahagian kalangan karena memilih seorang Presiden yang tidak dapat melihat, namun dapat mendengar (bisikan). Padahal kita tau, sebelum era Reformasi, hubungan Gus Dur dengan Amin Rais sebenarnya kurang mesra. Gus Dur sebelumnya adalah Ketua NU, sementara Amien Rais adalah Ketua DPP Muhammadiyah.
Jelas sekali ada politik kepentingan saat itu, yang tidak bisa dikatankan ''demi rakyat''......

Apa dinyana..... kesempatan Gus Dur untuk bersenang-senang di Istana tidak sampai satu periode. Pada tahun 2001, Sidang Istimewa MPR di bawah komando Amien Rais, sang teman, memaksa Gus Dur keluar dari Istana Kepresidenan dengan celana pendek. Sungguh naif. Dan kejadian juga akan dicatat dalam lembaran sejarah bangsa ini.
Kasihan sekali.... namun sekali lagi, apa mau dikata. Politik itu kejam, kata sebagian orang.

Pada akhir tahun 2003, hubungan SBY sebagai Menteri pada Kabinet Gotong Royong dengan Megawati mulai tidak harmonis. Mega saat itu, mencium gelagat tidak baik dari gerak gerik SBY yang sudah mempersiapkan diri menuju Pemilu 2004. Ending dari hubungan yang tidak stabil itu adalah ketika Ketua Dewan Pembina PDI Perjuangan yang juga suami Mega, Taufik Kiemas, menuduh SBY kekanak-kanakan karena ''memprotes'' kebijakan Mega yang tidak mengundang- nya dalam Rapat di Istana. Padahal rapat itu membahas kondisi keamanan di Aceh, merupakan job-nya SBY sebagai Menko Polkam.
Akhirnya SBY keluar dari Kabinet dan mempersiapkan diri untuk maju sebagai Presiden pada Pemilu 2004. Kedua orang ini menjadi kompetitor dalam hajatan yang diselenggarakan oleh KPU.
Hubungan keduanya tidak harmonis lagi. Bukan hanya berbeda haluan politik, namun juga tidak saling bertegur sapa sebagai sesama Muslim. Sampai saat ini.
Bahkan beberapa waktu yang lalu, sebelum pemungutan suara, keduanya saling mengejek. Awalnya diawali oleh Mega yang mengkritik BLT. Tidak berapa lama SBY, dengan gaya khasnya yang low profile, membalas atau mementahkan semua ''tuduhan'' Mega di hadapan ratusan ribu massa yang menghadiri kampanye Partai Demokrat di Senayan.

Suhu politik makin tinggi. Setelah pemungutan suara dan LSI mengumumkan hasil Quick count-nya dengan menempatkan Partai Demokrat pada rangking teratas, semua pihak melakukan ziz zag, bermanuver layaknya di lintasan arena balapan Formula Satu. Sebelum JK-Wiranto mendeklarasikan diri, arah koalisi sudah nampak mengerucut kepada dua blok. Blok PDI Perjuangan + Partai Golkar melawan Partai Demokrat, dkk.
Namun setelah JK-Wiranto menyatakan kepada publik ''Lebih Cepat, Lebih Baik'' hubungan koalisi seakan mencair lagi. Apalagi setelah Prabowo menyatakan dirinya hanya bersedia menjadi Capres, bukan Cawapres, arah koalisi makin tidak jelas.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi lagi. Para tokoh politik seakan ingin mengulang sejarah, dalam dunia politik tidak ada kawan maupun lawan abadi. Hubungan Partai Demokrat dengan PDI Perjuangan yang selama ini berada dalam dua kutub yang berbeda, mencair ke arah yang lebih baik.
Dalam sepekan terakhir,terjadi pendekatan yang serius mengenai kemungkinan akan bergabungnya PDI Perjuangan ke dalam koalisi yang sedang dibangun Partai Demokrat. Persoalan harga diri Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati terpaksa dikesampingkan demi terbentuknya bangunan koalisi besar pemerintahan mendatang jika SBY terpilih kembali pada Pilpres 8 Juli 2009.

Bagi penggagas, pendukung, atau kader PDI Perjuangan yang prokoalisi baru ini, pendekatan antara PDI Perjuangan dan Partai Demokrat membuka peluang bagi PDI Perjuangan untuk masuk ke dalam pemerintahan mendatang. Sebaliknya, bagi mereka yang kontra, koalisi ini merendahkan harga diri Megawati dan harkat PDI Perjuangan yang selama lima tahun terakhir beroposisi terhadap pemerintahan SBY-JK. Ini juga menunjukkan betapa elite politik di PDI Perjuangan sudah mengaku kalah sebelum bertanding.

Memang hubungan kedua partai ini baru tahap penjajakan. Namun, dengan berbagai pertimbangan yang rasional masing-masing partai, tidak mustahil hubungan ini akan berlanjut, walaupun Megawati harus rela merubuhkan kepercayaan para rekan-rekan partai lain yang terlanjur mendeklarasikan Koalisi Besar Parlemen, beberapa waktu yang lalu. Bisa saja Megawati tidak maju sebagai Presiden, namun cukup mendapat ''jatah'' Menteri dari Kabinet SBY yang akan datang.

Semua kemungkinan bisa terjadi. Inilah arena politik. Layak-lah bila di akhir tulisan kita ulang kembali jargon lama '
“dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan yang abadi”...............
Mari kita simak langkah mereka selanjutnya........

Mukhlis Aminullah, mantan Anggota KPU Bireuen, Aceh.


Senin, 04 Mei 2009

YERUSSALEM DALAM LINTAS SEJARAH

Yerussalem……
Apa yang ada di benak anda bila disebutkan kata di atas…? Saya yakin anda akan menyatakan bahwa itu adalah salah kota terbesar di Israel, negara yang selama ini menjadi teman dekat AS sekaligus menjadi lawan bagi dunia Islam.

Namun pada kesempatan ini saya tidak akan menulis tentang politik dunia yang salah satu masalah pokoknya adalah masalah Israel-Palestina. Saya akan mengajak anda, pembaca, untuk mengingat Yerussalem dalam nuansa Islam, atau tepatnya nuansa sejarah Islam.

Yerussalem adalah kota suci ketiga bagi umat Islam, setelah Mekkah dan Madinah. Di awal perkembangan agama Islam, Yerussalem menempati posisi yang sangat penting. Selama pe riode Mekkah hingga satu tahun pasca hijrah ke Madinah, kota itu sempat menjadi kiblat pertama bagi umat Islam. Setelah itu, Rasulullah SAW memindahkan arah kiblat ke Masjid Haram, di Mekkah. Pertautan Islam dengan Yerussalem juga tercatat dalam lembaran sejarah yang maha penting, yakni peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW melalui Isra Mikraj itu sungguh amat istimewa. Sebab, lewat perjalanan itulah Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam untuk menunaikan ibadah shalat.

Allah SWT berfirman;

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS: Al Israa:1).

Yerussalem pun bertambah istimewa, lantaran di kota itulah beberapa Rasul terdahulu menerima wahyu dari Sang Khalik. Syahdan, kali pertama Yerussalem dibangun Nabi Daud AS setelah menguasai kota itu dari ma syarakat Yebusit. Nabi Daud lalu me ngembangkan dan menjadikan Yerussalem sebagai ibu kota kerajaannya.

Tahta kerajaan Nabi Daud lalu digantikan Nabi Sulaiman AS. Di kota itu, Nabi Sulaiman membangun sebuah Haekal atau Harem Syarif (tempat yang mulia) yang lengkap dengan singgasananya. Para ahli sejarah Yahudi menyatakan, Nabi Sulaiman membangun sebuah kuil yang bernama Baitallah.

Haekal atau Baitallah itu menjadi tempat beribadah umat Yahudi pertama yang indah dan megah. Di tengah Haekal itulah terdapat sebuah batu hitam bernama Sakhrah Muqaddasah. Berlandaskan batu itulah, Rasulullah SAW melanjutkan mikraj menghadap Sang pencipta untuk menerima perintah menjalankan shalat.

Pasukan Babilonia menguasai Yerusalem setelah merebutnya dari orang Yahudi. Di bawah kendali dan perintah Raja Babilonia, Nebukadnezar bangunan Haekal dihancurkan. Pada masa itu, Yerusalem terlarang bagi orang Yahudi. Ketika kekuasaan diambil alih Kerajaan Parsi, orang Yahudi kembali bisa memasuki kota itu.

Umat Yahudi pun kembali diizinkan membangun kembali Haekal atau Baitallah yang telah luluh lantak. Bangunan Baitallah yang kedua itu dibangun pada masa kepemimpinan Herodus Yang Agung. Setelah itu, Yerussalem jatuh ke tangan Kerajaan Romawi. Pada masa itu, orang Yahudi melakukan pemberontakan. Lagi-lagi, Haekal atau Baitallah itu diratakan dengan tanah oleh tentara Romawi.

Kaisar Romawi memerintahkan supaya Yerussalem dibangun kembali. Di kota itu dibangun kuil bagi orang Romawi. Orang Yahudi kembali tak diizinkan untuk menjalankan ibadahnya. Bagi Kaisar Constantine dari Kerajaan Bizantium, Yerussalem merupakan tempat yang penting. Constantine menjadikan kota itu sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher pada tahun 335 M.

Yerussalem memasuki babak baru ketika tentara Islam di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab mulai melakukan ekspansi pertama. Umar memerintahkan jenderal perang Muslim, Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah bin Jarrah untuk menaklukan kepongahan Kerajaan Bizantium. Pada 638 M, Yerussalem dapat ditaklukkan tentara Muslim beserta kota-kota lainnya seperti Mesir, Suriah, Damaskus hingga Maroko.

Secara pribadi, Umar bin Khattab datang langsung ke Yerussalem untuk menerima penyerahan kota itu kepada kekhalifahan Islam. Awalnya, Umar ditawari untuk bersembahyang di dalam Church of the Holy Sepulcher, namun Umar menolak dan meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif.

Umar mendapati tempat itu dalam kondisi kotor. Ia lalu memerintahkan agar tempat itu dibersihkan. Khalifah pun membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al-Aqsa. Setelah itu, pemerintahan Umar membangun Kubah Sakhrah atau yang kemudian dikenal sebagai Kubah Umar.

Di bawah kepemimpinan Umar, kebebasan menjalankan ibadah dihormati. Toleransi antar umat beragama begitu harmonis. Setiap pemeluk agama bisa menjalankan ibadahnya sesuai agama dan keyakinannya secara tenang dan aman. Tak heran, jika kepala rahib Yerusalem amat berterima kasih kepada tentara Islam yang telah membebaskan mereka dari penindasan Bizantium.

Kota perang

Di bawah kekuasaan Islam, Yerusalem tumbuh begitu pesat. Selain di era Khulafa Ar-Rasyidin, pada masa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina.

Sayangnya kerukunan umat beragama di kota tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi itu akhirnya retak. Saat Al- Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah berkuasa, Gereja Jirat Suci dihancurkan. Konon, kebijakan khalifah inilah yang menjadi salah satu pemantik terjadinya Perang Salib. Yerussalem akhirnya ditaklukkan tentara Perang Salib pada tahun 1099 M dari kekuasaan Khalifah Al-Musta’li.

Umat Islam, Yahudi, dan bahkan Kristen pun dibantai tentara Perang Salib. Tentara Perang Salib ternyata tak bisa membedakan orang Kristen yang tinggal di Yerussalem. Di Yerussalem pun lalu munculah kerajaan Kristen pertama dan Godfrey menjadi raja perdananya. Umat Islam kembali berhasil merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M di bawah komando pahlawan perang Islam, Salahuddin Al-Ayubi.

Kedamaian kembali tercipta di tanah Yerussalem. Tak ada pembantaian dan semua umat beragama bebas menjalankan keyakinannya. Namun pada tahun 1243, Yerussalem jatuh kembali ke tangan tentara Salib. Pada tahun 1517, Yerussalem kembali dikuasai Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Yerussalem akhirnya terlepas dari genggaman kekuasaan umat Islam setelah Turki kalah dalam Perang Dunia I.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Yerussalem

Sebelum Perang Salib meletus, Yerussalem berada da lam masa kejayaan. Kota itu menjelma menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Tak heran, bila di Yerussalem tersebar begitu banyak madrasah yang melahirkan sederet ilmuwan Muslim terkemuka. Sayang, kemakmuran dan kemajuan itu sirna begitu saja, setelah tentara Perang Salib menghancurkan dan membunuhi penduduk kota suci itu.

Seorang pelancong Muslim, Nasruddin Khusraw pada tahun 1047 M sempat bertandang ke Yerussalem. Ia mencatat, Yerussalem telah mencapai kemajuan beberapa dekade sebelum berkecamuk nya Perang Salib. Menurut Nasruddin, pada era itu Yerussalem begitu makmur. Harga barang-barang begitu murah. Kotanya juga begitu indah berhiaskan pasar nan cantik dan gedung-gedung yang tinggi.

Menurut Nasruddin, Yerussalem sudah memiliki sederet seniman dan setiap hasil karyanya memiliki pasar tersendiri. Jumlah penduduk kota itu pun terbilang begitu besar. Satu hal yang membuat Nasruddin terkagum- kagum, di kota itu ternyata sudah berdiri rumah sakit (RS) yang besar. RS yang dikelola dengan dana wakaf, menggratiskan biaya pengobatan pasien dan membayar dokter dengan gaji yang besar.

Nasruddin juga menuturkan, di kota itu juga berdiri asrama-asrama bagi para Sufi tinggal dan beribadah. Pada era keemasan Islam di Yerusalem, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, namun juga tempat mengembangkan ilmu pengetahun dan kebudayaan Islam. Di sekitar Masjid Al- Aqsa berdiri sejumlah madrasah tempat para pelajar menuntut ilmu.

Beberapa madrasah yang ber diri di Yerussalem itu antara lain, Madrasah Farisiya yang dibangun Emir Faresuddin Albky. Selain itu ada pula Madrasah Nahriye, Nassiriya, Qataniya, Fakriya, Ba la diya dan Tankeziya. Sejumlah wanita asal Turki berada di belakang pembangunan madrasah-madrasah yang berada di sekitar Al-Aqsa.

Menjamurnya madrasah di se kitar Al-Aqsa menandakan aktivitas perkembangan ilmu pengetahuan begitu menggeliat di Yerussalem pada masa kejayaan Islam. Pada abad ke-11 M, di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk beragam aktivitas kebudayaan berkembang di Yerussalem. Sejumlah sarjana dari Barat dan Timur bertandang dan menetap di kota ini. Mereka ikut ambil bagian untuk memperkaya kehidupan kebudayaan.

Beberapa ilmuwan yang ikut mengembangkan aktivitas kebudayaan dan ilmu pengetahuan itu antara lain; Sha’afiite Nasir bin Ibrahim Al-Maqdisi (1096) yag mengajar di madrasah Nassriyya; Ata al-Maqdisi (Abu’l Fadl); serta Al-Rumali. Abu’l Farradj Abd Al- Waheed juga ber mukim di Yerussalem untuk menyebarkan Madzhab Hanbali di Yerussalem. Dia menulis Kitab al- Djawaher yakni tafsir Alquran.

Selain itu, beberapa ulamalainnya yang tinggal di Yerusalem seperti Abu Fath Nasr, pengarang sejumlah karya. Abu’l Maaly Al-Mucharraf merupakan ilmuwan besar Yerussalem yang menulis kitab Fadail al-Bayt Al-muqaddas wa Asakh ra. Kitab itu mengupas tentang kota beserta sejarahnya. Ulama sekaligus ilmuwan Muslim tersohor, Al-Ghazali (lahir 1058) juga bermukim di kota ini.

Kubah Batu, Saksi Kejayaan Islam

Masjid berkubah pertama itu berada di tengah kompleks Al-Haram asy-Syarif yang terletak di sebelah timur di dalam Kota Lama Yerussalem (Baitul Maq dis). Masjid itu berkubah keemasan. Sedangkan Masjid Al-Aqsa yang berkubah biru berada pada sisi tenggara Al-Haram asy-Syarif menghadap arah kiblat (kota Mekkah).

Adalah Khalifah Abdul Malik bin Marwan yang memprakarsai pembangunan Kubah Batu pada tahun 66 H/685 M dan selesai tahun 72 H/691 M. Pembangunan masjid itu sepenuhnya dikerjakan dua orang arsitek Muslim yakni Raja’ bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem. Keduanya dari Palestina.

Bangunan Kubah Batu terdiri dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua tingginya mencapai 35,3 meter. Secara keseluruhan, tinggi masjid itu mencapai 39,3 meter. Keadaan ruang di dalamnya terdiri tiga koridor yang sejajar melingkari batu (sakhrah). Koridor bagian dalam merupakan lantai thawaf yang langsung mengelilingi batu seperti tempat thawaf di Masjidil Haram.

Bentuk kubahnya banyak di pengaruhi arsitektur Bizantium. Sejarawan Al-Maqdisi menuturkan bahwa biaya pembangunan masjid itu mencapai 100 ribu koin emas dinar. Di dalam masjid itu terdapat batu atau sakhrah berukuran 56 x 42 kaki. Di bawah sakhrah terdapat gua segi empat yang luasnya 4,5 meter x 4,5 meter dan tingginya 1,5 meter.

Di batu tersebut Nabi Muhammad SAW melakukan mikraj dan sebagai saksi peristiwa tersebut maka dibangunlah Kubah Sakhrah di atasnya. Menurut literatur Islam, nilai kesucian sakhrah sama dengan Hajar Aswad (batu hitam). Di dalamnya dipenuhi ukiran-ukiran model Bizantium. Selain itu juga terdapat mihrab-mihrab besar yang jumlahnya mencapai 13 buah.

Wallahu’alam

Mukhlis Aminullah, peminat sejarah Islam

Sabtu, 02 Mei 2009

ANTASARI AZHAR


Seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan saya sebelumnya, bahwa ada 2 topik hangat, hari ini. Pertama soal JK-Wiranto. Kedua adalah dugaan keterlibatan Antasari Azhar sebagai dalang pembunuhan Nasruddin Zukarnain, pengusaha asal Sulawesi Selatan yang juga mantan aktivis. Kejadian itu sendiri terjadi pada tanggal 14 Maret 2009 di kawasan perumahan Modernland, Kota Tanggerang. Dia dibunuh dengan dua tembakan oleh 2 (dua) orang pengendara sepeda motor ketika baru pulang dari main golf dengan BMW.

Polisi bekerja keras untuk mengungkapkan kasus itu. Berbagai dugaan muncul ke permukaan, dari mulai persoalan politik, bisnis dan masalah wanita. Hal ini karena sepak terjang yang bersangkutan selama ini cukup memberi warna tersendiri. Semasa muda, almarhum adalah aktivis, kemudian berkarir di BUMN dan bisnis. Nasruddin termasuk orang muda yang mempunyai pergaulan sangat luas.
Akhirnya setelah melakukan penyelidikan selama 1,5 bulan, Mabes Polri mengumumkan kepada publik bahwa telah menangkap 9 orang tersangka yang diduga sebagai pembunuh Nasruddin Zulkarnaen. Yang mengejutkan adalah keterlibatan Sigit Haryo Wibisono, mantan Anggota DPRD Jateng dan orang dekat Gusdur serta Antasari Azhar, Ketua KPK.

Khusus keterlibatan Antasari, lebih mengejutkan. Beliau adalah Ketua KPK. Selama masa jabatannya di KPK, telah banyak Koruptor masuk bui. Tak tanggung-tanggung, mulai dari Gubernur BI sampai kepada besan Presiden. Tak terhitung jumlah anggota DPR RI yang telah ditangkap dan diseret ke meja hijau olehnya. Sebagian besar telah menjalani hukuman.
Secara umum, prestasi Antasari selama menjabat Ketua KPK, sangat membanggakan. Walaupun pada saat beliau terpilih oleh Komisi III DPR RI tahun 2007 lalu, masyarakat sempat apatis dan pesimis, mengingat track record-nya sebagai Jaksa sangat jelek.

Hari ini beliau adalah tersangka pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen. Dan KPK sendiri telah membebaskan Antasari dari tugas-tugasnya sebagai Ketua KPK. Menurut 4 Komisioner KPK yang lain, Ketua KPK akan dijabat secara bergiliran oleh mereka, sambil menunggu proses hukum Antasari selesai.
Menanggapi penetapannya sebagai tersangka, Antasari menyikapi dengan tenang. Dia akan kooperatif dengan polisi untuk mengungkapkan kasus tersebut.

Entahlah, mungkin saja tuduhan itu salah. Kalau tuduhan itu ternyata terbukti, sekali lagi dunia hukum Indonesia tercoreng. Kita masih ingat, bagaimana seorang Irawadi Joenoes tertangkap tangan tahun lalu saat jadi broker alias makelar tanah untuk gedung baru Komisi Yudisial. Begitu juga seorang Rusdihardjo, mantan Kapolri yang tersangkut dengan kutipan tidak resmi saat ybs menjabat Dubes untuk Malaysia. Kita catat juga Kemas Yahya Rahman.

Marilah kita menyimak dengan seksama perjalanan kasus ini. Mudah-mudahan pihak kepolisian segera dapat menuntaskannya. Kita sebagai wong cilik, berharap tidak ada perlakuan istimewa untuk semua tersangka yang berrstatus Pejabat Negara. Semoga hukum tetap jadi Panglima.

Mukhlis Aminullah, peminat politik, berdomisili di Bireuen, Aceh.

KOALISI GOLKAR DENGAN ''GOLKAR''

Mengejutkan..!
Itulah kata yang pas bagi saya untuk memulai tulisan kali ini. Mengapa ? Ada dua hal yang ingin saya tulis terkait dengan kejadian mengejutkan dalam 24 jam terakhir. Kedua hal itu sama-sama merupakan kejutan. Jadi, pantas ''mengejutkan''.

Pertama adalah koalisi Partai Golkar dengan Hanura untuk mengusung JK-Wiranto sebagai Capres/Cawapres pada Pilpres mendatang. Kedua adalah dugaan keterlibatan Ketua KPK, Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan berencana Nasruddin Zulkarnaen, pengusaha asal Sulawesi Selatan. Kedua kejutan itu akan saya bahas satu persatu.

KOALISI GOLKAR-HANURA

Koalisi Partai Golkar dengan Partai Hanura untuk mengusung JK-Wiranto sebagai Capres/Cawapres pada Pilpres mendatang bagi saya merupakan ''kejutan''. Betapa tidak.....
Kita sama-sama mengetahui bagaimana hubungan keduanya selama ini, yang tidak bisa dikatakan harmonis untuk untuk ukuran bahwa keduanya adalah tokoh nasional. Walaupun tidak seburuk hubungan antara SBY-Mega, namun selama ini keduanya berada pada blok yang berbeda. Pasca kemenangan Wiranto pada konvensi Capres Partai Golkar tahun 2004, hubungan mereka renggang. Apalagi kemudian JK maju sebagai Cawapres-nya SBY dan menang sehingga JK menjadi orang nomor dua di Republik ini. Selanjutnya JK juga terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar... klop sudah. Wapres juga Ketua Partai besar.

Wiranto yang kalah telak pada Pilpres 2004 (malah hanya bertahan pada putaran pertama), kemudian membenahi diri. Mengingat bahwa keberadaannya di Partai Golkar hanyalah sebagai pelengkap (karena kekuasaan sudah dipegang JK), kemudian Wiranto segera menyusun kekuatan baru dengan mendirikan Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat). Bersama kawan-kawan mantan Jenderal ditambah beberapa mantan petinggi partai lain yang bergabung kemudian hari, embrio Partai Hanura terus tumbuh dengan pesat. Hampir seluruh wilayah Nusantara, Hanura mempunyai kepengurusan yang lengkap. Ditopang pengalamannya selama memimpin TNI serta pernah jadi Menteri, Wiranto dkk mencoba membesarkan Hanura. Dan hasilnya bisa kita lihat, saat ini Hanura masuk 10 besar dalam penghintungan sementara yang dilakukan oleh KPU.
Untuk ukuran partai baru, hal itu tentu membanggakan.....

Wiranto tidak hanya mendirikan partai. Keberadaannya pada level atas sebagai mantan pejabat negara tetap terjaga. Buah pikirannya tetap cemerlang, walaupun seringkali ''berseberangan'' dengan pemerintahan SBY-JK. Beliau tidak segan mengkritisi, kalau ada kebijakan pemerintah dirasa tidak memihak rakyat. Terakhir beliau sangat gencar menyerang SBY-JK terkait dengan harga BBM. Walaupun itu murni kritik demi rakyat, katakanlah demikian, namun tak bisa dipisahkan juga dari ambisi-nya kembali ke pemerintahan sebagai Capres. Ada simbiosis mutualisme.

Bagaimana dengan JK? Setali tiga uang. Dia tetap memandang Wiranto sebagai mantan rival. JK sangat reaktif menerima berbagai kritikan Wiranto. Tahun lalu, 2008, JK sempat menyatakan kepada pers bahwa pada Pemilu kali ini jangan ada lagi ''penumpang gelap'' dalam pencalonan Presiden dari Partai Golkar tahun 2009. Walaupun saat itu JK tidak menyebutkan nama siapa yang dimaksud ''penumpang gelap'' tersebut, publik tentu paham bahwa yang dimaksudkan adalah Wiranto. Hal ini karena Wiranto tidak sepenuhnya kader Partai Golkar. Walaupun kalau kita kembali melihat sejarah Orde Baru, sebagai Perwira TNI, keberadaannya dibelakang layar GOLKAR sebagai Penguasa tidak perlu diragukan lagi.

Nah, hari ini kedua orang yang pernah ''berseteru'' tersebut bersatu dalam satu gerbong untuk mencapai cita-cita menjadi penguasa di Republik ini. Benar-benar sebuah kejutan. Apalagi bila kita menyimak kata-kata pujian yang dilontarkan oleh keduanya pasca penandatanganan MoU antara Partai Golkar dengan Partai Hanura, tadi malam.
Wiranto memuji JK sebagai pengusaha berjiwa tentara yang sangat tegas. Juga memuji peran JK dalam penyelesaian kasus Poso, Ambon dan Aceh. JK lebih tentara dari tentara.
JK juga tidak segan memuji Wiranto sebagai kawan maupun ''lawan'' yang tangguh. JK mengatakan pengalaman Wiranto sebagai Panglima TNI yang telah mengambil berbagai kebijakan strategis pada masa transisi 1998-1999 telah membentuknya menjadi pemimpin yang kuat, berkarakter dan tidak cengeng. Menurut JK, pengalaman di TNI dipadukan dengan pengalaman sebagai birokrat (pernah menjadi Menteri) telah membuat Wiranto menjadi lebih bijak, termasuk saat memutuskan bersedia menjadi Cawapres JK.

Saling puji tentu saja tidak cukup. Untuk menjadi sebuah tim yang solid tentu butuh energi yang besar. Pada tahap awal tentunya PR menjadi tugas JK, terutama bagaimana meredam suara-suara mbalelo dari dalam tubuh Partai Golkar sendiri. Sebagaimana sudah kita diketahui umum, bahwa dalam Partai Golkar ada beberapa faksi. Dalam penentuan sikap menuju Pilpres 2009 sendiri ada beberapa opsi. Dari arus bawah, mereka lebih menghendaki Partai Golkar tetap mengusung JK sebagai Cawapres SBY, lagi. Menurut mereka, dengan begini peluang untuk memimpin tetap terjamin, mengingat popularitas SBY bersama Partai Demokrat sedang tinggi-tingginya. Opsi kedua datangnya dari tingkat elit yaitu lebih menghendaki JK maju sebagai Capres dari Partai Golkar, dengan asumsi peluang tetap terbuka lebar. Mereka melihat ke belakang, salah satunya yaitu dalam dua Pemilu terakhir; Presiden bukan dari Partai pemenang Pemilu. Salah satu cara adalah dengan berkoalisi dengan Partai Hanura.

Padahal, kalau kita mau melihat sedikit riwayat politik kedua Partai tersebut, maupun kedua Ketua Umum-nya, rasanya tidak perbedaan warna keduanya. Ibarat orang sudah pernah cerai, kemudian rujuk kembali. Sah-sah saja kalau ada yang menilai, telah terjadi koalisi Golkar dengan Golkar.
Secara eksplisit, tadi malam, Wiranto juga mengakui bahwa ada kesamaan ''chemistry'' yang sama antara dirinya dengan JK. Pada kesempatan tanya jawab dengan TV One, Tina Talisa sang reporter malah melempar guyonan, bahwa kuning berkoalisi dengan kuning.

Sebagai masyarakat, kita hanya bisa menantikan, program apa yang akan ditawarkan oleh mereka pada saat kampanye maupun penyampaian visi & misi pada minggu-minggu yang akan datang. Dan kalau suatu saat terpilih, kita tentu tidak menghendaki ada ''rivalitas'' antara keduanya, mengingat secara psikologis-pun keduanya adalah setara atau selevel. Mereka harus mengedepankan profesionalisme, sebagaimana telah dipertontonkan oleh SBY selama ini.

Mukhlis Aminullah, mantan anggota KPU Bireuen, Aceh.

Kamis, 30 April 2009

MENJADI POLITISI DAKWAH

Apakah politisi dapat menjadi da’i? Atau apakah dai dapat menjadi politisi? Dan apakah mungkin kegiatan dakwah menjadi kegiatan politik? Atau sebaliknya kegiatan politik menjadi kegiatan dakwah? Menjawab beberapa pertanyaan di atas tidaklah mudah, apabila kita melihat persepsi masyarakat tentang dakwah dan politik. Dakwah dan politik adalah dua ‘kata’ yang kontra bagi mereka. Hal itu karena politik dipahami sebagai aktifitas dunia, sedang dakwah dipahami sebagai aktifitas akhirat. Yang pada gilirannya dipahami bahwa dakwah tidak pantas memasuki wilayah politik, dan politik haram memasuki wilayah dakwah. Dakwah adalah pekerjaan para ustadz, dan politik pakerjaan para politisi. Jika seorang ustadz yang menjadi politisi, ia harus menanggalkan segala atribut dan prilaku ke-ustadz-annya, dan harus mengikuti atau beradaptasi dengan perilaku para politisi. Demikian pula apabila seorang politisi menjadi ustadz ia pun harus menanggalkan baju politiknya, dan jika tidak, ia akan tetap dicurigai menggunakan agama sebagai alat politik.

Tapi, pertanyaan di atas akan menjadi mudah untuk dijawab, apabila politik dipahami sesuai dengan definisi aristoteles bahwa politik adalah: “Segala sesuatu yang sifatnya dapat merealisasikan kebaikan di tengah masyarakat.” Definisi ini meliputi semua urusan masyarakat, temasuk di dalamnya masalah akhlak yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah, sebagaimana dipahami masyarakat.

Dan atau apabila dipahami definisi politik menurut Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, yaitu:

“Politik adalah hal memikirkan tentang persoalan-persoalan internal maupun eksternal umat.” Intermal politik adalah “mengurus persolalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan, dan dikeritik jika mereka melakukan kekeliruan.” Sedang yang dimaksud dengan eksternal politik adalah “memelihara kemerdekaan dan kebebasan bangsa, mengantarkannya mencapai tujuan yang akan menempatkan kedudukannya di tengah-tengah bangsa lain, serta membebaskannya dari penindasan dan intervensi pihak lain dalam urusan-urusannya.”

Baik internal maupun eksternal politik, sama-sama mencakup ajakan kepada kebaikan, seruan berbuat makruf dan pencegahan dari kezaliman, yang selama ini menjadi wilayah kerja dakwah.

Dengan pemahaman 2 definisi di atas, dapat kita simpulkan bahwa politik dan dakwah adalah dua kegiatan yang sangat terkait, dan sangat mungkin dakwah menjadi kegiatan politik, atau politik menjadi kegiatan dakwah, atau dapat disebut two in one. Bahwa dakwah adalah politik apabila ia berperan memahamkan masyarakat kepada hak dan kewajiban mereka. Dan bahwa politik adalah dakwah jika ia berperan mengajak masyarakat berbuat baik, memfasilitasi mereka berbuat makruf dan menutup semua pintu bagi masyarakat untuk berbuat zalim dan dizalimi.

Secara operasional, bahwa dakwah adalah politik dan politik adalah dakwah dapat dipahami dengan baik oleh setiap muslim apabila pertama, memahami universalitas Islam; kedua, memahami risalah penciptaan manusia; dan ketiga, mengatahui cara merealisasikan risalah tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga setiap muslim harus menjadi da’i sekaligus menjadi politisi. Karena itulah Hasan Al Banna mengatakan, “Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politisi, mempunyai pandangan jauh kedepan dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya.”

Lalu bagaimana menjadi politisi dakwah? Berikut ini sub-sub bahasan yang menjelaskan lebih rinci mengenai masalah ini:

1. Kedudukan Politik Dalam Islam

Islam agama sempurna, mencakup seluruh urusan kehidupan manusia yang terdiri dari kehidupan individu, keluarga, masyarakat, dan negara, serta segala aktifitas yang meliputnya, seperti ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan lain sebagainya. Islam tidak memilah antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam setiap aktifitas mengandung unsur dunia dan akhirat sekaligus.

Shalat misalnya, dalam persepsi banyak orang ia adalah amalan akhirat angsih. Tapi jika ditelaah lebih dalam, dapat ditemukan bahwa shalat adalah amalan akhirat sekaligus amalan dunia. Ia menjadi demikian karena, pertama, shalat dilaksanakan di dunia, pahalanya saja yang diperoleh di akhirat; kedua, shalat itu dzikir, dan setiap yang berdzikir pasti mendapatkan ketenangan, dan ketenangan itu kebutuhan asasi manusia dalam beraktifitas. Rasulullah saw jika sedang gundah, beliau berkata kepada Bilal: “Tenangkanlah kami dengan shalat hai Bilal!” dan yang ketiga, shalat sangat dianjurkan dilaksanakan dengan berjamaah, dan bagi yang melaksanakannya mendapatkan derajat 27 kali lipat dari pada yang shalat sendirian. Shalat berjamaah membuat kita - dengan sendrinya - bersilaturahim, mendidik kita hidup bermasyarakat dan bernegara yang teratur dan rapi. Dalam shalat berjamaah harus ada imam dan makmum yang semua tindakannya harus sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, makmum harus taat pada imam, mengikuti semua gerakan dan perintah imam, apabila tidak maka shalat sang makmum tidak sah. Dan apabila sang imam salah atau khilaf, maka wajib bagi makmum untuk menegurnya sampai imam kembali kepada yang benar. Demikian pula seharusnya yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Contoh yang lain, kegiatan jual beli, dalam persepsi banyak orang, ia adalah kegiatan dunia angsih. Padahal jika ditelaah lebih mendalam, maka ia pun sekaligus menjadi kegiatan akhirat. Hal itu, karena walaupun zhahirnya jual beli adalah amalan dunia, tapi karena di dalamnya ada aturan main yang harus di patuhi oleh masing-masing penjual dan pembeli, dan jika mereka patuh pada atauran itu, maka keduanya mendapatkan pahala yang akan diperolehnya di akhirat, tapi jika salah satu atau keduanya menyalahi atuaran tersebut, maka yang berbuat salah mendapatkan dosa, yang hukumannya akan ia dapatkan pula di akhirat. Oleh karena itu Rasulullah saw besabda, “pedagang yang jujur mendapatkan naungan arasy pada hari kiamat.”

Dengan demikian, semua amalan, baik mahdhah maupun gairu mahdhah di dalam Islam, memiliki kedudukan yang sama, termasuk di dalamnya politik. Bahkan jika politik berarti kekuasaan, Utsman bin ‘Affan ra berkata: “Al Qur’an lebih memerlukan kekuasaan dari pada kekuasaan membutuhkan Al Qur’an.”

Karena politik bagian dari keuniversalan Islam, maka setiap muslim meyakini bahwa Islam memiliki sistim politik yang bersumber dari Allah, dicontohkan oleh Rasulullah dan dikembangkan oleh para sahabat dan salafussaleh, sesuai dengan dinamika perkembangan hidup manusia setiap masa. Berikutnya setiap muslim pun siap menjalankan sistem itu, dan tidak akan menjalankan sistim yang lain, karena kahawatir akan tergelincir pada langkah-langkah syaitan. Itulah bagian dari pengertian firman Allah SWT; “Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syatan. Sesungguhnya syaitan itu bagi kalian adalah musuh yang nyata.” Qs. al Baqarah: 208.

2. Peran Politik Dalam Dakwah

Allah telah menetapkan risalah penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada-Nya, kemudian menjadikannya khalifah dalam rangka membangun kemakmuran di muka bumi bagi para penghuninya yang terdiri dari manusia dan alam semesta.

Agar risalah ini menjadi abadi dalam sejarah peradaban manusia, Allah SWT ‘merekayasa’ agar dalam kehidupan terjadi hubungan interaksi ‘positif’ dan ‘negatif’ di antara semua makhluk-Nya secara umum, dan di antara manusia secara khusus. Yang dimaksud dengan interaksi positif ialah, adanya hubungan tolong menolong sesama makhluk. Sedangkan interaksi negatif ialah, adanya hubungan perang dan permusuhan sesama makhluk. Allah SWT berfirman: “…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai yang dicurahkan atas semesta alam.” Qs. Al Baqarah: 251.

Keabadian risalah tersebut sangat tergantung pada hasil dari setiap interaksi baik yang positif maupun negatif. Jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang saleh, yang pada gilirannya mereka saling menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan; dan jika berada dalam peperangan, dimenangkan pula oleh orang-orang saleh itu, maka pasti yang akan terjadi adalah keabadian risalah.

Tapi jika yang melakukan tolong menolong adalah orang-orang buruk yang bersepakat melaksanakan kejahatan dan permusuhan, dan selanjutnya mereka pula yang memenangkan peperangan, maka pasti yang akan terjadi adalah kehancuran.

Disinilah letak politik berperan dalam dakwah. Dakwah mengajak pada kebaikan, melaksanakan risalah penciptaan manusia, menyeru kepada yang makruf dan mencegah semua bentuk kemungkaran, sementara politik berperan memberikan motivasi, perlindungan, pengamanan, fasilitas, dan pengayoman untuk terealisasinya risalah tersebut.

Sejarah telah membuktikan, bahwa naskah-naskah Al Qur’an yang sangat ideal pernah menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari umat manusia. Pada zaman Nabi saw, seorang Bilal bin Rabah yang hamba sahaya pada masa jahiliyah menjadi orang merdeka pada masa Islam, dan memiliki kedudukan yang sama dengan para bangsawan Quraisy, seperti Abubakar Siddiq dan Umar bin Khattab. Ini karena Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah saw mengajarkan persamaan derajat, sekaligus beliau sebagai pemimpin umat - dan tidak salah jika dikatakan pemimpin politik umat - menjamin realisasi persamaan derajat itu sendiri. Sehingga pernah suatu ketika beliau marah kepada seorang shabatnya yang mencela warna kulit Bilal.

Pada zaman yang sama, ketika Nabi saw mengirim pasukannya ke negeri Syam, beliau berpesan agar pasukan itu tidak menebang pohon kecuali untuk kebutuhan masak, melarang membunuh anak-anak, perempuan, orang tua yang tidak ikut berperang dan orang yang telah menyerah, beliau juga melarang membunuh orang yang sedang beribadah di gereja, dst. Ini semua adalah buah dari ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Sepeninggalan beliau, Rasulullah digantikan oleh Abubakar Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib secara berurutan. Pada zaman keempat sahabat itu, keadaan yang telah dibangun oleh Rasulullah saw tidak berubah, semua warga dibawa kepemimpinan khilafah menjalankan hak dan kewajiban, mendapatkan persamaan derajat, tidak ada yang dizalimi kecuali mendapatkan haknya, atau berbuat zalim kecuali telah mendapatkan sangsi. Keadaan ini berlangsung sampai masa keemasan Islam di Damaskus, kemudian di Bagdad dan Andalusia.

Tapi seirng dengan perkembangan berikutnya, umat menjauh dari agamanya, kegiatan agama dijauhkan dari kegiatan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari, demikian pula sebaliknya, hingga sampailah zaman itu pada generasi kita.

Kita bersedih dengan keadaan kita, umat Islam sebagai umat terbesar di alam raya ini, tapi terzalimi hak-haknya, umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri tercinta ini, tapi terbantai di Maluku dan di Poso, tidak boleh menjalankan syariat agamanya secara kaffah, dihambat para pemimpinya yang saleh untuk memimpin bangsanya, tidak diberi kesempatan yang sama dalam mengembangkan ekonominya, dst.

Mungkinkah sejarah kita hari ini berulang seperti sejarah generasi pertama umat ini. Sangat mungkin! Tentu apabila kita mau memenuhi syarat-syaratnya. Sebagiannya telah kami sebutkan dalam makalah ini, yaitu dakwah dan politik sebagai instrumen terlaksananya ajaran Islam harus menyatu menjadi karakter setiap muslim, atau dengan kata lain menjadi poltisi dakwah.

3. Karakteristik Politisi Dakwah

Setiap muslim berkewajiban menjadi da’i, paling tidak, untuk dirinya dan keluarganya, sebagaimana Rasulullah saw berwasiat: “Sampaikanlah tentang ajaranku walaupun satu ayat.” Dan sekaligus secara perlahan menjadi politisi dakwah, sebagaimana telah kami ungkapkan sebelumnya. Adapun sifat dan karakter yang dimiliki para politisi dakwah adalah sebagai berikut:

A. Memiliki Keperibadian politik.

Kepribadian politik adalah sekumpulan orientasi politik yang terbentuk pada diri seseorang dalam menyikapi dunia politik. Ia memiliki tiga aspek.

Pertama, Doktrin-doktrin yang menagndung makna politis, baik secara langsung maupun tidak langsung. Doktrin-doktrin yang tidak langsung meliputi:

(a) Doktrin khusus yang berkaitan dengan ketuhanan, manusia, alam semesta, pengetahuan dan nilai-nilai. Yaitu:

  • Keyakianan bahwa Allah swt adalah musyarri’ (Pembuat hukum).
  • Keyakinan bahwa al wala’ (loyalitas) dan al bara’ (anti loyalitas) adalah konsekuensi aqidah, loyal hanya kepada Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Dan kepada selainnya tidak akan pernah loyal.
  • Keyakinan bahwa semua manusia sama dalam hal penciptaan, hak dan kewajibannya.
  • Keyakinan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi, dengan tujuan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat Allah, dan bahwa alam ini ditundukkan untuknya.
  • Keyakinan bahwa sumber nilai-nilai adalah wahyu.

(b) Doktrin khusus tentang masyarakat, perubahan sosial, dan perempuan. Yaitu:

  • Keyakinan bahwa karakteristik dan prinsip masyarakat muslim adalah akhlak.
  • Keyakinan bahwa perubahan sosial adalah atas dasar kemauan dan gerak manusia itu sendiri, berangkat dari pembinaan individu, kemudian keluarga, masyarakat dan negara.
  • Keyakianan bahwa perempuan memiliki hak-hak politik sama dengan hak-hak politik laki-laki.

Sedang doktrin-doktrin yang mengandung makna politis secara langsung adalah:

(a) Doktrin khusus tentang keadilan dan kedamaian sosial.

(b) Doktrin tentang strategi moneter, kemerdekaan dan kebangkitan ekonomi.

(c) Doktrin khusus tentang hukum dan kekuasaan, bahwa hukum Islam sebagai sumber kekuasaan; umat sebagai lembaga pengawas dan yang mengangkat dan menurunkan pemerintah; syura adalah keniscayaan; keadilan ditegakkan; kebebasan dan persamaan derajat adalah hak dan kebutuhan setiap orang.

(d) Doktrin khusus tentang kepahlawanan dan kewarganegaraan.

(e) Doktrin khusus tentang kemerdekaan kultural; kewajiban membebaskan diri dari penjajahan; dan kewajiban berjihad di jalan Allah.

Kedua, Pengetahuan dan wawasan politik, masalah ini akan dibahas pada point memiliki kesadaran politik.

Ketiga, Orientasi dan perasaan politik. Para politisi dakwah yang telah meyakini doktrin-doktrin di atas, disertai dengan pengetahuan dan wawasan yang luas tentang politik, maka pasti ia memiliki orientasi dan perasaan politik. Diantaranya: Loyal kepada pemerintah yang menegakkan syariat Islam; rasa ukhuwah insaniyah dan islamiyah, serta rasa persamaan derajat dengan orang lain; hasrat melakukan perubahan sosial dengan ishlah dan tarbiyah; menghindari kekerasan; menghargai pendapat orang-orang berpengalaman; sikap positif terhadap aktivitas positif; benci kesewenang-wenangan; cinta kemerdekaan; rasa kewarganegaraan dan kepahlawanan; rasa benci dan tunduk kepada bangsa lain; mendukung gerakangerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh dunia; bermusuhan dengan penjajah dan seterusnya.

Kesemua orientasi dan perasaan politik tersebut sangat penting, dan seharusnya politisi dakwah membangunnya pada dirinya dan pada umat Islam serta pada masyarakat umum.

B. Memiliki kesadaran politik.

Kesadaran poltik yang musti dimiliki oleh seorang politisi dakwah adalah:

Pertama, Kesadaran misi, yaitu kesadaran terhadap ajaran Islam itu sendiri, atau kesadaran akan doktrin-doktrin yang telah disebutkan di depan. Ia meliputi pada penyadaran akan dasar-dasar aqidah, akhlak, sosial, ekonomi dan plitik Islam; Juga meliputi pada penyadaran akan pentingnya aplikasi Islam, sebagai asas identitas umat; Selanjuntnya meliputi pula pada penyadaran terhadap karakteristik konseptualnya. Misalnya ia adalah konsep universal untuk seluruh zaman dan tempat.

Kedua, Kesadaran gerakan, yaitu kesadaran terhadap ajaran islam tidak akan terwujud di tengah masyarakat dan negara kecuali ada organisasi pergerakan yang berkomitmen dengan asas Islam, dan bekerja untuk mewujudkannya.

Ketiga, Kesadaran akan problematika politik yang terjadi di masyarakat, yang meliputi probelematika politik nasional, regional dan internasional. Contoh untuk problematika nasional adalah penegakan hukum Islam dengan usulan agar UUD 1945 pasal 29 diamandemen, dan memasukkan ke dalamnya tujuh kata piagam Jakarta.

Keempat, Kesadaran akan hakikat dan sikap politik, yaitu kemapuan politisi dakwah memahami peristiwa poltik dan sadar akan sikap kekuatan-kekuatan politi dalam menghadapi berbagai peristiwa politik itu sendiri. Kesadaran semacam ini tidak mungkin ada tanpa kemampuan mutabaah terhadap berbagai peristiwa dan berbagai kekuatan politik baik melalui media massa maupun kajian-kajian.

Keempat kesadaran poltik tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesadaran misi adalah kesadaran permanen; kesadaran gerakan adalah kesadaran permanen dan fleksibel; kesadaran problematika politik adalah kesadaran fleksibel berdasarkan pandangan yang permanen; dan kesadaran sikap politik adalah kesadaran fleksibel sesuai jenis peristiwa.

C. Berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan politik.

Paertisipasi politik seseorang sangat bergantung orientasi politiknya yang telah terbentuk oleh doktrin-doktrin politik yang telah diyakininya. Maka seorang politisi dakwah yang telah meyakini bahwa menegakkan pemerintahan Islam dalah kewajiban, pasti akan berparisipasi pada setiap kegiatan politik yang kan menuju ke sana. Dalam rangka menggapai keyakinan tersebut, seorang politisi dakwah dapat berpartisipasi; pertama, dalam bentuk individu dengan menjadi anggota organisasi politik; sedang yang kedua, dalam bentuk memberikan solusi atas realita dan problematika masyarakat.

Contoh untuk bentuk yang pertama adalah, lahirnya parati-partai politik yang sebelumnya hanya berbentuk gerakan-gerakan dakwah yang terorganisir rapi dan sistematis, yang kemudian setiap anggota gerakan menjadi anggota partai politik secara otomatis. Dan mensukseskan setiap kegiatan partai tersebut pada setiap jenjang struktur yang menjadi hak dan wewenangnya.

Sedang contoh untuk bentuk yang kedua adalah, keikutserataan seorang politisi dakwah dalam aksi-aksi politik, seperti demonsntrasi menentang kebijakan nasional ataupun internasional yang merugikan agama Islam, atau keikutsertaan seorang politisi dakwah dalam pelayanan sosial, misalnya dengan membantu warga yang sedang mendapatkan musibah atau bencana alam, atau dengan melakukan upaya menghilangkan buta huruf di masyarakat, atau dengan mengadakan aksi mengangkat masyarakat dari bawah garis kemiskinan dls.

4. Langkah-langkah Menjadi Politisi Dakwah

Semoga dengan uraian di depan dapat menghilangkan keterbelahan pemahaman bahwa dakwah dan poltik adalah sesuatu yang kuntra, dan tidak dapat disatukan dalam satu aktifitas. Semoga pula dapat ‘menggoda’ kita untuk menanam saham kebaikan dalam rangka membangun peradaban dunia, yang sesuai kehendak Allah, melaui aktifitas dakwah dan politik. Akan tetapi dari mana kita memulai?

Pertama, Membangun kembali pemahaman kegamaan kita, bahwa agama Islam itu agama yang syamil, mencakup seluruh aspek kehidupan; bahwa agama Islam itu asasnya aqidah, batangnya amal ibadah dan buahnya adalah akhlak; bahwa agama Islam itu diamalkan di dunia dan pahalanya diperoleh di akhirat; bahwa agama Islam itu diturunkan Allah untuk semua manusia, dan sterusnya. Pemahaman ini harus dibangun melalui peroses belajar mengajar. Islam mengajarkan bahwa belajar dilakukan dengan dua hal: Satu, dengan membaca fenomena-fenomena alam dan literatur-literatur; dan dua, dengan belajar melalui guru. Kedua metode tersebut harus dilakukan oleh stiap muslim, tidak boleh hanya salah satunya. Sebab dengan membaca saja seseorang dapat tersesat, atau dengan melalui guru saja, seseorang memiliki wawasan yang sempit. Karena dengan demikian, kita sebagai politisi dakwah dapat mengamalkan Islam penuh tanggung jawab, tidak berdasarkan hawa nafsu.

Kedua, Membangun kembali kebersamaan kita, bahwa kita itu bersaudara, tidak dipisahkan oleh batasan darah, suku dan bangsa, apalagi hanya dibatasi oleh perbedaan organisasi keagamaan atau perbedaan madzahab; bahwa kita itu perlu kerjasama dan berjamaah, karena memang setiap amalan dalam agama Islam sangat dianjurkan dilakukan dalam berjamaah; bahwa kita tidak dapat merealisasikan sebagian besar ajaran agama Islam kecuali dengan bersama-sama. Kebersamaan dapat dibangun dengan kemampuan kita melepaskan egoisme individu masing-masing kita, sehingga kita dapat menerima dan memberi nasehat orang lain, serta mampu bersabar atas kekurangan dan perbedaan dalam kebersamaan. Sehingga kebersamaan ini membuat politisi dakwah menjadi kuat dan dapat segera mencapai cita-citanya.

Ketiga, Mengenal kembali potensi dan kelebihan diri kita; bahwa masing-masing kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain; bahwa kelebihan kita dapat menjadi keunggulan yang menutupi kekurangan orang lain; bahwa keunggulan kita dapat menghapus kelemahan kita. Yang penting, dengan keunggulan itu dapat kita jadikan sebagai sarana yang memanjangkan umur pahala kita. Sehingga kita menumbuhkannya secara terus dan menjadi politisi dakwah melalui keunggulan tersebut.

Keempat, Memahami kembali realitas kehidupan kita; bahwa kita hidup pada hari ini, bukan hari kemarin yang sangat mungkin kulturnya jauh berbeda dengan hari ini; bahwa kehidupan itu penuh dengan dinamika, sehingga kita politisi dakawah dituntut memiliki kemampuan mengaktualisasikan ajaran Islam, dalam bentuk sarana, metode, dan cara sesuai zaman, tanpa harus keluar dari frame dasar agama ini.

Akhirnya, Telah menjadi harapan kami, semoga kita dapat menjadi politisi dakwah yang mempelopori pelaksanaan ajaran Islam, secara bersama-sama, berangkat dari keunggulan kita masing-masing, dalam nuansa memperhatikan keadaan, perubahan dan dinamika zaman, yang pada gilirannya Islam tidak hanya tertulis dalam Al Qur’an, tergambar dalam Sunnah dan tertarjamah dalam buku-buku, tapi menjadi kenyataan di muka bumi. Atau tidak hanya menjadi gambar dan maket, tapi dapat menjadi bangunan yang kokoh, yang semua orang dan makhluk dapat bernaun dan tinggal dengan damai dalam bangunan tersebut.

Wallahu a’lam

sumber: dakwatuna.com

PEMIMPIN ADALAH NAKHODA

Seorang pemimpin adalah pribadi yang sangat menentukan bagi suatu umat atau bangsa. Menentukan karena dengannya sebuah Negara bisa maju atau mundur. Bila seorang pemimpin tampil lebih memihak kepada kepentingan dirinya, tidak bisa tidak rakyat pasti terlantar. Sebaliknya bila seorang pemimpin lebih berpihak kepada rakyatnya, maka keadilan pasti ia tegakkan.

Keadilan adalah titik keseimbangan yang menentukan tegak tidaknya alam semesta ini. Allah swt menegakkan langit dengan keseimbangan. Pun juga segala yang ada di bumi Allah swt berikan dengan penuh keseimbangan. Padanan keseimbangan adalah keadilan, lawan katanya adalah kedzaliman.

Setiap kedzaliman pasti merusak. Bila manusia berbuat dzalim maka pasti ia akan merusak diri dan lingkungannya. Bayangkan bila yang berbuat dzalim adalah seorang pemimpin. Pasti yang akan hancur adalah bangsa secara keseluruhan.

Di dalam Al Qur’an Allah swt telah menceritakan hancurnya umat-umat terdahulu adalah kerena kedzaliman pemimpinnya. Karena itu bila kita berusaha untuk memecahkan persoalan bangsa maka tidak ada jalan kecuali yang pertama kali kita perbaiki adalah pemimpinnya.

Pemimpin yang korup dan dzalim bukan saja akan membawa malapetaka terhadap rakyatnya tepai lebih jauh –dan ini yang sangat kita takuti – Allah swt akan mencabut keberkahan yang diberikan. Sungguh sangat sengsara sebuah kaum yang kehilangan keberkahan. Sebab dengan hilangnya keberkahan tidak saja fisik yang sengsara melainkan lebih dari itu, ruhani juga ikut meronta-ronta.

Pemimpin Adalah Nahkoda

Benar, perumpamaan yang mengatakan bahwa pemimpin adalah nahkoda bagi sebuah kapal. Sebab Negara ibarat kapal yang didalamnya banyak penumpangnya. Para penumpang seringkali tidak tahu apa-apa. Maka selamat tidaknya sebuah kapal tergantung nahkodanya. Bila nahkodanya berusaha untuk menabrakkan kapal ke sebuah karang, tentu bisa dipastikan bahwa kapal itu akan tenggelam dan semua penumpang akan sengsara.

Ibarat kepala bagi sebuah badan, pemipin adalah otak yang mengatur semua gerakan anggotanya. Karena itu pemimpin harus cerdas, lebih dari itu harus jujur dan adil. Tidak cukup seorang pemimpin hanya bermodal kecerdasan, sebab seringkali para pemimpin yang korup menggunakan kecerdasannya untuk menipu rakyat. Karena itu ia harus jujur dan adil.

Itulah rahasia firman Allah : “I’diluu huwa aqrabu lit taqwaa. Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”. QS. Al Ma’idah: 8.

Perhatikan ayat ini menunjukkan bahwa keadilan adalah jalan menuju ketaqwaan. Mengapa? Sebab tidak mungkin seorang pemimpin yang dzalim bertaqwa. Bila jiwa taqwa hilang dari diri seorang pemimpin, ia pasti akan berani kepada Allah swt. Bila seorang pemimpin berani kepada Allah swt, maka kepada manusia ia akan lebih berani.

Karena itu bekal utama seorang pemimpin harus benar-benar menegakkan taqwa dalam dirinya.

Karena itu pesan utama Al Qur’an adalah membangun pribadi taqwa. Sebab dengan taqwa seorang pemimpin akan bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt. Bila ia bersungguh-sungguh ikut tuntunan Allah swt maka segala langkahnya akan berkah dan otomatis Negara yang dipimpinya pun akan berkah.

Itulah rahasi mengapa dalam memilih seorang pemimpin, hendaklah sebuah bangsa jangan asal-asalan. Melainkan harus benar-benar selektif. Jangan asal disogok lalu berani mengorbankan kebenarn. Ingat bahwa Allah swt tidak hanya mengancam orang-orang yang berbuat dzalim, melainkan juga mengancam orang-orang yang mendukung kedzaliman tersebut.

Allah berfirman:

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. QS. Al Mukmin : 45-46.

Pemimpin Adalah Cermin Rakyat

Rakyat yang cerdas tidak mungkin memilih pemimpin yang bodoh. Rakyat yang bersih tidak mungkin memilih pemimpin yang korup. Tetapi sebaliknya bila rakyatnya korup maka pasti yang akan dipilih adalah pemimpin yang korup. Karena itu terpilihnya Fir’un sebagi raja, adalah karena rakyatnya bodoh dan bejat. Sebab siapakah sebenarnya seorang pemimpin, jika ia tidak mendapatkan dukungan? Ia sebenarnya tidak berdaya apa-apa. Jika semua rakyatnya bersatu untuk menyerangnya ia pasti tidak bisa bertahan. Karenanya pemimpin yang korup akan selalu menciptakan lingkungan agar rakyat tetap bodoh. Sebab dengan kebodohannya ia akan lebih lama berkuasa, dan lebih nyaman menikmaati kedzalimannya.

Ustadz Sayed Qutb ketika menafsirkan ayat tentang Fir’un dalam surat An Naziat menjelaskan bahwa sebenarnya Fir’un tidak mempunyai kekuatan sejumlah rakyatnya. Maka jika rakyatnya cerdas, mereka tidak mungkin mengizinkan Fir’un terus berkuasa. Mereka pasti akan segera memberontak atas kedzalimannya. Namun karena mereka bodoh, maka Fir’un merasa semakin tinggi. Puncaknya Fir’un menjadi lupa daratan sehingga ia mendeklarasikan dirinya sebagai tuhan. Dia berkata seperti yang Allah swt rekam dalam surat An nazi’at: ”ana rabbukumul a’laa”. Saya tuhan kalian yang tinggi.

Perhatikan betapa seorang pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri. Jadi sekarang tergantung kita sebagai rakyat, mau memilih pemimpin yang korup atau yang jujur dan adil.

Ingat bahwa setiap suara yang kita berikan itu adalah amanah. Bila kita salah menyerahkan amanah, yang sengsara kita juga. Sebaliknya bila kita bersungguh-sungguh untuk menyerahan amanah itu kepada yang ahlinya, maka kitalah yang akan menikmatinya. Bukan saja kesejahteraan di dunia yang kita dapatkan melainkan lebih dari itu, kita akan mendapatkan pahala yang melimpah karena kita telah mendukung kebaikan.

Dari sini nampak bahwa suara rakyat adalah sangat menentukan terhadap lahirnya seorang pemimpin. Oleh sebab itu, kita sebagi rakyat hendaknya bersungguh-sungguh untuk menjadi rakyat yang baik, sebab jika tidak, kita sendiri yang rugi dan sengsara. Rasulullah saw. Bersabda: ”Bahwa seorang mu’min tidak pantas terjatuh ke lubang yang sama dua kali”. Maka cukuplah masa lalu kita jadikan pelajaran. Sekarang sudah saatnya kita memilih pemimpin yang benar-benar membawa risalah Allah. Sebab hanya dengan menegakkan ajaran Allah swt keberkahan akan turun.

Allah berfirman:

”Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertaqwa, niscaya akan Kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi”. QS. Al A’raf : 96.

Berdasarkan hal di atas, jelas bahwa keberkahan yang akan kita raih tergantung perjuangan kita untuk menegakkan ajaran Allah. Dan untuk itu sungguh sebuah keniscayaan kita memilih seorang pemimpin yang benar-benar membawa keberkahan. Itulah pemimpin yang bersih dan senantiasa mengedepankan risalah Allah swt sebagai panduannya.

Sejarah telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah swt ceritakan dalam Al Qur’an, misalnya: Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Dzul Qarnain, itu adalah karena kesungguhan mereka menegakkan ajaran Allah dalam kepemimpinannya. Begitu juga kepemimpinan Rasulullah saw, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka dalah contoh-contoh yang tidak bisa kita nafikan sebagai puncak pemimpin yang paling berhasil dan sukses.

Dan bila kita teliti kunci utama keberhasailan mereka adalah karena mereka memimpin dengan ketaqwaan. Sebab bila seorang pemimpin bertaqwa ia pasti jujur dan amanah. Bila seorang pemimpin jujur dan amanah ia pasti akan memberikan yang terbaik kepada rakyat yang dipimpinnya.

Sebaliknya bila seorang pemimpin tidak bertaqwa, ia pasti akan selalu membawa bencana dengan kedzaliman yang ia bangga-banggakan. Kedzaliman adalah sumber kesengsaraan. Karena itu Allah swt menyebutkan bahwa orang yang paling dzalim adalah orang yanga setelah mendapatkan tuntunan dari Allah malah ia berpaling darinya. Mengapa dikatakan dzalim, karena dengan kedzalimannya tidak saja ia menjadikan dirinya sebagai bahan neraka, melain juga dengan kedzalimannya ia membawa acaman bagi orang lain yang dipimpinnya.

Wallahu A’lam.

Mukhlis Aminullah, peminat agama, berdomisili di Bireuen.